ANAKARALA

ANAKARALA
30. Sebutir Hidayah


__ADS_3

Akram bertanya pada Alara kalau untuk bayar uangnya yang ke pakai buat beli boneka panda di tokoh tadi, bayarnya boleh nggak pakai yang lain selain dengan uang.


"Kalau nggak pakai uang pakai apa....? Tanya Alara lagi.


"Kalau aku minta bayarannya dengan kamu bekerja di Panti Asuhan selama seminggu, kamu bersedia?" Tanya Akram.


"Panti Asuhan....? Kenapa harus panti asuhan?".Alara balik bertanya.


"Ya karena panti asuhan tempat aku tinggal, lagi butuh orang tambahan aja buat bantu-bantu kegiatan di panti". Jawab akram dengan santai.


"Uhmm". Alara hanya bergumam.


"Apa kamu bisa bantu?". Tanya Akram dengan wajah sedikit terpancar kalau dia ingin Alara menjawabnya Iya.


Alara berpikir sejenak. Kemudian, "ya udah boleh." Jawab Alara.


"Thanks Ra". Ucap akram lembut.


"Oke. You are welcome". Kata Alara.


"Nanti kita ketemu nya pas di Panti aja lagi. Aku pergi dulu. Assalamualaikum." Ucap Akram sambil melangkah pergi meninggalkan Alara.


"Ya, waalaikummussalam." Jawab Alara.


Setelah Akram pergi, Alara mengajak Alaisa dan Syafa menuju mobil untuk pulang. Di sela-sela perjalanan menuju mobil, Alaisa bertanya pada Alara. Sejak kapan dia akrab dengan Akram. Alara jelasin apa yang terjadi tadi di tokoh boneka sama Alaisa.


Mereka sampai di mobil, ketika hendak masuk mobil, ada mobil lain yang baru sampai dan parkir di samping mobil Alara. Orang itu keluar dari mobil, kemudian berjalan mendekat ke arah Alara dan yang lain.


"Kak Akara...." Teriak Syafa sambil berlari memeluk Akara dengan senang.


"Maaf ya kakak telat. Soalnya kakak baru kelar kerja sayang." Ucap Akara dengan tersenyum pada Syafa. Sambil memberikan boneka Panda pada Syafa.


"Nggak papa kak. Makasih bonekanya kak. Hari ini, Syafa mendapatkan dua boneka Panda kesukaan Syafa sekaligus." Ucap Syafa dengan sangat senang.


"Siapa yang kasih satu lagi sayang?" Tanya Akara.


"Kak Ara." Ucap Syafa sambil melihat ke arah Alara.


Alara menyuruh Syafa dan Alaisa untuk pulang lebih dulu. Karena Alara masih ada urusan dengan Akara.


"Maaf ya landak. Aku nggak sempat jemput kamu kemaren di rumah sakit." Ucap Akara.


"Ngak papa kok Ka. Santai aja. Aku tahu kok kamu lagi sibuk akhir-akhir ini." Ucap Alara santai.


Mereka berdua kemudian masuk mobil. Akara mengantar Alara untuk pulang.


"Kamu benar-benar udah sehat kan Ra....?" Tanya Akara sambil mengendarai mobilnya.


"Udah Ka. Tapi masih butuh istirahat yang cukup Ka." Jawab Alara sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Ya udah, banyak-banyak istirahat ya. Jangan banyak pikiran ya Ra. Cukup pikirin aku aja." Ucap Akara sambil tertawa kecil.


Alara tidak merespon ucapan Akara seperti biasa, dia hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Akara.


"Tumben nggak keluar kata (jijik tahu nggak)." Tanya Akara.


"Ya lagi malas aja Ka." Ucap Alara santai.


"Kamu lagi capek ya....? Ya udah tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampai rumah." Kata Akara dengan senyuman.


Alara benar-benar menutup matanya. Sepertinya Alara lagi berusaha untuk menjaga jarak dari Akara. Mungkin karena kejadian yang belakangan ini di alaminya. Jadi Alara mungkin merasa sudah tidak pantas untuk cowok sebaik Akara.


