ANAKARALA

ANAKARALA
28. Best Friend


__ADS_3

Waktu begitu cepat berjalan, tidak terasa Alara udah hampir satu Minggu dirawat di rumah sakit.


Keadaan Alara udah semakin membaik. Akhir-akhir ini, Akara tetap menjengnguk Alara tapi hanya sebentar karena waktu Akara terbatas, dia harus ke kantor sehabis pulang sekolah. Bibik dan Alaisa bergantian menjaga Alara. Kalau pagi Alaisa ke sekolah, terus pulang ke rumahnya sebentar dan malamnya baru bisa jagain Alara. Syafa di antara sekolah sama pak Kedi, habis dari sekolah dia juga selalu ke rumah sakit buat jagain Alara. Tapi hanya sampai sore, karena Alara mau Syafa fokus aja dengan sekolahnya dan sebentar lagi Syafa juga bakal ikut lomba tilawah Qur'an.


Jadi Alara ingin Syafa fokus ke lomba itu, dan harus terus mengasah kemampuan Syafa dalam tilawah Qur'an, agar irama Syafa semakin bagus lagi.


(Musabaqah Tilawatil Quran (bahasa Arab: مسابقة تلاوة القران‎, disingkat MTQ) adalah festival keagamaan Islam Indonesia yang diadakan di tingkat nasional yang bertujuan untuk mengagungkan Al Quran. Pada festival ini, peserta berlomba mengaji Al-Qur'an dengan menggunakan Qira'at/Bacaan).


"Malam Ra." Sapa Alaisa sembari berjalan masuk ke ruang rawat Alara.


"Maaf ya gue telat. Syafa sama bibik baru pulang ya Ra....?" Tanya Alaisa sambil menaruh buah-buahan yang dibawanya.


"Nggak. Udah dari sore." Jawab Alara santai.


"Lo udah makan Ra....?" Tanya Alaisa.


"Tadi udah." Jawab Alara.


"Lo makan buah ya Ra." Ucap Alaisa sambil mengupas kulit buah apel.


Alara memakan apel yang udah di buka sama Alaisa.


"Kuku kaki lo udah panjang aja Ra!" Gue potong ya Ra." Sambung Alaisa sambil mengambil gunting kuku di tasnya.


"Nggak usah la. Biarin aja!" Ucap Alara.


"Biar gue aja. Kalau sekali-kali nggak papa la. Kalau udah berkali-kali baru gue ogah." Ucap Alaisa sambil tertawa.


"Terserah lo aja la!" Tukas Alara pasrah.


"Kapan lagi kan, kuku lo dipotong sama sahabat lo yang cantik ini. Mumpung lo lagi sakit." Kata Alaisa sambil memotong kuku Alara.


"Kalau lo udah sehat, boro-boro gue bisa potong kuku lo, pegang jari kaki lo aja mungkin udah nggak bisa. Karena lo pasti udah bisa lawan gue, dan adu debat sama gue Ra." Sambung Alaisa lagi.


Alaisa udah selesai potong kuku kaki Alara. Alaisa berlanjut mau sisir rambut Alara.


"Sekarang, lo duduk bentar dengan posisi tegap ya Ra. Bentar aja." Pinta Alaisa sambil membantu Alara untuk duduk tegap.


"Buat apa la....?" Tanya Alara dengan raut wajah malas.


"Gue mau sisir rambut lo Ra! Walaupun rambut lo lurus, tapi kan selama lo dirawat belum pernah di sisir-sisir Ra! Mumpung gue ada waktu, jadi lo turutin aja apa mau gue. Oke princess!" Kata Alaisa sembari menyisir rambut Alara.


Alara hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Alaisa. Kalau mau berdebat, Alara belum punya cukup energi untuk itu. Jadi jalan satu-satunya ya nurut aja.


"Makanya, kalau lo nggak mau gue urus kayak gini, nggak mau di potong kuku, nggak mau disisir rambutnya. Solusinya ya lo harus cepat sembuh Ra! Gue kangen lo marah-marah sama gue, gara-gara kelemotan otak gue, lo yang nggak mau kalah debat sama gue, tapi akhirnya lo yang ngalah dan kesal sendiri. Malas ladenin gue." Oceh Alaisa dengan ketawa lepas.


"Ingat nggak lo Ra. Waktu kita kelas satu SMA. Ada momen yang sangat gue suka bangat." Kata Alaisa sambil menatap Alara lekat-lekat sambil berharap Alara ingat.


Alara menggeleng dan menjawab. "Yang mana la? Momen kita kan banyak Ra. Gue nggak bisa maksa otak gue untuk mikirin itu sekarang la."

