ANAKARALA

ANAKARALA
38. Tersadar


__ADS_3

Cahaya matahari yang merambat masuk disela kamar Alara membangunkan Alara dari tidurnya.


Alara melihat keberadaan mamanya di samping Alara. Alara melepas perlahan dekapan mamanya. Ia berdiri menuju kamar mandi dan beres-beres. Sekarang Alara mengenakan baju kaos lengan pendek dan celana Levis pendek.


"Udah bangun sayang". Ucap mama Alara sambil turun dari kasur, dan menghampiri Alara yang lagi menyisir rambutnya dekat lemari hias di kamar alara. Mama Alara mengecup kening putrinya itu.


Alara sedikit mengelak risih dicium mamanya. "Mama ngapain pakai acara tidur di kamar aku ma". Ucap Alara dengan jutek.


"Nggak papa. Mama hanya mau temani kamu semalam. Kamu udah oke kan?". Tanya mama Alara lembut sambil memegang bahu Alara.


Alara menepis pelan tangan mamanya kemudian ingin melangkah keluar kamar. Langka Alara terhenti karena Syafa tiba-tiba datang dan memeluk Alara.


"Kak Ara. Syafa senang kak Ara udah pulang". Ucap syafa dengan gembira.


Alara tersenyum kecil sambil melepas pelukan Syafa perlahan. "Syafa mau berangkat sekolah kan? ya udah sekarang tempat pak Kedi ya. Kak Ara bantu panggil pak Kedi". Ucap Alara sambil duduk jongkok biar sama tinggi sama Syafa.


Alara berteriak memanggil Pak Kedi. Pak Kedi menyahuti panggilan Alara. Syafa dengan cepat menutup pintu kamar Alara.


"Kenapa di tutup pintunya sayang?". Tanya Alara.


"Pak Kedi udah menuju sini kak. Syafa tutup pintunya, karena penampilan kak Ara seksi banget kak. Kakak pakai dulu cadar kakak kak. Atau nggak biar Syafa aja yang keluar kak. Kakak disini aja". Ujar Syafa dengan polosnya.


Waktu Syafa bicara seperti itu, Alara melihat penampilannya sebentar. Dan merasa nggak pantas menjadi kakak untuk Syafa yang bijak dan dewasa. Padahal Syafa masih kecil tapi Syafa lebih tahu aturan dibanding dirinya yang sudah dewasa. Mendengar itu hati Alara sedikit ngilu dan seperti tersayat belati. Alara hanya bisa menanggapi perkataan Syafa dengan sedikit tersenyum dan mengangguk.


"Ya udah kak, ma, Syafa ke sekolah dulu". Ucap Syafa sambil menyalami Alara dan mama Alara. Kemudian membuka pintu dengan perlahan dan kembali menutupnya.

__ADS_1


Syafa sudah berangkat dengan Pak Kedi sekolah. Alara mulai beranjak dari posisi jongkoknya. Kemudian duduk di tepi kasurnya. Mama Alara menghampiri Alara.


"Untung saja adek kamu nggak tahu dengan kejadian semalam. Kalau dia tahu, Syafa pasti bakal sedih bangat melihat kakaknya rapuh. Kamu pikirkan kembali untuk merubah penampilan kamu baik-baik ya sayang. Mama kebawa dulu siapin makan untuk kita". Ujar mama Alara sambil mencium kening Alara kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar Alara.


Selepas mamanya pergi, Alara hanyut dalam lamunannya. "Apakah salah jika gue berbelok arah?. Ini hidup gue! Tapi apakah gue sanggup menyakiti hati Syafa. Jika Syafa tahu, gue kayak gini, apakah secara nggak langsung gue udah bikin Syafa kecewa dan tidak respek lagi sama gue. Karena Syafa tahunya gue yang kemaren bukan yang berandalan kayak dulu". Gumam Alara dalam hati.


Ada rasa ketakutan dalam diri Alara jika adek kesayangannya itu tahu, bagaimana sifat Alara dimasa lalu. Ia tidak ingin mengecewakan satu-satunya orang yang ia sayang yang tersisa. Alara dilema akan hal itu. Di satu sisi Alara juga tidak mau lagi mempermainkan agama hanya karen egonya. Ia ingin kembali berhijab dan bercadar, jika dirinya sendiri yang menginginkannya bukan karena hal lain atau orang lain.


Alara keluar dari kamarnya untuk makan. Dimeja makan mama Alara menyiapkan segalanya di bantu juga dengan bibik.


"Tumben hari ini non Alara bangun kesiangan non. Dan... baju non lebih agak terbuka sekarang". Ucap bibik sambil melirik Alara dari ujung kaki sampai rambut dengan ucapan agak terbata-bata takut Alara tersinggung dengan ucapannya.


Alara hanya diam dan melanjutkan makannya.


"Nggak papa bik. Biarin aja. Lagian hanya kita aja yang di rumah sekarang". Sambung mama Alara sambil mengambilkan minum untuk Alara.


"Mama nanti ada kegiatan diluar ya sayang. Kamu di rumah atau ada acara?". Ucap mama Alara sambil makan bersama dengan putri semata wayangnya itu.


Alara hanya menaikan kedua bahunya pertanda tidak tahu dan nggak mau tahu dengan apa yang diucapkan mamanya.


