
Alaisa mencari tutorial mengenakan Niqab yang benar itu bagaimana. Alaisa dan Alara saling tertawa dengan rencana gila ini. Mereka saling bergantian mengunakan cadar. Kemudian setelah selesai, langkah selanjutnya, mereka cari tahu sikap-sikap dasar orang-orang yang mengenakan cadar itu bagaimana. Dan mencari bagaimana cara makan orang yang bercadar juga serta gaya bicara dan bersikap nya.
"Oke, sekarang pakai cadarnya udah bisa ini. Selanjutnya kita mulai dari mana lagi....?" Tanya Alaisa.
"Cara bicara aja kali ya La. Biar nanti cowok-cowok itu juga pada yakin, kalau gue udah hijrah." Jawab Alara.
"Ya udah. Coba Lo praktekin kayak yang ada di Vidio itu sekarang." Pinta Alaisa.
Alara menarik napasnya untuk memulai mengucapkan kalimat itu perlahan. "Aa, nggak bisa gue La. Untuk sekarang nggak usah pakai kata-kata, akhi, ukhty, ana atau antum deh La. Pusing gue. Ganti sama bahasa baku aja.
"Assalamualaikum La. Hari ini kamu ada kegiatan nggak La. Gue.., adu pakai bilang gue lagi." Ucap Alara kesal.
"Ulang aja lagi Ra." Pinta Alaisa.
Alara mengulang kata-kata itu sampai beberapa kali, sampai ia tidak lagi mengucapkan kata gue tapi harus kata aku. Biar lebih enak aja di dengar. Dan Alara berhasil untuk itu.
"Akhirnya, Lo berhasil juga Ra. Udah capek gue dari tadi nunggu Lo." Ucap Alaisa lega.
"Kamu juga bicara dengan kata aku, kamu dong La. Biar aku bisa cepat menyesuikannya." Pinta Alara.
"Ya udah. Ucapin aku, kamu itu nggak susah Lo Ra. Lagian kamu waktu itu juga bilang aku, kamu sama Akara dan Akram." Gumam Alaisa.
"Itu ma beda persoalan Ra. Yang buat aku susah itu, bicara aku kamu nya, sama Lo Ra. Gue merasa aneh aja gitu. Soalnya kita selalu bicara pakai kata Lo gue." Jawab Alara.
"Pasti bisa Ra. Sesuai kata Lo, bakalan nyaman kalau udah terbiasa." Ucap Alaisa buat meyakinkan Alara.
Sebenarnya untuk yang pengucapan bahasa Arab itu, Alara bisa. Cuman dia merasa nggak pede dan belum siap untuk menggunakan kata-kata itu dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya milih pakai bahasa baku aja. Sebelumnya memang Alara udah ada juga bicara dengan kata, aku kamu sama sebagian orang. Tapi itu tidak untuk dia terapkan kepada semua orang, dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan yang sekarang, dia harus membiasakan diri, bilang aku pada dirinya, jika berkomunikasi dengan seseorang.
Sebenarnya, dengan kita memakai Niqab, kita tidak harus selalu menggunakan kata, ana, antum, ukhty, akhi dan lain-lain. Semuanya tergantung situasi dan kondisinya. Jadi kita pandai menempatkannya saja. Dimana saat bicara begini, begitu, intinya kata-kata yang terucap dari mulut kita itu, sopan dan tidak mengucapkan kata-kata kasar, yang melenceng dari kaidah-kaidah kita sebagai umat muslim.
__ADS_1
Alara dan Alaisa berlanjut mencoba, bagaimana cara makan ketika sedang mengenakan Niqab.
Alara mengikuti tutorial yang ada di youtobe. Alaisa tidak henti-hentinya tertawa melihat wajah Alara yang menahan kesal, karena masih belum bisa-bisa makan sambil memakai Niqab. Niqab Alara habis kotor dan berantakan. Alara menganti terus Niqabnya sampai ia berhasil makan pakai Niqab, dan Niqabnya nggak kotor.
"Oke, kita coba lagi, semoga kali ini berhasil." Ucap Alara dengan mulai lagi memahami tutorial yang ada di Vidio itu.
"Lihat baik-baik Ra. Jangan buru-buru. Kalau udah paham langsung praktekin lagi Ra." Ucap Alaisa sambil tersenyum agak jahil.
Alara mencoba lagi, kali ini dia mengikuti tutorial nya dengan perlahan. Tarok makanan yang mau di makan dengan posisi sangat dekat dengan Alara. Tapi sebelum itu, tangan kiri Alara memegang Niqab agar tidak terbuka lebar waktu Alara makan, ibaratnya, fungsi tangan kiri itu, penyanggahnya. Setelah itu, baru tangan Alara yang kanan perlahan memasukan makanan ke mulutnya.
"Oke, berhasil. Ternyata ribet bangat La. Gue nggak tahu, apa gue sanggup apa nggak, buat lanjutin ini." Gumam Alara lega tapi cukup lelah.
"Ee, kok kamu pakai kata gue lagi si Ra. Fokus dong baby." Tegur Alaisa.
"Lupa." Ucap Alara dengan wajah capek.
"Ya udah. Kamu latih-latih aja terus. Jangan sampai lupa lagi pas di kampus besok. Bisa gagal semuanya." Gumam Alaisa.
"Aku pulang dulu ya Ra. Sampai bertemu besok di kampus." Ucap Alaisa sambil tersenyum, dan memberikan semangat pada Alara. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Alara.