__ADS_1


"Kalau kamu nggak ingat, nggak papa. Biar aku ingatin lagi. Jadi waktu itu, lo (Alaisa menunjuk Alara) sama teman-teman kita dikelas, lagi foto-foto ni, (Alaisa memperagakan gaya berfoto waktu itu) tiba-tiba gue masuk tu, lo langsung panggil gue, ajak gue untuk berfoto sama lo, dan lo rangkul gue sambil tersenyum ceria bangat. Kayak bukan lo Ra. Lo waktu itu so sweet bangat Ra sama gue." Tutur Alaisa dengan happy.


"Tapi sayang...." Sambung Alara lagi.


"Sayang kenapa la....?" Tanya Alara dengan wajah polos.


"Fotonya udah nggak ada lagi Ra. Padahal itu foto pertama kita selama kita sekolah SMA Ra." Kata Alaisa dengan raut wajah cemberut.


"Kenapa udah nggak ada Ra....?" Tanya Alara.


"Ya..., dia lupa. (Alaisa menghela napas kesal) waktu itu kita kan foto, (sambil memperagakan cara berfoto dengan jari-jari tangannya) fotonya pakai handphone kamu Ra. Terus, dua hari setelah kita berfoto, gue minta dikirimin fotonya ke gue ra, tapi lo bilang fotonya udah nggak ada Ra." Jelas Alaisa.


Alaisa berhasil memancing Alara untuk bisa bicara lebih lama.


"Foto waktu itu. Ya salah lo, udah tahu gue orangnya nggak bisa simpan sesuatu di handphone lama-lama. Mungkin waktu itu nggak sengaja ke hapus sama gue la. Lo kan tahu sendiri gue rajin bersihin file-file yang udah nggak berguna di handphone gue. Yang udah terjadi biarin aja lagi la. To kita nggak bisa lagi balik ke masa lalu." Ucapan Alara mengalir begitu saja.


"Lagian foto kita dari kecil sampai sekarang masih ada la. Dan banyak lagi." Sambung Alara lagi.


Alaisa diam sejenak. Kemudian langsung memeluk Alara sembari menangis gembira.


"Akhirnya, sahabat gue! cara bicaranya udah mulai kayak biasa dan udah bisa merespon cepat ucapan gue." Ucap Alaisa penuh haru dengan air mata mengalir berjatuhan begitu saja membasahi pipi Alaisa. Kemudian melepas pelukannya.


Alara juga tidak menyangka kata, ("Yang udah terjadi biarin aja lagi la. To kita nggak bisa lagi balik ke masa lalu.") seperti itu keluar dari mulutnya sendiri. Kata-kata itu bak cambukan bagi diri Alara yang sekarang. Alara sejenak tertegun dengan kalimat yang di ucapkan dirinya sendiri. Pikiran Alara jadi mulai terbuka ke arah positif. Dia harus mencoba berusaha ikhlas menerima kondisi dirinya yang sekarang. Dengan begitu, Alara bisa bertahan untuk melanjutkan hidupnya.


"Gue sangat yakin dan percaya seribu persen! Kalau sahabat gue ini, sangat kuat dan mampu melewati segala cobaan dalam hidupnya." Ucap Alaisa memberikan semangat pada Alara.


Alara dan Alaisa berlomba-lomba dalam mengeluarkan air mata. Sepertinya stok air mata mereka ini banyak. Soalnya nggak habis-habis.


"Udah Ra, jangan bilang seperti itu Ra. Walaupun lo, nggak nunjukin perhatian yang sama seperti gue ke lo,  tapi gue tahu kalau lo juga sangat sayang sama gue Ra. Tapi cara lo aja yang beda untuk menunjukan rasa sayang lo ke gue. Setiap rasa sayang itu, tidak perlu selalu ditunjukan dengan tindakan, tapi juga bisa dengan hal yang lain. Ya..., Walaupun waktu itu gue juga sempat salah paham sama lo Ra. Gue minta maaf juga untuk itu ya Ra." Tutur Alaisa sembari melepas pelukan Alara.


"Pokoknya, mulai dari sekarang, kita harus saling terbuka satu sama lain. Apa pun itu masalahnya. Agar nggak ada salah paham lagi di antara kita Ra. Gue juga nggak mau, persahabatan kita rusak lagi Ra. Karena hal yang sepele sebenarnya. Oke? Sepakat....?" Sambung Alaisa lagi sambil mengulurkan tangan ke Alara untuk bersepakat.


Alara setuju dengan pendapat Alaisa.


