
Mereka sampai di rumah sakit, Alaisa langsung dilarikan ke ruang operasi.
Cukup lama menunggu, Alara dan Shafan tidak bisa tenang, mereka sebentar duduk, sebentar berdiri, sebentar duduk lagi dan sebentar berdiri lagi.
Dokter keluar dari ruang operasi.
"Gimana dok?" Tanya Alara dan Shafan serempak.
"Pasien membutuhkan donor darah. Dan rumah sakit sedang kehabisan stok darahnya. Apa dari kalian ada yang golongan darahnya AB....?" Ucap dokter.
Alara dan Shafan saling tatap.
"Aku golongan darahnya bukan AB." Kata Shafan dengan gelisah.
"Aku juga bukan AB." Ucap Alara cemas.
Shafan baru ingat, dia tahu siapa yang golongan darahnya sama dengan Alaisa. Shafan langsung menelpon temannya.
30 menit kemudian, teman Shafan datang. Alara terkejut dengan kedatangan Akara. Ternyata teman yang dimaksud Shafan itu, Akara! (Ucap Alara dalam hati).
"Langsung aja ke tempat donor darah Ka. Kita nggak punya banyak waktu." Kata Shafan sambil menuntun Akara menuju ruang donor.
Akara selesai mendonorkan darahnya untuk Alaisa. Setelah selesai, Akara duduk di bangku yang ada di depan Alara, di samping Shafan. Alara tidak melirik ke arah Shafan dan Akara, dia terus saja melihat ke pintu tempat Alaisa di operasi. Alara sangat cemas dengan kondisi Alaisa.
Akara bertanya pelan pada shafan. "Itu yang pakai cadar, Alara fan....?" Sambil melirik ke arah Alara sedikit.
"Iya. Itu Alara." Ucap Shafan santai.
Akara tidak merespon jawaban dari Shafan, dia hanya diam, sambil melirik ke arah Alara.
Alara tiba-tiba melihat ke arah Shafan dan Akara, kemudian berkata. "Fan, Ka, aku ke mushollah RS bentar ya. Nanti kabarin aku, kalau dokter udah keluar dari ruangan Alaisa." Ucap Alara pelan dan lembut.
"Tapi Ra..," Kata Shafan terputus.
"Tapi kenapa fan....?" Tanya Alara.
"Aku nggak ada nomor telepon kamu Ra." Jawab Shafan.
__ADS_1
"Oo..., Iya, ya. Maaf aku lupa." Ucap Alara.
"Handphone Alaisa kamu yang pegang kan fan....?" Tanya Alara.
"Iya Ra. Kenapa emangnya Ra....?" Tanya Shafan.
"Ya udah, nanti nelpon lewat handphone Alaisa aja fan." Ucap Alara sambil perlahan berjalan meninggalkan Shafan dan Akara.
"Sandinya apa Ra....?" Teriak Shafan.
"Seperti biasa fan. Nggak pernah berubah." Jawab Alara kemudian lanjut lagi berjalan menuju mushollah.
Shafan tidak menyangka, dari dulu sampai sekarang, Alaisa masih memakai gabungan dari tanggal kelahiran dirinya dan Alaisa, sebagai sandi handphone nya.
Alara sholat, selesai sholat, Alara berdoa dengan khusyuk. Alara meminta pada Allah, untuk kesembuhan sahabatnya Alaisa. Alara belum sanggup jika kehilangan satu lagi orang yang sangat dia sayang. Sambil berdoa, air mata Alara pun ikut jatuh deras membasahi sajadah.
Dokter sudah keluar dari ruangan Alaisa, dan telah memberitahukan kondisi Alaisa pada Shafan dan Akara.
Shafan syok dan tidak bisa mengontrol perasaannya. Shafan tidak sanggup untuk menghubungi Alara. Akara berusaha menenangkan Shafan. Kemudian meminta Shafan untuk membuka sandi handphone Alaisa, untuk menghubungi Alara dan biar Akara yang bicara dengan Alara.
"Assalamualaikum Ra." Ucap Akara.
"Udah. Kamu cepat aja ke sini Ra. Nanti aku jelasin di sini aja Ra." Ucap Akara berusaha santai.
Mendengar hal itu, Alara langsung bergegas menuju ruang operasi Alaisa.
"Ka, dokter bilang apa....? Dan Shafan mana?" Tanya Alara panik.
Akara menjawab pertanyaan Alara dengan melirik ke arah ruangan Alaisa. Shafan udah ada dalam ruangan Alaisa. Alara langsung masuk keruangan Alaisa. Kemudian baru di susul Akara.
"La, kamu nggak papa kan? Kok kamu nggak jawab aku si la!" Kata Alara sambil mengelus-elus kepala Alaisa yang masih pakai hijab.
Alara menggenggam jari jemari Alaisa. Dan bertanya pada Shafan dan Akara. "Tangan Alaisa kenapa dingin ya. Aneh bangat. Oo, mungkin kena AC. Ka, tolong kurangin suhu ac-nya Ka. Kasihan Lala, dia kedinginan." Pinta Alara.
Melihat tingkah Alara yang tidak bisa terima dengan keadaan, membuat Shafan tambah sedih dan juga membuat Akara tidak bisa lagi membendung air matanya untuk jatuh membasahi pipi Akara.
"Kok kalian mala nangis si! Kasian Lala Ka! Dia kedinginan! Tolong kecilkan suhu ac-nya Ka!" Ucap Alara dengan kesal.
__ADS_1
Beberapa suster masuk ke ruangan Alaisa, kemudian suster langsung mencabut alat bantu pernapasan Alaisa.