"Saran mama, kamu renungkan tindakan yang kamu lakukan sekarang Al. Jangan sampai nanti kamu malam menyesal dikemudian hari. Jika kamu tidak peduli dengan keberadaan mama di rumah ini, setidaknya kamu pasti masih peduli sama Syafa kan sayang?. Pikirkan bagaimana dampaknya bagi Syafa jika ia tahu kakak yang dia jadikan contoh, sekarang jadi seperti ini. Kamu nggak mau Syafa juga ikut berbelok arah nanti nya kan sayang. Dan kamu nggak mau Syafa jadi kecewa dan nggak mau lagi mendengarkan ucapan dari kamu. Kamu nggak mau Syafa benci sama kamu kan?". Ujar mama Alara.


"Emang sifat alah yang dulu sehina itu dimata mama ya ma?. Kenapa Syafa harus malu punya kakak kayak Alara sekarang?. Alara yakin Syafa bakalan tetap sayang sama Alara ma. Nggak kayak mama, yang selalu menghakimi dan pandang rendah anaknya!". Tegas Alara sambil pergi meninggalkan meja makan menuju kolam dekat taman belakang rumahnya.


Mama Alara hanya bisa istighfar dan mengelus dada. "Kembali sadarkan anak hamba kejalan yang kau diridhoi ya Allah". Gumam mama Alara lirih.

__ADS_1


Alara menghempaskan tubuhnya di sofa dekat kolam renang. Ia merasa kesal dan jengkel dengan ucapan mamanya. Tapi meski yang diucapkan mamanya itu baginya keterlaluan, otaknya masih bisa mencerna ucapan positif yang keluar dari mulut mamanya itu. Cukup lama Alara melamun di kolam itu. Akhirnya Alara memutuskan untuk menuju suatu tempat.


Alara sampai pada tempat yang ingin di tuju. Suara tawa dan langkah kaki yang berlarian terdengar dari sebuah gedung yang bertuliskan kata SD Aswadani itu. Sekarang lagi jam istirahat. Alara memperhatikan Syafa yang lagi asik bercerita dengan ceria bersama dengan teman-temannya.


Syafa melihat seorang gadis dengan celana Levis pendek dan pakai hudi memperhatikannya dari jauh. "Kak Ara". Gumam Syafa kaget. Teman-teman Syafa pun ikut melihat ke arah pandangan mata Syafa.


Alara yang menyadari Syafa melihatnya, langsung masuk ke mobilnya. Syafa menghampiri mobil Alara. Alara membuka kaca mobilnya.


"Kak Ara. Kakak ngapain kak? tutup wajah Kakak mana?". Tanya Syafa dengan polosnya.


"Kakak cuman mau lihat kegiatan kamu aja di sekolah sayang. Tadi kakak buruh-buruh. Jadi hanya sempat pakai baju ini". Ucap Alara ngeles.


"Hmm. Syafa baik-baik aja kok kak. Kakak pulang aja dulu. Syafa nggak mau teman-taman Syafa lihat kakak gini. Nanti mereka bully kakak lagi". Ucap Syafa dengan wajah serius.


"Kamu dan teman-teman kamu kan masih kecil, masa udah main bully-bully aja". Ucap Alara sedikit tertawa.


"Syafa serius kak. Kakak pulang sekarang ya. Syafa nggak mau nanti kakak di bully sama teman-taman Syafa. Kakak nggak mau kan Syafa bertengkar dengan teman-teman Syafa karena nggak terima kalau kakak Syafa di jelek-jelekin". Pinta gadis kecil yang ngomel sudah seperti orang dewasa itu.


"Ya udah iya. Kakak pergi". Ucap Alara sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.


Syafa juga melambaikan tangannya dan juga ikut tersenyum kemudian kembali masuk ke sekolahnya.


Alara sampai di rumah dan berjalan perlahan menaiki tangga sambil kembali membayangkan wajah khawatir sang adik jika teman-teman nanti meledek Alara karena tidak mengenakan Niqab lagi. "Sekhawatir dan sepeduli itu Syafa sama gue. Sampai anak kecil itu, tidak mau jika gue direndahkan di muka umum. Sepeduli itu Syafa dengan harga diri gue. Sementara gue, nggak mikirin itu sama sekali. Apa gue masih mau mengikuti ego gue? Tanpa memikirkan perasaan Syafa. Bagaimana sedihnya Syafa nanti jika dia tahu, gue udah mutusin buat nggak pakai hijab maupun niqab. Syafa bakal terima nggak ya?". Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bermunculan dalam otak Alara.


Malamnya, Alara kembali mengumpulkan niatnya buat minta petunjuk dengan melakukan sholat Istikharah. Untuk meyakinkan dirinya dan menepis pemikiran-pemikiran kecewanya pada sang pencipta. Alara meminta petunjuk langka atau tindakan apa yang harus ia lakukan saat ini. Akankah iya tetap berbelok atau kembali mengenakan Niqab yang benar-benar niat dari dirinya bukan karena paksaan siapa pun. Setelah sholat Istikharah, Alara lanjut sholat tahajud, tujuannya untuk minta pengampunan dan agar doanya akal lebih diijabah oleh Allah SWT.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2