ANAKARALA

ANAKARALA
22. PLC 2


__ADS_3

Berkat izin yang maha kuasa, dan berkat bantuan dari pria itu, Alara berhasil melewati masa kritisnya.


Alara bangun. Pria itu mencoba bertanya pada Alara.


"Hi..., Apa kamu bisa dengar aku....?" Tanya dia.


Alara hanya diam seribu bahasa. Kondisinya tidak stabil. Alara seperti orang linglung.


"Apa kamu tahu nomor keluarga yang bisa aku hubungi....?" Dia kembali bertanya.


Alara melirik ke arah pria itu dan menatapnya dengan tatapan kosong.


"Kenalin nama aku Akram. Aku nggak berniat jahat kok. Ucap Akram.


Alara masih belum merespon. Dokter memanggil Akram untuk ikut dia sebentar. Dokter menjelaskan kondisi Alara saat ini.


"Sebenarnya, hal ini harus saya terangkan kepada keluarga pasien. Tapi karena kita belum tahu siapa keluarganya, dan hanya ada mas, sebagai wali pasien, maka saya harus menyampaikan ini pada wali pasien untuk sekarang."


"Pasien mengalami syok berat. Hal itu dapat menganggu syaraf otak pasien. Sehingga kurangnya kinerja otak. Akibatnya pasien lambat merespon ucapan atau tindakan dari orang lain."


"Sepertinya ada unsur kekerasan pada pasien. Karena saya menemukan luka lebam di bagian perut, lengan dan paha pasien. Pasien seperti habis berkelahi. Dan satu lagi, ada robekan yang cukup dalam di bagian ****** pasien. Robeknya ******, bisa terjadi karena jatuh terlalu keras, terkena benda tumpul di area ********. Dan karena berhubungan intim." Jelas dokter.


"Terima kasih atas penjelasannya dok." Ucap akram sembari merasa khawatir.


"Ya..., sama-sama." Ucap dokter.


Akram melihat kembali keadaan Alara di ruang rawat. Alara sudah mulai agak stabil. Dia udah mau bicara.


"Gue mau pulang." Ucap Alara dengan tatapan masih sayu menatap ke arah Akram.

__ADS_1


"Tapi keadaan lo masih belum stabil. Lo masih butuh istirahat." Jawab Akram perlahan.


"Atau nggak, sekarang ada nomor yang bisa saya hubungi....?" Tanya Akram.


"Nomor...." Ucap Alara sambil memaksa otaknya untuk berpikir.


"Kalau lo belum bisa ingat, jangan dipaksa dulu." Tegur Akram.


"Gue nggak amnesia! (Bentak Alara) gue lagi susah mikir aja. Kepala gue sakit. Lo antar gue pulang aja." Ucap Alara dengan nada lemas.


Alara menyebutkan alamat rumahnya. Akram mengurus administrasi Alara dan mintak izin pada dokter kalau pasien di rawa di rumah saja. Setelah semuanya selesai, Alara di bawa masuk menuju mobil akram, dengan kursi roda. Akram terus mengendarai mobil sambil melihat kembali alamat rumah Alara. Sementara Alara menutup matanya rapat-rapat, sepertinya Alara tidur.


Akram sampai di rumah Alara. Dia memanggil penjaga rumah Alara. Pak Kedi menghampiri mobil akram dan melihat ada Alara di dalam mobil. Pak Kedi segera membuka gerbang untuk Akram dan Akram meminta tolong pada pak Kedi untuk mengangkat Alara ke kursi roda. Mata Alara sudah terbuka. Dia menatap kosong ke arah rumahnya.


Ada polisi di rumah Alara. Alaisa sudah melaporkan kehilangan Alara pada polisi. Akram membawa Alara masuk ke dalam rumah. Syafa dan Alaisa langsung berlari memeluk Alara. Bibik juga lega karena Alara sudah di temukan.


Syafa bertanya pada Alara. "Kak Ara kemana aja kak....? Kakak nggak papa kan kak....?"


Syafa balik bertanya lagi. "Kalau nggak papa, kenapa kakak duduk di kursi roda....?"


