ANAKARALA

ANAKARALA
40. Satu Tahun Lalu


__ADS_3

Mentari berselimut mendung bersamaan dengan tanya yang masih mengukung sejak sekian lama.


"Pagi sayang." Ucap mama Alara.


"Pagi ma." Jawab Alara sambil duduk di meja makan.


"Ini siapa yang masak bik....?" Tanya Alara.


"Nyonya non." Jawab bibik.


"Gimana rasanya sayang, nggak enak ya....?" Tanya mama Alara.


"Enak." Jawab Alara berusaha tersenyum.


"Syukurlah kalau kamu suka." Ucap mama Alara lega.


"Hari ini kamu ada kegiatan diluar sayang....?" Tanya mama Alara.


"Nggak ma." Jawab Alara santai.


"Kalau gitu, mama boleh minta tolong sama kamu sayang....?" Ucap mama Alara sambil tersenyum pada Alara.


"Tolong apa ma....?" Tanya Alara sambil tetap melanjutkan makannya.


"Temanin mama ke acara syukuran teman mama sayang. Teman mama adakan acara pengajian, sebagai tanda syukurnya sama Allah, karena bisnis teman mama sekarang Alhamdulillah tambah maju." Ucap mama Alara.


"Ya udah ma. Nanti mama panggil aja Alara di atas, kalau mama udah mau berangkat." Jawab Alara dengan nada datar.


"Makasih sayang." Kata mama Alara sembari berjalan kearah alara, memeluk dan mencium Alara.


Alara merespon tindakan mamanya dengan sedikit tersenyum.


Begitulah hubungan Alara dan mamanya sekarang. Sejak kepergian Alaisa, Alara mencoba untuk mendengarkan saran Alaisa untuk benar-benar memaafkan mamanya, dan memberikan kesempatan kedua bagi mamanya. Jadi Alara sekarang lagi berusaha untuk menerima lagi kehadiran mamanya, walaupun Alara belum sepenuhnya membuka hatinya untuk itu.


Setelah selesai makan, Alara kembali ke kamarnya. Alara membuka buku diary nya.


Semua kejadian yang terjadi di hidupnya, dia tulis di buku mungil itu. Alara tidak percaya, dirinya ternyata mampu melewati ujian itu sampai di titik sekarang ini. Alara juga tidak menyangka, sekarang dia benar-benar hijrah dan tujuan mengenakan Niqab nya sekarang benar-benar karena Allah SWT, bukan karena hal lain, seperti tujuan awalnya satu tahun yang lalu, yang niatnya bukan karena takut pada Allah SWT. Tapi takut dengan hal lain.


'Kejadian Satu Tahun Lalu'


Tahun ini, merupakan tahun pertama Alara masuk kuliah. Alara belum pakai Niqab, ia masih memakai hijab.


Alara mengikuti kegiatan Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan kehidupan perkuliahan.


"Anakarala." Suara itu berasal dari depan, tempat para senior berkumpul (di lapangan kampus). Alara menghampiri sumber suara.


" Ya ada apa kak....?" Tanya Alara santai.


"Kamu tidak tahu apa kesalahan kamu....?" Salah satu senior itu balik bertanya.


Alara menggeleng, kemudian menjawab "Emang salah saya apa kak....?"

__ADS_1


"Salah kamu, kamu kenapa cantik bangat si. Kecantikan kamu, bikin teman saya nggak bisa napas tu." Ucap Aknan sembari memberikan sorakan untuk menggoda Alara.


"Tanggung jawab..., tanggung jawab..., tanggung jawab...." Sorak semua mahasiswa/i yang mengikuti Ospek.


Karena Alara masih terkenal dengan sifat cuek dan juteknya, Alara bilang makasih atas pujiannya, dan kemudian langsung kembali ke barisannya.


"Nggak sopan bangat tu anak baru." Gumam Nafsya.


"Udah, biarin aja, mungkin dia grogi." Ucap Aknan berusaha menenangkan Nafsya.


"Ya nggak bisa gitu dong nan. Kita ini, senior dia. Gue nggak terima!" Tukas Nafsya sembari mengambil alih mic dari tangan Aknan.


"Untuk yang nama Anakarala, saya minta, kamu maju lagi ke depan ini!" Pinta Nafsya dengan kesal.


Alara hanya diam di tempat ia berdiri. Alaisa melirik ke arah Alara dan meminta Alara untuk maju lagi ke depan.


"Ra, nama lo di panggil lagi tu." Ucap Alaisa sambil menatap Alara lekat-lekat.


"Biarin aja la. Gue males." Jawab Alara santai.


"Ikutin aja game yang di buat sama senior kita. Ini kita baru masuk kuliah loh Ra. Jangan cari masalah dulu." Gumam Alaisa.


"Lo aja yang ke depan buat gantiin gue La." Ucap Alara cuek.


"Ra...." Gumam Alaisa, Sambil melotot geram ke arah alara.


"Ya udah. Oke!" Jawab alara dengan kesal, kemudian berjalan ke depan.


Nafsya buat game, tujuan dia buat ngerjain Alara. Biar nggak belagu lagi.


"Sekarang kita akan main game sama Queen kita, Alara.... Tepuk tangannya dong." Kata Nafsya.


"Tantangannya adalah, uji nyali." Sambung Aknan.


Para panitia Ospek lainnya, membawa tiga kotak kaca yang ditutupi kain hitam, ke depan.


Peraturan gamenya, pemain harus berani mengambil apa pun isi yang ada dalam kotak itu. Jika berhasil, pemain dapat hadiah dan jika kalah, pemain harus bersedia menerima hukuman apa pun.


"Oke, kita mulai gamenya." Ucap Nafsya bersemangat.


