ANAKARALA

ANAKARALA
54. Takdir


__ADS_3

Sebagai mahluk ciptaan Allah, kita tidak bisa menebak takdir kita akan seperti apa dimasa depan. Tapi kita bisa berusaha untuk memperbaiki takdir kita. Namun semua keputusan kembali lagi kepada sang pencipta yaitu Allah SWT.


Allah yang maha membolak balik kan hati dan keadaan manusia. Jika Allah menghendaki sesuatu maka akan terjadi sesuatu itu.


Tidak disangka sekarang, Akara dan Alara telah syah menjadi sepasang suami istri.


Hal itu tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Semuanya masih bagaikan mimpi bagi Akara dan Alara.


***


Setelah menikah, Alara ikut suaminya ke Bandung. Akara membeli rumah yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Awalnya, Syafa nekat ingin ikut sama Alara ke Bandung, tapi kemudian Alara meyakinkannya. Walaupun Alara udah tinggal di Bandung, Alara masih bisa sesekali ke Jakarta. Dan Syafa pun kalau udah libur sekolah, juga boleh main ke rumah, dan nginap, kapan aja Syafa mau.


Satu bulan sudah berlalu, kini saatnya Alara dan Akara pulang lagi ke Indonesia. Liburan Alara dan Akara untuk honeymoon sudah selesai. Sampai di Indonesia, Alara dan Akara ke Jakarta dulu, menemui mama Alara, mama, papa Akara, ayah Alaisa, dan juga yang lainnya.


"Ma, pa, kita pulang dulu ya. Kapan-kapan kita ke Jakarta lagi". Ucap Akara pada mama papanya.


"Ya. Kalian hati-hati di jalan ya". Ucap mama Akara.


mereka menyalami semua yang ada di rumah Alara yang sengaja datang menyambut kedatangan pengantin baru itu.


"Aku pulang ke Bandung ya ma. Aku titip Syafa ma. Mama jaga kesehatan ya ma". Ucap Alara sambil memeluk dan menyalami mamanya.


"Ya. Mama pasti jagain Syafa. Kamu nggak perlu khawatir. Syafa udah besar, bentar lagi mau tamat SMA. Mama percaya sama Syafa, dia bisa jaga diri kok. Ya kan sayang? melirik ke arah Syafa). Syafa mengiyakan ucapan mamanya.


"Ya udah. Kalau gitu Alara pergi dulu ma". Ucap Alara sambil menyalami mama nya.


Syafa berjalan mendekati kakaknya. "Benar ya kak, waktu aku libur, boleh main dan nginap di Bandung?". Ucap Syafa sendu.


"Iya. Jangan cemberut dong dek. Kan kakak jadi nggak tega". Sambil memeluk adik nya.


Syafa membalas pelukan Alara dengan pelukan penuh kasih sayang. "Hati-hati di jalan ya kak. Kalau ada apa-apa, jangan lupa kabarin aku ya kak". Pinta Syafa.


"Iya". Ucap Alara sembari melepaskan perlahan pelukannya.


Mereka selesai berpamitan. Setelah itu baru mereka kembali ke Bandung. Di Bandung, Akara mulai sibuk dengan kerjaannya. Akara sering lembur di kantor untuk menyelesaikan proyeknya dengan Shafan, yang bentar lagi akan selesai di bangun.


Alara selalu membawakan bekal untuk Akara. Setelah selesai mengantarkan bekal untuk Akara, Alara pergi ke lokasi, tempat pesantren yang akan dibangunnya.


Pesantren itu, akan dibangun oleh Alara sendiri. Atas izin suaminya. Karena dari dulu Alara sudah merencanakan untuk membangun pesantren di Jakarta, namun waktu itu uangnya masih belum terkumpul. Setelah uangnya terkumpul, sekarang Alara sudah menetap tinggal di bandung. Karena dia udah tinggal menetap di Bandung, akhirnya Alara membangunnya di Bandung.


****


Di tengah kesibukan Shafan, dia sesekali masih menyempatkan diri untuk ke Jakarta, berkunjung ke makam Alaisa.


Shafan menceritakan semua yang sudah terjadi pada Alaisa.


"Sa, semua keinginan kamu sekarang udah terwujud sa." Ucap Shafan di depan makam Alaisa.

__ADS_1


"Dulu harapan kamu, kamu berharap Alara dan Akara berjodoh. Dan sekarang mereka sudah menikah. Kamu pasti ikut senang Sa."


"Sekarang aku juga lagi berusaha untuk mewujudkan angan-angan kamu dulu. Kamu berharap, ("coba aja ada mall, yang khusus untuk cewek aja. Dengan begitu, pasti Alara nggak bakalan kesulitan kalau ke mall.). Ucapan itu yang kamu tulis di buku diary kamu, waktu awal-awal Alara mengenakan Niqab. Kamu memang wanita yang sangat baik dan penyayang belahan jiwa ku. Semoga suatu saat nanti kita di pertemukan lagi di alam yang berbeda yaitu di akhirat. Kamu tenang aja, aku bakal terus melanjutkan hidup dan menjadi orang yang sukses. Ini bukan karena aku menuruti semua keinginan kamu, tapi ini semua murni keinginan dari aku sendiri. Jadi kamu nggak perlu khawatir, aku selalu bahagia, begitu juga ayah kamu Sa. Ayah sangat bahagia sekarang. Sekarang ayah sudah tidak kerja bangunan lagi, aku dan Alara sudah melarang ayah untuk kerja yang berat-berat. Sekarang ayah mengurus tokoh bunga nya sendiri, dari tabungan yang kamu tinggalkan untuk ayah, di tambah tabungan ayah sendiri. Aku dan Alara mau bantu, tapi ayah nggak mau. Ia ingin membangun usaha dari uang hasil keringat ia sendiri." Tutur Shafan.


