ANAKARALA

ANAKARALA
39. Hijrah yang Sesungguhnya


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu sejak kepergian Alaisa. Alara masih berharap, kalau semua itu hanya mimpi, dan berharap ia segera bangun dari tidur panjangnya.


Alara masih sering keinget momen-momen dia bersama Alaisa. Kalau Alara tidak ada kegiatan, Alara makin sulit untuk mengendalikan perasaannya. Alara rindu Alaisa yang cerewet, bawel, candanya yang garing, lola nya, teman debatnya, teman curhatnya, Alaisa yang perhatian dan sayang bangat sama alara, melebihi siapa pun. Kehilangan Alaisa sama saja kehilangan separo kebahagiaan dalam hidup Alara.


Sejak tidak ada Alaisa, Alara harus belajar mandiri, sabar dan kuat dalam menjalankan hidup yang setiap saat ada saja masalah yang menimpa Alara. Dan untuk mengalihkan pikirannya, agar tidak teringat dengan Alaisa terus, dan tidak melakukan hal bodoh dan nekat lagi, Alara melakukan banyak kegiatan. Full time. Sampai dia udah lelah, baru dia pulang untuk istirahat.


Ayah Alaisa juga melanjutkan kegiatannya seperti biasa. Alara setiap hari datang ke rumah ayah Alaisa untuk antar makanan, dan memastikan ayah Alaisa sehat selalu. Karena itu pesan terakhir Alaisa pada Alara. Bantu dia, untuk menjaga ayahnya. Karena belakangan ini Alara banyak kegiatan, jadi alara jarang ada waktu luang untuk ke rumah Alaisa. Agar Alara bisa tenang, jadi dia memperkerjakan pembantu di rumah Alaisa, untuk mengurus rumah dan segala keperluan ayah Alaisa. Awalnya ayah Alaisa menolak, tapi Alara memohon untuk ayah Alaisa jangan menolak permintaannya.


Berbeda hal nya dengan Shafan. Waktu awal-awal Alaisa udah tidak ada, Shafan seperti orang linglung dan bahkan ke Bar beberapa kali setelah malam iya mengantar Alara pulang itu. Shafan merasa urusannya dengan Alaisa belum selesai dan dia juga menyalahkan dirinya sendiri, atas kematian Alaisa. Dia merasa gagal menjaga orang yang dia cintai. Dan Alhamdulillah, Shafan belakangan ini, udah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan sebelumnya pada Alaisa. Akhirnya Shafan berusaha mencari tahu apa saja keinginan Alaisa yang belum terwujud. Shafan menjadikan buku diary Alaisa sebagai panduannya. Shafan mendapatkan izin dari ayah dan Alara untuk membaca isi buku diary Alaisa.


Setiap tiga kali dalam seminggu, guru ngaji Alara datang ke rumah. Alara cari guru privat, khusus untuk mengajar dia mengaji. Agak aneh ya, udah besar tapi masih les ngaji. Hal itu di rasa perlu sama Alara, karena mengingat juga, Alara belum terlalu bisa mengaji sebelumnya. Jadi dia mau belajar dan memperbaiki semua hal ke arah yang diridhoi Allah SWT.


Sekarang Alara udah mulai fokus memperdalam ilmu agamanya. Ia udah serius untuk benar-benar hijrah. Semoga kali ini Alara benar-benar istiqomah. Alara sangat merasa bersalah pada semua orang terutama pada dirinya sendiri. Karena tidak seharusnya waktu kepergian Alaisa iya mala kalut dan keluar dari zona amannya. Tidak seharusnya ia berbelok arah separah itu, sampai melepas Niqab yang selama ini ia coba untuk pertahankan. Langkah yang Alara ambil ini, mungkin adalah jawaban dan petunjuk dari sholat Istikharah dan doa Alara waktu sholat tahajud waktu itu.


