ANAKARALA

ANAKARALA
52. Hari H


__ADS_3

Menghalalkan hubungan dua insan. Mengikatnya dalam janji suci sehidup semati di hadapan Allah SWT.


Selama hampir mendekati tiga bulan, untuk menyiapkan semua keperluan pernikahan, akhirnya acara yang di tunggu-tunggu datang juga.


Terlihat dari jauh seorang gadis yang berpakaian serba tertutup dengan gaun putih yang indah. Wajahnya yang menawan tergambar dari matanya yang merona. Ia melangkah perlahan-lahan dengan anggun mendekati tempat duduk mempelai wanita yang telah disiapkan dibalik tirai pembatas antara kaum Hawa dengan Kaum Adam. Kecantikan Alara bikin Akram, Akara dan yang ada di acara itu, pangling.


Di balik tirai pembatas, Akram, Akara dan semua kaum Adam yang ikut menyaksikan pernikahan itu, menyambut kedatangan penghulu. Akram, Akara dan papanya, memakai jas yang sama dan rapih.


"Acara ijab kabul akan segera di langsungkan, untuk itu, pada mempelai pria segera mengambil tempat, di depan penghulu (Keluarga meminta penghulu sebagai wali nikah Alara. Karena ayahnya sudah tidak ada)." Pinta pembawa acara di pernikahan Alara.


Akram dan Akara saling pandang. Kemudian Akram datang untuk menyalami Akara dan memeluknya. Setelah itu meminta Akara untuk segera duduk di depan penghulu dan tidak perlu memikirkannya. Akram sudah ikhlas serta ikut bahagia untuk Akara, adik satu-satunya.


Akara dan penghulu berjabat tangan, kemudian memulai ijab kabul.


Dengan satu kali coba, dan satu kali tarikan napas, Alhamdulillah, sekarang Akara dan Alara sudah Syah menjadi pasangan suami istri.


Karena acara ijab kabul sudah selesai, dan Akara dan Alara sudah Syah menjadi sepasang suami istri, tirai pembatas di buka perlahan.


Kemudian, Alara di bawa sama mama dan Syafa, menghampiri suaminya.


Alara duduk di samping Akara, kemudian menyalami Akara. Dan Akara mencium kening istrinya itu. Setelah itu, baru mereka pasang cincin pernikahannya.


Kini Alara dan Akara sudah di sandingan di kursi pelaminan. Semua tamu yang mereka undang datang untuk mengucapkan selamat ke pada kedua mempelai.


Pakara, Shafan mengucapkan selamat pada Akara, dan sangat terharu dengan perjalanan cinta Akara dan Alara.


"Memang ya Par (melirik ke arah Pakara), kalau jodoh nggak bakalan kemana." Ucap Shafan sewaktu menyalami Akara.


"Nggak sia-sia selama ini Lo berusaha untuk terus memperbaiki diri dan lebih mendekatkan diri pada yang satu Ka. Walau ditengah kesibukan Lo urus perusahaan." Timpal Pakara.


Setelah itu datang Akram memberikan selamat. Akram memeluk erat tubuh adiknya itu.


"Selamat bro. Semoga rumah tangga kalian langgeng dunia dan akhirat." Ucap Akram tersenyum senang melihat kebahagiaan adiknya.


"Makasih banyak bang. Makasih, karena Lo udah mau ngalah buat gue." Tukas Akara.


"Ini takdir. Gue nggak bisa nolak. Kalau Alara pilih gue waktu itu, gue juga mau terima. Tapi semua tergantung Alara dan takdir yang sudah di gariskan oleh allah." Ucap Akram sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Sial Lo bang." Desis Akara juga ikut tertawa.


Semua yang Alara dan Akara kenal, maupun yang Akram kenal, di undang. Tanpa terkecuali. Ustad Ahnan, ustazah khori, khazana juga hadir. Ayah Alaisa juga hadir. Termasuk anak-anak panti asuhan, ibuk panti dan adek ibuk panti sekalian, juga ikut hadir.


Di tengah kerumunan banyak orang, Alara melihat dari jauh, seorang gadis cantik, anggun, dengan gaun putih yang di kenakannya, tersenyum bahagia melihat ke arah Alara. Alara melihat Alaisa sekilas, Alara senang bisa melihat Alaisa lagi walau hanya sekilas. Alara tidak tahu itu halusinasi dia, karena rindu Alaisa dan berharap Alaisa hadir di acara pernikahan nya atau apa, yang jelas, Alara senang bisa merasakan kehadiran Alaisa di dekatnya.


