ANAKARALA

ANAKARALA
24. Kebenaran


__ADS_3

Sebelum Akram datang, Akara dapat telpon dari Alaisa. Kalau Alara sudah di temukan. Setelah Akram menemuinya di kamar, Akara pamit pergi. Dia buru-buru menuju rumah Alara.


Akara sampai di rumah Alara dan berbicara dengan Alaisa.


"Sa. Dimana Alara....?" Tanya Akara khawatir.


"Alara di kamarnya Ka. Dia lagi istirahat. Kamu jangan temuin dia dulu ya. Tunggu aja sampai dia bangun." Pinta Alaisa, sambil menyuruh Akara duduk.


"Pas Alara pulang, gimana kondisinya sa....? Apa Alara kesakitan....?" Tanya Akara.


"Alara lemas. Tatapan matanya kosong, dan dia sempat di rawat di rumah sakit." Jawab Alaisa.


"Tunggu, lo tadi kalau nggak salah tanya, apa Alara kesakitan, maksudnya....?" Alaisa kembali bertanya dengan heran.


"I... ya, (agak terbata-bata) gue tanya, apa Alara ada merasakan sakit atau gimana. Karena kan dia habis di culik, jadi gue khawatir. Penjahatnya lukain Alara. Apa ada yang salah dari ucapan gue sa....?" Akara balik bertanya.


"Agak aneh aja si menurut gue. Tadi gue spontan mikirnya tu, kenapa lo tanya kayak gitu, sementara kan lo belum tahu apa yang terjadi sama Alara dan gue belum cerita. Makanya gue tadi mikir aneh aja." Jawab Alaisa.


"Siapa orang yang udah nolong Alara sa....?" Tanya Akara.


"Gue lupa tanya namanya tadi. Yang jelas, dia nemuin Alara tengah jalan pinggiran hutan kota. Dia bawa Alara ke rumah sakit, setelah Alara bangun, dia minta pulang. Padahal kondisinya masih lemah dan masih butuh di rawat sebenarnya. Tapi Alara nggak mau dirawat." Jawab Alaisa.


"Sekarang gue udah bisa ketemu belum sa....? Gue pengen lihat keadaan Alara sa!" Pinta Akara.


"Belum ka. Kita nggak bisa paksa Alara Sekarang. Harus keinginan dia sendiri, kalau di paksa, nggak baik dampaknya bagi Alara Ka." Jawab Alaisa dengan wajah sedih.


"Emang apa yang terjadi sebenarnya sama Alara sa....?" Tanya Akara semakin khawatir.


"Kata dokter, Alara mengalami syok berat. Hal itu dapat membuat otak alah berpikir tidak stabil. Dan lamban respon. Dia mengalami trauma akibat kejadian penculikan kemaren. Dan..., (Alaisa ragu meneruskan ucapannya)."


"Dan, apa sa!" Tanya Akara makin khawatir dengan keadaan Alara.


"Dan, ada kemungkinan..., Alara...." (Alaisa berhenti bicara karena dengar suara teriakan alara).


Alaisa langsung berlari ke kamar Alara kemudian di susul Akara.

__ADS_1


"Ra, Lo kenapa....?" Tanya Alaisa dengan nada lembut sembari duduk di samping Alara.


"Gu... Gue, gue nggak papa. Cuman lihat ada kecok aja tadi lewat." Jawab Alara berusaha santai dengan menahan rasa cemas dan sedihnya.


"Gue kira lo tadi mimpi buruk." Tukas Alaisa.


"Nggak." Ucap Alara berusaha menyembunyikan kegelisahannya.


"Ya udah kalau gitu. Ra, ada yang mau ketemu sama lo." Ucap Alaisa.


"Siapa....?" Tanya Alara.


Akara masuk ke kamar Alara. Dan berdiri di depan Alara sembari memegang bahu Alara.


Alara langsung reflek bergerak mundur ketika bahunya di pegang Akara.


"Kenapa Ra....? Bahunya sakit....?" Tanya Akara.


"Nggak." Jawab Alara dengan nada datar.


"Baik." Jawab Alara dengan nada malas bicara.


"Kamu makan dulu ya Ra. Dari semalam kamu kata Alaisa belum makan." Pinta Akara sambil membuka makanan yang di bawa nya.


