
Alara hari ini menemani Syafa ke sekolahnya, karena hari ini ada lomba, jadi Syafa ingin Alara melihat dirinya tampil di acara lomba nanti. Semua murid hari ini, diperbolehkan mengundang anggota keluarga mereka untuk ikut hadir menyaksikan acara lomba.
Waktu Alara sedang asik menikmati acara lomba, ada tangan yang tiba-tiba memegang pundak Alara.
Alara menoleh ke belakang.
"Masya Allah ustazah." Ucap Alara sambil menyalami ustazah Khori.
"Ada saudara Alara yang sekolah di sini?" Tanya ustazah Khori.
"Iya ustazah. Adek Alara ustazah." Jawab Alara.
"Ustazah sendiri, ada saudara ustazah juga di sini, atau ada urusan lain ustazah?" Tanya Alara.
"Iya. Adek ustazah juga sekolah di sini."
"Yang masih kecil waktu itu ustazah?"
"Iya. Sekarang dia udah besar, dia bentar lagi mau naik kelas dua."
"Berarti sama besar dengan adik Alara ustazah."
"Adek Alara yang waktu itu masuk pesantren? Sekarang dia udah sekolah di sini? Nggak lanjut sekolah di pesantren?"
"Udah nggak ustazah. Kata Syafa, dia mau sekolah di sekolah biasa aja lagi ustazah. Dia mau mencari suasana baru, dan teman-teman baru. Yang milih untuk sekolah di MAN ini, Syafa sendiri. Kita nggak pernah minta Syafa harus ke sini, harus ke situ. Kita beri kebebasan untuk Syafa maunya sekolah dimana."
"Ya itu betul. Karena kalau kita kekang, mereka akan merasa tidak dipercayai sepenuhnya. Jadi biarkan mereka memilih, tapi kita tetap harus memantau dan mengawasi pergerakan mereka. Benar nggak ya, ni anak sifat nya di sekolah dengan di rumah sama, atau beda. Kita hanya mengawasi dan menasehati mereka, kalau mereka salah arah atau sudah mulai lari dari ajaran-ajaran agama Islam. Tapi anak sekarang juga tidak bisa di tegur dengan keras atau secara spontan. Karena zaman mereka dengan kita jauh sekali perbedaannya. Jadi kita harus menegurnya perlahan, dan langsung dengan tindakan. Kalau adek ustazah ada yang sifatnya mulai lari ni, dari yang semestinya, ustazah secara tidak langsung, cara memberitahu dia, dengan menunjukan sifat yang benar di dekatnya secara berulang-ulang, sampai dia sadar kalau itu teguran, baru setelah itu kita buka pembicaraan dengan nya. Kalau yang dia lakukan waktu itu, tidak baik, ada baiknya sifat seperti itu di hindari. Ustazah selalu seperti itu, untuk tetap bisa mengontrol adek ustazah. Kalau langsung kita tegur dengan ayat-ayat atau langsung marahin dia, dia nggak bakalan dengerin ucapan kita." Tutur ustazah Khori.
"Bagus itu ustazah. Alara sampai sekarang masih sangat bersyukur, bisa kenal ustazah, dan ustazah juga bersedia mengajar Alara mengaji secara privat waktu itu. Makasih banyak ya ustazah." Ucap Alara tersenyum senang.
"Semua perubahan dalam diri Alara, itu berkat tekat dan keinginan Alara sendiri untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ustazah hanya guru les privat, yang menjalani kewajiban sebagai guru. Itu aja nggak lebih. Hanya diri Alara sendiri lah yang mampu membuat perubahan dalam diri Alara. Bukan orang lain." Gumam ustazah Khori.
"Ya ustazah." Ucap Alara.
Pembicaraan Alara dan ustazah Khori terhenti, karena Syafa udah tampil, Alara maupun ustazah Khori, fokus mendengarkan ayat suci Al Qur'an yang dilantunkan oleh Syafa. Acara lomba MTQ selesai, dan Syafa juara satu untuk tilawah Qur'an. Alara memperkenalkan Syafa dengan ustazah Khori dan begitu juga sebaliknya.
"Sayang, kenalin ini ustazah Khori, yang waktu itu pernah kakak ceritakan sama Syafa." Ucap Alara.
"Syafa ustazah." Ucap Syafa sambil menyalami ustazah Khori.
"Ustazah juga mau mengenalkan adek ustazah sama Syafa."
__ADS_1
"Adek ustazah sekolah di sini juga ustazah?" Tanya Syafa.
"Iya. Bentar ustazah panggil. Dek, sini bentar sayang!" Panggil ustazah sambil melambaikan tangannya ke arah adek nya. Karena jaraknya sedikit agak jauh dari mereka.
"Iya ada apa kak? Pulang lagi kak?" Tanya adek ustazah Khori.
"Belum, kakak mau kenalin kamu sama adiknya Alara."
"Kak Alara." Ucap adek ustazah Khori, sambil menyalami Alara.
"Kenalin, ini adek kakak, Syafa." Ucap Alara.
Syafa dan adek ustazah Khori saling pandang, dan kemudian mereka saling tertawa.
"Jadi adek ustazah Khori itu, Khazana? Kalau zana ma Syafa udah kenal."
"Zana ma juga udah kenal sama ni anak satu." Ucap zana sambil mencubit pipi Syafa.