Alara menjelaskan dengan nada lembut pada Syafa, tatapan Alara masih sayu. "Karena kaki kakak sakit, kakak jadi susah jalan. Makanya kakak sementara pakai kursi roda." (Sambil tersenyum dan mengelus lembut kepala syafa).


Alara memangil Alaisa.


"La..., (Alaisa menjawab "ya") aku mau ke kamar." Pinta Alara.


Alaisa membantu Alara untuk menaiki tangga. Alara memaksakan berjalan dengan kondisi dia yang masih belum kuat untuk berjalan sebenarnya. Alara masih merasakan nyeri. Sampai di kamar, Alara minta untuk berbaring di kasur karena dia mau tidur. Kemudian minta Alaisa untuk meninggalkan dirinya sendirian. Alaisa menuruti permintaan Alara. Walaupun dia butuh tahu apa yang terjadi sama Alara, tapi melihat kondisi Alara, Alaisa membiarkan Alara untuk istirahat.


Alaisa kembali ke ruang tamu dan berterima kasih pada Akram karena telah membantu sahabatnya. Alaisa bertanya bagaimana dia bisa bertemu dengan Alara.

__ADS_1


"Gue nggak sengaja lihat ada cewek tergeletak di tengah jalan. Gue keluar dari mobil dan membawa dia ke rumah sakit." Jawab Akram.


"Kira-kira itu dijalan mana....?" Tanya Alaisa lagi.


"Seingat gue, itu jalan dekat hutan pinggiran kota. Gue juga kurang tahu apa nama daerahnya." Jawab Akram.


Alaisa langsung menjelaskan hal tersebut pada polisi dan polisi akan menyelidiki kasus ini, kemudian pergi meninggalkan rumah Alara.


Akram kembali berbicara.


"Ada hal penting yang harus lo tahu tentang kondisi Alara saat ini."


"Apa....?" Tanya Alaisa penasaran.


Akram menjelaskan apa yang disampaikan dokter waktu itu di rumah sakit. Seketika Alaisa syok dan lemas mendengar ucapan yang dilontarkan Akram. Alaisa nggak menyangka hal sekejam itu bakal di alami sama sahabatnya. Siapa orang yang begitu tega berbuat sesadis itu pada sahabatnya.


"Karena itu, lo harus jaga sahabat lo. Jangan biarkan dia, sendirian terlalu lama. Karena kondisi pikiran dia belum stabil. Dia mengalami trauma yang cukup dalam. Dan itu nggak gampang. Dia butuh orang-orang yang dia sayang, ada selalu di dekatnya." Nasehat dari Akram.


"Gue bakal jaga Alara." Ucap Alaisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kalau gitu, gue cabut ya." Ucap Akram sembari tersenyum.


"Sekali lagi makasih ya. Gue nggak tahu kalau lo nggak tolong Alara, Alara sekarang bakal gimana keadaannya." Ucap Alaisa.


"Gue juga kebetulan lewat jalan situ kok. Karena kehendak Allah la, gue di arahkan lewat jalan itu." Jawab Akram kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah Alara.


Alaisa kembali masuk ke rumah. Dan baru ingat, kalau dia belum ngabarin ke Akara kalau Alara sudah ketemu.


Waktu Akara sibuk kerja karena lembur, tengah malam Akara melihat handphonenya sebentar dan melihat banyak panggilan masuk dari Alaisa dan banyak chat. Akara kaget dan langsung meninggalkan pekerjaannya. Kemudian pergi ke rumah Alara untuk meminta keterangan yang lebih jelas lagi. Kenapa Alara bisa sampai diculik. Sampai di rumah Alara, Syafa langsung memeluk Akara. Dan menceritakan kejadiannya. Akara langsung pergi mencari Alara dan membayar orang untuk membantunya melacak keberadaan Alara. Sudah beberapa jam akara mencari dimana keberadaan Alara. Tapi sampai saat ini Akara masih belum dapat titik terang dimana keberadaan Alara. Akara mulai semakin khawatir dan cemas. Ia takut terjadi sesuatu dengan gadis tomboi yang ayu rupawan itu. Akara mencari Alara di setiap tempat yang bisa mereka atau Alara sering kunjungi. Tapi masih belum ada juga tanda-tanda keberadaan Alara.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2