
Hari sudah menunjukan akan masuknya waktu magrib. Alaisa dan Akara baru sampai di rumah Alara. Alaisa meminta Akara untuk menunggunya sebentar di ruang tamu. Alaisa pergi ke kamar Alara dan melihat Alara masih tidur. Dan Alaisa kembali ke ruang tamu, untuk menemui Akara.
"Gimana Alara sa....?" Tanya Akara.
"Masih tidur dia." Jawab Alaisa sembari duduk.
"Udah mau magrib, lo mau langsung pulang, atau sholat magrib sini dulu, atau gimana....?" Tanya Alaisa.
"Gue sholat magrib disini dulu. Baru nanti langsung pulang." Jawab Akara.
"Bik, Syafa mana bik...., apa udah pulang?" Tanya Alaisa ke bibik Alara.
"Udah non. Non Syafa masih tidur non." Jawab bibik.
"Tolong bangunin bik, udah mau magrib." Pinta Alaisa.
"Baik non." Jawab bibik sambil berjalan ke arah kamar Syafa.
Mereka bersiap-siap sholat magrib. Alaisa meminta Akara untuk jadi imam buat mereka. Awalnya Akara menolak, karena dia masih kurang dari segi bacaan sholat dan nggak banyak hafal ayat. Tapi Syafa tetap maksa Akara. Syafa bilang nggak papa. Dan Alaisa juga setuju dengan Syafa. Biar sambil belajar juga kata Alaisa.
Mereka selesai sholat. Setelah selesai, Syafa dan Alaisa memuji Akara.
"Bacaan Lo nggak terlalu buruk ka. Lumayan la." Ucap Alaisa sembari tersenyum.
"Iya kak. Suara kakak bagus kok. Syafa suka dengarnya." Sambung Syafa tersenyum senang.
"Lo hanya perlu terus melatih bacaan lo, dan tinggal membiasakan diri aja lagi." Timpal Alaisa.
"Makasih. Gue ternyata memang keren." Ucap Akara sambil membanggakan dirinya.
"Ya.., pantang dipuji ni anak satu." Kata Alaisa sembari tertawa kecil.
"Sekali-sekali nggak papa la sa." Ucap Akara sambil tertawa.
"Lo mau langsung pulang ka...?" Tanya Alaisa.
"Kalau boleh, gue mau lihat Alara bentar. Sebelum pulang." Pinta Akara.
"Syafa, kamu sama bibik bentar ya sayang." Pinta Alaisa.
"Iya kak." Jawab Syafa sambil berlari ketempat bibik.
"Oke. Boleh." Sambung Alaisa setelah menyuruh Syafa bersama bibik. Kemudian Alaisa menuju kamar Alara diikuti Akara.
Alaisa membuka pintu kamar Alara pelan.
"Alara masih tidur." Ucap Alaisa.
Akara juga melihat sebentar. Kemudian pintu di tutup lagi sama Alaisa.
"Ya udah. Besok gue kesini lagi." Ucap Akara.
__ADS_1
"Makasih udah bantu menyelesaikan kasus Alara ya Ka. Akhirnya masalahnya selesai, dan Alex juga udah ditangkap." Ucap Alaisa
"Ya sa, sama-sama." Jawab Akara.
"Tapi gue masih nggak nyangka Alex bisa setega itu ka. Mana ada orang yang katanya cinta, tapi malah hancurin hidup orang yang dia cinta dengan mengambil virgin Alara secara paksa Ka." Tukas Alaisa merasa sangat kesal dengan Alex.
"Gue sebenarnya marah bangat sama Alex. Tapi kan sekarang dia udah di penjara. Setidaknya, orang yang buat jahat sama alara udah di hukum." Jawab Akara.
"Ya udah, gue pulang." Sambung Akara lagi.
Waktu Akara dan Alaisa bahas kasus Alara itu, mereka masih berdiri di pintu kamar Alara. Alara mendengar semua pembicaraan mereka. Dan dia duduk dengan lemas dilantai sambil menyenderkan badannya dekat pintu kamarnya. Kemudian berjalan perlahan ke arah kasurnya. Dia duduk di kasur sambil menangis.
