
Pagi yang terlihat mendung semendung hati Alara yang hanya terbawa suasana hatinya yang kini rapuh dan penuh akan amarah.
Pagi ini adalah hari pemakaman Alaisa. Semua orang sudah datang untuk menghadiri pemakaman Alaisa, kecuali Alara.
"Syafa, kakak Alara dimana?". Tanya Akara.
"Kak ara di rumah kak. Dari semalam belum keluar kamar". Ucap Syafa dengan raut wajah sedihnya.
"Sepertinya alah masih butuh waktu buat terima semua ini". Ujar Mama Alara.
Akara, Shafan, Pakara dan yang lainnya ikut prihatin dengan segala masalah yang di alami Alara selama ini. Jadi wajar jika sekarang Alara butuh waktu untuk menenangkan diri.
Mama dan Syafa pulang ke rumah. Syafa berjalan ke arah kamar Alara. Dan.....
"Ma, kak Ara nggak ada di kamar ma!". Teriak Syafa sambil berlari menuruni tangga.
Mama Alara terkejut dan kembali mengecek kamar Alara. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu dengan Alara. Mama Alara mencoba menelpon shafan, tapi shafan tidak mengangkat teleponnya. Kemudian menelpon ayah Alaisa dan beberapa teman-teman yang dikenal mama Alara tapi mereka tidak tahu Alara ada dimana.
"Kak Ara kemana ya ma. Syafa takut kakak kenapa-kenapa ma!". Ucap Syafa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu tenang ya sayang". Ucap mama Alara berusaha menenangkan Syafa.
"Pak Kedi....". Teriak mama Alara.
"Ya buk". Sahut pak Kedi bergegas menghampiri mama Alara.
"Tamanin saya buat cari Alara!". Ujar mama Alara.
Pak Kedi dan mama Alara pergi mencari Alara. Sedangkan Syafa tetap di rumah dengan bibik.
Alara mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan tanpa tahu arah dan tujuannya.
****
Suasana malam yang teramat terasa bising dan gaduh di sertai alunan musik DJ di sebuah Bar.
"Tambah satu lagi minuman saya mas!". Bentak seorang gadis memakai celana sependek lutut dan baju separo perut, menampakan pusarnya. Dengan balutan jaket kulit warna hitam, sama topi hitam yang menempel di kepala gadis itu.
Dua orang menghampiri keberadaan cewek itu dengan meledek dan meludah di depan cewek itu.
__ADS_1
"Gila! nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!". Ucap Elsan.
"Akhirnya Lo hentikan juga drama kemunafikan dan rencana Gila Lo itu". Ledek Nafsya.
"Apaan si Lo pada. Gue lagi nggak mood buat ladenin kalian berdua!". Ucap Cewek itu dengan santai sambil kembali meminum air di gelas yang berisi wine.
"Kalau dengan penampilan Lo yang sekarang, udah boleh dong gue pegang-pegang". Ucap Elsan sambil meletakan tangannya di kedua pinggang gadis itu.
Gadis itu pun berdiri dari tempat duduknya dan memutar tubuhnya kemudian menampar Elsan. "Lo jangan berani macam-macam sama gue!". Bentaknya.
"Wii takut kita". Ucap Elsan dan Nafsya bersamaan sambil tertawa.
Elsan kembali mendekap tubuh gadis itu dan berbisik di telinganya. "Temani gue malam ini dong. Semalam aja. Lo mau kan?". Bisik Elsan dengan pelan dan tersenyum jahat.
"Gila Lo yah!". Bentaknya sambil mendorong tubuh Elsan kebelakang.
"Udah deh, nggak usah jual mahal Lo!". Hardik Nafsya.
"Gue nggak kayak Lo ya. Yang sasimo". Ujarnya sambil memegang kra baju Nafsya kemudian mendorongnya.
"Kurang ajar ya Lo!". Bentak Nafsya sambil menepis topi yang di kepala cewek itu.
"Alara!". Ucapnya dengan masih nggak percaya sambil mengusap-usap matanya, siapa tahu dia salah lihat dan sudah mabuk.
"Itu benar-benar Alara. Uuusset". Umpatnya kemudian berjalan ke arah ke gaduhan itu dan melerai mereka.
Cewek cool dan seksi itu ternyata memang Alara. "Shafan. Lo ngapain ada di sini". Ujar Alara dengan santai dan kembali duduk dan meminum wine.
"Seharusnya gue yang tanya seperti itu ke Lo Ra! Lo ngapain berpenampilan kayak gini!". Bentak shafan sambil melihat dari ujung kaki sampai rambut Alara dengan tatapan nggak percaya dengan apa yang baru disaksikannya.
"Kenapa emangnya?". Tanya Alara dengan santai.
"Udah gila ni anak satu. Sekarang Lo pulang!. Gue antar Lo!". Tegas Shafan sambil menarik tangan Alara untuk keluar.
"Apa apaan si Lo!". Bentak Alara sambil menepis tangan Shafan.
"Lo nggak ada hak ya buat atur hidup gue!". Bentak Alara sambil kembali minum.
"Jadi ini sifat asli Lo yang sebenarnya! Kalau gitu ngapain Lo pakai cadar tahun-tahun kemaren. Segitu aja iman Lo. Cetek bangat". Ujar Shafan kesal.