Kotak kaca pertama di buka tutup kain hitamnya. Para mahasiswa/i lainnya sontak kaget dan merasa jijik dengan binatang yang ada di dalam kotak itu.


Alara mengambil satu ekor kecoak dari dalam kotak tersebut, kemudian dengan sengaja sedikit mendekatkannya, ke arah Nafsya.


Nafsya sontak berteriak dan menghindar, karena merasa jijik dengan kecoak itu. Nafsya tambah kesal dengan sifat Alara.


"Waw..., sangat mengesankan Alara. Gadis yang berparas cantik ini, ternyata berani dengan kecoak. Tepuk tangan dulu untuk Alara." Ucap Elsan, memuji Alara dengan raut wajah, seperti ada maksud terselubung.


"Selanjutnya, kotak kedua!" Ucap Aknan dengan lantang.


Kotak kedua di buka, Alara mengambil marmut yang ada di dalam kotak itu. Selanjutnya, kota ketiga. Waktu kain hitam yang menutupi kotak ketiga itu di buka, Alara tiba-tiba terkejut dan spontan berlari kesamping, agak jauh dari kumpulan senior itu. Alara muntah. Dia tidak sanggup melihat binatang yang ada di kotak itu. Alara merasa geli dan jijik dengan binatang itu.

__ADS_1


Para panitia Ospek, meminta Alara untuk kembali ke depan, agar gamenya cepat selesai.


Alara merasa tidak sanggup untuk memasukan tangannya ke dalam kotak itu. "Anjritt... kumpulan cacing. Geli gue". Batin Alara.


"Gue nyerah." Ucap Alara sambil bergerak sedikit mundur dari kotak itu.


Mendengar itu, Nafsya sangat senang. Akhirnya dia punya kesempatan buat kasih pelajaran buat cewek songong dan belagu kayak Alara.


"Karena Alara gagal, sesuai kesepakatan, kita bakal kasih hukuman buat Alara." Ucap Aknan.


"Dan, sebagai hukumannya, kita mau Alara, cium pipi Elsan disini." Ucap Nafsya sambil tersenyum jahat.


Mendengar itu, semua orang terkejut termasuk Aknan dan Elsan. Tapi Elsan memang berharap juga untuk itu, hal itu tergambar dari expresi Elsan yang playboy. Nafsya sengaja buat hukuman seperti itu, untuk mempermalukan Alara.


"Naf, Lo apa-apaan si Naf. Kalau nanti dosen lihat gimana. Dan hukuman ini juga udah keterlaluan Naf!" Kata Aknan berusaha untuk menghentikan tindakan Nafsya.


"Lebay Lo Nan. Cuman cium pipi doang. Nggak lebih. Dari mana keterlaluan nya coba!" Gumam Nafsya.


"Ayok. Harus sportif dong. Kenapa, Lo nggak berani....?" Ledek Nafsya.


"Gue kira lo suhu, e... ternyata cupu." Ucap Nafsya dengan tertawa puas.


Alara sangat kesal dengan ucapan Nafsya. Tanpa pikir panjang, Alara berjalan mendekati Elsan kemudian langsung mencium pipinya.


"Udah kan." Ucap Alara dengan gaya cueknya, kemudian berjalan meninggalkan lapangan.


Tahu sendiri lah Alara orangnya tidak suka digituin. Pantang bagi Alara, ada orang yang uji kesabaran dia seperti itu. Nafsya salah cari musuh untuk dia jatuhkan. Tidak semudah itu menjatuhkan Alara. Alara anaknya sangat nekat dan berani. Ya, walaupun sekarang dia udah mengenakan hijab, hal itu tidak bisa ia jadikan alasan buat menjadikan dia perempuan lemah, yang mudah aja di injak-injak harga dirinya sama orang lain. Nafsya sangat kesal dengan Alara. Secara tidak langsung, dia jadi dipermalukan di depan umum.


Alaisa duduk dengan Alara di kantin dekat kampus.


"Gila lo Ra. Nekat bangat Lo." Ucap Alaisa.


"Ya mau gimana lagi. Harga diri gue di pertanyakan." Jawab Alara santai.


"Bukannya dengan Lo mau cium tu cowok, harga diri lo lebih di jatuhkan ya Ra. Secara kan sekarang lo udah pakai hijab ni, pasti anak-anak yang lain sekarang berpikiran negatif Ra. Berhijab tapi kelakuannya nggak bangat. Mungkin mereka bakal ada yang punya pemikiran seperti itu Ra." Tutur Alaisa.


"Gue tahu. Gue udah siap terima resikonya. Tapi, kalau gue nggak terima hukuman itu, justru gue tambah dijatuhkan Ra. Si Nafsya itu pasti ledek dan bully gue habis-habisan. Dengan itu, anak-anak yang lain pun juga bakal ikutan ngeledek Ra." Ucap Alara.


"Tapi, kak Nafsya itu kayak sengaja gitu deh. Buat ngerjain Lo Ra." Gumam Alaisa.


"Nggak tahu gue. Sengaja cari masalah aja tu orang sama gue." Jawab Alara sedikit kesal.


"Ya udah la, nggak usah dipikirin juga. Lagian acara Ospek kita udah selesai. Jadi gue pikir, kita nggak bakal ketemu lagi sama mereka." Gumam Alaisa.


"Semoga aja. Gue malas ladenin orang-orang kayak gitu." Ucap Alara.


"Pas Lo cium kak Elsan tadi, gue lihat, ekspresi kak Elsan senang bangat tu. Jangan-jangan kak Elsan suka lagi sama lo Ra." Asumsi Alaisa.


"Nggak peduli juga gue." Jawab Alara cuek.


Alara dan Alaisa langsung pulang, setelah selesai makan di kantin.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2