ANAKARALA

ANAKARALA
43. Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu jam Alara tertidur karena asik membaca buku diary nya. Suara mama Alara membangunkan Alara dari tidurnya.


"Al, siap-siap lagi sayang. Kita mau pergi lagi Al." Panggil mama Alara dari pintu kamar Alara. Mama Alara nggak bisa masuk, karena pintu kamar Alara dikunci.


"Ya ma. Tunggu bentar." Sahut Alara, sembari berjalan untuk mandi, kemudian siap-siap buat pergi.


Alara sudah selesai siap-siap. Kemudian baru pergi sama mamanya ke acara pengajian.


Alara dan mamanya sampai di rumah teman mamanya, tapi rumah itu nggak asing bagi Alara. Alara seperti pernah ke rumah ini. Dia baru ingat, dan menduga-duga, Alara berharap dugaan dia itu salah.


"Ma, teman yang mama maksud itu, rumahnya memang disini ma....?" Tanya Alara untuk memastikan.


"Iya. Kenapa emangnya sayang? Kamu pernah kesini?" Mama Alara bertanya balik.


"Nggak papa kok ma." Jawab Alara berusaha santai. Dan lanjut berjalan untuk masuk.


"Assalamualaikum...." Ucap mama Alara.


"Waalaikummussalam. Masuk mbak." Ucap mama Akara sambil mempersilakan Alara dan mamanya untuk masuk. Kemudian di suruh duduk.


"Jadi ini anak semata wayang, yang waktu itu, pernah mbak cerita kan mbak?" Ucap mama Akara.


"Iya. Lin." Jawab mama Alara dengan senyuman, sembari melirik ke arah Alara, untuk menyuruh Alara menyalami mama Akara.


"Tapi dilihat dari sorot matanya, seperti nya kita pernah bertemu. Namanya siapa sayang....?" Tanya mama Akara lembut.


"Alara Tante." Jawab Alara lembut.

__ADS_1


Mama Akara kagum dengan sifat Alara yang sangat santun dan ramah.


Dugaan Alara ternyata benar, ini rumah Akara. Walaupun dulu itu Alara cuman sekali pernah di ajak Akara ke rumahnya, dan hanya kebetulan juga, karena ada barang Akara yang ketinggalan waktu itu, pas mereka mau jalan. Dan Alara dulu itu, juga sempat bersalaman sama mama Akara bentar, tapi belum sempat kasih tahu namanya.


***


Acara pengajian di mulai. Sebelum acara di buka, seperti biasa, ada bacaan ayat suci Al Qur'an dulu.


Untuk yang membaca Al Qur'an nya, ustad meminta salah satu dari pihak keluarga. Karena Akram masih di luar negeri, akhirnya Akara memberanikan dirinya untuk tampil membacakan ayat suci Al-Quran di depan umum.


Suara Akara juga tidak kalah bagus dengan Akram. Irama yang di pakai Akara sangat enak di dengar di telinga. Tapi walaupun begitu, ilmu agama Akara masih belum sedalam abangnya. Dia masih harus terus belajar lebih giat lagi.


Alara tersenyum mendengar Akara mengaji. Dia tidak menyangka, Akara yang sekarang sudah banyak berubah ke hal yang lebih positif. Ketika hanyut dengan perasaannya, Alara tiba-tiba tersadar. Dan langsung mengucap istighfar dan minta maaf pada Allah. Karena tidak sepantasnya dia memikirkan laki-laki yang bukan mahramnya. Alara cepat mengalihkan pikirannya ke hal lain.


Setelah selesai Akara mengaji, selanjutnya baru ceramah dari ustad yang pada malam itu, mengisi acara syukuran keluarga Akara. Syukuran atas tambah suksesnya bisnis keluarga Akara.


Di sela-sela ustad sedang ceramah, Alara melihat- lihat di sekelilingnya. Dan tampah di sadari, Alara melihat ada Kaisa disitu, dan secara tidak sengaja, Kaisa juga tiba-tiba ikut melirik ke arah Alara. Seketika Alara langsung memutar kepalanya ke arah lain. Alara malas berurusan dengan Kaisa lagi.


