ANAKARALA

ANAKARALA
31. Uhibbuka Fillah


__ADS_3

Sudah beberapa hari waktu kejadian Alara di tokoh buku itu berlalu, tapi Alara masih ke ingat sama cowok yang di temuinya di tokoh buku waktu itu.


Dua kali Alara bertemu cowok di tokoh itu, pertama waktu dia beli buku Uhibbuka Fillah. Waktu itu ada cowok yang duduk di kursi dekat tokoh buku, ia sedang asik membaca buku. Tapi tiba-tiba ngelirik ke arah Alara, karena Alara tiba-tiba teriak kesenangan, Alara ketemu buku Uhibbuka Fillah yang di carinya. Dan yang kedua beberapa hari yang lalu itu, ada cowok bantu Alara ambil buku yang Alara nggak sampai untuk ambilnya.


Setelah Alara pikir-pikir, dua cowok yang dia temuinya itu, dia sepertinya kenal dan kayaknya juga dekat dulunya dengan Alara. Ya Alara hanya berpikir dua kemungkinan cowok itu adalah Akara dan Akram. Karena hanya mereka yang dekat dengan Alara dulu. Cukup lama Alara berpikir tentang itu, akhirnya dia yakin kalau itu memang mereka. Alara bisa bedakan, mana Akara dan mana Akram.


Alara tidak menyangka kalau dia bakal bertemu lagi dengan kedua cowok itu, setelah perpisahan mereka di masa lalu.


...'Alara mengingat kembali kisah waktu itu'....


Suasana yang hening pada Ujian Nasional kelas tiga SMA. Alara telah selesai ujian.


"Ra, aku pulang duluan ya." Kata Alaisa.


"Sama aku aja!" Pinta Alara


"Aku buru-buru soalnya Ra. Mau bantu ayah aku Ra." Jawab Alaisa sambil berdiri dan berlalu meninggalkan Alara.


"La...." Teriakan Alara terhenti karena Akara sudah berdiri di depan kelasnya.


"Hari ini kamu pulang sama aku ya Ra!" Pinta Akara.


"Aku nggak langsung pulang Ka. Ada urusan lain." Jawab Alara berusaha ngeles dari Akara.


"Ya udah, aku temanin sampai urusan kamu selesai." Ucap Akara.


"Nggak usaha Ka. Kita pulang barengnya kapan-kapan aja ya Ka." Kata Alara sambil mulai berjalan perlahan meninggalkan Akara.


Akara menahan tangan Alara, agar dia jangan pergi dulu.


"Ra, sampai kapan sikap kamu kayak gini terus Ra....?" Tanya Akara dengan nada yang tetap lembut.


"Kayak gini gimana Ka....?" Tanya Alara pura-pura tidak paham.


"Kamu pasti paham maksud aku Ra. Aku tahu, kamu sengaja terus cari alasan, agar aku nggak ada waktu bicara sama kamu." Ucap Akara.


"Aku nggak sedang cari-cari alasan Ka. Memang hari ini aku ada perlu aja Ka." Kata Alara sedikit gugup namun tetap berusaha santai.


"Oke. Kalau sekarang kamu ada keperluan yang mendesak!. Tapi kenapa kamu nggak izinin aku ikut anterin kamu!" Ucap Akara dengan kesal.


Alara hanya diam. Kemudian Akara kembali bicara. "Itu karena kamu, berusaha menghindar dari aku Ra. Aku nggak tahu apa alasan kamu, beberapa waktu belakangan ini, sejak kamu pakai hijab, sikap kamu berubah drastis sama aku Ra!" Tegas Akara dengan raut wajah butuh penjelasan dari Alara.

__ADS_1


"Kita bahas ini nanti aja Ka." Pinta Alara sembari pergi meninggalkan Akara. Akara mengikuti Alara, dan sampai di jalan dekat taman sekolah, Akara kembali menghentikan Alara dan menarik Alara ke taman belakang sekolah.


"Kamu kenapa si Ka!" Bentak Alara sembari melepaskan genggaman tangan Akara darinya.


"Kamu yang kenapa Ra!" Tegas Akara.