Alaisa kembali masuk ke kamar Alara. Alara langsung kembali pura-pura tidur.
"Ra, lo bangun dulu ya Ra. Kita makan dulu. Nanti kalau lo udah selesai makan, kalau mau istirahat, lanjut aja." Pinta Alaisa.
Alara tetap menutup matanya rapat-rapat.
"Gue tahu lo pasti dengar, dan sekarang lo cuman nggak mau buka mata aja. Ya udah, kalau lo, masih mau istirahat. Tapi kalau nanti lo butuh sesuatu, jangan lupa panggil bibik ya Ra. Gue mau pulang bentar. Nanti gue kesini lagi. Gue nginap sini, buat temenin lo Ra." Ucap Alaisa sembari pergi meninggalkan Alara.
Setelah Alaisa pergi, Alara langsung bangun dan mengunci pintu kamarnya. Alara melangkah perlahan menuju kamar mandi. Dia menghidupkan air kran yang di bak mandi. Alara duduk di dalam bak mandi itu, sambil terus menangis dan memukul-mukul dirinya. Dia mengigat kejadian waktu dia di culik. Dan mengingat perkataan Alaisa dan Akara. Hal itu membuat kepala Alara terasa sakit. Air terus mengalir dan memenuhi bak mandi. Alara berbaring di bak mandi, dan sengaja membenamkan kepalanya kedalam bak mandi itu. Tapi dia nggak sanggup untuk bunuh diri, akhirnya dia berganti pakaian.
Di dalam kamar, Alara melihat dirinya di cermin. Alara mengambil spidol untuk mencoret-coret cermin.
Setelah mencoret, Alara menghapusnya, kemudian dia coret lagi dan dia hapus lagi.
"Gue sama seperti cermin ini, meskipun udah di bersihkan, cermin ini tetap ada bekas coretan nya. Gue udah nggak virgin lagi. Seperti apapun gue membersihkan diri gue, tetap aja gue udah nggak bisa kembali kayak dulu lagi." Gumam Alara sambil menangis.
Ketika Alara melempar cermin, suara pecahan kaca sampai ke luar. Bibik, pak Kedi dan Syafa langsung berlari ke kamar Alara.
"Kak Ara...? Kakak nggak papa kak...?" Tanya Syafa sambil menangis karena dia sudah cemas.
"Non buka pintunya non!" Pinta bibik.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Alara. Bibik meminta pak Kedi untuk segera menelpon Alaisa. Alaisa memang sudah menuju rumah Alara dan masih di perjalanan. Waktu dia mendapat kabar dari pak Kedi, dia langsung menghubungi Akara.
Alaisa sampai duluan baru setelah itu di susul Akara.
"Alara kenapa bik....?" Tanya Alaisa.
"Tadi ada bunyi kaca pecah non. Kami berlari kesini. Pintu kamarnya non Alara di kunci non." Jawab bibik berlinangan air mata.
Akara berusaha mendobrak pintu kamar Alara. Dan di bantu pak Kedi. Mereka berdua mendobrak pintu kamar Alara. Dan berhasil.
Akara langsung masuk di susul dengan yang lainnya.
Alara dalam keadaan pingsan, dan mereka semua dikejutkan dengan kondisi tangan Alara sudah berlumuran darah.
Akara langsung mengangkat Alara naik mobil untuk di bawa ke rumah sakit segera.
Alara sampai di rumah sakit, tapi kata perawat semua jadwal dokter yang bertugas hari ini penuh. Suster meminta Akara untuk menunggu.
__ADS_1
"Sus, saya mohon sus! Cari dokter sekarang juga sus! Kalau nggak nyawa pasien bisa tidak tertolong sus!" Tegas Akara dengan raut wajah sangat cemas dan air mata mulai berlinang.
Alaisa menahan tangisnya. Dia berusaha menenangkan Syafa untuk tidak perlu cemas dan berhenti menangis. Alara pasti selamat.
