
Selepas Alara pergi dari rumah Alaisa, yang tidak tahu tujuannya kemana. Pergi begitu saja sehabis menceritakan tentang mamanya yang pulang dari Amerika. Alaisa siap-siap ingin pergi menemui pujaan hatinya. Keluar dari rumah menuju motor yang bisa dibilang modelnya udah ketinggalan zaman.
Alaisa sampai ditujuan nya. "Apa kabar sayang cintanya Ais". Ucap Alaisa sambil memeluk tubuh yang sudah renta itu.
"Ayah udah merasa semakin baikan kan yah...?" Tanya Alaisa sambil mengelus-elus tangan pria yang terbaring tidak berdaya di ranjang tempat rawat pasien di rumah sakit.
"Ayah harus tetap kuat yah! Cepat sembuh! Dan jangan ingkar janji yah! Ayah udah janji sama Ais kalau nanti Ais udah libur kerja ayah bakal turutin maunya Ais seharian penuh!Harus ya ayah!. Ais yakin Ayah bakal ingat dengan janji ayah. Soalnya ayah kan paling benci dengan yang namanya ingkar janji."
"Ais sayang sama ayah. Sambil berbisik lembut ke telinga ayahnya."
Alaisa terus saja mengoceh didepan ayahnya meski tahu ayahnya tidak akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Alaisa. Ayah Alaisa mengalami koma karena kecelakaan yang menimpanya waktu itu. Dan sejak itu juga Alaisa bekerja sambil kuliah untuk biaya hidup dan biaya kuliahnya. Ya walaupun Alaisa dapat beasiswa tapi ia tetap butuh biaya untuk keperluan kampus lainnya. Karena beasiswa Alaisa hanya untuk bayar uang kuliah Alaisa, tidak ada uang bulannya kayak Beasiswa Bidikmisi.
"Cinta ku" ucap Alaisa lembut. "Ais pergi dulu yah. Nanti Ais kesini lagi." Sambung Alaisa sembari mencium ayahnya dan berlalu pergi.
Alaisa berjalan menuju parkiran. Kemudian mendekati motornya.
Ketika ingin pergi, Alaisa bertabrakan dengan seseorang yang tidak asing baginya.
"Hi.. sa?" Sapa dia.
"Ya hi." Jawab Alaisa canggung.
"Udah lama kita nggak ketemu ya sa." Ucap dia.
"Aa... iya." Jawab Alaisa dengan bingung tidak tahu harus bersikap seperti apa pada masa lalunya itu.
"Kamu ada kegiatan hari ini sa?" Tanya dia.
"Uhmm (berpikir) nggak ada." Jawab Alaisa. "Kenapa emang ?" Sambung Alaisa menahan perasaan rindu padanya.
"Kalau nggak ada, kita jalan bentar yok. Mumpung sekarang aku juga free. Kita ngobrol-ngobrol aja. Udah lama juga kan nggak ketemu." Ucap dia dengan senyuman.
Alaisa tidak ada alasan untuk menolak ajakannya. Perasaan Alaisa nggak stabil. Antara nggak percaya bisa bertemu lagi sama dia, atau nggak bisa menahan rasa yang dulu pernah dia miliki, namun tiga tahun belakangan ini rasa itu telah terkubur jauh di lubuk hatinya.
"Ya boleh." Jawab Alaisa berusaha memaksakan wajah senyumnya.
"Kalau gitu kita pergi pakai mobil gue aja ya sa." Pinta dia.
"Tapi motor gue." Jawab Alaisa sembari menunjuk ke arah motornya.
__ADS_1
"Udah, titip sini aja dulu. Nanti gue kasih tahu satpam buat jagain ya." Ucap dia dengan lembut sembari kembali tersenyum.
"Uhmm... ya udah." Jawab Alaisa datar.
Dia membuka pintu mobil untuk Alaisa (bagai tuan putri yang lagi dijemput pangerannya) dan kemudian baru dia masuk mobil. Mobil berlalu meninggalkan rumah sakit dengan perlahan.
Sebenarnya sudah beberapa hari belakangan ini, dia sudah sering melihat Alaisa dan bahkan sengaja mengikuti Alaisa untuk tahu bagaimana kabar Alaisa sekarang. Hari ini bukan kebetulan. Dia sudah tahu kalau Alaisa bakal ke rumah sakit.
"Sekarang kesibukan kamu apa aja sa?" Tanya dia sambil melirik kearah Alaisa.
"Nggak jauh berbeda dari kegiatan dulu. Ya gitu-gitu aja." Jawab Alaisa berusaha santai.
"Uhmm (bergumam). Tapi menurut aku kamu itu udah banyak berubah dengan yang dulu sa."
"Maksudnya, berubah apanya?" Tanya Alaisa sedikit bingung.
"Ya berubah (sambil menunjuk dari atas ke bawah). Kamu sekarang tambah cantik dengan hijab yang kamu kenakan. Dan sekarang kamu lebih pendiam ya sa?" Ucap dia.
"Uhmm (bergumam) mungkin." Jawab Alaisa asal.
Dia terus mengendarai mobil sambil berbincang-bincang dengan Alaisa.
Dia turun dan kembali membuka pintu untuk Alaisa. Alaisa bingung apa maksud dia membawanya ke tempat ini.
"Ayok." Ajak dia sambil menarik tangan Alaisa dan berlari menaiki tangga demi tangga dan sampai di atap gedung.
Di atap itu masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya. Tidak ada yang berubah, bahkan tetap bersih dan tetap menyimpan sejuta kenangan indah dan luka.
