ANAKARALA

ANAKARALA
25. Kebenaran 2


__ADS_3

'Libur Tengah Semester'


Karena ujian tengah semester telah selesai, seperti biasa ada libur sekolah selama satu pekan. Seharusnya libur ini bisa menjadi libur yang menyenangkan bagi Alara dan teman-teman yang lain. Karena libur, hal ini di manfaatkan sama Akara dan Alaisa untuk menyelidiki kasus Alara. Mereka kembali ke kantor polisi untuk menanyakan bagaimana perkembangan kasus Alara. Sejauh ini, kasus Alara masih dalam proses penyelidikan. Polisi belum menemukan bukti yang akurat. Tapi waktu cek ke TKP, polisi menemukan jam tangan dan itu lagi di proses penyelidikannya sekarang.


Alaisa dan Akara lanjut penyelidikannya. Mereka pergi ke rumah Kaisa, untuk minta keterangan Kaisa. Mereka sampai di rumah Kaisa.


"Assalamualaikum..., Permisi....?" Ucap Alaisa dengan sedikit meninggikan volume suaranya.


Kebetulan kakek Kaisa lagi ada di rumah, jadi kakek Kaisa yang langsung keluar. "Kalian cari siapa....?" Tanya kakek Kaisa.


"Kita teman sekolahnya Kaisa kek. Kita mau ketemu Kaisa bentar boleh kek....?" Ucap Alaisa sembari memberikan hormat dengan sedikit membungkukkan badannya pada kakek Kaisa.


"Kaisa lagi dihukum. Dia tidak boleh bertemu siapa pun." Tegas kakek Kaisa.


"Kita mohon kek. Bentar aja kek. Kita benar-benar ada perlu kek!" Pinta Alaisa sembari menyatukan kedua tangannya.


"Oke. 10 menit." Tegas kakek Kaisa sembari mengkode pengawal untuk membawa mereka menemui Kaisa.


"Thanks kek." Ucap Alaisa sambil berjalan masuk, kemudian disusul Akara.


Pengawal membawa Alaisa dan Akara ke penjara sel bawah tanah. Mereka bertemu dengan Kaisa.


"Ngapain lo ke sini....?" Tukas Kaisa dengan wajah tidak senang.


"Gue langsung ke intinya aja ya. Karena waktu kita nggak banyak!" Tegas Akara.


"Lo kan yang suruh orang buat celaka in Alara dan culik dia....?" Ucap Akara menahan amarahnya.


"Apaan si lo. Ya nggak mungkin la. Gue aja dikurung dari sejak kalian laporin gue ke kepala sekolah!" Bentak Kaisa.


"Bisa ajakan, lo telepon para penjahat itu, dan minta mereka untuk celaka in Alara!" Timpal Alaisa.


"Ya mana bisa. Gue di kurung di sini, nggak boleh bawa apa-apa. Lo lihat aja sendiri." Jawab Kaisa sambil menyuruh mereka melihat sekitaran sel tempat Kaisa di kurung.

__ADS_1


"Kalau bukan lo, siapa lagi....? Lo orang yang paling benci sama Alaisa!" Bentak Akara.


"Lo yakin, cuman gue yang benci sama Alara. Ya bisa jadi, ada orang lain juga, yang sakit hati sama Alara dan dia balas dendam sama Alara." Jawab Kaisa berusaha santai.


"Kan lo tahu sendiri sikap Alara gimana. Dia itu cuek dan jutek pada banyak orang dan terutama sama cowok-cowok." Sambung Kaisa lagi sembari tersenyum sinis.


"Gue kenal Alara. Dia memang anaknya terlihat masa bodoh sama lingkungan sekitarnya. Tapi dia itu baik hati nggak kayak lo. Sadis!" Tegas Alaisa.


"Sialan ya lo!" Teriak Kaisa.


"Udah sa, kita pergi aja dari sini. Nggak ada gunanya juga kita ladenin dia. Percuma juga ngomong sama dia. Nggak bakalan mau jawab juga. Kita cari petunjuk lain aja." Tegas Akara sembari menarik tangan Alaisa untuk mengikutinya keluar dari ruang bawah tanah.


Kaisa sangat kesal. Dan heran, siapa yang menculik Alara sebenarnya. Kalau anak buah dia nggak mungkin. Secara anak buah Kaisa bilang, kalau mereka nggak bisa culik Alara karena Alara udah hilang duluan. Kaisa terus berpikir siapa orang lain selain dia, yang berkemungkinan punya niat untuk nyelakain Alara juga. "Apa mungkin papa...?" Terlintas dalam pikiran Kaisa. Tapi langsung ditepisnya. "Nggak mungkin papa. Apa alasan papa coba. Kan jelas-jelas papa waktu itu larang gue untuk nggak balas dendam." Gumam Kaisa. Kaisa merasa dia juga harus selidikin kasus ini. Karena dia harus bersihin nama dia yang udah tercemar, tambah tercemar lagi gara-gara kasus ini. Dia nggak bisa diam aja.


