
Alaisa dapat telpon dari rumah sakit, kalau ayahnya telah sadar dari koma. Alaisa langsung bergegas menemui ayahnya di rumah sakit.
"Assalamualaikum ayah." Ucap Alaisa sembari langsung memeluk ayahnya.
"Waalaikummussalam Ais." Jawab ayah Alaisa dengan suara yang masih tertahan-tahan. Mungkin efek koma cukup lama, jadi butuh bicara lebih sering lagi. Butuh waktu lagi, untuk kembali normal.
"Ais senang bangat. Ayah, udah siuman." Kata Alaisa dengan gembira.
"Ayah makan dulu ya yah. Ais suapin. Ais udah kangen bangat nyuapin ayah." Ucap Alaisa sembari menyuapi ayahnya.
Alaisa sangat senang dengan kesembuhan ayahnya. Selesai menyuapi ayahnya, dia memijit tangan, kaki ayahnya, dan memotong kuku ayahnya yang sudah mulai panjang lagi.
"Ayah beruntung bangat punya kamu sayang." Ucap ayah Alaisa.
Alaisa tersenyum dengan ucapan ayahnya.
"Sejak nggak ada ibu Ais, Ais selalu perhatian sama ayah. Semua keperluan ayah, Ais yang urusin. Ayah nggak tahu harus apa kalau sampai Ais nggak ada sama ayah saat ini." Sambung ayah Alaisa lagi.
"Ayah nggak boleh bicara begitu. Ada atau tidak ada Ais di hidup ayah, Ais yakin Ayah bakal tetap menjadi ayah yang kuat dan selalu sabar dalam menghadapi segala masalah yang datang di hidup kita. Ais sangat bangga, karena Ais bisa menjadi anak ayah. Ais sangat senang. Karena punya ayah yang sangat sempurna bagi Ais. Ais bisa setegar ini dan sekuat ini, itu semua karena ayah. Ayah berhasil menanamkan pemikiran itu sama Ais. Ais sayang bangat sama ayah." Ucap Alaisa sembari memeluk ayahnya.
Ayah Alaisa terharu dengan yang di ucapkan Alaisa. Alaisa baru ingat sesuatu.
"Ya ampun, Ais lupa buat kabarin Alara, kalau ayah udah siuman. Alara pasti senang bangat yah." Kata Alaisa sembari mengambil handphonenya untuk menelpon Alara.
Alara baru bangun dari tidurnya, dan handphone Alara berdering. Alara mengangkatnya. Alara sangat senang dengan berita kesembuhan ayah Alaisa. Dia langsung siap-siap, kemudian buru-buru ke rumah sakit.
Alara memasuki ruangan ayah Alaisa dan memeluk Alaisa dengan girang, di depan ayah Alaisa.
"Alara senang bangat ayah udah sadar." Ucap Alara sambil sedikit membungkuk dan menyatukan kedua telapak tangannya sendiri, tanda memberi salam sama ayah Alaisa.
"Alara, ayah bangga sama kamu, kamu tetap Istiqomah sampai saat ini. Semoga semakin lebih baik lagi ya sayang." Ucap ayah alaisa dengan haru.
"Amin. Makasih yah. In Syah allah Alara selalu Istiqomah." Jawab Alara dengan senang.
Alara dan ayah Alaisa dari dulu memang sangat dekat. Ayah Alaisa sudah seperti ayah Alara juga. Dari kecil Alara udah sering main ke rumah Alaisa, dan begitu juga sebaliknya. Papa Alara dan ayah Alaisa sudah bersahabat sejak lama. Jadi dua keluarga itu, sudah menjadi satu keluarga bagi Alaisa dan Alara. Mereka sudah seperti saudara yang saling melengkapi satu sama lain.
Alara tidak bisa berlama-lama di rumah sakit. Karena nanti sore dia ada kuliah tambahan. Alara pamit lebih dulu. Selepas Alara pamit, Alaisa kemudian juga mau pamit sebentar sama ayahnya. Alaisa mau lanjut kerja.
Alaisa sampai di tempat kerjanya, di Cafe Shop. Ketika dia sedang asik bekerja, ada seorang pelanggan ingin memesan coffee pada Alaisa.
"Mbak, pesan coffee satu mbak." Ucap pelanggan itu.
Alaisa melihat ke arah pelanggan, dan terkejut. Pelanggan itu pun terkejut melihat Alaisa.
"Shafan." Ucap Alaisa heran.
"Alaisa. " Ucap Shafan juga heran.
"Kamu ngikutin aku sampai sini ya!" Tukas alaisa.
"Nggak. Ini kebetulan sa. Berarti kita benar-benar jodoh." Ucap Shafan sambil tersenyum.
"Kalau nggak niat mesan, cabut aja. Gue sibuk." Kata Alaisa dengan judes.