"Lo ngapain ajak gue kesini sha?" Tanya Alaisa menahan kesal.
"Akhirnya! Gue kembali mendengar ada orang yang panggil gue dengan panggilan itu lagi." Ucap dia dengan tersenyum lega.
"Udah aa... gue mau pulang!" Tegas Alaisa.
Dia menahan tangan Alaisa agar jangan pergi.
"Mau lo apa si Shafan!" Bentak Alaisa disertai melempar tasnya kelantai.
Alaisa tidak menyangka Shafan bakal bawa dia ketempat ini. Kalau Alaisa tahu, dia nggak bakalan mau ikut sama Shafan.
__ADS_1
"Gue mau meluruskan pemasalah kita sa!" Tegas Shafan dengan menggenggam kedua tangan Alaisa.
"Udah basi tahu nggak!" Bentak Alaisa lagi sembari melepas genggaman Shafan kemudian melangkah ingin pergi namun langkah Alaisa terhenti. Dua tangan mendekap Alaisa dari belakang. Shafan memeluk Alaisa dari belakang dan sambil berbicara dengan Alaisa perlahan.
"Gue minta maaf sa! Gue nggak maksud begitu dimasa lalu sa! Gue akuin gue brengsek sa! Ucap Shafan lembut dengan genangan air dimatanya yg masih dia tahan agar tidak jatuh membasahi pundak Alaisa. "I love you then and now it's still the same (berbisik lembut ke telinga Alaisa)."
Alaisa melepas dekapan Shafan dan memutar tubuhnya menghadap Shafan.
Plakk...
Tangan Alaisa seketika langsung mengenai pipi Shafan yang merah merona dengan ayunan cukup keras. (Alaisa menampar Shafan).
"Kenapa baru sekarang lo... (Sambil mendorong-dorong kecil Shafan) mau kasih penjelasan ke gue!" Pekik Alaisa dengan wajah menahan tangis.
"Hari-hari kemaren, minggu-minggu kemaren, dan sampai tahun-tahun kemaren! Lo kemana aja! Lo nggak tahu kan seberat apa masalah yang gue hadapin waktu itu. Waktu itu gue butuh bangat lo ada didekat gue Sha!" Teriak Alaisa disertai isak tangis.
"Sekarang lo kayak good boy! Datang-datang minta waktu buat jelasin apa yang terjadi waktu tu!. Kurang waktu apa gue kasih buat lo! 3 tahun Sha!" (dengan menuliskan angka tiga di udara). Sambung Alaisa dengan napas yang belum stabil.
"Oke... Gue bakal jelasin sejelas-jelasnya, lo tenang dulu! Gue mohon!" Ucap Shafan dengan tetap lembut sembari menjatuhkan diri kelantai lalu bertekuk lutut di depan Alaisa.
Alaisa melangkah sedikit mundur kebelakang karena kaget dengan tindakan Shafan dan memenuhi permintaan Shafan untuk mendengarkan penjelasannya.
"Waktu itu, aku tidak ada maksud untuk meninggalkan lo sa!" Ucap Shafan Sambil menatap Alaisa lekat-lekat. "Papa Gue kirim gue sekolah keluar negeri sa! Dan ada hal yang harus gue selesaikan juga di sana sa." Gue udah berusaha buat ngasih tahu lo sa. Gue mau bicara langsung samo lo waktu tu, tapi lo lagi sibuk sama Alara. Dan gue sebelum pergi udah berusaha telpon lo juga sa! Tapi nomor lo nggak aktif!. Jadi gue nggak tahu lagi harus gimana, dan saat itu pesawat gue udah mau lepas landas. Papa langsung suruh gue buat berangkat." Jelas Shafan sembari menunduk. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Alaisa mencoba mencerna perlahan penjelasan dari Shafan kemudian meminta Shafan untuk kembali berdiri. Dari penjelasan Shafan, Alaisa mengingat kembali satu kejadian, ingatan itu seketika membuat Alaisa panik dan menjerit ketakutan. Bergeming suara-suara tawa dan ejekan bersamaan ditelinga Alaisa. Shafan cemas dan terkejut dengan apa yang dilihatnya hari ini. Shafan bingung, ada apa dengan Alaisa kenapa dia tiba-tiba menjerit ketakutan. Seperti trauma masa lalu yang kembali muncul di ingatannya.
"Sa... (Memanggil lembut sambil menghampiri Alaisa) are you oke?" Tanya Shafan.
Alaisa berusaha mengendalikan dirinya. Dan kembali normal.
"Umm... Ya... Gue nggak papa." Jawab Alaisa sembari mengambil tasnya kembali."
"Gue mau pulang. Lo nggak usah antar dan ngikutin gue. Gue bisa sendiri." Ucap Alaisa kemudian berlalu pergi meninggalkan Shafan.
"Hati-hati yaa sa...!" Teriak Shafan
Shafan membiarkan Alaisa pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mendapatkan jawaban dari Alaisa, apakah Alaisa sudah memaafkan dia atau belum. Shafan memberikan waktu untuk Alaisa menenangkan dirinya. Sebenarnya Shafan masih bingung dengan sikap Alaisa tadi. Kenapa Alaisa tiba-tiba histeris setelah dia menceritakan alasannya menghilang 3 tahun lalu. Shafan semakin merasa bersalah. Dia terus berpikir apa yang sebenarnya terjadi waktu dia tidak ada lagi di Jakarta.
...Bersambung...
__ADS_1