Alara marah sama suster itu. "Kok suster main cabut-cabut aja sus! Sahabat saya masih butuh alat itu untuk menstabilkan pernapasannya sus! Ka, fan, bantu bilang sama susternya! Kalian kenapa pada diam aja si!" Ucap Alara dengan sangat kesal.
"Ra, kamu harus ikhlas Ra!" Kata Akara berusaha menenangkan Alara.
"Ikhlas untuk apa Ka! Lala kan baik-baik aja! Lagian tadi kan dokter bilang, Lala, hanya butuh donor darah! Dan tadi dia kan udah dapat donor darah dari kamu Ka!" Tegas Alara.
Shafan udah tidak sanggup berada di dalam ruangan Alaisa, dia pergi keluar, untuk menenangkan diri.
Akara membenarkan perkataan Alara. "yang kamu bilang itu benar. Darah aku berhasil di ambil, tapi belum sempat di berikan pada Alaisa, karena detak jantung Alaisa sudah berhenti lebih dulu, sebelum dia menerima transfusi darah. Hal ini di sebabkan karena Alaisa terlalu lama menunggu donor darah. Dokter minta maaf atas kejadian ini, hal ini diluar kendalinya. Dan aku juga minta maaf sama kamu Ra, karena telat datang. Jarak aku dengan rumah sakit ini sangat jauh, dan di jalan aku juga terkena macet. Aku minta maaf Ra!" Jelas Akara dengan penuh penyesalan.
Mendengar penjelasan dari Akara, Alara meminta suster dan Akara untuk keluar dari ruangan Alaisa. Alara butuh waktu untuk bicara dengan Alaisa berdua!. Suster dan akara mengikuti kemauan Alara. Mereka meniggalkan alara dengan Alaisa.
Sedangkan di luar, Shafan berusaha menenangkan dirinya, kemudian baru ingat, kalau dari tadi, mereka belum ada yang mengabari ayah Alaisa. Ayah Alaisa pasti cemas, karena udah malam begini, Alaisa belum pulang. Awalnya Shafan ragu untuk memberitahu kondisi Alaisa pada ayah Alaisa, tapi dia memberanikan diri, karena ayah Alaisa berhak tahu kondisi putrinya.
Di dalam ruangan, Alara masih berusaha untuk membuat Alaisa bangun.
"La, kamu kebiasaan bangat si! Please jangan bercanda kalau soal ini La!" Ucap Alara sambil duduk di kursi samping Alaisa.
"Jawab dong La! Jangan diam aja! Kalau kamu nggak mau jawab, aku bakal marah sama kamu La!" Air mata Alara mengalir tanpa henti, bagaikan arus sungai yang mengalir deras. Niqab yang Alara kenakan, sudah mulai basa terkena air mata Alara.
"Alaisa Anatasia!" Bentak Alara. Untuk pertama kalinya Alara melontarkan nama asli gadis yang menjadi bagian dari separoh hidupnya. Orang yang sangat Alara sayang setelah papanya.
"aku mohon! Kamu bangun! Kamu udah janji bakal dengerin cerita aku Ra. Aku belum sempat cerita tentang papa La! Kalau kamu udah nggak mau dengar curhatan aku lagi, terus aku harus cerita sama siapa La? Dan kalau ayah bertanya, aku harus jawab apa la? Kamu harus bantu aku buat jelasin sama ayah, tentang kejadian yang menimpa kita hari ini la! Aku nggak bisa jelasin sendiri la! Tolong kamu bagun! Aku mohon La!" Ucap Alara dengan suara yang sudah mulai tidak terdengar karena isak tangisnya.
"Maafin aku la. Ini salah aku. Kenapa kamu nolongin aku la. Harusnya biar aku aja yang tertusuk la. Maafin aku. Maaf laaa"
Alara memeluk Alaisa dengan erat. Akara dan Shafan memperhatikan Alara dari luar ruangan. Setelah beberapa menit mereka perhatikan, kok Alara tidak bergerak lagi ya. Akara dan Shafan pun langsung masuk untuk melihat Alara. Akara memanggil manggil nama Alara. Tapi nggak ada respon. Akara langsung memanggil suster.
"Sus..., suster, seperti nya teman saya pingsan sus. Tolong diperiksa sus!" Kata Akara.
Suster membawa Alara ke ruangan sebelah kamar Alaisa untuk di periksa. Alara mengalami syok. Dia belum bisa menerima keadaan yang terjadi. Untuk sementara waktu, Alara terpaksa di bius dengan obat penenang. Agar dia bisa istirahat dan demamnya juga bisa turun.
Ayah Alaisa datang dan langsung menuju ruangan Alaisa, ayah Alaisa membuka kain putih yang menutupi wajah Alaisa, lalu mencium kening putrinya.
"Ais.., kamu kenapa sayang. Maafin ayah nak. Ayah merasa gagal buat menjaga kamu nak". Tangis ayah Alaisa pecah seketika melihat tubuh putri satu-satunya sekarang telah terbujur kaku lemah tak berdaya.
__ADS_1
Selepas tangis yang telah keluar dari mata pria yang hampir paru baya itu, Ayah Alaisa berusaha untuk kuat dan tegar. Dia mengingat perkataan Alaisa, untuk tetap kuat dalam segala kondisi apa pun. Dan ayah Alaisa juga berharap hal yang sama pada Alara. Semoga Alara bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian Alaisa. Agar Alaisa tidak terbebani dan bisa beristirahat dengan tenang.
...Bersambung...