
Karena sudah saling mengenal di masa lalu, Akram sudah tidak ragu lagi untuk mengkhitbah Alara.
Hari ini Akram mengajak kedua orang tua nya untuk datang menemaninya ke rumah Alara dengan tujuan dan niat ingin mengkhitbah Alara.
Akram datang ke rumah Alara dengan maksud ingin mengkhitbah Alara. Namun, ketika sedang asik berbincang-bincang dengan mama Alara, telpon papa Akram berdering. Papa Akram dapat telpon dari rumah sakit yang ada di Bandung. Akara kecelakaan mobil, ketika hendak pulang ke Jakarta.
Akram dan keluarga pamit pada mama Alara, mereka ingin segera menyusul Akara. Akram dan keluarga nya sudah pergi, sebelum Alara sempat menjawab lamaran dari Akram, karena Akram sangat cemas dengan kondisi adiknya.
Selepas Akram dan keluarganya pergi, Alara tidak menyangka ternyata kakaknya Akara adalah Akram yang selama ini ia kenal. "Ternyata mereka orang yang sama." Gumam Alara dalam hati.
Kondisi Akara sangat kritis, dokter segera menangani Akara secepatnya.
***
Mama Alara, Syafa dan Alara juga ikut cemas. Karena nggak tenang, akhirnya, mama Alara menelpon mama Akara.
"Assalammualaikum Lin. Gimana keadaan Akara Lin?" Tanya mama Alara.
"Waalaikummussalam mbak. Kondisi Akara sekarang lagi kritis mbak.
"Kita ikut nyusul ke sana ya Lin." Pinta mama Alara.
"Nggak papa mbak. Tunggu di situ aja. Nanti saya kabari perkembangan Akara mbak. Bantu doa ya mbak. Semoga Akara baik-baik aja." Ucap mama Akara.
"Amin ya Allah, yang kuat ya Lin. Semua pasti bakal baik-baik aja." Kata mama Alara, berusaha menenangkan mama Akara.
Telpon mama Akara dan mama Alara sudah selesai. Dokter juga sudah keluar dari ruangan Akara.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" Tanya papa Akara.
"Alhamdulillah, pasien berhasil melewati masa kritisnya. Namun untuk saat ini, pasien masih belum sadarkan diri. Tapi jangan khawatir, kondisi pasien sudah mulai stabil. Sebentar lagi pasien pasti bangun. Tunggu aja dulu ya pak, buk. Saya permisi dulu, masih ada pasien lagi." Tutur dokter.
"Alhamdulillah, makasih dok." Ucap mama Akara, sambil menarik napas lega.
Akram, mama dan papanya, masuk untuk melihat kondisi Akara.
Akara masih belum sadarkan diri. Beberapa menit kemudian, tangan Akara sedikit bergerak. Akara mengigau. Dia mengucapkan kata landak berkali-kali. Tapi masih dalam kondisi belum sadar, matanya masih tertutup rapat.
Orang tua Akara bingung akan hal itu. Kemudian, mama Akara ingat, dulu Akara pernah punya pacar, dan Akara memanggilnya dengan sebutan landak. Akram bermaksud ingin mencari tahu siap landak pacar Akara dulu, karena dia tidak tega dengan kondisi adiknya itu. Akram heran, padahal Akara dan pacarnya itu, sudah lama berpisah. Tapi Akara sampai sekarang, masih belum bisa move on dari si landak itu. Itu artinya landak itu sangat spesial bagi Akara. Akram berargumen sendiri.
Akram pamit kepada mama, papanya untuk pulang sebentar. Tujuan Akram pulang, dia mau cari tahu tentang landak itu.
__ADS_1
"Ma, pa, aku pulang bentar ya. Nanti kesini lagi. Kabarin kalau Akara udah bangun ya ma, pa. Assalammualaikum."
"Waalaikummussalam, ya sayang. Kamu hati-hati ya." Ucap mama Akram.
Akram pulang, sampai di rumah, dia memeriksa isi kamar Akara. Siapa tahu Akara masih menyimpan barang kenangan atau foto dia bersama pacarnya dulu. Karena selama ini, Akram belum pernah tahu siapa pacar adiknya. Waktu itu dia juga nggak lama di Jakarta, dia hanya libur sebentar. Habis itu kembali lagi ke Turki untuk melanjutkan kuliahnya.
Akram terus berusaha mencari, dan bertemu banyak boneka kodok di dalam kardus yang di tarok rapih oleh Akara di samping lemarinya dan ada satu boneka landak.
"Seperti nya boneka ini, di kasih sama pacar Akara." Gumam Akram dalam hati.
Setelah melihat itu, Akram tetap mencari sesuatu yang lebih jelas, agar dia cepat tahu siapa mantan adiknya itu. Akram melihat ada kotak kecil yang di selipkan Akara di pertengahan baju-bajunya. Akram mengambil kotak itu, kemudian membukanya perlahan. Ada banyak foto-foto di dalam kotak itu, tapi dalam posisi terbalik. Akram ingin membalik foto itu, tapi terhenti karena telponnya berbunyi.