Akara sudah sampai di rumah Alara. Akara membangunkan Alara. Tapi Alara masih tidur nyenyak. Jadi Akara putuskan untuk mengendong Alara masuk ke dalam rumahnya. Ketika Akara hendak mengendong Alara untuk keluar dari mobil menuju rumah Alara, Alara bangun dan kaget. Secara tidak sengaja Alara langsung mendorong Akara karena dia kaget. Akara terdorong ke pintu mobil.


"Aw" Ucap Akara kesakitan.


"Maaf-maaf Ka. Aku nggak sengaja. Kaget soalnya. Lagian kamu mau ngapain....? Kata Alara.


"Aku cuma mau gendong kamu, untuk bawa masuk ke rumah. Soalnya tidur kamu tadi nyenyak bangat. Sampai nggak sadar aku bangunin."


"Maaf ya. Makasih udah Antar aku pulang ya Ka." Ucap Alara dengan raut wajah nggak enakan.


"Tapi kamu nggak papa kan Ka....?" Tanya Alara lagi....?


"Ngak papa landak. Cuman sedikit nyeri aja. Kalau gitu aku pulang ya Ra." Ucap Akara sambil mengacak-acak rambut Alara.


"Ya Ka. Hati-hati. Maafin aku." Kata Alara sambil tertawa kecil dengan apa yang udah menimpa Akara.


***


Paginya Alara kembali sekolah setelah  beberapa hari tidak masuk karena sakit. Suasana sekolah tentram dan damai karena sudah tidak ada Kaisa and the geng di sekolah. Siang menjelang sore Alara pergi ke Panti Asuhan yang di maksud Akram kemaren.


"Permisi....?" Ucap Alara di depan pintu masuk Panti.


"Ya bentar." Sahut ibuk panti.


"Temannya Akram ya....?" Tanya ibuk panti.


"Iya buk." Jawab Alara.


"Ayo masuk." Ajak ibuk panti


"Ya buk." Jawab Alara sambil perlahan melangkah memasuki panti sembari melihat-lihat sekitar.


Ibu panti memperkenalkan Alara pada anak-anak panti. Setelah perkenalan, ibu panti minta bantuan pada Alara untuk membantu menyiapkan makanan. Setelah itu, bersiap-siap untuk acara pengajian.


"Nak Alara, nanti selepas isha, ada acara pengajian di panti, apa nak Alara mau ikut...?" Tanya buk panti sambil tersenyum.


"Boleh buk." Jawab Alara.

__ADS_1


"Kalau nak Alara mau ikut, bajunya di ganti ya nak, bukan maksud ibuk lancang ngatur-ngatur nak Alara, tapi di acara pengajian di anjurkan pakai baju yang menutup aurat." Terang buk panti.


"Nanti pakai baju adek ibu aja. Kurang lebih seumuran dengan nak Alara. Gimana....?" Tanya ibu panti lagi.


"Ya udah buk." Ucap Alara sedikit tidak yakin.


"Kalau gitu, ayo ikut ibuk dulu." Pinta ibu panti.


"Ya buk." Ucap Alara sambil mengikuti ibu panti.


Buk panti menganti baju Alara yang tadinya pakai celana pensil yang ketat, baju yang kekurangan bahan, diganti dengan baju syar'i yang serba tertutup mulai dari atas kepala sampai ujung kaki. Alara terlihat tambah cantik dengan kerudung yang menutupi kepalanya.


Acara pengajian udah di mulai. Alara mendengarkan pengajiannya tidak begitu konsentrasi. Alara kegerahan mengunakan hijab. Ini pertama kalinya dalam hidup Alara, dia mengenakan hijab. Sebelum-sebelumnya belum pernah. Meskipun dia Islam dari lahir.


Wajar Alara bersikap seperti itu, karena memakai pakaian syar'i bagi Alara itu sangat baru. Alara butuh penyesuaian.


Setelah acara pengajian, Alara telah menganti bajunya kembali seperti biasa. Kemudian Alara pamit pulang pada buk panti, Akram dan yang lain. Waktu Alara masuk ke tempat pengajian dengan mengenakan hijab, tidak dapat di pungkiri, Akram terpesona dengan kecantikan Alara.