Akara menyuapi Alara. Baru Alara makan satu suap, air mata Alara mulai berjatuhan dengan deras.


"Kamu kenapa nangis Ra....?" Ucap Akara sembari ingin menghapus air mata Alara. Tapi Alara hentikan. Alara merasa tidak nyaman berada dekat Akara.


"La, gue mau istirahat." Pinta Alara pada Alaisa sembari kembali berbaring membelakangi Akara dan menutup matanya rapat-rapat.


Alaisa sudah mengerti dengan maksud Alara. Alaisa membawa Akara keluar dari kamar Alara. Akara awalnya menolak, karena Alaisa baru satu sendok makannya. Alaisa langsung saja menarik Akara ke luar kamar.


Setelah mereka berdua keluar, Alara membuka matanya. Pipi Alara kembali di aliri derasnya air yang mengalir dari mata Alara.


Sementara di luar kamar Alara, Alaisa menarik terus Akara untuk turun ke lantai satu.

__ADS_1


Akara melepas pegangan tangan Alaisa. "Lo apa apaan si sa!" Ucap Akara dengan kesal.


"Alara bilang, dia mau istirahat. Itu artinya, dia lagi nggak mau di ganggu Ka. Makanya gue cepat-cepat tarik lo keluar." Ucap Alaisa meyakinkan Akara.


"Iya, gue tahu. Tapi apa si yang terjadi sama Alara. Sikap dia tu tambah jutek parah. Dia kayak takut sama aku." Ucap Akara heran.


"Alara itu lagi trauma ka!" Tegas Alaisa.


"Terus apa hubungannya sama gue sa. Kenapa sikap dia dingin bangat sama aku." Tukas Akara bingung.


"Karena kata dokter, Alara berkemungkinan telah ngalamin kekerasan seksual ka! Tegas Alaisa lagi.


Seketika Akara bergerak mundur, dengan ekspresi nggak percaya. Akara menahan amarah yang bersamaan dengan rasa sedih yang dirasakannya.


"Ya, mungkin karena hal itu, setiap dia lihat lo atau cowok lain, dia merasa risi dan takut aja ka. Wajar la, otak Alara belum bisa merespon terlalu keras. Mungkin aja sekarang, yang ada dalam pikiran dia tu, hanya kejadian sewaktu dia diculik. Jadi dia itu kelihatan diluar biasa aja, tapi didalamnya pasti dia hancur bangat Ka!" Tegas Alaisa lagi.


"Gue harus cari siapa dalang dari penculikan Alara!" Kata Akara dengan marah memukul tangannya ke dinding.


"Gue sangat paham dengan apa yang dirasakan Alara sekarang. Karena gue juga pernah ngalamin hal yang sama seperti Alara. Tapi bedanya, gue yakin gue nggak sempat di apa-apain sama penjahat itu (dalam hati Alaisa merasa ragu dengan ucapannya karena dia nggak ingat sepenuhnya kejadian yang menimpanya waktu itu). Kasus Alara ini beda. Kondisi Alara bisa di bilang parah. Bukan secara fisik aja yang terluka tapi batin dia juga ikut ke guncang." Curhat Alaisa mengalir begitu saja.


"Kita harus selidikin sendiri kasus ini sa. Nggak bisa hanya tunggu info dari polisi aja." Ucap Akara.


"Gimana caranya Ka....?" Tanya Alaisa.


"Gue tahu. Kita mulai dari orang yang paling benci sama Alara." Ucap Akara.


"Maksud lo Kaisa....?" Tanya Alaisa.


"Benar. Kaisa itu kan anaknya sadis dan bisa dibilang kurang la kewarasannya. Jadi gue curiga sama dia." Tutur Akara


"Benar juga lo. Kita harus pantau Kaisa terus." Sambung Alaisa.


"Ya bagaimana pun Kaisa pantas menjadi sasaran pertama yang patut kita curigai". Gumam Akara lagi.


"Tapi bagaimana cara untuk kita tahu kalau Kaisa yang merencanakan semua ini ka? aku yakin, ini pasti memang ulahnya Kaisa. Kalau sampai dugaan aku benar! Lihat aja kali ini aku nggak bakalan diam lagi seperti biasa. Untuk kejadian yang menimpah Alara kali ini sudah sangat keterlaluan dan kelewat batas!". Tegas Alaisa sambil berusaha meredam amarahnya.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2