
Sinar matahari siang itu sangat terik.
Hari sudah menunjukan setengah dua siang. Alara masih bimbang untuk datang menemui Kaisa. Dan akhirnya Alara ambil keputusan untuk datang. Di perjalanan menuju sekolahnya, Alara mengabari Shafan. Alara menyampaikan pada Shafan, apa yang disampaikan Kaisa kepadanya.
Alara sampai di beskem KKM KECew. Melihat tempat itu, membuat mata Alara mulai berkaca-kaca. Alara ingat pembulian yang di alami Alaisa di tempat itu.
Kaisa udah menunggu kedatangan Alara di dalam ruangan itu.
"Makasih ya Ra. Lo udah mau datang." Ucap Kaisa.
"Lo datang sendirian Ra? Alaisa nggak ikut? Gue juga mau minta maaf sama Alaisa Ra." Kata Kaisa sambil melihat ke arah pintu masuk, dengan wajah berharap Alaisa juga datang.
"Alaisa udah nggak bisa datang. Aku datang sama Shafan. Bentar lagi dia sampai." Jawab Alara dengan berusaha menahan tangisnya.
"Kenapa Alaisa nggak bisa datang Ra? Ada urusan mendadak atau gimana? Tanya Kaisa masih penasaran.
Alara berusaha untuk tetap menahan air mata nya, agar tidak jatuh. Alara melihat ke langit-langit ruangan itu, untuk mengendalikan dirinya.
"Nggak usah bahas Alaisa Kai. Nggak penting juga bagi kamu. Sekarang langsung ke intinya aja Kai. Ceritain apa yang kamu tahu tentang kejadian yang menimpa aku dan Alaisa di masa lalu." Ucap Alara tanpa basa-basi lagi.
Shafan sampai di beskem, Shafan masuk lebih dulu, kemudian baru di susul Akara.
"Karena kalian udah ada disini? Sekarang gue bakal jelasin, sejelas-jelasnya. Kalian cukup dengerin aja dulu penjelasan dari gue, setelah gue selesai jelasin, terserah kalian mau buat apa sama gue. Gue memang banyak salah sama Alara dan terutama sama Alaisa. Gue minta maaf bangat sama lo dan Alaisa. Atas apa yang selama ini gue perbuat sama kalian. Gue terima apa pun yang bakal Lo lakuin sama gue. Gue pantas menerima hukuman." Tutur Kaisa dengan penuh penyesalan.
Kaisa tulus minta maaf atas kejadian di masa lalu. Dia mengakui semua perbuatannya. Termasuk rencana penculikan alaisa dan toko ibu Alaisa yang terbakar sampai menyebabkan ibu Alaisa meninggal semua itu ulah Kaisa. Dan ada satu kebenaran lagi yang belum terungkap.
"Sebenarnya sampai sekarang, Alaisa masih virgin. Waktu Alaisa pingsan, dia sempat bangun sebentar, gue dan dua teman gue datang nemuin alaisa, tapi keadaan dia masih lemas dan gue kepikiran buat ngerjain Alaisa dengan berantakin baju Alaisa, seolah-olah dia sudah dile**hkan."
Mendengar itu, Shafan dan Alara jadi ingat, soal Alaisa yang sering sakit kepala. Ternyata itu penyebab, Alaisa sering sakit kepala, dan dengar suara orang-orang yang tertawa dan meledek alaisa. Ternyata itu suara Kaisa.
__ADS_1
Shafan mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Tapi Alara melirik ke arah Shafan, dan meminta Shafan untuk tetap sabar, sampai Kaisa selesai menjelaskan.
"Soal penculikan Alara, sebenarnya, dibalik cowok yang lo tolak waktu itu, sebenarnya orang yang kasih tahu keberadaan lo malam itu ke dia, adalah papa gue. Waktu itu papa dengar pembicaraan gue di telpon sama orang suruhan gue buat nyelakain lo. Bukan untuk culik lo. Jadi gue curiga sama papa, lalu gue mohon-mohon keluar penjara bentar sama pengawal yang jaga gue. Pas gue keluar, papa lagi nelpon anak buahnya, untuk cari kelemahan lo atau orang yang mungkin ada yang benci sama lo selain gue waktu itu.
Setelah dicari-cari, orang suruhan papa dapat infomasi, kalau dia bertemu dengan cowok yang pernah lo tolak. Papa bertemu dengan dia, kemudian bikin kesepakatan. Papa bilang, terserah dia mau ngapain lo, yang penting dia udah sekap lo dan kasih tahu samo cowok itu. Dan jika terjadi sesuatu, jangan pernah sebut nama papa. Makanya dia bilang kalau dalangnya hanya dia sendiri." Jelas Kaisa.
Alara terkejut dengan penjelasan Kaisa, dia bergerak mundur. Alara kembali terbayang kejadian yang menimpa dia waktu itu.
"Gue minta maaf sama lo Ra. Gue benar-benar minta maaf." Ucap Kaisa sambil bersimpuh di dekat kaki Alara, dan menangis.
"Lo benar-benar keterlaluan ya Kai. Lo cewek yang sangat sadis." Tegas Akara dengan nada marah.
"Bisa-bisanya Lo, mempermainkan harga diri perempuan lain. Lo juga perempuan Kai. Tapi Lo setega itu, merusak kehormatan perempuan lain. Nggak ngerti gue sama jalan pikiran Lo." Ucap Shafan dengan sangat marah sama Kaisa.