"Syukur la." Ucap ustazah khori.
"Kalian satu kelas....?" Tanya Alara.
"Nggak. Kita nggak sekelas. Kelas kita lumayan jauh jaraknya." Jawab Syafa melirik ke arah zana.
"Jauh dimata bukan berarti kita tidak bisa saling berdekatan. Jiaa." Ucap Syafa dan Zana serempak sambil saling tertawa.
Alara dan ustazah ikut tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Melihat kedekatan Syafa dan Zana, membuat Alara, merindukan masa-masa sekolahnya dan merindukan setiap waktu yang ia habiskan bersama Alaisa sahabat satu-satunya. Tapi Alara tidak mau larut lama-lama dalam lamunan dan perasaan rindu itu.
Alara dan ustazah Khori kembali berbincang-bincang, sambil menunggu Syafa dan Zana, Mereka ada urusan sebentar. Setelah urusan Syafa dan Zana selesai, Alara mengajak Syafa pulang. Kemudian berpamitan sama ustazah Khori dan Khazana.
*****
Ustad Ahnan, selepas bertemu dengan Akram, ia juga pulang ke rumahnya.
Dirumah ustad Ahnan di sambut oleh istrinya.
"Assalamualaikum...." Ucap ustad Ahnan.
"Waalaikummussalam mas." Jawab istri ustad Ahnan.
Ustad Ahnan mandi, ganti baju, setelah itu baru duduk di meja makan.
__ADS_1
"Gimana kegiatan di pesantren hari ini mas....?" Tanya istri Ustad Ahnan.
"Alhamdulillah berjalan lancar seperti Biasa." Jawab ustad Ahnan.
"Mas tadi udah ketemu sama Akram, dan kata Akram, dia sudah siap menikah. Dan tadi mas mau bantu cari calonnya buat Akram. Kamu ada kenalan yang mau ta'aruf nggak sayang?" Ucap ustad Ahnan.
"Kebetulan bangat mas. Tadi saya ketemu sama anak didik saya juga mas. Dan kami sempat bicara perihal pernikahan. Katanya, dia kalau udah ada jodoh, in Syah Allah sudah siap juga berumah tangga.
"Pas waktunya berarti sayang. Nanti kamu kasih CV Akram sama dia ya."
"Ya mas. Nanti saya kasih juga CV dia sama mas." Ucap istri Ustad Ahnan.
Ketika ustad Ahnan sedang asik bercengkrama dengan istrinya, ada tamu datang. Istri ustad Ahnan membuka pintu.
"Assalamualaikum ustazah Khori."
"Waalaikummussalam..., silakan masuk Alara." Ucap ustazah Khori mempersilahkan Alara untuk masuk.
"Alara disini aja ustazah. Soalnya Alara ada perlu lagi habis ini ustazah. Alara kesini mau kasih CV yang kemaren ustazah minta." Ucap Alara.
"Masuk aja sebentar Ra. Udah ada yang mau ta'aruf sama kamu. Masuk dulu." Ajak ustazah Khori.
Alara tidak bisa menolak, dia masuk sebentar. Ustazah Khori meminta ustad Ahnan untuk mengambil CV Akram.
"Udah ada yang mau ta'aruf sama kamu Ra. Ni CV nya, nanti kalau cocok, kamu kasih tahu ustazah lagi, biar nanti ustad Ahnan yang kasih tahu ke orangnya. Kamu baca CV nya, dan CV kamu juga bakal ustazah kasih sama ustad Ahnan, biar di kasih sama temannya." Tutur ustazah Khori.
"Gercep bangat ternyata ya ustazah." Ucap Alara sedikit kaget. Karena secepat itu ada orang yang langsung mau ta'aruf sama dia.
"Ya nggak papa Ra. Lebih cepat lebih baik kan...?" Jawab ustazah Khori sambil tersenyum.
"Ya ustazah. Kalau gitu, Alara pamit dulu ya ustazah. Makasih banyak buat ustad Ahnan dan ustazah, yang udah repot-repot cari pendamping hidup buat Alara." Ucap Alara.
"Kita nggak repot. Udah kewajiban kita sebagai saudara seiman saling membantu satu sama lain." Jawab ustazah Khori.
Alara pamit, setelah itu berlalu pergi meninggalkan rumah ustazah Khori.
****
Setelah Alara dan Akram bertukar biodata/CV, melalui ustazah Khori dan ustad Ahnan, Alara bilang sama ustazah Khori kalau dia bersedia lanjut dengan Akram ketahap selanjutnya. Begitu juga dengan Akram.
Waktu Alara membaca CV yang di beri ustazah Khori padanya, Alara kaget, ternyata orang yang mau ta'aruf dengannya adalah kakaknya Akara. Alara bingung dan penasaran, dengan Akram ini. Dia harus memastikan, Akram ini dengan Akram yang dia kenal itu adalah orang yg sama atau berbeda. Jadi Alara memutuskan untuk lanjut ke tahap selanjutnya.
__ADS_1
Disisi lain, ketika Akram mengetahui CV yang di bacanya itu adalah milik Alara, Akram sangat senang. Dia tidak menyangka, orang yang akan di nikahin itu adalah Alara, teman masa lalunya, sekaligus cinta pertama baginya..
*****