
Preman itu meminta pada Alaisa untuk menyerahkan semua barang-barang berharga miliknya.
"Serahkan semua barang-barang berharga kamu!" Bentak salah satu preman itu, dengan mengarahkan pisau ke arah Alaisa.
Alaisa bergerak perlahan, mengeluarkan semua isi tasnya. Untungnya Alaisa hari ini hanya bawa uang kes dan handphone, tidak ada kartu-kartu berharga.
"Serahkan juga kunci motor kamu! Cepat!!" Bentak preman satu lagi.
Alaisa ragu-ragu memberikan kunci motornya. Dia tidak rela motor yang menyimpan sejuta kenangan di hidupnya harus ia lepaskan begitu saja.
Ketika Alaisa hendak memberikan kunci motornya, Alara datang dan langsung memukul para preman itu dari belakang dengan kayu yang ada ditangannya.
Alara pun berkelahi dengan para preman itu. Alara menggunakan kayu di tangannya sebagai senjata untuk berkelahi. Gerakan beladiri Alara tidak sehebat dulu, sekarang alara kesulitan dalam berkelahi, karena dia menjaga agar Niqab nya tidak lepas dan sekarang hanya mengandalkan gerakan tangan, tanpa melakukan tendangan dengan kaki. Karena itu sudah tidak mungkin, Alara pakai baju syar'i. Jadi sulit jika bergerak terlalu banyak.
Salah satu preman itu jatuh terkapar di aspal. Alara lanjut menyerang dua preman lainnya. Sambil berkelahi, Alara sempatkan melempar kunci mobil ke Alaisa, dan Alara berteriak pada Alaisa untuk segera pergi lebih dulu menuju mobilnya, yang tidak terlalu jauh dari tempat kejadian.
Alaisa menangkap kunci yang di lemparkan Alara. Tapi, ketika Alaisa ingin melangkah menuju mobil Alara, Alaisa melihat preman yang terkapar tadi, bangun dan mengeluarkan pisau dari sakunya, kemudian berjalan ke arah Alara.
Alaisa berteriak pada Alara. "Alara.... awas...!!" Sambil berlari kearah alara.
Darah keluar perlahan dari tubuh gadis cantik itu. Alara berteriak histeris. Pada saat yang bersamaan, Shafan datang, kemudian langsung menghajar ketiga preman itu, dan berhasil melumpuhkan mereka.
Alara menangis histeris sambil memangku tubuh Alaisa dan berteriak pada Shafan. "Fan, tolong cari atau ambil sesuatu!"
Shafan jadi gagal fokus untuk menghentikan para preman itu, karena dengar teriakan Alara. Shafan langsung berlari ke arah mobilnya untuk mengambil sesuatu yang bisa menghentikan pendarahan Alaisa sementara. Para preman mengambil kesempatan itu untuk kabur.
__ADS_1
"Uuusseet...!" Umpat Alara.
"La..., kamu bertahan ya La!. Kamu pasti kuat La!" Ucap Alara dengan suara yang gemetar, sambil mengelus pipi Alaisa.
"Maafin aku La!" Sambung Alara lagi.
"Aku nggak papa kok Ra. Kamu jangan salahkan diri kamu sendiri ya. Ini bukan salah kamu." Ucap Alaisa terbata-bata sambil perlahan berusaha menggerakkan tangannya untuk menghapus air bening yang baru saja mengalir membasahi pipi Alara.
"Bantu aku buat jagain ayah ya Ra!" Pinta Alaisa dengan satu tangannya yang masih menempel di balik Niqab Alara buat hapus air bening yang turus saya mengaliri pipi Alara.
"Udah La (sambil menangis), kamu jangan bicara terus, nanti pendarahannya makin banyak." Ucap Alara dengan sangat lembut dan menurunkan tangan Alaisa dari pipinya perlahan.
Alaisa tersenyum, tanda mengiyakan ucapan Alara.
Shafan datang membawa bajunya, kemudian merobek baju itu, lalu di ikat dekat tubuh Alaisa yang terluka.
"Maafin aku ya belahan jiwa ku, aku datang terlambat." Jawab Shafan masih berusaha untuk menggombal, dan berusaha tetap santai.