Akara dan Alaisa sudah keluar dari ruang bawah tanah, kemudian mereka mengucapkan terima kasih dan pamit pada kakek kaisa.


Ketika dalam perjalanan ingin ke rumah Alara, untuk cek keadaan Alara, Alaisa menyuruh Akara berhenti mengendarai mobilnya sebentar. Dia teringat sesuatu.


"Ada apa sa?" Tanya Akara bingung.


"Kemana sa?" Tanya Akara bingung.


"Lo terus aja jalan. Nanti gue jelasin. Semoga aja dia masih tinggal di sana." Ucap Alaisa.


Ditengah perjalanan menuju rumah orang yang di maksud Alaisa, telpon Alaisa berdering. Polisi udah berhasil menangkap penculiknya dan sekarang, lagi dibawa ke kantor polisi untuk di interogasi. Alaisa juga meminta pada polisi untuk menyusul ke alamat yang dia kirim. Karena dia juga dapat petunjuk baru.


Alaisa meminta Akara untuk lebih mempercepat laju mobilnya, karena kalau benar dia pelakunya, pasti dia akan berusaha kabur sekarang. Mungkin dia sudah tahu kalau anak buahnya uda berhasil ditangkap.


Mereka sampai di rumah Alex.


"Lex...." Ucap Alaisa dengan volume sedikit diperkeras dan tetap santai. Agar Alex nggak curiga maksud Alaisa datang ke rumahnya.


"Ya." Sahut seseorang dari dalam rumah.

__ADS_1


"Lo sa. Ada apa....? Tumben lo datang kemari....?" Tanya Alex sedikit heran.


"Gue datang kesini, mau ngabarin tentang kondisi Alara sama lo Lex. Karena gue yakin lo pasti masih cinta sama Alara." Ucap Alaisa berusaha tetap tenang, dan tersenyum.


"Kenapa dengan Alara sa?" Tanya Alex bingung.


"Dan dia siapa sa....?" Tanya Alex lagi.


"Dia teman gue. Dia bantu gue antar gue kesini, karena motor gue lagi rusak." Jawab Alaisa.


"Gitu. Duduk di dalam aja sa." Pinta Alex.


Alaisa dan Akara duduk di ruang tamu rumah Alex.


"Jadi Alara kenapa sa....?" Tanya Alex dengan wajah khawatir.


"Dua hari yang lalu, Alara sempat diculik Lex." Ucap Alaisa.


"Serius lo? Terus gimana kondisi Alara sekarang sa?" Tanya Alex dengan wajah semakin khawatir.


"Sekarang Alara..." Ucapan Alaisa terhenti karena Alex dapat telpon dan dia izin angkat telpon dulu.


"Bentar sa. Gue angkat telpon dulu ya." Pinta Alex sembari berjalan menuju ruang tengah rumah Alex.


Ketika Alex dapat telpon, polisi udah mulai berjalan perlahan untuk mengepung rumah Alex. Dan raut wajah alex sudah mulai berubah. Alex menoleh sebentar ke arah Alaisa. Kemudian dia melangkah perlahan menuju pintu belakang rumahnya.


Akara dan alaisa sudah merasakan tingkah Alex yang sudah mulai aneh. Seketika Alex berlari kencang ingin keluar lewat pintu belakang rumahnya. Akara dan Alaisa mengejarnya. Waktu Alex ingin keluar lewat pintu itu, dia melihat polisi udah mengepung rumahnya. Akhirnya dia loncat lewat jendela. Akara dan alaisa terlambat untuk menghentikan Alex. Polisi yang diluar berlari mengejar Alex dan meminta Alex untuk menyerah kalau tidak mereka terpaksa menembak Alex. Alex tidak menghiraukan peringatan yang di teriakan oleh polisi, dia terus saja berlari. Akhirnya polisi menembak kearah Alex. Alex tertembak, dan jatuh. Polisi menangkap Alex dan segera membawa Alex ke kantor polisi.


Sampai di kantor polisi, Alex di masukan ke ruang interogasi. Alaisa dan Akara juga minta izin untuk masuk ke ruang interogasi. Mereka melihat Alex di interogasi polisi dari kaca pembatas. Alex terus saja berkilah, sampai kesabaran salah satu polisi habis, polisi itu menekan dengan keras kaki Alex yang terkena tembakan tadi. Alex merintih kesakitan. Karena sudah tidak kuat menahan sakit, dia mengaku kalau dia yang udah menculik Alara dan melakukan pelecehan seksual pada Alara. Dia melakukan itu karena Alara menolak begitu saja perasaan dia, tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Dan baru-baru ini, sebelum kejadian, dia mengetahui kalau Alara sudah punya pacar. Hal itu semakin membuat Alex tambah marah.


"Apa hanya kamu yang merencanakan ini sendirian....?" Tanya polisi.


Alex mengangguk. "Hanya gue sendiri. Nggak ada orang lain."

__ADS_1


Proses interogasi selesai. Alex dibawa masuk ke sel tahanan. Polisi menyatakan kasus Alara sudah selesai. Alaisa dan Akara mengucapkan terima kasih dan sekalian mereka pamit.


***


__ADS_2