
Kaisa sampai di rumahnya, pengawal tidak memperbolehkan Kaisa untuk menginjakan kaki lagi di rumah ini, atas perintah kakeknya.
"Kek, Kaisa minta maaf kek. Tolong izinin Kaisa buat tetap tinggal di sini kek. Kaisa harus tetap berada di dekat mama kek. Setidaknya, izinkan Kaisa buat tetap tinggal disini, sampai kondisi mama membaik kek. Kaisa mohon🙏." Ucap Kaisa pada kakeknya.
"Kamu dan papa mu, sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi. Kalian sudah sangat mencoreng nama baik keluarga ini. Bikin saya malu! Keluarga bangsawan tapi cucu dan menantunya, berbuat hal sekeji itu! Kalian tidak layak jadi bagian keluarga ini." Tegas kakek Kaisa.
"Kaisa mengaku salah kek. Kaisa minta maaf! Tolong kek, sampai mama benar-benar pulih kek. Setelah itu, Kaisa sendiri yang akan langsung keluar dari rumah ini kek. Kalau Kaisa pergi hari ini, nanti mama pasti nyariin kek. Kakek mau bilang sejujurnya sama mama? Kalau mama drop nanti bagaimana kek. Kaisa mohon!" Tutur Kaisa. Sambil sujud di kaki kakeknya.
Kakek Kaisa berpikir. Kemudian memperbolehkan lagi Kaisa untuk tinggal di rumah. Tapi hanya sampai kondisi mama Kaisa benar-benar sehat kembali. Kaisa mengucapkan terima kasih pada kakeknya. Kemudian berlalu pergi ke kamarnya untuk ganti baju, setelah itu, baru menemui mamanya.
"Ma, udah makan ma....?" Tanya Kaisa sambil mencium pipi mamanya yang sedang terbaring lemas di atas kasur.
"Udah." Jawab mama Kaisa pelan.
"Baru pulang dari mana sayang?" Tanya mama Kaisa.
Kaisa agak gugup menjawab pertanyaan mamanya.
"Umm..., cuman cari udara segar aja di luar ma."
"Papa udah pulang dari kantor sayang?" Tanya mama Kaisa lagi.
"Pa... Pa, (sambil berpikir) mama belum di kasih tahu papa ma? Tadi baru aja papa bilang sama Kaisa, kalau papa, lagi ada kerjaan di luar kota selama sebulan ma." Ucap Kaisa.
"Mama nggak tahu. Tumben papa nggak pamit dulu sama mama." Ucap mama Kaisa heran.
"Soalnya Kaisa lihat tadi papa buru-buru bangat ma. Mungkin karena itu papa nggak sempat ma." Kata Kaisa berusaha meyakinkan mamanya.
"Ya udah ma, nggak usah terlalu dipikirkan ma. Mama harus banyak istirahat, biar cepat sembuh. Kalau udah sembuh, nanti kita jalan-jalan bareng lagi." Sambil menyelimuti mamanya.
"Istirahat ya ma. Kaisa pergi dulu."
Mama Kaisa mengangguk pelan. Kaisa berlalu pergi dari kamar mamanya.
Kaisa siap-siap mau pergi ke suatu tempat. Kaisa sampai di area pemakaman. Kaisa mengunjungi makam Alaisa. Dia ingin minta maaf secara langsung.
"Hi cupu. Apa kabar Lo. Maafin gue ya sa. Gue selalu bully Lo dengan kata-kata itu. Dan maaf juga, karena gue minta maafnya sangat terlambat sama Lo. Kalau aja Lo masih ada, dan gue minta maaf sama lo, gue yakin, Lo pasti sekarang marah bangat sama gue, maki-maki gue habis-habisan." Tutur Kaisa dengan mata yang berkaca-kaca, penuh penyesalan.
Handphone Kaisa tiba-tiba berdering.
Ada panggilan masuk.
"Hello?"
"Tuan putri, yang mulia ratu tuan." Gumam pelayan mama Kaisa.
Mendengar itu, Kaisa langsung pulang. Sampai di rumah, Kaisa langsung berlari menemui mamanya.
"Ma, ma, mama!" Teriak Kaisa sambil menangis dengan histeris.
