
Akara bingung mau jawab apa. Dia yakin orang yang mau di lamar Abangnya itu, adalah Alara yang dia kenal. Tapi dia ragu untuk menjawab itu sama abangnya. Karena dia juga tidak mau merenggut kebahagian abangnya. Akara melihat raut bahagia di wajah Akram ketika dia mengucapkan nama Alara. Akara harus mengikhlaskan Alara. Toh, hubungan dia dan Alara juga udah lama berakhir. Dan nggak mungkin juga Alara yang sekarang mau sama dia. Alara pasti lebih memilih abangnya yang mempunyai pengetahuan agama jauh lebih banyak dari dirinya. "Mereka sangat cocok. Alara pasti bakal bahagia sama bang Akram." Gumam Akara dalam hati.
"Mungkin cuman kebetulan bang." Ucap Akara berusaha santai.
"Iya mungkin cuman kebetulan." Kata Akram.
"Yok pulang." Ajak Akram.
Akram dan Akara pulang ke Jakarta.
*****
Besoknya, Akram dan keluarga datang lagi ke rumah Alara untuk kembali mengkhitbah Alara.
"Assalammualaikum...." Ucap Akram.
"Waalaikummussalam.... Mari silakan masuk." Sambut mama Alara.
Akram dan keluarganya masuk, kemudian duduk di ruang tamu.
Papa Akram menyampaikan niat baik Akram untuk datang ke rumah Alara dengan maksud ingin mengkhitbah Alara.
"Sebelumnya saya minta maaf, karena waktu itu acara belum selesai, saya dan keluarga udah pergi. Tapi sekarang saya datang kembali dengan maksud melamar Alara untuk adik saya Akara." Ucap Akram.
Alara dan semua orang yang ada di ruangan kaget, termasuk Akara. Akara menarik Akram keluar.
"Maksud Abang apa bang?" Tanya Akara.
"Abang lamar Alara buat kamu Ka." Jawab Akram.
__ADS_1
"Tapi buat apa bang?" Tanya Akara lagi.
"Abang udah tahu semuanya. Dan gue Abang Lo, tahu kalau Lo masih ada rasa sama Alara. Dan Lo juga udah pernah lamar Alara" Tegas Akram.
"Gue akuin, gue emang masih ada rasa sama Alara. Tapi gue udah ikhlasin Alara buat Lo bang. Karena memang Lo yang lebih cocok buat dampingi Alara. Soal lamaran itu, Alara udah tolak lamaran dari gue. Dan gue nggak papa." Tutur Akara.
"Lo harus tetap berjuang Ka. Lo nggak perlu pikirin perasaan gue. Gue nggak papa. Gue yakin, di dalam lubuk hati Alara yang paling dalam, dia masih menyimpan rasa buat Lo. Tapi dia berusaha menyangkal perasaan itu. Soal waktu itu Alara tolak lamaran Lo, karena waktu itu, dia mau lanjutin pendidikannya di Mesir. Mungkin karena hal itu dia nolak Lo Ka." Jelas Akram.
"Oke. Kalau itu mau Lo. Gue akan kembali melamar Alara. Tapi kalau Alara nggak mau, dan dia lebih memilih lamaran dari Lo, gue ikhlas bang." Tukas Akara.
"Gue juga bakalan ikhlas, kalau Alara memilih Lo, untuk menjadi imamnya." Timpal Akram.
Setelah cukup lama berdebat, Akara dan Akram kembali masuk.
"Mohon maaf atas ke kekacauan ini Tan, ma, pa dan yang lain." Ucap Akram.
"Saya minta maaf sama Tante dan yang lain, terkait masalah ini. Jujur saya juga kaget waktu bang Akram bilang seperti itu, karena saya juga tidak tahu, kalau bang Akram udah tahu, soal saya, yang juga pernah melamar Alara, sebelum dia melanjutkan kuliahnya di Kairo empat tahun lalu. Tante pasti masih ingat. Waktu itu saya datang bersama kedua teman saya. Akara minta maaf sama papa dan mama karena tidak pernah memberitahu hal itu sama mama dan papa. Setelah saya dan bang Akram bicara tadi di luar, saya Akara kembali melamar Alara. Tapi semua keputusan kembali pada Alara, apa Alara mau menerima lamaran saya kali ini, atau Alara mau menerima lamaran dari Abang saya, walaupun Abang saya bilang, kalau dia kesini melamar Alara untuk saya. Tapi saya tahu, bang Akram juga mau kembali untuk melamar Alara. Jadi apa pun keputusan Alara, kita terima. Apa pun jawaban Alara, tidak akan membuat hubungan saya dan Abang saya rusak. Kami bakal tetap akur seperti biasa. Semua keputusan ada pada Alara."