"Gue minta maaf. Gue tahu gue salah. Dan waktu gue tahu, papa tega lakuin itu sama Alara, gue marah sama papa, dan gue udah mau pergi melaporkan kejahatan papa ke kantor polisi. Tapi papa halangin gue dan ancam gue. Gue nggak dibolehin ketemu mama lagi. Sejak saat itu, sampai sekarang gue selalu di awasin kalau mau kemana mana. Tapi tadi sebelum gue kesini, gue udah berhasil buat mengalihkan fokus anak buah papa. Jadi anak buah papa nggak bakal bisa ikutin gue sampai sini." Gumam Kaisa.
Mendengar itu, air mata Kaisa mengalir deras membasahi pipinya. Begitu juga dengan Alara. Dia terus saja menangis. Alara belum bisa mengendalikan perasaannya. Kebenaran ini, membuat Alara kembali seperti di tusuk berkali-kali.
"Lo bercanda kan fan? Nggak mungkin Alaisa pergi secepat itu." Ucap Kaisa nggak percaya.
"Shafan nggak bercanda. Yang Shafan bilang itu benar." Sambung Akara membenarkan ucapan Shafan.
"Nggak. Gue nggak percaya. Ini nggak mungkin. Apa yang membuat Alaisa sampai meninggal. Ini nggak benar." Gumam Kaisa berusaha menolak kebenaran, Kaisa semakin merasa bersalah, dia memukul-mukul kepalanya untuk sadar.
Alara mulai bersuara. Ia menjelaskan apa yang terjadi pada Alaisa waktu itu.
"Alaisa meninggal karena kekurangan banyak darah, dia berusaha untuk menyelamatkan aku dari para penjahat yang mau menikam aku dengan pisau dari belakang. Alaisa lihat itu, dan tanpa pikir panjang, dia langsung menghampiri aku. Alaisa tertusuk, yang dima seharusnya malam itu aku yang di tusuk. Bukan Alaisa." Ucap Alara disertai banjir air mata yang membuat Niqab nya terlihat sudah sedikit lembab. Alara masih menyalakan dirinya atas kejadian waktu itu.
"Maafin aku Ra. Aku nggak tahu soal itu. Aku minta maaf." Kata Kaisa sambil bersujud di hadapan Alara.
__ADS_1
"Nasi udah menjadi bubur Kai. Mau aku nggak maafin kamu sampai kapan pun, hal itu nggak bakal merubah apa yang sudah terjadi. Jadi percuma juga aku dendam sama kamu. Nggak ada manfaatnya. Aku udah maafin kamu. Dan aku yakin, Alaisa pasti mau juga maafin kamu Kai. Tapi untuk segala tindakan kamu dan papa kamu, itu tetap berlaku hukuman nya Kai. Karena perbuatan papa kamu itu, udah diluar batas kemanusiaan. Aku nggak bisa lepasin begitu aja. Kamu dan papa kamu harus siap menerima konsekuensi dari apa yang kalian perbuat." Jelas Alara.
"Makasih banyak Ra. Gue bakal bertanggung jawab untuk semuanya Ra. Dan gue bakal jadi saksi untuk kasus pele**han lo nanti di pengadilan Ra." Ucap Kaisa sambil memeluk Alara.
Setelah semua itu selesai, Kaisa pamit pulang lebih dulu. Sekarang tinggal Shafan, Alara dan Akara di beskem itu.
"Lo nggak papa kan Ra?" Tanya Akara sedikit cemas.
"Ya nggak papa." Jawab Alara.
"Lo kenapa main maafin Kaisa begitu aja si Ra?" Tanya Shafan sedikit kesal dengan keputusan Alara.
"Fan, tidak semua kejahatan harus di balas dengan kejahatan. Kaisa udah menyesali semua perbuatannya, dan dia bersedia untuk tanggung jawab dengan apa yang telah di perbuatanya. Jadi kita harus kasih kesempatan itu buat Kaisa Fan. Siapa tahu dengan kita maafin dia, Kaisa bisa jadi pribadi lebih baik lagi Fan. Dan dia bisa berubah." Gumam Alara.
"Ada benarnya juga apa yang di bilang Alara fan. Alara pasti udah pertimbangkan hal ini dengan sangat matang. Jadi kita harus hargai keputusan Alara dan yang bisa kita lakukan saat ini, adalah bantu semangatin Alara. Dan untuk apa yang akan terjadi kedepannya, hanya yang di atas yang tahu fan. Kita serahkan saja ke yang satu." Sambung Akara membantu Alara untuk meyakinkan Shafan.
"Ya udah. Nanti gue sama Akara temanin lo ke pengadilan ya Ra." Kata Shafan.
"Kalau gitu aku balik ya. Nggak enak juga lama-lama di sini. Takut timbul fitnah." Ucap Alara.
"Ya udah." Kata Shafan.
"Kita iringin Lo dari belakang ya Ra. Udah mau gelap juga soalnya Ra." Pinta Akara.
Alara membolehkan. Kemudian berjalan lebih dulu sambil menunduk, lewat depan Shafan dan Akara.
Akhirnya, Kebenaran dibalik pele**han yang di alami Alara waktu itu sudah terbongkar. Dalang dari Masalah itu ternyata bukan perbuatan Kaisa tetapi perbuatan papanya Kaisa. Waktu itu Papa Kaisa mendengar semua percakapan Kaisa, Katra dan mauli. Bahwa yang menyebabkan mamanya koma itu salahnya Alara karena Alara udah berani kasih rekaman pembulian Kaisa ke pada kepala sekolah. Sehingga Kaisa dapat hukuman dari kakeknya. Mama Kaisa syok, dan sempat koma juga waktu itu. Papa Kaisa udah dibutakan akan cintanya pada istrinya. Sampai tidak tahu membedakan mana yang baik dan yang buruk.
*****
__ADS_1