
Seorang pria dengan tinggi sekitar 180 cm dengan pakaian rapih baru keluar dari bandara. Dia baru sampai di Indonesia. Dia menunggu seseorang.
"Den Akram." Sapa sopir yang di utus papanya, untuk menjemput Akram di bandara.
"Pak." Akram menyalami sopir itu.
"Pak, boleh mintak tolong....?" Tanya Akram.
"Ya den." Jawab sopir Akram.
"Tolong antar saya ke mesjid terdekat pak. Udah mau masuk waktu magrib pak." Pinta Akram.
"Baik den." Jawab sopir Akram sembari membuka pintu untuk Akram.
Akram sampai di mesjid. Sebelum mengambil wudhu, dia menganti bajunya dulu dengan baju kokok. Baju yang menurut Akram nyaman untuk dipakai sewaktu sholat.
Setelah selesai sholat, Akram menyempatkan diri untuk membaca Al Qur'an dulu sebentar. Kemudian kembali mengganti baju kokoknya dengan baju kaos pakai jaket.
"Pak, bapak pulang duluan aja ya pak." Pinta Akram ke sopirnya.
"Aden mau kemana den....?" Tanya sopir Akram.
"Saya ada kegiatan lain dulu pak. Dan kegiatan ini lumayan lama pak. Jadi bapak pulang aja duluan." Jelas akram sembari tersenyum.
"Baik den." Jawab sopir Akram.
"Biar saya pesan taksi aja buat bapak ya pak." Pinta Akram.
"Nggak usah repot-repot den." Jawab sopir Akram.
"Nggak papa pak. Saya nggak repot." Ucap Akram santai.
Sopir Akram mengucapkan terima kasih. Dan pergi pulang lebih dulu dengan taksi.
Akram juga segera pergi menuju suatu tempat. Akram Sampai di tujuan. Suara langkah kaki berdatangan dengan serempak, disertai teriakan kegirangan.
"Abang Akram!" Panggil anak-anak yang berlarian datang menghampiri dan memeluk Akram dengan gembira.
"Kita kangen sama Abang." Ucap mereka.
"Abang juga." Kata Akram sembari mengusap satu-persatu rambut anak-anak itu dengan lembut.
"Udah. Nanti aja kangen-kangenan nya. Abang Akramnya pasti capek." Kata ibu panti sambil mempersilakan Akram untuk masuk.
Akram dan anak-anak panti lainnya duduk bersama di ruang makan.
"Abang ada oleh-oleh untuk kalian." Ucap Akram sambil tersenyum.
Akram membagikan oleh-olehnya satu-persatu kepada semua anak panti, dibantu sama ibu panti.
"Buk, Akram juga udah beli makanan untuk kita makan bersama disini buk." Ucap Akram pada ibu panti.
"Makasih nak Akram. Nak Akram dari dulu sampai sekarang tetap sama. Tidak pernah berubah." Ucap ibu panti.
"Makanannya masih ada dalam mobil buk. Akram ambil dulu ya buk." Sambung Akram lagi.
__ADS_1
Akram ambil makanannya dalam mobil, dibantu sama penjaga panti dan beberapa anak-anak panti juga.
"Makanannya udah dapat semua kan anak-anak?" Tanya ibu panti.
"Udah buk." Jawab anak-anak serempak.
"Kalau gitu, kita berdoa dulu sebelum makan." Ucap Akram.
"Baca doanya di pimpin sama Thofan ya." Pinta ibu panti pada salah satu anak panti yang umurnya paling besar di antara anak panti yang lain.
"Baik buk." Jawab Thofan.
Thofan memimpin doa, setelah itu mereka makan bersama. Selesai makan, anak-anak bersiap-siap untuk melaksanakan sholat isha. Akram sudah selesai wudhu dan mulai melantukan azan. Setelah selesai azan, Akram di minta sekalian untuk menjadi imam. Karena ustad yang biasa mengajar ngaji anak-anak setiap malamnya, lagi berhalangan datang.
Akram bersedia menjadi imam. Suara Akram membuat gendang telinga serasa ingin tertidur sejenak, karena merdunya ia melantunkan bacaan sholat.
Sholat isha berjemaah, telah selesai dilaksanakan. Karena ustad yang mengajar ngaji anak-anak berhalangan hadir, Akram menyempatkan diri sebentar mengajar anak-anak mengaji. Setelah selesai, Akram pamit pulang ke pada ibu panti dan anak-anak panti.
***
Panti yang di datangi Akram itu bukan sekedar panti biasa bagi Akram. Akram bisa dibilang banyak menghabiskan waktunya dipanti itu. Bagi Akram panti asuhan itu sudah menjadi rumah kedua bagi dirinya.
Awal Akram bisa berada di panti itu karena dulu waktu dia SMP, Akram memutuskan untuk hidup mandiri. Dia ingin juga merasakan bagaimana rasanya hidup susah. Kalau ingin makan harus kerja keras dulu, baru setelah itu bisa makan. Dan untuk merasakan itu, Akram memilih tinggal di panti. Di panti dia membantu segala pekerjaan panti, termasuk bertanggung jawab untuk menjaga anak-anak panti lainnya.
Papa Akram sebenarnya melarang Akram untuk tinggal di panti itu. Tapi karena tekat Akram kuat, akhirnya papanya mengizinkan.