Banyak ujian yang Alara lalui dalam hidupnya, Alhamdulillah nya, dia mampu melewati ujian itu semua. Ya walaupun kemarin-kemarin ia sempat berbelok arah. Sampai sekarang Alara masih dalam proses pulih dari segala luka yang dia rasa di masa lalu. Tapi setidaknya, dia tidak menyerah begitu saja, dia terus berusaha bangkit dan bangkit sebisa dan se sanggup yang dia bisa dan kali ini Alara benar-benar sangat ingin memperbaiki segala kesalahannya dan kekhilafannya waktu itu yang hanya dilandasi rasa kekecewaan dan amarahnya pada sang pencipta. Ia putus asa kenapa pencipta tidak henti-hentinya memberikan cobaan padanya.


***


Pancaran mentari pagi terlihat sangat menyilaukan tapi tetap sejuk untuk di pandang.


Alara sudah siap untuk menuju suatu tempat di pagi hari.


"Pagi... La...." Ucap Alara sambil jongkok di depan makam Alaisa.


"Sebenarnya, Aku sengaja datang pagi-pagi kesini, pengen ngasih tahu kamu berita gembira, yang bakal bikin kamu senang juga dengarnya." Kata Alara sambil menabur bunga di makam Alaisa.


"Sebelum itu, maafin kekhilafan aku waktu itu la. Maaf juga karena aku nggak datang ke acara pemakaman kamu waktu itu la. Kamu pasti sangat kecewa dengan tindakan aku yang bodoh dan kekanak-kanakan itu".


"Sekarang aku mau kasih tahu kamu, mulai hari ini, aku benar-benar udah mutusin untuk hijrah seperti yang selama ini kamu harapkan. Andai aku ikutin saran kamu dari dulu, mungkin aku bakal bisa rasain pelukan gembira kamu dan wajah bangga kamu ketika menatap aku dengan haru (mata Alara udah mulai berkaca-kaca). Tapi kamu tenang aja La, aku nggak bakal sedih-sedih lagi La. Air mata ini air mata bahagia kok La. Bukan air mata sedih. Jadi kamu nggak usah khawatirin aku ya La." Kata Alara panjang lebar sembari menghapus air matanya dan tersenyum lebar.


"Kamu yang tenang di sana ya La. Aku bakal tepatin janji aku buat jagain ayah kok La. Kamu tenang aja. Aku sayang kamu. Tunggu aku di surga ya La. Dan kalau nanti kita bertemu lagi, jangan sampai lupa sama aku ya la. Awas aja kalau sampai lupa ya!" Ucap Alara dengan tertawa kecil.


"Ya udah La. Aku pulang dulu ya. Kalau lama-lama aku disini, nanti dikira orang gila aku La. Bicara sendiri di kuburan. Mungkin setelah kunjungan hari ini, untuk kunjungan selanjutnya, aku belum tahu kapan waktunya la. Tapi walaupun begitu, aku akan tetap selalu doain kamu kok La." Ucap Alara berusaha untuk tegar dan ceria kemudian berlalu pergi meninggalkan makam Alaisa.


****


Shafan sibuk menghias atap gedung yang merupakan tempat favorit dia dan Alaisa.

__ADS_1


"Woii... Bro." Ucap cowok yang baru saja datang menghampiri Shafan.


"Ee lo Par. Dari siapa Lo tahu gue ada di sini?" Tanya Shafan dengan tetap menghias tepi-tepi atap gedung itu.


"Biasa dari sahabat lo satu lagi." Ucap Pakara.


"Bagus hiasan Lo fan. Gue yakin Alaisa pasti suka bangat." Kata Pakara sambil melihat sekelilingnya.


"Iya pasti suka la Par. Kan gue hias kayak gini sesuai keinginan dari Alaisa Par." Jawab Shafan.


"Oo... gitu. Tapi bagaimana cara Alaisa kasih tahu lo soal ini Fan. Bukannya Alaisa udah nggak ada." Ucap Pakara dengan polos nya, dan tanpa wajah bersalah pada Shafan.


Shafan agak kesal dengan pertanyaan Pakara, tapi dia bisa memaklumi sifat anak satu itu.


"Gue tahu dari buku diary Alaisa. Sebenarnya, gue lagi berusaha mewujudkan keinginan Alaisa yang belum tercapai." Jawab Shafan.


"Gitu. Kenapa lo nggak bilang dari tadi, kalau Lo bilang dari tadi, pasti tadi gue nggak kelepasan bicara begitu." Tukas Pakara.


