
Sinar matahari pagi merambah masuk sela-sela jendela ruangan tempat Alara di rawat. Cahaya itu membangunkan Alaisa. Alaisa melihat tangan Alara telah berada di atas tangannya. Alaisa terkejut senang dan membangunkan Akara.
"Alara udah siuman dari semalam ka." Ucap alaisa sambil tersenyum.
Akara langsung bangun. Dan menatap kearah alara sembari memegang tangan Alara.
"Ra....? Kamu bisa dengar gue kan Ra....?" Tanya Alaisa sambil memegang tangan Alara.
Alara membuka matanya perlahan, dan melihat ke arah Alaisa dan Akara dengan pandangan sayu.
"Akhirnya lo sadar juga Ra." Ucap Alaisa senang sambil memeluk Alara.
"Lo bisa dengar gue kan Ra....? Lo ingat siapa gue....?" Crocos Alaisa.
Alara mengedipkan matanya perlahan. Menandakan ingat. Tapi dia masih belum mau bicara. Alaisa senang bangat dan kembali memeluk Alara dengan girang.
"Lo jangan lakuin hal gila lagi ya Ra. Lo nggak mikirin gue, gue nggak bisa hidup tanpa lo Ra.!" Sambung Alaisa lagi dengan nada lembut tapi tegas.
"Gue pergi pulang bentar ya Ra. Lo ditemenin sama Akara dulu. Nanti habis mandi gue kesini lagi Ra. Udah bau soalnya badan gue." Ucap Alaisa sambil mengibaskan keteknya ke arah Alara. Berharap Alara kembali tertawa dengan leluconnya. Tanpa merasa malu ada Akara di dekat mereka.
Alara sedikit mengeluarkan senyumnya.
"Gue titip Alara bentar ya Ka." Pinta Alaisa sembari pergi meninggalkan Alara dan Akara.
Akara menatap Alara dan mengusap-usap lembut tangan Alara.
Banyak pertanyaan yang di lontarkan Akara. "Apa yang kamu rasa sekarang Ra....?" Tangan kamu masih terasa nyeri....? Kamu mau makan apa Ra....?" Mau soto? Kalau iya, aku beli bentar di luar ya."
"Alara hanya menggeleng."
"Kamu harus makan sesuatu landak....! Biar cepat sembuh. Nanti aku janji bakal bawa kamu, sama Syafa juga, kita jalan-jalan ke puncak." Ucap Akara dengan lembut.
Air mata Alara mengalir begitu saja. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis malang itu. Alara masih belum mau bicara. Dia hanya bisa merespon sedikit-sedikit.
"Kamu kenapa nangis....? Jangan nangis, aku bakal ada selalu buat kamu landak. Aku nggak bakalan ninggalin kamu. Seperti apa pun kondisi kamu." Ucap Akara sambil menghapus air mata Alara.
"Aku keluar sebentar ya Ra. Aku beli makanan dulu untuk aku dan kamu makan." Sambung Akara sambil berdiri dan mencubit lembut hidung Alara.
Alara mengedipkan matanya perlahan. Setelah Akara pergi, Alara hanya melamun. Kemudian dia berusaha duduk dan berjalan keluar dari ruang rawat. Alara terus saja berjalan tanpa tujuan, tatapan mata Alara kosong. Alara berjalan sampai di balkon rumah sakit. Dari bawah Syafa dan bibik melihat Alara sedang berdiri di balkon rumah sakit.
"Kak Ara mau ngapain kak!" Teriak Syafa.
"Turun non." Ucap bibik cemas.
Akara baru selesai membeli makan untuk dia dan Alara. Pas sampai Akara melihat Syafa dan bibik berteriak dan orang-orang juga ikut melihat Alara dari bawah.
Makanan dari tangan Akara jatuh karena terkejut. Akara langsung berlari ketempat Alara berdiri. Sampai di balkon, Akara menarik cepat Alara. Alara terkejut dan dia berteriak histeris. Akara berusaha menenangkan Alara.
