
Empat tahun telah berlalu. Setelah selesai menuntut ilmu di Kairo Negara Mesir, Akhirnya Alara pulang lagi ke Indonesia. Negara kelahirannya dan juga merupakan negara yang ikut menyaksikan sejuta kisah di hidupnya.
Alara melanjutkan kuliah S2 nya di Universitas Al Azhar Mesir, untuk mempelajari lebih dalam mengenai agama Islam. Alara kuliah di Al Azar selama 4 tahun. Sebenarnya untuk S2 di Al Azhar cuman dua tahun tapi tambah dua tahun lagi, untuk menulis risalah (thesis) untuk meraih gelar MA (Master of art).
Kedatangan Alara di sambut dengan haru oleh orang-orang terkasih.
"Welcome home sayang." Peluk mama Alara dengan raut wajah yang cerah, secerah rembulan di malam hari.
"Sepi rumah ma. Bibik, pak Kedi dan Syafa mana ma?" Tanya Alara.
"Bibik, dan pak Kedi, mereka cuti honeymoon sayang." Jawab mama Alara dengan tertawa kecil.
"Sayang bangat ya ma, Alara nggak bisa pulang waktu acara nikahan bibik dengan pak Kedi." Desis Alara, sembari melepas Niqab nya. Karena tidak ada orang lain di rumah selain dirinya dan mamanya.
"Ya nggak papa sayang. Kamu waktu itu kan juga lagi fokus sama thesis kamu, biar cepat pulang." Ucap mama Alara.
Ketika Alara dan mamanya sedang asik berbincang-bincang. Seseorang memeluk hangat Alara dari belakang.
Alara menoleh ke belakang, dan tambah pangling dengan kecantikan adek semata wayang nya itu. "Ya ampun sayang, ini benar adek kakak....?" Ucap Alara sambil berdiri dan berbalik menghadap Syafa.
"Iya kak Ara. Ini Syafa." Ucap Syafa sembari tersenyum.
"Kayaknya bukan adek aku deh ma, ni anak beda bangat." Ledek Alara, sambil tertawa kecil melirik ke arah mamanya.
"Kak araaa.... Malas a, Syafa betek sama kak Ara." Gumam Syafa sambil sebal manja dengan kakak nya.
"Kalau ini baru adek nya Alara ma, (melirik ke arah mamanya) si kecil, yang udah besar, tapi sifatnya masih kayak anak kecil kalau sama kakaknya." Kata Alara sambil tertawa, sembari mencubit pipi Syafa.
Syafa tersenyum lebar, mendengar ucapan Alara.
"Kamu ikut kakak ke kamar ya. Kakak punya sesuatu buk kamu dek". Pinta Alara.
"Wiii..., apa tu. Aku jadi kepo". Ucap Syafa disertai senyuman.
"Ntar juga tahu. Ma kita ke kamar dulu". Ucap Alara sambil menarik pelan tangan Syafa menuju kamarnya.
__ADS_1
"Oke deh kak. Buru-buru bangat kakak". Ujar Syafa.
Syafa dan Alara sudah sampai dalam kamar alara. Alara membuka hijabnya. Begitu juga dengan Syafa. Alara mengeluarkan satu kota dari dalam tas yang di bawanya.
"Kotak apaan tu kak. Cincin tunangan kakak ya?". Ledek Syafa disertai tawanya.
"Huss. Jangan aneh-aneh deh dek. Cincin tunangan apaan. Ini hadiah buat kamu". Ucap Alara sambil memberikan kotak itu pada Syafa.
"Buat aku" (menunjuk dirinya. Kemudian mengambil kotak itu dari tangan alara). "Wow... bagus banget kakak. Aku suka". Ucap Syafa dengan ekspresi kaget di serta gembira.
"Makasih ya kakak". Sambil memeluk Alara.
Alara tersenyum "Kalung itu bukan hanya satu Lo dek. Ada dua. Kita caople lan".
"Kakak serius? punya kakak mana?". Tanya Syafa.
Alara mengeluarkan kalung miliknya. Syafa menyatukan kedua kalung itu. "Simbol kalungnya bersatu kak". Ucap Syafa.
"Dibalik simbol hatinya kakak ada huruf S dan dibalik simbol hati Syafa ada huruf A. Di bawa tulisan A terukir kecil nama Syafa dan Di bawa S terukir kecil nama Alara. Maksudnya gimana si kak? nggak terbalik kalung kita kak?". Tanya Syafa bingung.
"Nggak kebalik kok dek. Itu sengaja kakak minta disain nya gitu. S itu Syafa, A itu Alara. Dibawa S (Alara), dibawa A (Syafa). Maknanya saling terhubung satu sama lain. Intinya dua raga, satu hati untuk selamanya.
"Janji ya di pakai terus. Sekarang Kakak bantu pakaikan ya". Ujar Alara.