Alaisa mengedipkan matanya, pertanda tidak masalah dengan keterlambatan Shafan datang. "Soal yang lalu-lalu, aku udah maafin kamu kok Sha. Bukan salah kamu juga." Ucap Alaisa masih bisa tersenyum.
"Udah kamu jangan bicara lagi!" Pinta Shafan sambil menghapus air mata Alaisa yang sedikit mengalir dari sudut matanya.
"Sha, gue boleh nggak, dengar lo bilang sayang sama gue. Kayak dulu." Pinta Alaisa.
"Kamu jangan banyak bicara lagi sayang. Dari dulu sampai sekarang, aku tetap bakalan cinta dan sayang terus sama kamu sa." Jawab Shafan dengan mata udah mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Makasih ya. Dan maaf kalau aku secara tidak langsung, udah nyakitin perasaan kamu." Ucap Alaisa perlahan sambil menahan rasa sakit di bagian lukanya.
"Kamu nggak pernah salah. Aku bawa kamu ke mobil lagi ya sayang, kita ke rumah sakit!" Pinta Shafan sambil ingin mengangkat Alaisa. Tapi Alaisa hentikan.
"Aku mau bicara bentar sama kamu Sha. Nanti takutnya nggak ada waktu." Ucap Alaisa perlahan.
"Mau bicara apa sa? Udah ngomong aja. Aku dengerin." Jawab Shafan berusaha tersenyum, sambil tetap menempelkan bajunya untuk menahan aliran darah di luka Alaisa.
"Tetap jadi Shafan yang aku kenal ya Sha. Kalau mau berubah, berubah ke hal yang lebih baik aja ya Sha. Aku pasti bakalan bangga terus sama kamu Sha." Ucap Alaisa dengan suara yang udah mulai semakin melambat.
Setelah kata-kata itu keluar dari mulut Alaisa, Alaisa udah nggak sadarkan diri lagi. Shafan dan Alara panik!.
"Laaa!. Bangun! kamu nggak boleh tutup matanya! kamu harus tetap sadar la!". Pekik Alara histeris.
Shafan kemudian langsung cepat-cepat mengendong Alaisa ke mobilnya.
Alara naik di bangku tengah lebih dulu, kemudian baru Shafan memasukan Alaisa dengan posisi kepala Alaisa berada di paha Alara untuk menyangga kepala Alaisa.
Shafan membawa mobil dengan kecepatan tinggi, Shafan sangat cemas dengan kondisi Alaisa, tapi dia harus tetap fokus untuk menuju rumah sakit.
"Kamu bertahan yang belahan jiwa ku! kamu pasti nggak bakalan kenapa-kenapa!. Maafin aku yangg!". Ucap batin Shafan pilu, sambil sedikit menoleh ke belakang dan kemudian dengan fokus mempercepat laju mobilnya. Agar Alaisa segera ditangani dokter dan pendarahan Alaisa bisa di hentikan.
Mobil Shafan berpacu dengan sangat laju. Alara tidak henti-hentinya menangis dan mengusap usap kepala Alaisa dengan hijab yang masih membaluti kepala Alaisa.
"La, bertahan ya la! bentar lagi kita sampai di rumah sakit". Pinta Alara dengan merasakan nyeri dan sesak di dadanya. Karena alara syok, panik, marah dan sedih yang datang secara bersamaan.
__ADS_1
"Maafin akuu! maafin aku! maaf! maaf la!". Jerit batin Alara. Alara nggak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu. "Kenapa harus kamu si la! seharusnya kamu biarkan aja aku tertusuk!. kamu bodoh bangat si la, ayah kan baru pulih! jika ayah tahu kondisi kamu ini..., aku takut ayah kenapa-kenapa la!. Kamu harus bertahan demi ayah, aku dan orang-orang kamu sayang dan sayang juga sama kamu". Ucap batin Alara sambil tidak henti-hentinya melihat dan menatap kearah Alaisa dengan sendu, dialiri air matanya yang jatuh membasahi pipi Alaisa yang lagi lemas, lesu dan tak berdaya.
...Bersambung...