__ADS_1
"Terserah Lo mau mikir tentang gue gimana". Ucap Alara santai.
"Lo boleh nggak sayang sama diri Lo. Tapi otak Lo sempat kepikiran nggak kalau dengan Lo seperti ini, Alaisa nggak bakalan sedih! dan kecewa!". Tukas Shafan.
Alara marah mendengar itu, ia melempar gelas minumannya kelantai. "Lo jangan bawa-bawa nama Alaisa. Tahu apa Lo tentang sahabat gue!. Lo nggak usah nasehatin gue. Tanya diri Lo, Lo ngapain di sini?". Kembali main perempuan lagi Lo!". Tegas Alara sambil menyenggol bahu Shafan kemudian berjalan keluar bar dengan jalan yang sempoyongan.
Shafan mengikuti Alara keluar. Shafan berusaha untuk membantu Alara masuk mobilnya. Namun lagi-lagi Alara menepis tangan shafan untuk membantunya.
"Lo pulang sama gue!. Lo udah mabok Ra!". Ujar Shafan sambil kembali memapah Alara untuk ke mobilnya.
"Gila ya gue. Sadis bangat hidup gue. Maafin gue La. Lo pasti bakalan marah ya, kalau gue kembali lagi kayak dulu". Gumam Alara sambil tertawa kecil disela maboknya.
Shafan berhasil membawa Alara ke mobilnya. Alara duduk di bangku depan di samping Shafan.
"Lo jangan kasih tahu teman-teman Lo ya. Gue sebenarnya nggak mau kembali kayak gini. Tapi tadi gue kepikiran, kalau gue kembali jadi cewek brandal kayak dulu, siapa tahu Alaisa bakal kembali datang seperti biasa buat jemput gue dan bawa gue pulang ke rumah kan fan?". Gumam Alara sambil menatap sendu ke arah Shafan.
Shafan hanya mendaham pelan. Ia tetap fokus menyetir menuju rumah Alara. Alara sudah tertidur dengan raut wajahnya yang kacau. Mereka sudah sampai. Shafan mengendong Alara masuk ke rumahnya.
"Alara....". Teriak mama Alara terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Shafan mengantar Alara ke kamarnya. Kemudian menuruni tangga menuju lantai satu.
"Kenapa dengan Alara nak Shafan?". Tanya mama Alara.
"Sepertinya alah kalut dan nggak bisa mengontrol emosi dan perasaannya karena kehilangan Alaisa Tante". Ucap Shafan.
"Ya ampun Al. Makasih udah antar Alara pulang ya nak Shafan". Ucap mama Alara.
"Ya Tante. Saya pulang dulu Tante". Ujar Shafan sambil menyalami mama Alara kemudian berjalan menuju mobilnya.
Setelah Shafan pulang, mama Alara masuk ke kamar Alara. Ia mengelus lembut rambut Alara dan air mata bening mengaliri pipi wanita yang hampir separoh baya itu. "Se kehilangan itu kamu nak. Sampai kamu kembali menjadi Alara yang dulu. Kamu jangan seperti ini sayang. Semuanya udah takdir Al. Jika Alaisa tahu, dia juga bakalan sedih melihat kamu seperti ini Al". Ucap mama Alara pilu sambil mengecup lembut pipi putrinya yang sudah tak sadarkan diri itu.
Mama Alara tidur di samping Alara sambil memeluk Alara dari belakang. Hari sudah sangat larut malam. Syafa dari tadi sudah tidur, jadi dia tidak tahu tentang hal ini.
Alara yang sekarang, kembali menjadi gadis labil, tomboi dan seperti berandalan waktu ia berumur 16 tahun. Dulu Alara jika sedih, marah, dan muak dengan hidupnya, ia pasti minum dan merokok di bar. Tapi tampah sepengetahuan Alaisa. Ia mulai berhenti seperti itu, waktu Alaisa beberapa kali memergoki Alara. Sampai pada hari dimana ia memutuskan untuk tidak seperti itu lagi. Karena Alaisa marah pada Alara dan mengancam Alara dengan nyawanya. Jika Alara masih seperti itu lagi, Alara boleh lanjut dengan bebas tapi ia tidak akan pernah melihat Alaisa lagi. Akhirnya Alara berjanji nggak bakalan main lagi ke bar apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Karena alara tidak ingin kehilangan sahabatnya Alaisa.
Tapi hal yang ia tahan selama ini, dan hal yang dilarang Alaisa, Alara kembali terjun ke dunia gelap itu. Alara nggak berpikir panjang. Dia hanya mengikuti amarah dan rasa kecewanya pada sang pencipta. Kenapa ia harus megambil satu-satunya orang yang peduli dan sayang padanya melebihi siapa pun. Alara kalut, ia malam itu hanya dibaluti rasa amarah dan hasutan pemikiran-pemikiran bersalah dan pemikiran bahwa sang pencipta itu benci padanya sehingga ia tega merenggut nyawa sahabatnya. Padahal selama ini iya sudah berusaha untuk mempertahankan Niqab yang ia kenakan. Alasan ia mengenakan Niqab itu pun bisa dibilang sepele dan hanya karena ia merasa risih dengan kejadian waktu itu.
Itu lah Anakarala gadis tomboi dan masih labil dengan penampilannya yang jauh berbeda dengan sifat yang masih melekat di dirinya.
__ADS_1
...Bersambung...