"Mama kenapa bisa sampai seperti ini ma? Kek, mama tadi masih baik-baik aja. Tapi kenapa sekarang mama jadi seperti ini kek?" Tanya Kaisa sembari menatap kakeknya dengan tatapan penuh seribu makna.
Kakek Kaisa. Membentak Kaisa, ia minta untuk Kaisa berhenti menangis. "Diam kamu! Semua ini salah kamu! Semua masalah yang terjadi di rumah ini, itu semua berawal dari kesalahan yang kamu perbuat. Gara-gara kamu, saya jadi kehilangan anak saya, satu-satunya."
Kaisa tidak terima dengan kenyataan Pahit itu, dia belum siap untuk kehilangan mamanya. Orang yang paling dia sayang, orang yang paling sayang sama dia, dan selalu bisa mengerti perasaan dia.
Kakek Kaisa, memberikan perintah pada pengawal nya, untuk membawa Kaisa, keluar dari rumahnya. Ia tidak ingin melihat wajah Kaisa lagi. Kaisa memberontak, dia tetap ingin ada di dekat mamanya. Tapi sudah tidak bisa lagi, karena segala akses untuk Kaisa masuk, udah di jaga sama pengawal. Hal yang bisa ia lakukan hanya menangis di depan rumah super Megah bak istana itu.
__ADS_1
Mama Kaisa sudah siap untuk di makam kan. Proses pemakamannya, bisa di bilang sangat mewah. Hal itu wajar, secara yang meninggal itu bukan sembarang orang. Tapi yang meninggal itu, anak dari keluarga bangsawan, keluarga keturunan kerajaan.
Kaisa hanya bisa melihat proses pemakaman mamanya dari jauh. Setelah semua orang pergi, baru dia menghampiri makam mamanya. Kaisa memeluk erat makam mamanya. Kaisa kalut, dia tidak bisa mengendalikan perasaannya, dia berusaha membongkar kembali makam mamanya. Dia yakin, mamanya masih hidup. Kaisa tidak bisa terima kepergian mamanya. Melihat apa yang dilakukan Kaisa, pengawal yang di suruh jaga makam oleh kakeknya, mengusir Kaisa dari makam itu.
Kaisa menangis disertai tertawa, sambil memukul-mukul kepalanya.
Batin dia begitu terpukul dan hancur.
Kondisi mama Kaisa menjadi drop karena mama Kaisa mendengar pembicaraan kakek Kaisa dan pengawal, untuk segera menghapus/membereskan segala berita yang berhubungan dengan tertangkapnya papa Kaisa karena kasus pele**han.
Mendengar itu, mama Kaisa syok dan penyakit jantungnya kambuh, dadanya menjadi sangat sesak, hingga menghembuskan napas terakhirnya.
Kakek Kaisa panggil dokter, tapi sudah terlambat. Mama Kaisa sudah tidak tertolong lagi.
****
Mama Alara dapat telepon dari mama Akara. Kata mama Akara, apakah bisa, malam nanti, kedua keluarga mereka makan malam di luar. Mama Alara bilang bisa.
"Al, sayang?" Panggil mama Alara.
"Ya ma." Sahut Alara dari kamarnya.
"Turun bentar sayang."
"Ya ma. Bentar." Sahut alara lagi.
Alara sampai di ruang tamu.
"Ada apa ma?"
"Habis magrib kamu siap-siap yang sayang. Bilang sama adek kamu juga. Suruh dia siap-siap."
"Udah, kamu siap-siap aja. Nanti kamu juga tahu sayang." Ucap mama Alara dengan tersenyum.
"Ya ma." Jawab Alara.
Alara, Syafa dan mamanya udah siap. Mereka segera pergi ke lokasi tempat dinner.
Alara menemani Syafa ke toilet. Mama Alara menemui keluarga Akara duluan.
"Assalamualaikum Lin...."
Sapa mama Alara.
"Nggak lama kan nunggu kita nya?" Tanya mama Alara.
"Nggak kok mbak." Sahut mama Akara.
"Kita berbincang bincang sambil makan saja ya." Ucap papa Akara.
"Anak mbak mana mbak?"
"Alara lagi ke toilet bentar." Gumam mama Alara.