"Gue niat kok. Gue duduk di bangku sebelah situ ya mbak. Jangan lupa di antar pesanannya ya mbak." Ucap Shafan, dengan berusaha menggoda Alaisa.
Alaisa hanya diam, tanpa menanggapi perkataan Shafan. Pesanan Shafan sudah siap, Alaisa mengantarkannya ke meja Shafan.
__ADS_1
"Terima kasih belahan jiwa ku." Ucap Shafan dengan senyuman.
Sudah lama Alaisa tidak mendengar ucapan itu. Alaisa tiba-tiba salting.
"Apaan si." Kata Alaisa kemudian berlalu pergi, tapi salah jalan. Dan Kembali berbelok kebelakang menuju tempat kasir.
Shafan tertawa puas dengan tingkah Alaisa yang grogi.
Setelah selesai minum, Shafan berlalu pergi. Beberapa menit setelah Shafan pergi, Alaisa juga udah selesai jam kerjanya. Karena udah malam juga.
Alaisa keluar dari cafe, dan terkejut melihat Shafan masih ada di luar cafe.
Alaisa masa bodoh dengan keberadaan Shafan. Dia terus berjalan menuju parkiran tempat motornya di parkir.
"Buru-buru amat mbak?" Sapa Shafan menggoda Alaisa.
Alaisa terus saja berjalan tanpa menjawab pertanyaan Shafan. Alaisa menghidupkan motornya kemudian pergi berlalu begitu saja meninggalkan Shafan.
"Mbak, judes amat. Kenapa main pergi-pergi aja, grogi ya....?" Ledek Shafan sambil berteriak, karena jaraknya dan Alaisa udah semakin jauh.
Shafan senang karena berhasil membuat Alaisa kembali grogi bila di dekatnya. Itu tandanya, Alaisa masih ada rasa sama dia.
****
Diperjalanan pulang dari cafe Alaisa mendapatkan telpon dari Alara. Alaisa berhenti sebentar di pinggir jalan untuk mengangkat telpon dari Alara.
"Hello Ra. Ada apa Ra? tumben Lo nelpon". Ucap Alaisa.
"Lo udah selesai kerja?". Tanya Alara.
"Udah. Ni mau pulang. Kenapa emang Ra?". Tanya Alaisa.
"Umm...(berpikir bentar) ya udah boleh deh. Lagian aku juga nggak ada kegiatan. Mumpung masih jam empat sore juga kan". Kata Alaisa sambil melihat sebentar jam yang melingkar di tangannya.
"Oke. Aku tunggu kamu di rumah ya". Ucap Alara kemudian mematikan telefonannya.
Beberapa menit kemudian Alaisa sudah sampai di rumah Alara.
"Akhirnya sampai juga". Tukas Alara.
Alaisa, Alara dan Syafa langsung berangkat buat jalan-jalan ke Dufan. Mereka sudah sampai.
"Kita mau mulai dari permainan apa?". Tanya Alaisa sambil memperhatikan area di sekitarnya.
"Kita naik Halilintar aja". Ajak Alara. Alara melirik ke arah Syafa dan Syafa mengiyakan ajakan Alara.
"Oke". Ucap Alaisa.
Alara membeli tiket untuk mereka naik Halilintar. Dan sekarang posisinya mereka sudah naik. Halilintar pun sudah mulai dimainkan.
"Uuuu. Kencang bangat. Perut aku terasa keram Ra". Ucap Alaisa je jeritan.
Alara dengan balutan baju serba tertutupnya terlihat dari pancaran matanya di balik Niqab yang ia kenakan tersenyum lebar mendengar sahabatnya panik seperti itu. Sedangkan Alara begitu santai dan tenang di atas permainan Halilintar itu. "Udah la. Nggak bakal kenapa-kenapa kok paling keram bentar doang". Ujar Alara dengan tertawa kecil.
Syafa menutup mata dan menggenggam erat tangan Alara dan Alaisa yang duduk di samping Syafa karena Syafa duduk di tengah-tengah. Syafa juga merasa keram di perutnya. Syafa tersenyum sambil matanya yang masih ditutup.
Alara melihat ke arah Syafa. "Syafa oke?". Tanya Syafa Alara pada Syafa dengan lembut.
__ADS_1
"Syafa oke kak. Cuman keram aja perut Syafa kak". Ucap Syafa sambil tertawa kecil.
Halilintar yang mereka naikin sudah berhenti.
"Akhirnya tuhan. Selesai juga permainan yang membuat aku uring-uringan itu". Ucap Alaisa sambil sedikit membungkuk dengan posisi tangan sedang berada di kedua pahanya untuk menopang badannya yang tertunduk karena tadi dia sedikit merasakan mual efek naik Halilintar itu.
Alara tertawa kecil melihat sahabatnya itu. "Lebay bangat kamu la. Padahal nggak ada apa-apanya". Ledek Alara.