Mama Alara tidak masalah dengan hal itu, semua keputusan ada pada Alara. Alara belum bisa putuskan soal itu. Dia minta waktu dua hari untuk memberikan jawaban. Alara butuh waktu untuk memikirkan semua ini, apakah dia memilih salah satu di antara mereka atau tidak kedua-duanya.
Mendengar itu, kedua keluarga sepakat untuk menunggu jawaban dari Alara, dua hari lagi. Keluarga Akara pamit pulang. Setelah keluarga Akara pulang, mama Alara memberikan nasehat pada Alara.
"Bagaimana sayang? Kamu mau pilih yang mana? Menurut mama, kamu harus benar-benar memantapkan pilihan kamu. Apa pun keputusan kamu, mama selalu dukung." Ucap mama Alara.
"Alara belum tahu ma. Alah mau sholat dulu. Alara butuh petunjuk dari Allah. Zat yang maha membolak balik kan hati setiap umatnya." Jawab Alara.
"Ya udah. Semoga kamu bisa cepat untuk memutuskannya ya sayang."
Alara berlalu pergi menuju kamarnya. Syafa masuk ke kamar Alara.
__ADS_1
"Misi kak." Ucap Syafa sambil menghampiri kakak nya.
"Maafin Syafa ya kak." Sambil menjewer kedua telinganya.
"Maaf buat apa sayang?" Tanya Alara.
"Maaf, karena sebenarnya, bang Akram sampai tahu soal lamaran kak Akara itu, dari Syafa kak." Gumam Syafa.
"Kok bisa sayang. Kamu ketemu sama Akram di mana?" Tanya Alara.
"Tiga hari lalu, kak Akram nyamperin Syafa ke sekolah kak. Kata kak Akram, dia udah tahu, kalau kakak sama kak Akara dulunya pernah pacaran, dia tahu itu dari foto-foto dalam kotak yang di simpan kak akara. Dan tujuan kak Akram temuin Syafa, untuk mendapatkan informasi lebih akurat lagi, tentang kakak dan kak Akara. Cerobohnya, Syafa kelepasan bicara, kalau kak Akara sempat lamar kakak sebelum ke Kairo, dan kakak tolak." Jelas Syafa.
"Deeeeek." Ucap Alara panjang, dengan nada bicara tetap lembut, kemudian menarik napasnya perlahan.
"Maaf." Kata Syafa sambil kembali menjewer kupingnya.
"Kakak nggak marah. Lagian kamu nggak salah kok. Mungkin ini memang sudah jalannya. Sekarang, kakak butuh petunjuk dulu dari Allah, semoga nanti bertemu titik terangnya." Gumam Alara.
"Semoga kak Ara cepat ketemu jawabannya. Apa pun keputusan kakak, selagi itu membuat kakak senang, Syafa juga bakal dukung dan ikut senang juga untuk kak Ara." Ucap Syafa, berusaha memberikan semangat pada Alara.
"Ya semoga. Makasih sayang, kamu selalu ada buat kakak." Sambil memeluk Syafa.
Syafa sudah pergi dari kamar Alara. Setelah syafa pergi, Alara wudhu, kemudian sholat. Selesai sholat, Alara kepikiran sama Alaisa. "Kalau aja Alaisa masih ada, dia pasti bakal bantu aku buat selesai in masalah ini." Desis Alara.
Selama dua hari itu, Alara tidak henti-henti untuk meminta petunjuk sama Allah. Dia selalu sematkan doa, di setiap selesai sholatnya. Baik sholat sunnah maupun sholat wajib. Akhirnya, Alara sudah mantap dan yakin dengan keputusan nya. Besoknya, Alara memberitahu pada keluarga akram. Terkait jawabannya.
Alara memberikan jawabannya. Kedua keluarga turut senang dengan hal itu. Setelah mendengar jawaban dari Alara, kedua keluarga mempersiapkan segala hal untuk pernikahan. Acara pernikahan harus secepat nya dilangsungkan, selambat-lambatnya tiga bulan dari jarak khitbah.
******
__ADS_1