ANAKARALA

ANAKARALA
34. Cafe


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu semenjak ayah Alaisa sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Alaisa belum memperbolehkan ayahnya bekerja, sampai kondisi ayahnya benar-benar membaik. Alaisa tidak mau, ayah Alaisa mengalami kecelakaan lagi, akibat kelelahan bekerja, jadi tidak konsentrasi mengendarai motor. Sampai akhirnya kecelakaan parah dan koma.


"Yah...." Teriak Alaisa, memanggil ayahnya, untuk segera keluar dari kamar untuk sarapan pagi.


"Ya, Ais." Jawab ayah Alaisa, sembari duduk di meja makan.


"Pagi ini, Ais, masakin ayah, nasi sambal terasi pakai telur, kesukaan ayah." Kata Alaisa sambil mengambilkan nasi dan sambal untuk ayahnya.


"Makasih ya sayang." Ucap ayah alaisa dengan senang.


Ketika Alaisa dan ayahnya sedang asik makan, Alara datang dan memberikan buah yang di bawanya untuk ayah Alaisa.


"Assalamualaikum." Ucap Alara.


"Waalaikummussalam." Jawab Alaisa dan ayahnya serempak.


"Ra. Duduk Ra. Kita makan dulu, aku habis masak sambal terasi pakai telur Ra. Kesukaan kamu juga kan. Ayok makan. Jangan malu-malu, anggap aja rumah orang." Ucap Alaisa bercanda.


"Udah lama aku nggak makan sambal buatan kamu la." Ucap Alara sambil ikut duduk di meja makan.


"La, itu kebanyakan." Protes Alara.


"Nggak banyak kok. Kapan lagi kamu bisa merasakan masakan aku Ra. Kalau udah nanti-nanti, keburu basi dia Ra." Ucap Alaisa sambil memberikan piring yang sudah di isi Alaisa.


"Yah, Lala jahil yah. Dia kayaknya ngerjain aku deh yah." Kata Alara sambil tertawa kecil, mengadu pada ayah Alaisa.


Ayah Alaisa tertawa dengan tingkah Alaisa dan Alara. Mereka sudah besar, tapi sifat, masih saja seperti anak kecil. Alara makan perlahan, karena dia menggunakan Niqab, jadi harus perlahan, agar Niqab nya tidak kotor dan dia juga nggak kesusahan.


Setelah makan, Alara ingin curhat sama Alaisa, tentang penjelasan mamanya Minggu lalu.


"La, duduk di teras luar yuk. Aku mau curhat sama kamu la." Kata Alara sembari berjalan keluar, dan duduk di kursi dekat teras rumah Alaisa.


"Ada apa Ra....?" Tanya Alaisa penasaran.


"Minggu lalu, aku bertengkar hebat sama mama la." Ucap Alara.

__ADS_1


"Kenapa Ra? Kok kamu baru kasih tahu aku sekarang Ra....?" Kata Alaisa.


"Soalnya, belum nemu waktu yang tepat aja. Kamu juga lagi sibuk urus ayah, kuliah dan kerjaan kamu. Jadi aku nggak mau ganggu." Jawab Alara.


"Nggak papa kali Ra. Lagian aku selalu ada waktu buat kamu Ra. Jadi kayak biasa aja Ra. Santai...." Ucap Alaisa dengan santai.


"Makasih la." Ucap Alara.


"Ya. Buruan cerita, keburu subuh lagi ntar. Ledek Alaisa.


"Aku bilang sama mama, soal hubungan mama sama temannya itu. Dan mama nampar aku." Kata Alara.


"Kamu gila Ra. Kok kamu bilang gitu si. Iya si, apa yang dilakukan mama kamu itu salah, tapi kan mama kamu udah berusaha berubah menjadi lebih baik lagi sekarang Ra." Ucap Alaisa.


"Aku lepas kendali malam itu Ra. Aku nggak maksud tambah nyakitin hati mama kok Ra." Jawab Alara dengan raut wajah ada merasa bersalah dengan tindakannya waktu itu.


"Kamu nggak salah juga kok Ra. Wajar kok kamu marah sama mama kamu. Tapi, kalau menurut aku, kamu harus segera buka hati kamu buat maafin mama kamu Ra. Karena manusia tidak pernah luput dari salah dan dosa Ra. Sekarang mama kamu kan udah kembali kejalan yang benar, tugas kamu sebagai anaknya, membantu membimbing mama kamu itu untuk tetap berada di jalan yang benar. Kalau kamu masih seperti ini terus sikapnya, yang ada nanti mama kamu membelok lagi ke jalan yang salah Ra." Saran Alaisa.


