ANAKARALA

ANAKARALA
46. Berdamai dengan masa lalu 2


__ADS_3

Setelah dari pemakaman, Alara pulang ke rumah. Pas sampai di rumah, dia dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis cantik yang terus tersenyum lebar di pintu masuk rumahnya melihat ke arah Alara.


"Kak Ara." Teriak gadis kecil itu, sambil berlari menghampiri Alara dan memeluknya.


"Sayang. Kakak kangen sama Syafa." Ucap Alara dengan banjiran air mata kerinduan.


"Kapan sampai sayang?" Tanya Alara menatap ke arah Syafa.


"Baru aja tadi kak." Jawab Syafa dengan girang.


Alara kembali memeluk Syafa dan mencium pipi Syafa. Ya walaupun masih dalam keadaan memakai Niqab.


"Kenapa Syafa nggak kabarin kakak kalau mau pulang hari ini sayang." Ucap Alara sambil mengelus kepala Syafa yang masih pakai kerudung.


"Biar jadi kejutan kak." Jawab Syafa.


Alara dan Syafa masuk ke rumah. Dan duduk di ruang tamu.


"Ma, mama udah tahu juga kalau Syafa akan pulang hari ini?" Tanya Alara.


"Udah." Jawab mama dengan tertawa kecil.


"Berarti di rumah ini, aku sendiri yang belum di kasih tahu." Ucap Alara.


"Iya, biar kejutan kata adek kamu. Syafa sendiri yang minta begitu." Jawab mama Alara.


Syafa tersenyum lebar melirik ke arah Alara.


"Aku ke kamar dulu ya ma. Sayang kamu ikut kakak ke kamar ya. Kakak masih kangen bangat sama Syafa." Kata Alara sembari berjalan menuju kamarnya bersama Syafa.


Mereka sampai di kamar. Alara mengunci pintu kamarnya. Takut ada yang tiba-tiba masuk nanti. Soalnya Alara dan Syafa udah nggak pakai hijab.


"Coba berdiri di sudut itu bentar dek. Kakak mau lihat tinggi kamu sekarang berapa." Pinta Alara.

__ADS_1


"Ya ampun. Adek kakak yang kemaren masih kecil dan gemas. Sekarang udah mau beranjak jadi anak remaja." Ucap Alara sambil mencubit gemas pipi Syafa dan menciumnya.


"Syafa selama di pesantren kangen terus sama kak Ara." Ucap Syafa lembut sambil kembali memeluk Alara.


"Kak juga sayang." Kata Alara.


"Nggak terasa ya dek. Udah hampir tiga tahun kita nggak ketemu. Dan pas ketemu, adek kakak udah gedek aja." Gumam Alara penuh haru.


"Maaf ya sayang, kak nggak pernah kunjungi Syafa sewaktu di pesantren." Ucap Alara.


"Ya nggak papa kak. Syafa bisa ngerti kok kak. Lagian pesantren Syafa juga di luar kota Jakarta. Waktu itu bibik bilang di telpon, mau temuin Syafa ke pesantren, Syafa nggak bolehin." 


"Kenapa nggak Syafa bolehin sayang?" Tanya Alara.


"Nggak papa. Biar Syafa bisa mandiri juga kak." Ucap Syafa.


"Kamu dewasa bangat pemikirannya sayang. Peluk lagi." Kata Alara sambil kembali berpelukan.


Alara dan Syafa saling melepas rasa rindu mereka karena sudah bertahun-tahun nggak bertemu.


****


Hari ini, sehabis dari kampus, Alara ingin bertemu dengan ayah Alaisa, ada yang mau Alara tanyakan.


Kuliah hari ini telah usai, kini saatnya Alara menemui ayah Alaisa. Alara berangkat menuju rumah ayah Alaisa.


Alara menggetuk pintu rumah Alaisa sambil mengucap salam.


"Waalaikummussalam. Masuk Ra." Ucap ayah alaisa.


"Hari ini ayah nggak kerja yah...?"


"Nggak, hari ini libur."

__ADS_1


"Udah makan Ra? kalau belum, makan dulu. Nanti sakit lagi." Sambil berdiri ingin mengajak Alara makan.


"Alara udah makan yah. Baru aja tadi, sebelum kesini.


"Yah, waktu itu kan ayah pernah bilang, kalau papa lagi ada masalah, pasti selalu cerita sama ayah."


"Iya benar. Emang mau tanya apa nak....?"


"Papa pernah cerita nggak sama ayah, tentang mama, papa dan orang ketiga?"


"Maksud kamu, tentang perselingkuhan papa kamu?"


"Papa benar pernah selingkuh yah?" Dengan nada sedikit meninggi.


"Sebelum ayah jelasin, ayah minta, Alara bisa menerima, dan menyikapi hal ini dengan baik ya sayang. Itu kejadiannya udah lama, waktu itu Alara juga masih kecil dan mama Alara baru tahu, setelah papa Alara, udah nggak pernah lagi berhubungan dengan selingkuhan nya itu. Bahkan kabar apa pun tentang selingkuhannya itu papa kamu benar-benar udah nggak tahu. Papa Alara udah sadar, kalau apa yang ia perbuat itu salah. Dan dia juga nggak ingin menyakiti perasaan mama kamu, dan kamu lebih dalam lagi. Dia berharap kesalahan yang di perbuat itu, sampai kapan pun jangan sampai di ketahui mama kamu. Tapi, yang namanya bangkai, mau sehebat apa pun kita simpan, pasti baunya bakalan tercium juga. Mama kamu marah besar, nggak terima penjelasan papa kamu. Akhirnya mama kamu lepas kendali. Dan terjadi musibah itu."