"Tenang Ra, tenang, tarik napas kamu dalam-dalam, kemudian, lepaskan perlahan." Ucap Akara dengan raut wajah cemas sambil memeluk Alara dan menepuk-nepuk pundak Alara dengan lembut.
Alara mulai berhenti berteriak. Alara menatap ke arah Akara.
"Ada apa sayang....?" Ucapan itu terlontar dengan spontan dari mulut Akara. Ini pertama kalinya Akara memanggil Alara dengan panggilan sayang, semenjak mereka jadian.
__ADS_1
Tatapan Alara pada Akara mulai meredup. Alah pingsan.
Akara langsung membawa Alara keruang rawat dan memanggil dokter.
Syafa dan bibik juga udah sampai di depan ruang rawat Alara. Syafa memeluk Akara.
"Kak Ara nggak bakalan kenapa-kenapa kan kak....?" Tanya Syafa pada Akara.
"Kak Ara, nggak bakalan kenapa-kenapa sayang. Syafa kan tahu kalau kak Ara, anak yang kuat dan pantang menyerah." Kata Akara sambil berusaha tetap tersenyum untuk menenangkan Syafa yang udah cemas.
Akara menelpon Alaisa. Akara minta Alaisa untuk segera ke rumah sakit.
"Hello sa." Ucap Akara.
"Ya ka. Ada apa....? Alara baik-baik aja kan ka....?" Tanya Alaisa khawatir.
"Alara drop lagi sa. Tadi gue ninggalin dia bentar, buat beli makanan. Tapi pas gue sampai, Alara udah berdiri di balkon rumah sakit sa." Jelas Akara dengan merasa bersalah telah meninggalkan Alara sendirian.
"Gue langsung ke sana Ka." Ucap Alaisa sambil menuju motornya dan menutup telpon Akara.
Dokter keluar dari ruangan Alara.
"Bagaiman kondisi Alara dok....?" Tanya Akara cemas.
"Pasien mengalami panik sesaat. Tapi jangan terlalu khawatir, kondisi Pasien baik. Saya berharap, kejadian ini tidak terulang lagi. Sampai kondisi pasien pulih, jangan pernah meninggalkan pasien seorang diri. Jika kesulitan menjaganya sendiri, boleh berdua. Biar bisa ganti-gantian." Jelas dokter.
"Baik dok. Makasih dok. Dan saya minta maaf karena keteledoran saya dok." Ucap Akara sambil merunduk.
"Ya nggak papa. Sus, bantu pantau kondisi Pasian ya! (Suster mengiyakan ucapan dokter). Saya pamit dulu" Pinta dokter.
Akara, Syafa dan bibik masuk kedalam ruang rawat Alara.
"Kak Ara, ini Syafa. Maaf ya kak, Syafa telat." Ucap Syafa sambil mencium pipi Alara.
"Aku juga minta mau ya landak!. Seharusnya aku nggak ninggalin kamu sendirian tadi." Ucap Akara merasa bersalah.
Alara sudah sadar. Di kembali membuka matanya perlahan.
"Kak Ara. Syafa rindu kakak." Syafa langsung memeluk erat Alara.
"Kak Ara jangan sakit lagi dong kak. Syafa sedih kalau kak Ara sakit. Ucap Syafa sambil menetaskan air mata.
Alara juga tidak merespon ucapan Syafa. Air mata Alara keluar begitu saja mengalir membasahi pipinya.
"Kakak jangan nangis kak." Ucap Syafa sambil menghapus air mata Alara.
"Syafa janji nggak bakal nangis lagi kak." Sambung Syafa dengan segera menghentikan tangisannya dan menghapus air matanya.
"Syafa udah nggak nangis lagi kak." Ucap Syafa sembari tersenyum lebar.
Alara merespon ucapan Syafa dengan ikut sedikit tersenyum.
"Tu dengar landak! Syafa aja yang kecil kuat. Jadi, kamu harus lebih kuat lagi dari Syafa." Tukas Akara sembari tersenyum.
__ADS_1
Alaisa baru sampai di rumah sakit dan membawa makanan.
Alaisa langsung mencubit pipi Alara karena geram dengan tindakan Alara. Alara sedikit kesakitan.