Alara sampai di rumah, dan istirahat. Sambil berbaring Alara mengigat kata-kata ustad yang nusuk bangat di hati Alara.


"Sebagai umat muslim, kita di wajib kan menutup aurat baik laki-laki maupun perempuan. Setiap kita ada batas-batas auratnya. Jika kita menutup aurat, maka ayah kita dan saudara laki-laki kita bagi perempuan, meraka akan dijauhi dari siksaan api neraka. Tapi jika kita mengumbar aurat kita sana sini, dilihat oleh yang bukan mahram kita. Maka ayah, saudara laki-laki dari perempuan yang merasakan azabnya. Satu helai rambut yang terlihat balasannya 70.000 tahun dalam neraka, sedangkan 1 hari di akhirat sama dengan 1.000 tahun di dunia." Kata ustad yang mengisi acara pengajian di panti tadi.


Kata itu selalu terngiang-ngiang di benak Alara. Dia jadi berpikir keras terkait hal itu.


****


Rutinitas Alara belakangan ini, sekolah, habis pulang sekolah langsung ke panti. Begitu seterusnya kegiatan Alara selama seminggu.


Selama di panti Alara selalu mengenakan hijab. Ibuk panti dengan senang hati memakaikan hijab ke pada Alara. Dan di panti, Alara sedikit-sedikit belajar mengaji sama adik ibuk panti. Adik ibuk panti lumayan mahir dalam membaca Al Qur'an. Walaupun masih dasar-dasarnya, Alara sudah mulai bisa sedikit-sedikit. Seminggu di panti, merupakan hal yang paling mengesankan bagi Alara. Dia jadi tahu sedikit banyaknya tentang Agama Islam.


Perjanjian Alara dengan Akram telah berakhir. Dan Alara berhasil melaluinya. Alara berterima kasih pada adik ibu panti, karena telah mau mengajarinya mengaji dengan sabar, dan berterima kasih pada ibu panti karena sudah berlapang dada menerimanya di panti. Serta mengucapkan terima kasih pada Akram, karena sudah memberikan tawaran yang sangat bermanfaat bagi Alara.


Beberapa hari setelah Alara tidak lagi menghabiskan waktunya di panti, Alara sudah mulai tidak nyaman dengan pakaiannya yang terbuka. Batin alara seolah menolak keras dia untuk kembali berpakaian terbuka seperti dulu. Akhirnya Alara memutuskan untuk membeli baju-baju yang tertutup dan tidak terlalu ketat, baju yang bisa di pakai dengan hijab. Tapi bukan baju syar'i. Alara masih merasakan gerah menggunakan baju itu karena terlalu dalam bagi Alara dan dia belum nyaman memakainya kalau lama-lama. Alara mengajak Alaisa untuk membantunya membeli baju-baju itu.


Sampai di rumah, Alara mandi, dan kemudian mencoba memakai salah satu baju yang di belinya sama Alaisa tadi.


Alaisa membantu Alara mencari tutorial mengenakan hijab. Karena mereka sama-sama nggak tahu cara memasang hijab.


Alaisa membantu Alara memasang hijabnya, mereka saling tertawa karena salah-salah mengikuti tutorial hijab yang di youtobe.


Setelah cukup lama, akhirnya hijab Alara selesai juga. Alara melihat ke kaca kamarnya, dan tersenyum lega.


"Cantik bangat sahabat gue." Ucap Alaisa sambil memeluk girang Alara.


"Tapi, Lo benar-benar yakin mau berhijab Ra....? Kalau Lo udah berhijab, supaya jangan sampai di copot lagi di kemudian hari, Lo harus berpikir matang-matang dulu Ra!" Nasehat Alaisa.


"Bismilah, in syah Allah, gue yakin." Kata Alara dengan percaya diri, sembari tetap menghela napas.


Itu kisah awal mula Alara mendapatkan sebutir hidayah, kurang lebih dua tahu lalu pas udah mau tamat kelas tiga SMA. Dimana naluri hati Alara sudah lebih di hidupkan rasa untuk mulai nyamannya menutup aurat oleh Allah SWT. Ya walaupun belum langsung mengenakan Niqab waktu itu karena semuanya butuh proses.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2