Pagi yang sangat cerah. Secerah suasana hati Alara. Alara siap-siap untuk ke kampus, dia memakai baju syar'i dan Niqab yang udah di beli kemaren bersama Alaisa. Sebelum ke kampus Alara menjemput Alaisa dulu, kemudian baru bersama-sama ke kampus.
Alara dan Alaisa sampai di kampus. Semua mata tertuju pada Alara. Mungkin mereka juga heran dan terkejut, dengan penampilan baru Alara. Para cowok-cowok yang selama ini selalu mengejar-ngejar Alara, mereka semua dibuat bengong dengan penampilan Alara yang tiba-tiba sudah pakai Niqab saja.
Mereka para cowok-cowok itu, serempak mendekat ke arah Alara.
"Ini benar Alara....?" Tanya salah satu cowok itu.
"Ya ampun. Tambah suka deh, sama Alara." Timpal cowok satu lagi.
__ADS_1
"Terima kasih pada teman-teman yang suka sama Alara. Tapi aku minta maaf 🙏 tidak bisa terlalu berinteraksi lagi dengan kalian. Karena kita bukan muhrim. Jadi mohon pengertiannya ya." Ucap Alara dengan lembut.
"Mohon maaf ya🙏." Sambung Alaisa sambil lanjut berjalan meninggalkan para cowok-cowok itu.
Alara sama Alaisa sudah beda jalan, Alaisa masuk ke ruangan nya, dan Alara juga menuju ke ruangannya. Pas mau masuk, Elsan datang.
"Tunggu bentar." Ucap Elsan, dengan mengulurkan tangannya di depan Alara, untuk menghentikan langkah Alara.
"Ya, ada apa kak....?" Ucap Alara dengan perlahan dan lembut.
"Ini benar-benar Alara yang gue kenal?" Tanya Elsan dengan nggak percaya.
"Iya, kenapa emangnya kak....?" Jawab Alara dengan lembut.
"Nggak papa si. Cuman aneh aja, tiba-tiba Lo langsung bertukar penampilan." Jawab Elsan nggak percaya.
"Udah lama aku mau pakai Cadar kak. Tapi kemaren-kemaren masih belum siap aja kak. Dan Alhamdulillah nya, sekarang aku in Syah Allah udah siap kak." Jawab Alara santai dengan nada pelan.
Elsan tertegun dengan jawaban dari Alara.
"Ya udah kak. Aku masuk dulu ya kak." Ucap Alara dengan lembut sambil jalan sedikit menunduk ketika melewati Elsan.
Sejak saat itu, semua cowok-cowok yang dekatin Alara jadi nggak berani lagi buat dekatin Alara. Karena mereka berpikir, bajingan bangat rasanya diri mereka, kalau tetap maksa ukhty untuk menerima perasaan mereka. Dan pastinya usaha mereka akan menjadi sia-sia. Karena mereka tahu, kalau perempuan yang udah hijrah dan bercadar itu, tidak akan pernah mau dengan namanya pacaran. Jika serius, mereka ya harus berani datang ke rumah untuk melamar. Hal itu juga di lakukan Elsan. Nggak ada lagi tujuan Elsan buat dekatin Alara, karena sebelumnya dia dekatin Alara hanya karena penasaran aja, buat main-main dan nggak ada perasaan sama Alara. "Kalau udah tertutup semua gini, apa yang bisa gue lihat, lihat wajah aja nggak bisa. Apa lagi di *****-*****". Batin Elsan. Ya jadi, cara Alara yang ini berhasil.
Butuh waktu beberapa bulan bagi Alara untuk meyakinkan mereka, kalau Alara benar-benar udah hijrah. Dan selama beberapa bulan itu juga, alara sudah merasakan nyaman memakai baju syar'i dan Niqab. Kalau di lepasnya, serasa ada yang hilang aja dalam diri Alara. Jadi Alara putuskan untuk tetap memakai Niqab. Sampai suatu saat dirinya benar-benar siap, baru dia mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi. Dan begitu juga dengan Alaisa, saat Alara sudah bertekat untuk terus lanjut, meskipun Alara tidak tahu kedepannya bakal bagaimana, Alaisa juga udah siap memakai hijab tapi belum siap mengenakan Niqab. Alaisa membiasakan dirinya perlahan-lahan, dan akhirnya juga menjadi nyaman dengan hijab yang dikenakannya.
Itu lah alasan kenapa satu tahun lalu Alara memutuskan untuk memakai Niqab. Mungkin alasannya agak aneh, tapi intinya demi kebaikan dia juga. Agar dia nggak diganggu lagi, dan lain-lain. Cuman hanya niat Alara aja lagi yang harus lebih diluruskan, dengan niat Alara yang udah benar, maka pintu hidayah itu akan terbuka dengan sendirinya untuk Alara. Dan terbukti, sekarang Alara sudah benar-benar hijrah. Ya walaupun kemaren sempat kalut dan berbelok.
Setiap orang berhak untuk membuat pilihan dan kesempatan kedua. Tergantung orang itu sendiri, mau berjalan lurus atau mala berbelok-belok? Kalau menurut Author jangan berbelok- belok say takut muntaber nanti say, rempong🤣😁. Memang ya, rasa nyaman itu akan muncul dengan sendirinya, dikala kita sudah terbiasa dalam menjalaninya.
__ADS_1
*****