Acara syukuran keluarga Akara udah selesai, Alara dan mamanya pamit untuk pulang.


"Lin, kita pulang dulu ya. Makasih Lo udah di undang". Ucap mama Alara sembari tersenyum.


"Ya Tante, Alara pamit pulang". Timpa Alara sambil menyalami mama Alara.


Mama Akara dan papanya bilang, kapan-kapan kita buat acara makan malam bareng di luar. Mama Alara mengiyakan ajakan orang tua Akara. Alara dan Akara hanya saling lirik sebentar, kemudian langsung memalingkan pandangannya ke arah lain.


Alara dan mamanya langsung menuju mobil mereka untuk segera pulang. Tapi ketika Alara ingin masuk mobil, tiba-tiba ada tangan yang menghentikan Alara untuk masuk.

__ADS_1


"Tunggu bentar Ra." Ucap Kaisa.


"Kaisa. Ada apa Kai...?" Tanya Alara dengan suara lembut dan sedikit heran. Kenapa Kaisa tiba-tiba menghentikannya.


Gadis yang berwajah tirus dan elegan itu melirik sebentar sekitarnya, kemudian baru bicara "Gue mau bicara bentar sama lo Ra. Boleh....?" Ucap Kaisa.


"Tunggu bentar Kai, aku bilang mama bentar." Jawab Alara.


Kaisa bersedia menunggu.


"Ma, alara bicara sama teman Alara bentar ya ma." Ucap Alara, memberitahu mamanya.


"Ya udah. Mama tunggu di mobil ya Al. Jangan lama-lama." Kata mama Alara.


"Ya ma." Ucap Alara sambil berjalan menghampiri Kaisa.


"Mau bicara tentang apa Kai?" Tanya Alara.


"Ini tentang kejadian Alaisa dan Lo di masa lalu Ra." Jawab Kaisa dengan wajah yang mulai serius dan ada pancaran rasa seperti sendu dari sorot matanya.


"Apa hubungannya sama kamu Kai?" Tanya Alara penasaran.


"Panjang ceritanya Ra. Gue udah mau kasih tahu hal ini dari lama sama lo dan Alaisa. Tapi belum bisa, karena papa gue ngawasin gue terus. Kita ketemuan aja besok Ra. Besok gue bakal jelasin semuanya sama lo Ra. Lo harus datang ya. Di beskem KKM KECew, dekat sekolah kita dulu, jam dua siang Ra. Kalau Lo merasa nggak percaya sama gue, Lo boleh ajak Alaisa, Shafan dan Akara kalau perlu. Gue tunggu kedatangan Lo besok Ra. Gue pergi dulu." Tutur Kaisa, kemudian kembali lagi ke tempat papanya, yang masih asik berbicara dengan papa akara.


Alara masih kurang percaya dengan Kaisa, dia takut ini salah satu ide gila Kaisa. Tapi dari sorot mata Kaisa tadi, Alara seperti melihat sorotan mata ketulusan dari Kaisa. Alara memikirkan hal itu di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.


Alara berpikir apa Kaisa udah berubah, tapi hal apa yang membuat gadis killer dan sadis itu berubah. Seketika banyak pertanyaan yang terlintas di pikiran alara. Alara menepis semua prasangka buruk tentang Kaisa itu. "Siapa tahu dia benar-benar udah berupa kan?". Batin Alara.

__ADS_1


Siapa dia sampai meragukan Kaisa berubah. Toh dirinya sendiri dulu juga lebih hina atau mungkin bisa di bilang sama dengan Kaisa. Egois, Arogan, brandalan dan ikut terbawa emosi balik melawan Kaisa. Bukan kah.., sebejat apa pun seseorang dahulu, jika dia sadar dan ingin bertobat, itu salah?. Bukan kah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk membenahi diri agar lebih baik lagi?. Tapi apa aku sehina itu, dibanding banyak kejahatan yang dilakukan Kaisa. Aku emang egois, jutek, brandalan dan selalu membalas perbuatan Kaisa. Apakah aku jadi sama jahatnya dengan Kaisa? Kan aku hanya menenangkan diri dan bela diri. Alara terus saja kepikiran hal semacam itu di benaknya.


****


__ADS_2