Mendengar itu, Alara seperti kesulitan bernapas, dada dia rasa sesak, tapi Alara berusaha mengontrol emosinya.


"Papa pernah bilang sama ayah, apa alasan papa sampai bisa selingkuh?"


"Sebenarnya, papa kamu nggak ada niatan untuk selingkuh sama sekali. Itu la papa kamu, karena dia terlalu baik, dan nggak tegaan sama orang, bahkan orang yang sebelumya tidak dia kenal sama sekali. Waktu itu, papa kamu, ada kerja di luar kota, tapi pas di perjalanan mau berangkat, dia lihat ada cewek yang sedang di kroyok oleh preman. Tanpa pikir panjang, papa kamu bantuin. Cewek itu namanya Almina, ya usianya nggak jauh beda sama mama kamu. Almina kondisinya waktu itu, habis babak belur. Papa kamu bawa dia ke rumah sakit. Setelah di rawat, Almina bangun. Tapi papa kamu, waktu itu pergi keluar dulu buat beli makan dan minum buat cewek yang dia tolong. Almina itu bangun, dia panik, dia syok. Dia berjalan tergesa-gesa, naik lift, sampai di atap rumah sakit. Dia atas Almina, menangis histeris. Dia menyakiti dirinya sendiri. Sampai dia lepas kontrol, dia berdiri di balkon. Dan pada saat itu, papa kamu lihat dari bawah. Papa kamu langsung berlari ke atas. Sampai di atas, dia berusaha menghentikan Almina untuk jangan nekat buat terjun. Almina bilang, dia udah nggak suci lagi. Dan motivasi dia buat hidup udah nggak ada. Papa kamu bilang, kalau dia, bakal menjadi teman untuk Almina. Dia nggak bakal sendirian. Almina bilang, teman tidak bisa bersama dengan dirinya setiap saat. Jadi di nggak mau dengar ucapan papa kamu. Almina jatuh terpleset, untungnya papa kamu masih sempat pegang tangan dia. Almina marah, dia minta di lepasin. Akhirnya, papa kamu bilang, kalau dia bakal nikahin Almina. Almina selamat. Pernikahan papa kamu dan Almina, langsung di laksanakan di rumah sakit itu, dalam kondisi Almina masih terbaring lemas. Papa kamu sepeduli itu sama orang, sampai dia tidak berpikir panjang bagaimana dampak kedepannya. Hubungan pernikahan mereka berjalan cukup lama, sampai pada akhirnya, papa kamu udah tidak sanggup lagi bohong sama mama kamu, dan kamu. Setiap melihat senyuman kamu, tawa kamu, papa kamu jadi berasa tertusuk bertubi-tubi. Karena udah membohongi dua wanita yang sangat dia sayangi. Akhirnya, dia berani bicara sama Almina, kalau dia udah nggak sanggup lagi. Almina awalnya marah, tapi dia meredam egonya. Dia melepaskan papa kamu. Sejak itu, papa kamu nggak pernah dengar lagi kabar Almina, Almina seperti hilang dari permukaan bumi. Keberadaan dia sudah tidak diketahui. Bahkan rumah, dan fasilitas yang diberikan papa kamu, sebagai permintaan maafnya, dan untuk menjamin kehidupan Almina juga kedepannya. Almina nggak ambil. Dia pergi begitu saja. " Jelas ayah Alaisa panjang kali lebar.


Alara menangis tanpa henti. Kemudian langsung pamit, dan buru-buru menuju rumahnya.


Sampai di rumah, Alara berganti pakaian rumah lengan panjang, tapi tidak pakai hijab maupun niqab. Karena nggak ada laki-laki di rumah. Alara langsung mencari mamanya. Pas bertemu, dia peluk erat tubuh mamanya. Dia menangis tanpa henti.


"Kamu, kenapa sayang? Kenapa nangis?" Tanya mama Alara bingung.


Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Alara perlahan bicara.  "Maafin Alara ma. Maaf." Sambil mencium tangan mamanya berkali-kali.


"Maaf kenapa sayang? Udah jangan nangis lagi." Sambil mencium dan memeluk anak semata wayang nya itu.


Alara udah mulai tenang, dan dia bilang kalau dia udah tahu semua yang terjadi tentang papanya. Dia minta maaf karena nggak pernah mau mendengarkan penjelasan dari mamanya.

__ADS_1


Hari itu merupakan hari penuh penyesalan bagi Alara. Dia menyesali semua sikap dan perbuatannya di masa lalu. Dan untuk menghilangkan rasa sesak dan kecewa dia di masa lalu, Alara memutuskan untuk berusaha berdamai dengan apa pun kejadian di masa lalunya. Dia harus terus melangkah maju ke depan, agar di masa depan, kehidupan dia jauh lebih baik dan jauh lebih bahagia. Alara belajar untuk lebih banyak bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan dalam hidupnya, tidak luput dari apa yang pernah iya alami selama ini.


*****


__ADS_2