Shafan menarik napasnya, kemudian baru bicara. "Terserah lo deh Par. Gue malas debat sama lo."


"Kok jadi debat Fan. Ya udah lah. Sekarang gue bantu lo hias ini aja." Kata Pakara sembari membantu Shafan menghias.


"Yang kita tunggu-tunggu udah nongol ini." Ucap Pakara sambil merangkul Akara sebentar.


"Jadi ceritanya, sekarang kita reunian ni." Sambung Pakara senang.


Akara dan Shafan melirik ke arah Pakara. Kemudian dengan serempak, mereka mengangkat tubuh Pakara dan membawanya ke tepi atap gedung untuk menakut-nakutin Pakara.


"Turunin gue. Lo pada mau ngapain. Gue kan takut ketinggian." Teriak Pakara ketakutan.


Akara dan Shafan tertawa puas karena berhasil ngerjain Pakara.


"Makanya jadi teman itu jangan suka bikin kesal teman." Ucap Shafan, masih tertawa.


"Kesal gue sama lo pada." Kata Pakara sambil menunjukan wajah betek nya, tapi akhirnya ketawa juga.


"Lama nggak ketemu, bukannya di layani dengan baik, ini mala mau bunuh sahabatnya. Tega ya kalian sama gue." Ucap Pakara lagi.

__ADS_1


"Tapi gue kangen bangat ama Lo berdua. My best friend." Sambung Pakara sambil memeluk Shafan dan Akara.


"Udah, jangan lama-lama, geli gue di peluk sama lo." Kata Shafan, sambil melepas pelukan Pakara kemudian di susul oleh Akara, untuk melepaskan pelukan Pakara.


Hiasan udah selesai di pasang. Mereka bertiga duduk di kursi yang udah di sediakan.


"Gimana fan. Lo aman kan...?" Tanya Akara.


"Aman." Jawab Shafan santai.


"Kalau Lo aman nggak....?" Shafan bertanya balik.


"Berusaha aman gue untuk saat ini fan." Jawab Akara dengan menghela napas.


"Gagal move on lo Ka.?" Timpal Pakara, berusaha menahan tawanya.


"Sekarang gue lagi fokus membenahi diri dulu. Kalau gue rasa diri gue udah siap, baru gue kembali mikirin soal cinta-cintaan." Jawab Akara dengan serius.


"Wii, mantap sahabat kita sekarang fan. Pemikirannya tambah dewasa dan bijak." Ucap Pakara salut dengan Akara.


"Kesibukan Lo sekarang apa Par....?" Tanya Akara.


"Gue sekarang lagi sibuk, buka usaha kebab. Namanya Kebab Healing." Jawab Pakara disertai ketawa.


"Kalau Lo Ka....?" Tanya Shafan.


"Gue belakangan ini, lagi sibuk, urus bisnis bokap, urus mama dan mengajar anak-anak di pinggiran kota, yang tidak punya uang atau kesempatan untuk sekolah." Jawab Akara santai, sembari melihat layar handphone nya.


"Mantap perubahan teman gue. Salut gue sama lo Ka." Puji Pakara sambil mentoskan tangannya pada Akara.


"Buat Lo fan, tetap semangat. Gapai cita-cita Lo, bahagia selalu juga. Dengan begitu, Alaisa akan senang dan ikut bangga untuk Lo di atas sana Fan." Ucap Akara memberi semangat untuk Shafan.


"Ya Ka. Thanks." Jawab Shafan.


"Fan, Par, Gue cabut duluan ya. Gue ada keperluan lagi. Kapan-kapan kita ngumpul-ngumpul bareng lagi." Kata Akara sembari mentos-toskan tangannya ke Pakara dan Shafan. Kemudian pergi perlahan meninggalkan atap gedung.


"Gue juga mau cabut fan, udah mau sore juga. By bro. Lo juga pulang ya fan. Jangan di sini mulu, kerjain yang lain juga." Kata Pakara sambil melangkah pergi meninggalkan Shafan.

__ADS_1


Selepas kepergian akara dan Pakara, Shafan masih duduk dan menghayal di atap itu. Shafan masih butuh waktu untuk memulihkan perasaannya dan berusaha berdamai dengan keadaan.


*****


__ADS_2