Alara dan Syafa datang. Syafa pas sampai langsung berlari ke arah akara.
"Kak Akara." Sapa Syafa sambil memeluk Akara senang.
__ADS_1
"Hi, sayang. Kapan pulang?" Akara membalas pelukan Syafa.
"Baru sampai kemaren kak." Ucap Syafa.
Alara mengajak Syafa untuk segera duduk.
"Si kecil imut ini, siapanya kamu mbak?" Tanya mama Akara sedikit heran.
"Ini nama Syafa. Dia udah seperti anak saya sendiri. Kami mengadopsinya." Ucap mama Alara sambil mengusap lembut kepala Syafa.
"Masya Allah. Cantik bangat kamu sayang?" Gumam mama Akara sambil memegang pipi Syafa.
"Terima kasih tante." Jawab Syafa dengan tersenyum.
"Syafa udah kenal sama kak Akara?" Tanya mama Akara.
"Udah Tante. Waktu itu kak Akara sama kak Ara yang bantuin mama Syafa ke rumah sakit Tante." Jawab Syafa dengan lugu.
"Uhmm. Kamu kok nggak pernah bilang sama mama Ka, kalau udah kenal sama Alara?" Tanya mama Akara.
"Ya karena kan, mama nggak pernah nanya ke Akara ma." Gumam Akara.
"Ya begitu la kalau anak laki. Kalau nggak di tanya, nggak bakalan kasih tahu." Ucap mama Akara sambil tertawa kecil.
"Kalian kenal dimana?" Tanya papa Akara pada Alara dan Akara.
"Dulu kita satu sekolah pa." Jawab Akara berusaha santai.
"Anak kamu yang paling besar belum pulang juga dari luar negeri Lin?" Tanya mama Alara.
"Belum. Dia lanjut lagi studi S2 nya di sana. Selesai S2, baru dia kembali lagi ke Indonesia." Kata mama Akara.
"Siapa nama anak pertama kamu itu Lin? Lupa-lupa ingat aku Lin. Tanya mama Alara.
"Akram." Jawab mama Akara.
Waktu mama Akara sebut nama Akram, tiba-tiba Alara tersedak.
"Kenapa sayang. Pelan-pelan makannya. Jadi kotor cadar kamu." Ucap mama Alara sambil membantu melap Niqab Alara yang basah.
"Nggak papa ma. Alara bersihin ke toilet dulu ya ma. Permisi bentar Om, Tante." Ucap Alara kemudian pergi menuju toilet.
Di toilet, Alara masih memikirkan tentang Akram. Alah bertanya-tanya, apa, Akram yang di maksud mama Akara itu, Akram yang dia kenal. Tapi mungkin saja hanya kebetulan, nama kakak Akara sama dengan pria yang di kenalnya.
Acara makan malam dengan keluarga Akara sudah selesai. Selama acara makan malam berlangsung, Alara dan Akara hanya saling lihat sesekali. Tidak saling bertukar kabar.
****
Beberapa bulan kemudian, Alara lagi disibukan oleh penyusunan skripsinya. Alara kejar target. Alara ingin tamat kuliah S1 tiga setengah tahun. Karena setelah tamat Alara mau lanjut S2.
Akhirnya setelah berbulan-bulan berjuang keras dalam menyelesaikan skripsinya, Alhamdulillah, Alara bisa lulus sesuai targetnya, dan menjadi salah satu mahasiswi lulusan terbaik.
Setelah tamat kuliah S1, Alara melanjutkan kuliah S2 di universitas Al Azhar Mesir.
Seperti itu lah kehidupan berputar. Kita tidak pernah tahu ke depannya akan bagaimana dan bakalan seperti apa. Alara terus maju ke depan, dan terus memperdalam ilmu agamanya. Sedangkan Syafa, sekarang sudah masuk kelas satu MTsN (Madrasah Tsanawiyah Negeri).
Masa lalu biar lah berlalu, kini saatnya melangkah maju, jadi kan peristiwa di masa lalu sebagai motivasi atau cambukan untuk terus kuat dan sabar dalam menjalani kehidupan di masa depan. Setiap orang yang bersalah pasti akan mendapat ganjarannya. Ganjaran yang tidak akan pernah ia duga akan terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
****