Beberapa menit setelah Alara melihat bayangan Alaisa, tiba-tiba, ada seseorang yang mengenakan gaun serba putih juga, berjalan mendekati Alara dan Akara.


"Selamat ya Ka." Sambil menyalami Akara.


"Selamat ya Ra." Sambil memeluk Alara, dengan bahagia.


"Makasih ya Kai, kamu udah mau sempatkan waktu buat hadir di acara pernikahan aku." Ucap Alara.


"Justru aku yang harus terus mengucapkan beribu-ribu ucapan terima kasih sama kamu Ra. Karena kamu, lagi dan lagi, selalu membantu aku. Kalau kamu nggak pergi berkunjung ke rumah sakit jiwa empat tahun lalu, mungkin aku sampai sekarang masih bertahan di dalam rumah sakit itu. Makasih ya, kamu udah mau memberikan motivasi buat aku, untuk tetap bertahan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan kejutan ini." Ucap Kaisa, yang tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Alara.


Semua orang turut bahagia atas pernikahan Alara dan Akara. Semoga menjadi keluarga yang harmonis, bahagia dunia dan akhirat. Amin.


'Kejadian Empat Tahun Lalu'


Waktu Kaisa mencoba membongkar makam mamanya, kakek Kaisa mengetahui hal itu, akhirnya kakek Kaisa mencoba mencari keberadaan Kaisa. Kakek Kaisa berhasil menemukan Kaisa dalam keadaan yang sudah tidak stabil lagi. Kondisi kejiwaan Kaisa terganggu. Kakek Kaisa memberikan perintah pada pengawal, untuk membawa Kaisa ke rumah sakit jiwa. Dan memberikan perintah ke pengawal yang lain, untuk membuat berita yang seperti ini, tidak tersebar di media mana pun.


Waktu itu Alara lagi sibuk mengurus skripsinya. Untuk cepat lulus S1 tiga setengah tahun.


Diperjalanan pulang dari kampus, Alara melihat, Kaisa dalam mobil bersama pengawalnya. Alara penasaran, akhirnya Alara mengikuti mobil itu sampai ke tujuannya.


Alara heran, kenapa pengawal itu menarik Kaisa masuk rumah sakit jiwa. Alara terus mengikutinya diam-diam. Setelah pengawal pergi, Alara menemui Kaisa di luar jendela kamarnya.


"Kaisa...." Panggil Alara.


Kaisa sedikit menoleh, tapi kemudian asik lagi dengan mainan bonekanya, dia tertawa, kemudian jambak-jambak rambut sendiri, dan nanti tiba-tiba menangis histeris.


"Kamu kenapa? Kenapa sampai seperti ini Kai?" Tanya Alara lagi.


"Kamu siapa?" Ucap Kaisa sambil tertawa.


"Aku, Alara. Teman kamu." Jawab Alara.

__ADS_1


"Teman, aku nggak punya teman. Kamu jangan pernah mau temanan sama yang namanya Kaisa. Dia orang jahat! Di udah bikin banyak orang tersakiti bahkan sampai meninggal!" Tegas Kaisa sambil sedih kemudian tertawa lagi.


"Kamu nggak boleh salahkan di kamu sendiri Kai, itu semua sudah takdir. Kamu nggak boleh punya pikiran seperti itu." Kata Alara.


"Takdir (sambil tertawa). Kaisa itu jahat!! Dia, udah bikin mamanya ikut meninggal juga seperti Alaisa!. Pokoknya dia jahat-jahat." Teriak Kaisa sambil memukul dan menarik-narik rambutnya.


"Oke, kamu tenang, Kaisa memang jahat. Jadi untuk itu, kamu harus bisa merubah Kaisa yang dulu, menjadi Kaisa yang lebih baik lagi. Jangan seperti ini, nanti kamu jadi kesakitan." Ucap Alara lembut, untuk menenangkan Kaisa.


Kaisa duduk terdiam.


"Sekarang kamu, dengerin aku bicara bentar ya." Ucap Alara lembut, sambil menunjuk dirinya dan Kaisa. Pertanda isyarat, kalau Alara mau bicara dengan Kaisa.