"Sial Lo Ra. Teman apaan tu. Temannya merasa sakit Ee dia mala kesenangan". Grutu Alaisa betek karena alara menertawakannya.
Alara tidak menghiraukan ocehan Alaisa. Ia lebih menghawatirkan syafa. "Dek, kamu nggak papa?". Tanya Alara sambil mengelus-elus lembut pundak Syafa untuk membantu Syafa muntah.
Syafa mengerutkan keningnya dengan ekspresi mual yang terpancar di wajah imut si kecil itu. "Syafa nggak papa kak. Cuman pusing dikit aja. Sekarang udah aman kok kak. Lanjut main yang lain yok kak". Ucap Syafa dengan sudah kembali bersemangat untuk melanjutkan petualangan mereka.
"Oke. Kita lanjut. Kamu masih sanggupkah la? Ucap Alara.
"Oke lanjut. Aku sanggup kok!". Ucap Alaisa dengan bersemangat.
Mereka lanjut naik Bianglala, Ontang Anting, Baku Toki, masuk rumah kaca.
"Kak Ara. Syafa mau main di istana boneka kak". Pinta Syafa.
"Oke boleh dek. Tapi bentar aja ya, kita mau lanjut satu permainan lagi. Habis itu baru pulang. Oke". Ucap Alara lembut.
"Oke kak Ara". Ucap Syafa sambil mulai berjalan masuk istana boneka. Syafa senang bangat karena ia baru pertama kali masuk istana boneka. Ya, walaupun semua permainan yang ia mainkan tadi juga hal pertama bagi Syafa semenjak umurnya sudah memasuki delapan tahun. Waktu masih kecil bangat dan belum masuk sekolah, Syafa juga pernah liburan bersama mamanya ke Dufan. Tapi waktu itu Syafa masih terlalu kecil jadi ingatannya hanya samar-samar.
Sambil menunggu Syafa selesai main di istana boneka, Alaisa dan Alara saling bergurau dan bercerita masa-masa diwaktu mereka masih kecil.
"Ra kamu masih ingat nggak waktu kecil kita pernah kecebur di Empang". Ucap Alaisa sambil tertawa.
"iya-iya benar. Itu salah kamu la. Bawa sepeda masih belum terlalu jago, tapi sok-sok an mau boncengin aku". Ujar Alara sambil tertawa kecil disertai kesalnya jika mengigat kejadian yang kocak dan memalukan itu.
"Hahaha. Ya aku kan juga nggak tahu kalau kita bakalan jatuh dan kecebur dalam empang ". Ujar Alaisa.
"Ya serah deh". Ujar Alara udah malas bahas masalah itu.
Karena Syafa keasikan main di istana boneka, alhasil mereka nggak jadi pengen coba main, Niagara gara.
"Kita nggak jadi aja main Niagara gara nya. Udah pukul setengah enam juga. Kapan-kapan aja lagi. Lagian kita nggak bawa baju ganti". Ucap Alara.
"oke kak Ara". Ujar Syafa.
"Yah. Sayang bangat padahal aku udah pengen mengulang memori kita waktu masih kecil main di Niagara gara itu Ra. Apa lagi aku pengen dorong Lo lagi sampai Lo nyungsep pas udah sampai di ronde terakhir". Ujar Alaisa sambil tertawa.
"Aku kesal kalau ingat itu. Untung aja kita di tanti dengan air pas seluncuran terakhirnya. Kalau nggak, mungkin udah di jahit jidat aku". Gumam Alara kesal.
"Hahaha. Ya maaf. Kan aku nggak sengaja". Ucap Alaisa melakukan pembelaan.
"Ya udah terserah!". Dah pulang". Ucap Alara dengan sedikit ketus.
Alaisa nggak menunjukan rasa bersalah sedikit pun. Ia mala tertawa puas kalau mengigat kejadian waktu itu.
Mereka sudah pulang dan sampai di rumah masing-masing.
Hari ini sangat menyenangkan bagi dua gadis yang di balut dengan ikatan persahabatan itu.
Mereka berdua pun ikut senang melihat tawa dan senyum yang terpancar sewaktu di dufan tadi pada Syafa. Ya walaupun Syafa memang anak yang selalu periang terlepas dari banyak masalah yang menimpah nya. Namun masalah itu tidak berpengaruh pada keceriaan gadis mungil itu. Syafa itu gambaran anak yang sudah kebal dan di dewasakan oleh keadaan nya yang dulu. Jadi badan masih kecil tapi isi otaknya sudah bijak dan berpemikiran sudah dewasa, tidak kayak anak kecil pada umumnya. Syafa anak yang istimewa. Karena hal tersebut Alara sangat menyayangi gadis kecil itu dan begitu juga dengan Alaisa.
__ADS_1
...Bersambung...