*****


Beberapa bulan telah berlalu, akhirnya proyek yang selama ini di kerjakan oleh Akara, Shafan, sudah selesai, dan mall itu sudah resmi di buka. Dari awal buka, Alhamdulillah mall itu sudah mulai ramai di kunjungi. Alara pun kalau mau beli sesuatu, juga belinya di mall itu. Alara suka dengan disain mall nya. Terkadang Alara masih berasa mimpi, karena hal yang dulu sering ia buat bercanda dengan Alaisa, kini sudah terwujud. Shafan memang laki-laki playboy, yang sudah jauh sangat berubah sejak dekat dengan Alaisa.


"Kalau Alaisa masih ada, pasti dia bakal menjadi salah satu wanita yang paling bahagia setelah aku, karena dicintai oleh laki-laki setulus dan sebaik Shafan." Gumam Alara dalam hati.


Bukan mall yang dibangun Akara dan Shafan saja yang sudah selesai, pesantren yang di bangun Alara, juga sudah selesai. Di sela-sela kesibukan Akara di kantor, dia selalu menyempatkan waktu untuk mengajar anak-anak yang ada di pesantren, membantu Alara. Karena pesantrennya masih baru, jadi anak-anak didiknya belum terlalu banyak. Alara hanya ikut membantu ustad dan ustazah yang ada di pesantren. Kalau Alara ada waktu luang, Alara selalu ke pesantren, menghabiskan waktunya di situ, sampai Akara pulang kantor. Alara bangun pesantren, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sekitar 15 menit kalau pakai kendaraan roda empat.


Akram juga sedang sibuk dengan bisnis barunya. Baru-baru ini, Akram lagi mencoba merintis usaha baru. Usaha Akram ini sebenarnya bertujuan untuk menyalurkan bakat-bakat dari orang-orang yang kurang mampu, untuk bisa dikembangkan. Akram membangun perusahaan khusus untuk menyalurkan bakat-bakat anak-anak yang kurang mampu secara gratis. Di perusahaan itu, mereka yang mempunyai bakat, dan tidak punya biaya, boleh memakai segala fasilitas yang sudah di sediakan. Contoh anak ini bakatnya main piano, maka dia boleh menggunakan piano itu sampai dia mahir, ikut lomba-lomba dan sukses. Dan bakat lain sebagainya. Itu kegiatan sampingnya Akram, Akram sesekali memantau ke perusahaan itu, kalau dia tidak sibuk di perusahan milik keluarganya.


*****


Begitu lah rutinitas kehidupan Alara setelah menikah. Bagi Alara semua kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang, merupakan hadiah terindah yang Allah berikan untuknya. Hadiah yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi sebelumnya, terlepas dari banyak masalah yang selama ini pernah alara alami. Dan Alhamdulillah, Alara berhasil melewati itu semua. Dan sekarang rasa pahit yang dulu pernah ia rasakan, kini telah berubah menjadi manis. Semuanya berkat kesabaran, dan tekat Alara untuk terus maju menata masa depan, dan menjadikan semua masalah yang pernah ia lalui, sebagai pengalaman, dan pelajaran hidup, untuk dirinya lebih sabar dan selalu bersyukur, atas segala nikmat yang telah Allah berikan, sekecil apa pun itu.


...***End***...


...Salam Perpisahan...


Terima kasih untuk semuanya yang ikut berpartisipasi dalam segala hal.


Salam Hormat,


Pemain :


Anakarala


Alaisa Anatasha


Akara Lakasmana


Akram


Shafan Santakala


Pakara Antarsono


Kaisa Atmalia Atmaja


Katra


Mauli


Syafa

__ADS_1


Khazana


Mama Alara


Papa Alara


Bibik Alara


Pak Kedi


Lin (mama Akara)


Papa Akara


Ayah Alaisa


Ibu Alaisa


Kakek Kaisa


Mama Kaisa


Papa Kaisa


Buk Siska


Pak Salmon


Pak Salman


Aknan


Nafsya


Elsan


Ibu Panti


Adek Ibu Panti


Anak-anak panti


Ustad Ahnan


Ustazah Khori


Permohonan maaf jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau karakter didalamnya yang tidak sesuai. Mohon maaf jika ada salah kata atau penulisan dalam segi apa-pun. Karena penulis juga masih dalam proses belajar. Terima kasih untuk segala dukungannya. Dukungan dari kalian sangat berarti dan membuat Author semakin semangat untuk menulis karya-karya baru 🤗.

__ADS_1


__ADS_2