Kaisa mengangguk pelan.


"Dengerin aku, apa pun yang terjadi dalam hidup kamu, tidak semua salah kamu, mungkin iya, awal mula masalahnya dari kamu, tapi kamu tidak boleh juga menyalakan diri kamu sendiri. Karena kamu juga nggak tahu kalau dampaknya bakal separah ini. Jadi untuk menebus itu, kamu cukup memperbaiki diri, dan melanjutkan hidup kamu seperti yang seharusnya. Dengan kamu bahagia, sukses. Aku yakin mama kamu pasti sangat bangga sama kamu. Karena walau dia sudah tidak ada, tapi anaknya tetap bahagia dan sukses, mama kamu bakal ikut bahagia buat kamu Kai. Jadi kamu nggak boleh larut dalam kesedihan seperti ini Kai." Ucap Alara memberikan nasehat pada Kaisa.


Air mata Kaisa mengalir deras begitu saja, waktu mendengar ucapan Alara.


Kemudian di tertawa lagi, dan kemudian menangis lagi.


Alara pamit pada Kaisa. Dan janji sama Kaisa, kalau dia akan sering-sering menjengnguk Kaisa di rumah sakit. Alara berlalu pergi, sementara Kaisa tidak terlalu menghiraukan kepergian Alara. Dia asik dengan bonekanya.


Begitu lah kehidupan yang di jalani Kaisa waktu tiga tahun belakangan.


Karena waktu itu Alara sering mengunjunginya, di waktu Alara yang super sibuk urus skripsi, Alara masih selalu sempatkan untuk menjengnguk Kaisa walau hanya sebentar.


Dan waktu Alara mau lanjut S2 di Kairo, Alara menemui Kaisa dulu, baru setelah itu berangkat ke Kairo, Mesir. Kondisi Kaisa sudah mulai membaik. Dia sudah terlihat seperti orang normal pada umumnya. Tapi belum boleh keluar rumah sakit. Karena ia terkadang masih susah mengontrol emosinya. Jadi agar dia benar-benar pulih sepenuhnya Kaisa tinggal di rumah sakit jiwa itu selama satu tahun. Di dalam rumah sakit itu, Kaisa banyak belajar, arti dari yang namanya bersyukur, sabar dan tekat. Tekat Agar cepat sembuh. Untuk mengalihkan pikirannya, Kaisa membaca buku-buku yang di beri Alara untuk Kaisa. Begitu rutinitas yang di jalanin Kaisa selama setahun.


Sekarang Kaisa sudah sehat, dan setelah keluar dari RSJ, Kaisa berusaha untuk hidup mandiri. Karena dia nggak berani pulang ke rumahnya. Kaisa takut kakeknya marah. Jadi Kaisa berusaha mencari pekerjaan yang apa adanya. Apa pun pekerjaan berusaha di coba Kaisa, demi ia bisa bertahan hidup. Hal itu awalnya sangat sulit untuk Kaisa jalani, karena dari dulu, dia tidak pernah mengerjakan apa pun sendirian, selalu ada pelayan yang menyediakan segala kebutuhannya.


Tapi lambat laun, Kaisa terus berusaha untuk membiasakan diri dan menerima keadaannya. Sampai pada titik sekarang, dia berhasil melalui itu semua. Sekarang Kaisa bekerja di butik sebagai desainer.


Baju yang di pakai Alara dan Akara untuk acara pernikahannya itu, adalah disain dari Kaisa. Alara pesan langsung dari butik tempat Kaisa kerja. Dan di situ lah, Kaisa dan Alara kembali bertemu setelah empat tahun berpisah.


Begitulah hidup. Kita tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa. Bisa jadi orang yang dulunya musuh kita, sekarang bisa jadi teman dekat. Dan bisa jadi juga orang yang dulu dekat bangat dengan kita, sekarang menjadi sedikit berjarak. Karena itu, Allah memberikan kita pesan untuk tidak boleh mencintai atau membenci sesuatu itu, dengan terlalu berlebih- lebihan. Cukup seadanya saja. Cinta dan sayang pada ciptaan Allah itu boleh, tapi tidak boleh melebihi cinta dan sayang kita pada sang pencipta. Dan kita sebagai manusia biasa, juga tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Semua orang di berikan hak dan kebebasan untuk berubah menjadi lebih baik. Asalkan ada kemauan dari diri kita sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2