Alara berusaha mencerna ucapan Alaisa lekat-lekat di otaknya.


"Mama kamu bilang apa Ra....?" Tanya Alaisa penasaran.


"Aku masih nggak percaya sama apa yang disampaikan mama ke aku Ra. Masa mama bilang, papa aku...," Pembicaraan Alara terpotong karena Alaisa dapat telpon.


"Telpon dari siapa la....?" Tanya Alara.


"Ra, sorry bangat ya Ra. Aku harus pergi ke cafe sekarang juga. Ada masalah di cafe soalnya Ra. Nanti lanjut lagi ceritanya ya Ra." Pinta Alaisa sambil menunju motornya.


"Aku antar aja ya la." Pinta Alara.


"Aku sendiri aja Ra. Takutnya pakai mobil nanti mala kena macet Ra." Jawab Alaisa sembari berlalu meninggalkan Alara dengan motornya.


Alara ikut cemas, karena Alaisa kelihatan panik bangat. Alara ikut nyusul Alaisa ke cafe tempat Alaisa kerja.


Alaisa sampai di cafe, dan melihat kondisi cafe yang sudah berantakan. Alaisa bertanya sama karyawan lain, kata salah satu karyawan, ada preman, sepertinya tukang palak, yang sengaja mengobrak-abrik cafe.

__ADS_1


Alaisa dan karyawan lainnya kembali merapihkan cafe. Alara pun kemudian sampai di cafe. Dan ikut juga membantu membersihkan cafe. Alaisa menceritakan kronologis kejadiannya pada Alara.


Hari sudah mulai menunjukan sore menjelang malam. Waktu magrib bentar lagi akan datang menghampiri. Alara dan Alaisa sholat di mushollah cafe. Setelah selesai sholat, Alaisa berencana untuk menutup cafe lebih cepat, karena kondisi cafe yang juga masih kurang memungkinkan untuk dibuka.


Cafe sudah di tutup, semua karyawan udah pulang, sekarang tinggal Alara dan Alaisa lagi di cafe.


"Kita barengan aja baliknya yok La." Ajak Alara.


"Ya barengan lah. Aku pakai motor, dan kamu pakai mobil, kintilin aku dari belakang ya!" Pinta Alaisa.


"Nggak sama aku aja pulangnya La? Motornya masukin aja dulu ke dalam cafe. Besok baru ambil lagi." Kata Alara.


"Nggak masalah Ra. Kamu ikutin aku dari belakang aja. Sama juga kan? Kita tetap pulang bareng." Ucap Alaisa dengan tertawa.


"Ya udah La. Ayok. Keburu tambah malam ini." Ucap Alara.


"Ya neng." Jawab Alaisa sambil mulai mengendarai motornya.


Mereka sudah bersama-sama meninggalkan cafe. Alaisa di depan mobil Alara mengendarai motornya. Dan Alara memantau Alaisa dari belakang.


Ketika dalam perjalanan pulang, dari jauh Alara melihat ada 3 orang yang seperti sedang menanti kedatangan seseorang. Jarak orang itu lumayan dekat dengan Alaisa. Waktu Alaisa sampai pas di depan tiga orang itu, motor Alaisa tiba-tiba langsung bermasalah dan otomatis Alaisa turun, dan lihat, ternyata, ban motor Alaisa kempes.


3 orang itu, menghampiri kendaraan Alaisa dan bertanya pada Alaisa, kenapa dengan motornya. Alaisa ada rasa cemas juga, karena orang-orangnya mencurigakan bangat. Dan jalan yang di lewati Alaisa itu, juga sepi. Jadi suasananya agak mencekam juga jadinya.


"Nggak tahu pak, tiba-tiba ban nya kempes." Jawab Alaisa agak gelisah.


"Oo, ini ma nggak parah dek. Ini kita bisa bantu dorongin ke bengkel dek." Ucap salah satu teman orang itu.


Waktu salah satu teman orang itu sibuk bicara dengan Alaisa, yang dua lainnya mulai bergerak mengelilingi Alaisa. Alaisa mulai panik, ini orang mau ngapain? (Ucap Alaisa dalam hati).


Alara melihat Alaisa dari jauh dikelilingi tiga cowok itu. Jarak mobil Alara dengan motor Alaisa masih lumayan jauh. Jadi Alara langsung tancap gas, untuk cepat sampai dekat Alaisa.


"Mohon maaf pak, kalian mau ngapain?" Tanya Alaisa dengan raut wajah yang udah mulai cemas.


Ketika Alaisa bertanya seperti itu, salah satu preman itu mengeluarkan pisau untuk mengancam Alaisa.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2