ANAKARALA

ANAKARALA
41. Nekat Parah


__ADS_3

...'Alasan Alara Memakai Niqab Satu Tahun Lalu'...


Besoknya, perkuliahan pertama bagi Alaisa dan Alara. Hari pertama mereka dalam mengikuti pembelajaran dalam masing-masing jurusan yang di ambil. Alara dan Alaisa tidak satu kelas. Karena mereka memilih jurusan yang berbeda. Alaisa jurusan Bahasa, sedangkan Alara jurusan ilmu hadits.


Kuliah untuk hari ini sudah selesai, Alara menunggu Alaisa di kantin tempat biasa. Ketika sedang menunggu Alaisa, setiap 2 menit sekali, ada aja cowok yang datang untuk kenalan sama Alara. Hal itu membuat Alara jadi risih.


"Kenapa banyak cowok yang deketin gue dari tadi si. Apa gara-gara kejadian di Ospek kemaren. Mana Alaisa lama bangat lagi. Gue udah nggak beta di sini." Grutu Alara dalam hati.


Tak lama setelah perkenalan cowok yang terakhir yang menghampiri Alara, setelah itu Alara mendengar suara seseorang menyuruh semua cowok-cowok itu pergi dan jangan ganggu Alara lagi.


"Kalian apa-apaan si. Bubar-bubar. Atau nggak, Lo berhadapan sama gue." Bentak Elsan dengan tegas pada para cowok-cowok itu.


Akhirnya semua cowok-cowok itu pergi. Dan gantian Elsan yang duduk di bangku sebelah Alara. Alara bodoh amat dengan kehadiran Elsan. Dan Alara tidak mengucapkan kata terima kasih sedikit pun sama Elsan.


"Sibuk amat dari tadi. Sampai nggak sadar ada senior di hadapan Lo." Ucap Elsan dengan nada sedikit nyegas.


Alara melirik ke arah Elsan dan bicara, "Emangnya, kalau ada senior, saya harus bersikap seperti apa kak? Apa saya harus bersikap, Hi kak, ayok duduk disini bareng saya. Kakak mau pesan apa? Biar saya pesanin. Apa harus seperti itu kak?" Tanya Alara dengan nada santai.


"Sekarang nggak usah basa-basi deh. Kita langsung ke intinya aja. Lo nggak usah sok jual mahal deh. Terus terang aja. Lo senangkan gue samperin ke sini?" Tegas Elsan dengan wajah beringasnya.


"Kok kakak bisa sepede dan seyakin itu ya." Ucap Alara dengan nada tegas tapi tetap berusaha santai.


"Kalau Lo nggak naksir sama gue, kenapa Lo mau aja di suruh Nafsya cium gue kemaren." Ucap Elsan.


"Oo..., masih perkara ciuman kemaren. (Alara sedikit tertawa kecil). Itu bukan kemauan gue. Kalau harga diri gue nggak dipertanyakan kemaren, gue nggak bakalan mau cium kakak." Jawab Alara masih tetap santai.


"Kan lo bisa aja nolak, atau minta hukuman lain. Tapi Lo langsung terima begitu aja." Gumam Elsan.


"Oke, supaya masalah ini nggak berlarut larut, gue minta maaf sama kakak. Gue nggak ada niat atau maksud apapun. Semua itu, hanya untuk memenuhi tantangan yang di berikan senior kemaren kok kak. Nggak lebih." Kata Alara dengan tetap berusaha baik sama tingkah Elsan.

__ADS_1


"Nggak bisa gitu dong. Asal Lo tahu, pipi gue ini, nggak sembarangan orang bisa cium seenaknya aja. Lo harus bayar untuk itu." Tukas Elsan.


"Gini deh kak. Kalau kakak nggak mau di cium pipinya kemaren, kenapa nggak kakak tolak aja kemaren. Kakak terima begitu aja. Seharusnya, kalau kakak nggak mau, kan bisa kakak batalin hukuman itu. Toh kakak juga panitia di situ. Paling di takuti juga lagi." Ucap Alara dengan nadanya yang udah mulai kesal.


Alaisa baru sampai, dan bingung dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Alara menyadari kehadiran Alaisa.


"Saya mohon maaf bangat sama kakak. Bukan bermaksud tidak sopan, teman saya udah datang. Dan saya harus pulang sekarang." Ucap Alara, kemudian berjalan keluar kantin disertai dengan menarik tangan Alaisa untuk ikut bersamanya.


Elsan mendesis kesal dan belum mau kapok. Justru dia makin tertantang untuk mendapatkan Alara. Seketika jiwa playboy Elsan meronta-ronta.


Dalam mobil, Alaisa bertanya pada Alara, apa yang terjadi, sampai dia kelihatan kesal dengan Elsan.


"Hari ini, merupakan hari yang sangat menguji kesabaran gue La. Sebelum kamu datang, aku nggak bisa banyak gerak. Lo bisa bayangin nggak jadi gue. Selama 2 menit sekali, ada aja cowok yang nyamperin gue. Kebayang nggak gimana kesalnya gue." Gumam Alara dengan wajah kesal.