"Udah a..., berasa cengeng bangat gue. Sekarang lebih baik kita istirahat. Gue istirahat, dan Lo harus lebih istirahat lagi." Timpal Alaisa setelahnya sembari membantu Alara berbaring lagi untuk segera tidur.


***


"Morning bestie...." Sapa Alaisa pada Alara.


"Mata lo sembab la." Ucap Alara.


"Efek acara nangis-nangis semalam. Ya sembab deh. Tapi lebih sembab kan mata lo deh Ra." Ucap Alaisa sambil tertawa.


"Lucu bangat bentukan lo Ra." Timpal Alaisa lagi, dengan masih tertawa.


"Kita foto dulu ya. Buat kenang


-kenangan." Sambung Alaisa lagi, sambil merangkul Alara untuk berfoto.

__ADS_1


Alara hanya bisa tersenyum sinis dan menggeleng-geleng dengan tingkah sahabatnya itu.


"La, gue mau pulang hari ini aja la." Pinta Alara dengan ekspresi yang udah mulai bosan di rumah sakit.


"Ya udah Ra. Sekarang gue urus ke pulangan lo. Tapi, Lo benar-benar udah enakan kan Ra...?" Tanya Alaisa.


"Iya. Udah kok. Lagian gue mau lihat Syafa tampil di lombanya juga la." Ucap Alara dengan berusaha memperlihatkan rasa semangatnya, untuk buru-buru pulang.


"Oke. Gue urus bentar ya. Lo gue tinggal bentar, nggak papa kan Ra....?" Tanya Alaisa.


"Iya nggak papa kok." Ucap Alara santai.


"Ya udah. Tapi benar nggak papa kan Ra? (Sambil memutar tubuhnya lagi menghadap alara) soalnya gue khawatir, nanti lo buat yang aneh-aneh lagi. Gue cemas Ra!" Kata Alaisa dengan Khawatir.


"Iya, gue (menunjuk dirinya sendiri) nggak bakal lakuin hal yang aneh-aneh lagi. Gue janji. Oke?" Jawab Alara dengan berusaha meyakinkan Alaisa.


"Kalau gini, gue jadi nggak terlalu was-was ninggalin lo sendiri. Gue pergi bentar aja. Lo sabar aja nunggu di sini." Ucap Alaisa kemudian berlalu meninggalkan Alara.


"Iya, bawel lo la." Timpal Alara sambil tersenyum kecil.


Alaisa selesai mengurus segala hal untuk kepulangan Alara. Dokter juga telah memperbolehkan Alara untuk pulang. Alaisa menelpon pak Kedi untuk menjemput mereka di rumah sakit. Pak Kedi sampai di rumah sakit, dan kemudian langsung pulang ke rumah Alara.


"Kak Ara...." Teriak Syafa dengan gembira sembari langsung memeluk Alara.


"Kakak udah makan kak...?" Tanya Syafa.


"Udah. Syafa udah makan....?" Alara balik bertanya.


"Udah juga kak." Jawab Syafa sambil tersenyum.


"Gimana persiapan untuk lomba besok sayang....?" Tanya Alaisa.


"In syah Allah, aman kak." Jawab Syafa dengan semangat.


"Pintar." Timpal Alara sambil mengelus lembut rambut Syafa.


"Ya udah, kakak istirahat dulu ya sayang." Ucap Alara sembari berlalu pergi menuju kamarnya.


Alaisa juga pamit pulang sama Alara. Kalau ada apa-apa, Alara harus cepat hubungin dia. Dan kembali mengingatkan Alara, agar jangan bertidak nekat lagi!.


Alara masuk kamar, kemudian langsung melihat-lihat foto-foto yang terpajang di dinding kamarnya.


Di foto-foto itu Alara terlihat sangat bahagia. Terlintas seketika di pikiran Alara. "Apa gue, masih mungkin bisa sebahagia ini lagi. Setelah apa yang terjadi sama gue."


Setelah mengucapkan kata itu, Alara duduk di kasur sembari melihat-lihat momen-momen kebahagiaan dia selama berpacaran dengan Akara. Raut wajah yang di pancarkan Alara tersenyum bercampur sedih.


"Setelah yang terjadi pada gue, apa gue masih layak untuk orang sebaik Akara....?" Kata-kata itu terucap begitu saja.


Alara menyibukkan dirinya hari ini hanya dengan menggambar di kertas gambarnya. Hal ini biasa dilakukan Alara untuk mengalihkan pikirannya. Alara juga berusaha mengantisipasi agar dirinya tidak kembali berbuat hal yang aneh-aneh seperti beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


****


__ADS_2