"Lo dari dulu, kenapa nggak pernah mau dengerin kata gue si Ra!" Ucap Alaisa kesal bercampur khawatir dengan Alara.
"Tadi, gue kan bilang sama lo. Ra, jangan buat yang aneh-aneh lagi. Gue sama Syafa nggak bisa hidup tanpa lo Ra. Lo ngerti kan! Kalau lo memang nggak mau berjuang hidup buat diri lo, setidaknya lo mikirin, bagaimana nasib Syafa kalau nggak ada lo Ra! Lo kan udah janji bakal rawat dan jagain syafa. Tapi sekarang, bagaimana lo bisa rawat Syafa, sama diri lo sendiri aja lo nggak bisa urus!" Tegas Alaisa pada Alara dengan kesal.
Akara menghentikan ocehan Alaisa.
"Udah sa. Nanti kau lo ngoceh mulu, yang ada Alara nya makin stres sa." Tegur Akara.
"Tujuan gue cuman untuk membuka pikiran Alara itu. Biar dia cepat sadar." Jelas Alaisa.
"Sekarang lo pulang dulu aja ka. Bersih-bersih. Keluarga lo pasti nyariin lo ka. Mumpung masih siang. Nanti keburu malam lagi kalau lo belum beranjak dari sini. Nanti gue pasti kabarin perkembangan Alara sama lo ka. Lo tenang aja." Sambung Alaisa.
Akara menuruti keinginan Alaisa.
"Landak, aku pulang dulu ya. Nanti aku kesini lagi." Ucap Akara sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan Alara.
Selepas Akara pergi, Alaisa menyuruh Alara untuk makan, walaupun sedikit.
"Lo harus makan ya Ra!" Pinta Alaisa.
"Jangan bantah lagi!" Tegas Alaisa lagi.
Alara menuruti perkataan Alaisa. Alara berusaha duduk untuk makan.
"Ee, nggak papa Ra. Lo tiduran aja. Biar gue sama Syafa gantian suapin lo." Ucap Alaisa berusaha menghentikan Alara. Tapi Alara tetap mau duduk. Alara mulai bersuara. "Punggung gue sakit." Tukas Alara dengan ekspresi datar.
"Suatu kemajuan. Gue bangga samo lo Ra. Lo harus cepat sembuh ya. Gue udah lela dari tadi ngoceh mulu tapi nggak ada perlawan seperti biasa dari sahabat gue yang super cuek dan jutek." Ucap Alaisa sembari tersenyum senang.
Alara tersenyum dengan tatapan mata yang masih sayu.
"Sekarang lo buka mulu lo. (Alara masih belum merespon) Ra....? Buka mulutnya dong tuan putri ku!" Ucap Alaisa dengan memelototi Alara sembari menahan tawanya.
Alara membuka mulutnya.
"Nah, gitu dong Ra. Itu baru sahabat gue." Tegas Alaisa dengan senyuman.
"Sekarang gantian Syafa yang suapin lo ya Ra. Gue mau ke toilet dulu." Ucap Alaisa.
"Tapi, lo jangan aneh-aneh lagi ya!" Timpal Alaisa lagi sembari kembali menoleh kebelakang.
Alara tersenyum dan mengedipkan matanya perlahan. Setelah melihat itu, baru Alaisa pergi meninggalkan ruangan Alara menuju toilet.
"Kak Ara makan yang banyak ya kak." Ucap syafa sambil menyuapi Alara.
Hari ini Alara sudah mau makan banyak. Keadaan Alara bisa dikatakan sudah semakin membaik. Udah banyak merespon, walaupun masih belum mau bicara banyak. Tapi itu suatu kemajuan yang baik bagi Alara.
Alaisa dan Syafa tidur di rumah sakit untuk menjaga Alara. Sementara bibik di suruh istirahat di rumah oleh Alaisa.
Kejadian di malam itu, benar-benar menghancurkan hidup Alara, bukan secara fisik aja yang terluka tapi batin dia juga ikut ke guncang.
__ADS_1
*****