"Aku butuh penjelasan dari kamu Ra. Aku salah apa sama kamu Ra! Kalau aku ada salah, kamu bilang sama aku, dan aku bakal perbaiki kesalahan itu Ra! Jangan menghindar seperti ini terus Ra! Dengan kamu menghindar, masalahnya nggak bakal pernah selesai-selesai Ra!" Tegas Akara lagi.


"Oke. Aku bakal jelasin sama kamu, kalau kamu nggak salah apa-apa Ka. Di sini, aku yang salah. Bukan kamu!. Puas!" Tegas Alara.


"Aku minta maaf, kalau belakangan ini, aku selalu menghindar dari kamu, dan aku juga minta maaf kalau sikap aku belakangan ini, kasar, cuek dan anggap kamu nggak ada di hidup aku! Semua itu aku lakukan supaya kamu, benci sama aku Ka!. Aku ingin kamu benci sama aku!." Tegas Alara lagi, dengan tetap berusaha menahan air matanya.


"Kenapa kamu bisa kepikiran seperti itu Ra. Kenapa kamu mau, aku benci sama kamu Ra!" Tegas Akara nggak percaya dengan ucapan Alara.


"Ka..., karena kamu pantas dapat perempuan yang lebih baik dari aku Ka! Kamu akan jauh lebih beruntung mendapatkan wanita yang sempurna di luar sana, di banding aku Ka!" Tegas Alara.


"Aku jauh lebih beruntung dapatin kamu, ketimbang perempuan-perempuan di luar sana Ra! Kamu udah sempurna di mata aku Ra." Ucap Akara dengan nada lembut tapi tetap tegas.


"Kamu terlalu sempurna buat aku Ka! Cewek yang sudah tidak virgin lagi seperti aku, nggak pantas buat kamu Ka! Masih banyak wanita di luar sana, yang masih virgin dan lebih baik dari aku Ka. Kamu harus lupain aku Ka!" Tegas Alara dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Aku sudah tahu itu Ra! Dan aku nggak peduli dengan hal itu Ra! Aku terima kamu apa adanya Ra! Kamu stop, nyakitin diri kamu sendiri Ra! Apa yang terjadi sama kamu itu musibah Ra! Hal yang nggak kamu sengaja dan nggak kamu inginkan sama sekali. Jadi kamu nggak boleh punya pemikiran seperti itu Ra! Kamu tetap wanita yang sempurna kok Ra!" Tegas Akara berusaha meyakinkan Alara sembari menggenggam kedua telapak tangan Alara.


"Aku mohon sama kamu, jangan pernah ganggu aku lagi!. Please!!" Sambung Alara dengan menyatukan kedua tangannya untuk memohon, kemudian berlalu pergi meninggalkan Akara.


Akara berteriak sangat kencang, untuk melampiaskan amarahnya. Alara tidak menoleh lagi sedikitpun ke belakang, meskipun dia mendengar teriakan Akara. Alara terus saja berjalan menuju mobilnya, dengan air mata yang terus saja mengalir di pipinya sejak dia berlalu meninggalkan Akara tadi. Sakit yang di rasakan Akara saat ini, juga dapat dirasakan Alara. Alara jauh lebih sakit dengan keputusan yang dia ambil. Tapi itu adalah keputusan terbaik yang harus ia ambil, demi kebaikan Akara juga (pikir alara).


***


Hari yang di tunggu-tunggu semua murid kelas tiga, akhirnya datang juga. Acara wisuda kelas tiga di adakan dengan meriah. Bagi semua murid acaranya seru abis. Kecuali dua sejoli, Akara dan Alara.


Akara dan Alara tidak pernah lagi berkomunikasi sejak kejadian waktu itu. Pada acara wisuda mereka saling menghindar satu sama lain. Alaisa merasa prihatin dengan hubungan sahabatnya itu, tapi tidak ada yang bisa Alaisa lakukan. Karena Alara mengancamnya. Kalau Alaisa nekat atau berusaha menyatukan dia lagi dengan Akara, maka Alara tidak akan pernah mau kenal dengan Alaisa lagi.


Waktu acara wisuda sudah mau berakhir, Alara dapat chat dari Akara. Akara minta bertemu sebentar saja dengan Alara. Dan mohon untuk kali ini saja Alara jangan menolak.


Alara menemui Akara di taman belakang sekolah.


"Ada apa Ka....?" Tanya alara dengan nada datar.


