
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Seorang wanita paru baya, berjalan menuju satu kamar. Ia mengetok pelan pintu kamar yang berada di depannya.
"Mama, ada apa ma?". Ucap Alara sambil membuka pintu kamarnya.
"Siapa yangg?". Tanya Akara sambil berjalan ke arah Alara. "Mama". Ucap Akara sedikit kaget kemudian menyalami wanita paru baya itu.
"Kalian udah siap-siap?". Tanya mama Alara dengan senyuman lebarnya.
"Udah kok ma. Baru aja kita mau keluar". Ucap Alara dengan balutan baju syar'i dan niqab yang sudah terpasang indah menutupi sekujur tubuh Alara.
"Iya ma. Ini Akara udah mau bawa koper keluar ma". Sambung Akara dengan penampilan kece nya, disertai balutan topi yang menempel di kepalanya. Tentunya tidak lupa ia sematkan kacamata hitam favoritnya, di kra baju miliknya.
"Syukur la. Mama rencana nya tadi cuma mau bangunin kalian takut kalian bangunnya kesiangan". Ucap mama Alara disertai tertawa kecil.
Melihat ekspresi mamanya, Alara dan Akara hanya saling pandang sebentar, kemudian saling memalingkan wajah, dan tersenyum tipis.
"Ya sudah, sebelum ke bandara, kalian sarapan dulu ya".
"Ya ma". Ucap Akara dan Alara bersamaan.
Mereka sampai di meja makan, Syafa pun, juga sudah bangun dan ikut sarapan dengan mama, kakak dan kakak iparnya itu.
"Tumben hari Minggu bangunnya bisa pagi dek?". Tanya Alara sedikit tersenyum.
"Yaaa, terpaksa sebenarnya kak. Kakak siii, perginya terlalu pagi. Jadi Syafa harus bangun pagi deh". Protes Syafa disertai tertawa kecil.
"Kok jadi kakak ya salah. Ya udah. Kalau nggak ikhlas bangun pagi, tidur aja lagi sana. Kan nggak ada yang minta kamu buat bangun pagi juga dek". Ucap Alara dengan sedikit kesal.
"Bercanda kak. Jangan marah dong". Bujuk Syafa dengan tersenyum lebar, sambil mencolek pinggul Alara yang duduk di sampingnya.
"Aww, geli dek (sedikit menggerakkan tubuhnya). "Kakak nggak marah kok". Sambung Alara dengan senyuman yang tergambar dari pancaran mata Alara.
Mama Alara dan Akara, hanya tersenyum melihat tingkah dua bersaudara itu. Sekarang mereka sudah selesai makan, kemudian berangkat menuju bandara. Mama, Syafa dan pak Kedi ikut mengantarkan Akara dan Alara. Sampai di Bandara, mereka sudah disambut dengan kehadiran keluarga Akara dan sahabat Akara, yang lebih dulu sampai di bandara.
"Hi bro. Akhirnya sampai juga Lo". Ucap Shafan dan Pakara sambil bersamaan membekap Akara sebentar.
"Ya. Soalnya, beres-beres dan sarapan dulu". Ucap Akara santai.
__ADS_1
"Selamat honeymoon guys". Ucap Pakara dengan menahan tawanya.
"Nikmati waktu libur kalian dengan baik ya. Jelajah aja semua tempat wisata yang ada di Turki". Ucap Shafan.
"Jangan lupa oleh-oleh ya guys". Ucap Pakara girang.
"Ya Par. Kamu mau titip oleh-oleh apa Par? biar nanti kita beli". Tanya Alara dengan santai.
"Dia ma, nggak perlu di tanya yangg. Apa pun pasti mau dan dimakan sama dia". Ucap Akara dengan tertawa kecil.
"Yanggg nggak tu. Kok tiba-tiba gua jadi panas ya. (mengibas ngibaskan pelan kra bajunya karena Pakara katanya gerah).
"Drama lu Kar". Ucap Shafan sambil mengusapkan telapak tangannya ke wajah Pakara.
Akara dan Alara hanya tersenyum melihat tingkah kedua temannya itu.
"Ya udah. Kalian lanjut aja di sini berdua. Gue mau nyamperin mama dan yang lain dulu". Ucap Akara sambil menggandeng tangan Alara berjalan menuju tempat keluarganya yang lain lagi berkumpul.
Akara dan Alara pamit sama mama dan papa Akara. Kemudian pamit dengan mama Alara.
"Ma kita berangkat dulu". Ucap Akara pada mamanya, sambil bersalam. Kemudian di susul Alara.
Alara yang mendengar ucapan itu hanya bisa tersenyum dan sedikit grogi. Mereka sudah selesai berpamitan dengan kedua orang tuanya. Sekarang giliran berpamitan pada seorang gadis yang sedari tadi hanya melihat aktivitas Akara dan Alara yang berpamitan dengan keluarga yang lain. Alara menghampiri Gadis itu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Kakak pergi dulu ya, kamu jangan lupa sekolah yang rajin, belajar, supaya kalau udah tamat, bisa kuliah di Kampus yang bagus". Ucap Alara disela pelukannya.