Alaisa berlari ke resepsionis, dan memohon untuk segera hubungin dokter.
Suster tadi datang menghampiri Akara bersama dengan satu dokter.
"Cepat dok. Alara udah banyak kehilangan darah dok!" Pinta Akara.
Suster dan dokter membawa masuk Alara untuk segera di obati dan diberi penanganan.
Sementara Akara, Alaisa dan yang lain, menunggu dengan gelisah. Akara tidak berhenti berjalan mondar-mandir sampai Alara berhasil di tanganin dokter. Dokter keluar dari ruangan Alara.
"Bagaimana dok....?" Tanya Akara.
"Karena kalian cepat membawanya ke rumah sakit, dan luka ditangan pasien juga tidak terlalu dalam, Alhamdulillah pasien selamat. Tapi masih dalam kondisi belum sadar. Mungkin sebentar lagi pasien sadar. Kita berdoa aja." Jelas dokter.
Akara dan yang lain menarik napas lega.
"Dan, (Akara langsung memotong pembicaraan dokter."dan apa dok?"). Pasien mengalami depresi yang cukup serius. Mungkin terlalu banyaknya pikiran dan tekanan yang datang secara bersamaan. Hal itu membuat pikiran pasien tidak stabil."
"Jadi saran saya, jangan pernah ninggalin pasien sendirian, dan terus ajak Pasien berkomunikasi, jangan biarkan pasien hanyut dalam lamunannya. Kapan perlu beri pasien selalu kata motivasi dan perhatian lebih dari orang-orang yang dia sayang. Dengan begitu pasien menjadi merasa bahwa dia tidak sendirian menghadapi masalah yang terjadi dalam hidupnya." Saran dokter kemudian berlalu pergi meninggalkan Akara dan yang lain.
Waktu sudah menunjukan jam 12 malam, Alaisa minta tolong sama pak Kedi, untuk mengantar Syafa dan bibik pulang duluan. Karena Alaisa bakal jagain Alara.
"Syafa sayang, Syafa pulang dulu sama bibik ya. Besok baru kesini lagi jenguk kak Ara." Pinta Alaisa dengan lembut.
"Tapi kak, Syafa mau jagain kak Ara juga kak." Tukas Syafa.
"Biar kakak aja yang jagain kak Ara ya sayang. Nanti Syafa sakit kalau ikut begadang jagain kak ara. Syafa nggak mau kan bikin kak Ara tambah sakit, kalau kak Ara tahu Syafa sakit karena begadang jagain kak Ara, nanti kak Ara nya makin merasa bersalah, karena nggak bisa jagain Syafa." Bujuk Alaisa.
"Ya udah kak. Syafa nggak mau kak Ara tambah sakit. Syafa pulang dulu ya kak." Jawab Syafa.
"Anak pintar." Ucap Alaisa sambil memeluk benar Syafa.
Syafa, bibik dan pak Kedi udah pulang. Sekarang tinggal Akara dan Alaisa di rumah sakit.
"Ka, kamu nggak pulang dulu aja ka. Besok kesini lagi. Sekarang biar aku aja yang jagain Alara." Pinta Alaisa.
"Gue izin nemenin Alara disini ya sa. Gue nggak bisa ninggalin Alara dalam keadaan seperti ini sa." Pinta Akara.
"Ya udah. Tapi lo kabarin orang rumah dulu, nanti mama lo panik lagi mikirin lo, jam segini belum pulang-pulang." Pinta Alaisa lagi sembari ikut duduk di samping Alara.
"Oke." Ucap Akara sambil mengambil handphonenya di saku untuk chat mamanya.
Alaisa duduk di sebelah kiri Alara dan sementara Akara duduk di sebelah kanan Alara.
Akara menunggu Alara untuk bangun, sembari memegang tangan Alara. Sementara Alaisa sudah tertidur. Kemudian Akara juga ikut tertidur.
Jam tiga subuh Alara bangun, dan dia melihat Alaisa dan Akara tertidur di sampingnya. Kemudian kembali tidur tanpa membangunkan Alaisa dan Akara
__ADS_1
...Bersambung...