"Beruntung bangat Lo Ra. Bisa di sukai banyak cowok-cowok di kampus kita. Pengen juga gue kayak lo Ra." Ucap Alaisa menatap Alara dengan gemas.


"Ya, jangan ngambek dong Ra. Uuu..., tayang-tayang nya aku." Bujuk Alaisa dengan gemas.


"Geli gue. Udah a, gue lagi nyetir ni, nanti gagal fokus." Gumam Alara melirik kearah Alaisa.


Udah lebih dari dua Minggu Alara kuliah. Dan hal yang bikin Alara malas ke kampus, ya masih soal yang sama. Para cowok-cowok itu, tidak kapok-kapok buat terus mendekati Alara. Padahal alah udah cuek parah sama mereka. Termasuk sama Elsan.


Malam ini Alara nginap di rumah Alaisa. Karena dia bosan di rumah dan Alaisa lagi nggak bisa juga untuk nginap di rumah Alara. Jadinya Alara yang nginap di rumah Alaisa.


"La, gimana ya caranya, buat gue lepas dari cowok-cowok tu?" Tanya Alara udah mulai pasrah dengan keadaan.


"Gue juga bingung Ra. Benar kata lo, nggak enak bangat kalau terlalu banyak orang yang naksir kita. Nggak bebas hidup kita jadinya Ra. Mau kemana-mana, pasti ada aja yang ngintilin. Lo yang sabar ya Ra. Pasti kita bakal ketemu solusinya." Gumam Alaisa.


"Gue kira, kalau kita pakai hijab, para kaum hawa itu, bakalan segan bangat sama kita. Secara kita udah tutup aurat ni. Tapi ternyata, hanya sebagian kaum hawa yang pengertian. Sebagian lagi, tetap ikutin ego dan nafsunya." Sambung Alaisa heran dengan kehidupan zaman sekarang.

__ADS_1


"Tapi nggak bisa salain mereka sepenuhnya La. Gue juga salah. Semua ini terjadi, karena gue menerima tantangan dari kak Nafsya waktu itu. Gue nggak nyangka dampaknya bisa separah ini. Kalau gue tahu, bakal bikin hidup gue se enggak tenang ini, mungkin gue bakal minta hukuman yang lain. Tapi waktu itu gue kebawa emosi. Jadi mau gimana lagi. Sayangnya waktu nggak bisa di putar balik. Sekarang kita harus cari solusi buat keluar dari masalah ini." Tutur Alara.


"Setelah gue pikir-pikir lagi ucapan lo yang tadi. Gue jadi kepikiran La. Tapi boleh nggak ya, niat memakainya hanya untuk menghindar dari cowok-cowok itu, bukan karena Allah. Tapi gue yakin, kalau gue pakai ini, tu kaum hawa, bakal nggak berani lagi ganggu gue." Ucap Alara sambil berpikir.


"Jangan bilang Lo....?" Ucap alaisa sambil melirik ke arah Alara dan seolah paham maksud Alara.


"Lo gila Ra. Mengenakan Cadar itu, nggak bisa buat main-main Lo Ra. Apa lagi dengan sikap Lo yang masih pecicilan kayak gini. Dan Lo juga belum sanggup pakai baju syar'i lama-lama Ra." Tukas Alaisa nggak percaya dengan jalan pikiran sahabatnya itu.


"Ya, apa yang lo bilang itu benar. Tapi, nggak ada salahnya dong kita coba. Siapa tahu gue sanggup. Rasa nyaman itu, bisa muncul kalau udah terbiasa Ra. Semua itu cuman masalah waktu dan tekat yang kuat." Ucap Alara dengan yakin.


"Kalau rencana ini nggak berhasil gimana, Lo mau lepas lagi Cadar yang udah Lo kenakan itu Ra....?" Tanya Alaisa.


"Ya, kita lihat aja nanti La." Jawab Alara santai.


"Ya udah deh. Gue ikutin aja mau Lo. Dan semoga, kalau rencana ini berhasil, gue berdoa supaya lo tetap lanjut pakai cadarnya, sampai hati Lo benar-benar di beri hidayah sama sang pencipta." Gumam Alaisa.


Karena Besok hari Minggu, hal itu di manfaatkan Alara untuk belanja. Alara dan Alaisa membeli banyak baju syar'i dan Niqab untuk dikenakan sehari-hari oleh Alara.


Selesai belanja, Alara mencoba baju itu di dalam kamarnya.


"La, ini pakainya gimana ya La....?" Tanya Alara bingung.


"Ya, Lo nanya ke orang yang salah. Gue aja belum pakai hijab, tapi Lo Malah tanya bagaimana cara pasang cadarnya. Ya mana gue tahu Ra." Jawab Alaisa ngakak.


"Ya, gue tahu, kan lo bisa bantu gue lihat tutorial di youtobe La. Kayak waktu itu." Pinta Alara.


"O.., iya ya. Lupa gue Ra." Jawab Alaisa dengan tertawa.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2