"Ya kak. Siip. Soal itu aman deh pokoknya. Kakak Jaga kesehatan ya kak. Cepat pulang". Ucap Syafa.
"Udah peluk-pelukannya. Kayak mau pergi lama aja. Kan cuman sebulan. Nanti juga ketemu lagi". Ujar Akara, sambil berjalan ke tempat Alara dan Syafa.
Syafa dan Alara melepas pelukan mereka. "Satu bulan kan lama kak". Protes Syafa dengan ekspresi agak kesal dengan ucapan Akara.
"Udah. Kakak berangkat ya sayang. Jangan cemberut gitu dong. Nanti kakak jadi nggak happy liburannya. Senyum dulu". Pinta Alara lembut.
"Ya kak (mengeluarkan senyum terpaksa nya). Selamat liburan kak. Jangan lupa oleh-oleh buat aku". Ucap Syafa.
"Ya. In syah allah". Ucap Alara sambil kembali memeluk Syafa.
__ADS_1
Syafa menyalami Akara, "Jagain kak Ara ya kak. Selamat Honeymoon".
"Ya. Kak Ara aman sama kakak". Sambil mengelus lembut kepala syafa yang dibaluti hijab.
Akara dan Alara sudah berangkat. Sekarang mereka sampai di Turki. Akara menyusun barang-barang bawaan ia dan Alara di lemari yang di sediakan di hotel tempat mereka menginap.
"Ka, aku mandi dulu ya. Habis itu baru kita makan malam". Ucap Alara sambil membuka Niqab dan hijabnya. Kemudian berjalan memasuki kamar mandi.
Akara mengiyakan ucapan Alara sambil masih memindahkan barang-barang yang dari koper ke lemari.
Alara udah selesai mandi, sekarang giliran Akara yang mandi. Selesai siap-siap, mereka lanjut makan di cafe dekat hotel. Selesai makan, mereka kembali ke kamar untuk istirahat.
Alara dan Akara duduk di sofa yang ada dikamar mereka. Mereka saling bercerita. Alara sudah tidak lagi mengenakan hijab dan niqab nya. Ia hanya memakai baju tidur lengan panjang.
"Berasa mimpi ya Ra". Ucap Akara tiba-tiba.
"Hmm...". Ucap Alara hanya dengan satu dahaman.
"Kok hanya gitu aja jawabnya landak". Protes Akara sambil melirik kearah Alara yang sedari tadi bersandar di bahunya.
"Terus aku harus apa kodok". Ucapnya disertai tertawa kecil.
Akara pun tertawa. "Lucu ya kita. Aku bahagia dan sangat bersyukur. Dan nggak nyangka akhirnya Allah mempersatukan kita. Dari banyaknya rintangan yang sudah kita lewati selama ini. Waktu kamu tolak lamaran pertama aku waktu itu, saat itu juga, aku sudah ikhlas buat lepasin kamu. Dan menyerahkan semuanya pada zat yang maha membolak balikan hati umatnya".
"Itu la takdir Yangg. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan terus berdoa agar selalu diberkahi limpahan rahmat dan karunia dari Allah SWT". Ucap Alara dengan penuh syukur.
Mendengar kata yang baru di ucapkan Alara barusan membuat Akara merubah posisi duduknya dengan cepat dan dengan ekspresi kaget, kemudian menatap Alara lekat-lekat dengan posisi tangan memegang kedua bahu Alara. "Kamu bilang apa tadi landak?".
"Bilang apa?. Semuanya sudah takdir". Jawab Alara dengan ekspresi ikutan heran dengan pertanyaan dan tatapan pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.
"Bukan yang itu". Setelah ucapan takdirnya".
Alara berpikir sebentar "Setelah ucapan takdir, Sayang?". Jawab Alara santai.
Akara langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan penuh kasih sayang. "Untuk pertama kalinya, kamu bilang itu sejak kita kenal Ra. Aku senang bangat landak".
Alara membalas pelukan Akara. "Sekarang posisinya udah beda, kamu udah menjadi suami aku, jadi udah seharusnya, aku merubah panggilan ke yang lebih baik lagi. Sebenarnya, kata itu kedengaran aneh untuk aku. Mungkin karena belum terbiasa. Nanti kedepannya bakal biasa. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat suami aku. Dan terus belajar menjadi istri yang lebih baik lagi".
__ADS_1
"Aku juga bakalan berusaha buat ngasih yang terbaik buat istri aku. Dan jadi imam yang baik buat kamu dan anak-anak kita nantinya". Ucap Akara sambil mencium kening istrinya itu.
Selama di Turki, Akara dan Alara menghabiskan waktu bersama selama satu bulan. Mereka jalan-jalan, mengunjungi banyak tempat wisata yang terkenal di Turki. Dan Akara juga menemani Alara untuk melihat-lihat kampus yang ada di Turki. Kata Alara, kalau ada yang dia suka, dia bakal merekomendasikan untuk Syafa kuliah di sana. Siapa tahu Syafa suka, dan dia mau kuliah di Turki.