"Selamat ya Ra. Kamu termasuk salah satu murid dengan lulusan terbaik dari sekolah kita." Ucap Akara sambil mengulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat.


"Ternyata kamu benar Ra. Ada positifnya juga dengan berakhirnya hubungan kita waktu itu. Kamu lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar, dan aku juga banyak waktu untuk bisnis papa dan kegiatan lainnya." Kata Akara dengan tersenyum sembari duduk di bangku taman.

__ADS_1


"Selamat juga buat kamu Ka. Semoga apa yang kamu cita-cita kan, bisa terwujud." Ucap Alara juga sambil tersenyum.


"Kalau nggak ada lagi yang mau kamu sampaikan, aku pamit pergi dulu Ka." Kata Alara.


"Bentar Ra." Akara menghentikan Alara.


"Aku punya sesuatu buat kamu." Ucap Akara sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Akara memberikan buku untuk Alara.


"Uhibbuka Fillah." Ucap Alara heran.


"Uhibbuka Fillah. Artinya mencintai mu karena Allah. Aku akan selalu cinta sama kamu Ra. Mungkin kamu nggak mau dengar kata-kata itu keluar lagi dari mulut aku Ra. Aku udah berusaha membenci kamu landak! Agar aku mudah melupakan kamu landak! Tapi kenyataannya mala sebaliknya. Aku nggak bisa lagi membohongi perasaan aku landak!"


Mendengar itu, Alara ingin melangkah pergi meninggalkan Akara.


"Please. Kamu jangan pergi dulu. Untuk sekarang, aku minta sama kamu, untuk dengerin aku kali ini aja." Pinta Akara.


"Aku hanya ingin menyampaikan, apa yang aku rasakan landak. Aku tidak akan meminta kamu, untuk jawab atau balas perasan aku lagi. Kamu cukup menjadi pendengar saja kali ini landak!" Pinta Akara lagi.


Alara tidak jadi pergi, dan bersedia mendengarkan ucapan Akara.


"Untuk hubungan kita, aku udah ikhlas. Semuanya aku serahkan kepada Tuhan. Mulai sekarang aku, akan mencintai kamu karena Allah. Aku akan berusaha memperbaiki diri, lebih dekat lagi dengan sang pencipta yang maha membolak-balikkan hati manusia. Dan berdoa selalu kepadanya, agar aku di jodohkan dengan orang yang aku cintai." Ucap Akara dengan disertai senyuman.


"Jadi, kamu harus terima buku ini ya landak! Sebagai kenang-kenangan dari pertemuan, yang bisa di bilang pertemuan terakhir untuk saat ini. Nggak tahu kalau dimasa depan." Ucap Akara dengan tersenyum, sembari memberikan buku itu ke tangan Alara.


"Ya udah, aku terima. Makasih bukunya." Ucap Alara santai, sembari mengangkat buku yang ditangannya.


Akara membalas jawaban Alara dengan senyuman.


"Kalau gitu, aku pergi dulu ya Ka." Kata Alara sembari berlalu meninggalkan Akara.


"Ya landak." Ucap Akara perlahan. Berusaha mengikhlaskan hubungannya dengan Alara yang sudah benar-benar berakhir.


Akara bisa menyakinkan dirinya seperti itu, semuanya berkat bantuan dan nasehat dari abangnya. Akram pernah bilang sama Akara, kalau dia masih ingin memperjuangkan cintanya, maka jangan terus mengejar orangnya, tapi dekatilah penciptanya. Karena dengan begitu, jika berjodoh, in Syah Allah dia dan orang yang dia cintai akan disatukan.


Sejak saat itu, Alara sudah tidak pernah bertemu dengan Akara maupun dengan Akram. Pertemuan terakhir Alara dengan Akram itu, waktu Alara mengantarkan Syafa untuk melanjutkan sekolahnya di pesantren, dan kebetulan juga, Akram lagi daftarin salah satu adeknya yang di panti untuk masuk pesantren juga. Awalnya Alara tidak setuju Syafa sekolah di pesantren, bukan masalah pendidikannya. Kalau soal pendidikan, Alara senang, adeknya mau menjadi hafiz Qur'an. Tapi disisi lain, dia jadi sendirian lagi di rumah.


***


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2