Alara memakaikan kalung itu dileher Syafa, begitu juga dengan Syafa, ia membantu memasang kalung itu pada leher Alara. Sangat sweet dua kakak beradik itu. Sudah cerita persaudaraan seperti di dongeng-dongeng saja.😁
Alara membuat disain kalung di tokoh disain kalung ternama di Kairo. Alara minta disain kalung dengan simbol hati tapi perkalungnya, hatinya cuma separuh, separuhnya lagi di kalung yang satunya. Pas digabungkan dua liontin kalung itu, baru menjadi satu bentuk hati yang utuh.
Syafa sekarang sudah semakin tumbuh menjadi gadis cantik yang anggun, di tambah balutan hijab yang selalu ia kena kan. Sekarang Syafa sudah masuk kelas satu di MAN (Madrasah Alia Negeri)/setingkat dengan sekolah biasa kayak SMA/SMK.
***
Selama 2 tahun belakangan, Akara sibuk dengan proyek baru, dari perusahaan yang ia bangun sendiri. Salah satu stafnya di kantor itu adalah sahabatnya sendiri yaitu Pakara. Pakara diperkerjakan Akara sebagai kepala keuangan di perusahaan nya. Dan untuk rekan bisnisnya yang pertama, Akara memilih Shafan karena Shafan juga lagi membangun perusahaan sendiri. Akara dan Shafan berkerja sama membangun mall yang nanti fungsinya, berbeda dari mall lainnya. Mall ini khusus untuk kaum hawa atau hanya bisa di masuki oleh perempuan dan boleh bagi anak laki-laki usia 10 tahun ke bawah. Selain itu tidak di perbolehkan
Para pekerjanya nanti, semuanya juga hanya perempuan. Kalau soal nanti orang-orang yang berkunjung kesulitan untuk membawa belanjaannya, tidak perlu khawatir, karena nanti yang akan membawa barang-barang belanjaannya adalah mesin, yang di ciptakan khusus untuk itu.
__ADS_1
Kenapa Akara dan Shafan membuat peraturan seperti itu, karena mereka ingin para perempuan muslim yang mengenakan Niqab, lebih nyaman untuk berbelanja di mall itu nantinya.
****
Hari ini, Akram tidak mengajar ngaji di mesjid dekat pinggiran kota. Biasanya ia setiap hari selalu ke mesjid At Taubah itu, untuk mengajarkan anak-anak yang kurang mampu di selingkungan wilayah dekat mesjid. Akram di sana bukan sekedar mengajarkan anak-anak itu untuk mengaji, tapi juga membuka les belajar bahasa Arab gratis bagi anak-anak yang ingin pandai bahasa Arab.
Akram tidak bisa ke mesjid At Taubah hari ini, karena iya ada janji dengan ustad Ahnan, untuk datang menemui beliau di pesantren Al Malik.
Akram segera menemui ustad Ahnan.
"Assalamualaikum ustad...." Ucap Akram
"Waalaikummussalam..., masuk kram." Pinta ustad Ahnan.
Akram masuk, kemudian berbincang-bincang dengan ustad Ahnan.
"Sekarang selain mengajar di mesjid At Taubah, kegiatan nak Akram apa lagi?" Tanya ustad Ahnan.
"Diluar mengajar ngaji, Akram bantu papa juga untuk mengembangkan bisnisnya ustad." Jawab Akram.
"Kalau soal menikah, apa nak Akram sudah ada keinginan untuk itu?" Ustad Ahnan kembali bertanya
"Ada ustad. Tapi belum ketemu sama jodohnya ustad." Ucap Akram dengar tertawa kecil.
"Ada kaum hawa yang diluar sana yang ingin Akram ajak ta'aruf?"
"Sebenarnya ada ustad, tapi saya yang masih belum siap untuk mengkhitbah nya ustad." Jawab Akram.
"Kalian sudah kenal?"
"Sudah ustad. Beberapa tahun lalu. Tapi sekarang saya sudah tidak pernah bertemu lagi dengan dia ustad."
"Kalau begitu, nak Akram, nanti kasih CV atau Biografi nak Akram sama ustad, nanti biar ustad carikan calon istri untuk nak Akram."
"Baik ustad. Terima kasih ustad." Ucap Akram sambil menyalami ustad Ahnan, kemudian pamit untuk pulang.
__ADS_1
Salah satu langkah dalam Ta'aruf adalah saling bertukar biodata/CV. Masing-masing bisa saling menceritakan biografinya secara tertulis. Yang perlu di ingat, tulisan mewakili lisan. Meskipun tidak semuanya harus dibuka. Ada bagian yang perlu terus terang, terutama terkait data yang diperlukan untuk kelangsungan hidup berkeluarga. Dan ada yang tidak harus diketahui orang lain (seperti dosa masa lalu misalnya). Jika ada keterangan dan data tambahan yang dibutuhkan, sebaiknya tidak berkomunikasi secara langsung, tapi bisa melalui pihak ketiga (keluarga atau sahabat terdekat).
...Bersambung...