"Hello ma. Ya waalaikummussalam."
"Akara udah sadar sayang." Ucap mama Akram.
"Alhamdulillah..., ya udah ma. Akram segera ke sana ma." Ucap Akram sambil menutup telponnya, kemudian menutup kembali kotak itu, dan membawa kotak itu bersamanya. Kotak itu di tarok di mobilnya. Setelah itu, baru Akram masuk ke rumah sakit buat menemui Akara.
"Assalammualaikum...." Ucap Akram sambil membuka pintu kamar ruang rawat Akara.
"Waalaikummussalam" Jawab orang-orang yang ada di dalam.
"Gimana kondisi Lo Ka? Aman kan? Apa yang lo rasa sekarang?" Tanya Akram.
"Lo tenang aja, gue bakal jagain Lo disini, sampai Lo sembuh. Palingan cuman beberapa hari doang Lo di rawat di rumah sakit." Ucap Akram sambil menepuk lembut pundak Akara.
"Kalau kamu di sini sampai Akara sembuh, urusan lamaran kamu bagaimana ram?" Tanya papa Akram.
"Biar mama aja yang jagain adek kamu disini. Kamu sama papa lanjutin acara lamaran yang sempat tertunda. Nggak enak kita sayang." Kata mama Akram.
"Kalau urusan itu, nggak papa nanti aja pa, ma. Keluarga pihak perempuan pasti mengerti dengan kondisi kita saat ini pa, ma. Pas Akara udah sehat aja, baru kita ke sana lagi." Tutur Akram.
"Maaf ya bang. Gue udah rusak momen bahagia Lo. Kalau Lo mau pergi sekarang, gue nggak papa kok bang. Santai. Gue udah mulai mendingan kok." Kata Akara.
"Nggak papa. Nanti aja urusan itu. Sekarang lo makan, biar gue yang suapin." Ucap Akram.
"Nggak perlu di suapin bang, gue bisa sendiri. Lagian gue nggak papa kok." Kata Akara.
"Udah Lo diam aja. Lagi sakit juga. Kapan lagi gue nyuapin adek gue yang udah besar ini. Biasanya dulu Lo juga suka gue manjain." Kata Akram sambil tertawa.
"Apa si bang. Itu kan dulu. Masih kecil bangat gue. Sekarang gue udah besar, gue udah nggak perlu perhatian manja dari Lo. Malu gue." Tukas Akara kesal, karena dia merasa malu sama Pakara dan Shafan.
__ADS_1
Pakara dan Shafan udah datang, waktu Akram pamit pulang.
Hubungan Akram dan Akara memang sedekat itu. Akram sangat sayang sama adek satu-satunya itu. Dan begitu juga Akara, walaupun dia suka gengsian, tapi sebenarnya dia sayang, dan senang di perhatiin lebih oleh Abangnya itu.
****
Tidak terasa sudah hampir satu Minggu Akara di rawat di rumah sakit. Sekarang Akara sudah pulih, perban di kepala dan kakinya juga udah di buka. Ya walaupun Akara masih harus jalan menggunakan tongkat, untuk sementara. Sampai kondisi luka di kakinya benar-benar pulih.
Akram lagi membereskan barang-barang Akara. Karena Akara udah diperbolehkan pulang.
"Bang, kapan lo mau melamar calon Lo lagi bang?" Tanya Akara.
"Gue bakal lamar Alara lagi, besok. Karena sekarang lo udah sembuh dan nanti kita pulang ke Jakarta. Mumpung lo ada di Jakarta, Lo harus ikut nemenin gue, untuk lamar Alara." Ucap Akram.
"Alara?" Ucap Akara heran.
"Iya Alara. Emang kenapa dengan nama Alara? Lo kenal?" Tanya Akram heran.
"Nggak. Mungkin kebetulan sama namanya." Jawab Akara.
"Sama. Sama dengan nama mantan Lo maksudnya?" Tanya Akram santai.
"Kok. Lo...." Ucap Akara sedikit kaget.
"Kenapa? Kenapa gue bisa tahu nama mantan Lo?" Tukas Akram.
Akara mengangguk pelan.
"Ya karena namanya Lo bilang sama tadi. Ya udah gue tebak aja, sama dengan nama mantan Lo." Jawab Akram.
"Oo iya yah. Kok bisa kebetulan sama ya bang." Kata Akara masih heran.
"Nama kepanjangan nya siapa bang?" Tanya Akara masih penasaran.
"Anakarala." Jawab Akram santai.
Dug... (Jantung Akara berdetak).
Gelas di tangan Akara jatuh. Akara terkejut mendengar ucapan Akram.
"Lo kenapa? Namanya benar-benar sama, atau orangnya memang orang yang sama?" Tanya Akram lagi.
__ADS_1
...Bersambung...