Di panti Akram banyak mendapatkan pelajaran hidup. Sebelumnya dia hanya menerima uang saja dari papanya tanpa merasakan sulitnya mencari uang. Tapi di panti, Akram banyak diberi tanggung jawab. Dia sekolah, bekerja jadi guru ngaji di mesjid dekat panti, menjaga anak-anak panti dan membatu ibu panti setiap hari bersih-bersih. Dari banyaknya pengalaman yang dia dapat di panti, sekarang Akram tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, Ramah, rendah hati kepada siapa pun, sholeh, mandiri dan tidak pernah sombong dengan apapun yang dia punya dan capai sekarang.
Lama Akram tinggal di panti, sampai pada suatu waktu, papa Akram meminta Akram untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Akram menuruti permintaan papanya untuk lanjut sekolah ke luar negeri, tapi ia ingin lanjut sekolah di Turki. Papa Akram mengizinkan dengan syarat disamping Akram ingin memperdalam ilmu agamanya, papanya juga ingin Akram tetap memperdalam ilmu bisnis untuk membantu papanya nanti mengelola bisnis keluarga bersama. Akram menyetujui syarat dari papanya.
****
*****
Selesai berpamitan dengan Alaisa, akram langsung pulang ke rumahnya.
"Assalamualaikum...." Ucap Akram ketika hendak memasuki rumah.
"Waalaikummussalam....." Akram!" Teriak mama Akram kesenangan, sembari berjalan kearah Akram dan memeluknya.
"Ma." Ucap Akram menyalami mamanya kemudian mencium pipi kiri dan kanan mamanya.
"Kok kamu pulang nggak bilang-bilang." Ucap mama Akram
"Akram mau kasih kejutan sama mama." Kata Akram dengan lembut, sembari mengajak mamanya untuk duduk.
"Adek mana ma....?" Tanya Akram.
"Adek kamu paling di kamarnya. Katanya tadi mau siap-siap. Dia mau pergi keluar bentar." Jawab mama akram.
"Mau kemana dia ma....?" Tanya Akram.
"Mama juga kurang tahu. Kamu tanya aja langsung. Dia masih di atas." Jawab mama akram.
"Ya udah ma. Ntar aja itu. Akram ada oleh-oleh untuk mama." Kata Akram dengan tersenyum sembari mengeluarkan kotak dari tasnya.
__ADS_1
"Ini apa nak....? Banyak bangat lapisannya." Tanya mama Akram.
"Buka aja ma." Pinta Akram.
Mama Akram membuka kotaknya, dan sangat senang. Akram membelikan barang yang di inginkan mamanya selama ini. Akram sangat sayang semua anggota keluarganya. Termasuk papanya. Walaupun papa akram itu orangnya keras, tegas dan sibuk dengan urusan bisnisnya, dan sangat mengharuskan anak-anaknya untuk terjun juga ke dunia bisnis agar bisa meneruskan bisnis keluarga. Akram tetap bisa tenang dan sabar menghadapi sikap papanya.
"Akram tinggal bentar ya ma. Akram mau ke kamar si anak kutub dulu." Ucap Akram.
Akram sampai di kamar adeknya.
"Woii...!" Suara Akram mengejutkan adeknya.
"Lo bg. Kapan lo pulang bg." Jawab adeknya dengan tetap bersiap-siap.
"Lo nggak kangen sama gue....?" Tanya Akram sambil mengacak-acak rambut adeknya.
"Lo, kebiasaan. Cari gara-gara mulu." Ucap adeknya kesal karena rambutnya berantakan lagi.
"Gue mau keluar. Nanti aja kangen-kangennya. Gue buru-buru." Sambung adeknya lagi.
"Gue lihat dari dandanan lo, raut wajah lo, lo mau ketemu gebetan ya..?" Tanya Akram menggoda adeknya.
"Salah lo. Udah jadian gue." Jawab adeknya.
"Adek gue sekarang udah gedek aja. Perasaan belum lama gue tinggal. Sekarang si anak kutub ceritanya udah mencari esnya ni....?" Ledek Akram.
"Nggak jelas lo bg." Ucap adeknya sembari tersenyum.
"Walaupun, pacaran bertentangan dengan prinsip gue, tapi gue ngak bisa paksa lo untuk ikut prinsip gue." Ucap Akram.
"Intinya, gue abang lo, Akram Lakasmana, (sambil menunjuk dirinya) ikut bahagia buat adek gue satu-satunya." Ucap akram sambil menepuk pundak Akara.
"Dan satu lagi pesan gue, dengan gue izinin lo pacaran, bukan berarti lo bebas dari pantauan gue. Ingat, jangan sampai lewat batas. Paham....?" Nasehat Akram.
"Iya paham." Jawab Akara dengan wajah malas.
"Gue buru-buru bg. Gue pergi dulu bg." Ucap Akara sembari merangkul Akram sebentar, kemudian berlalu pergi.
Akara pamit sama mamanya sembari mencium tangan mamanya. "Ma, Akara keluar dulu ya ma." Kemudian berjalan dengan buru-buru menuju mobilnya.
Akram pergi ke kamarnya. Dia bersih-bersih kamar, mandi, setelah itu mengajak mamanya, pergi ke taman belakang untuk mencari udara segar. Akram bercerita, dan bercanda dengan mamanya.
"Akram pijitin ya ma." Pinta Akram.
"Boleh. Mama juga udah kangen pijitan kamu." Jawab mama Akram sembari tersenyum.
"Penyakit mama ngak pernah kambuh lagi kan ma....?" Tanya Akram khawatir.
"Alhamdulillah udah nggak." Jawab mama Akram.
"Alhamdulillah." Timpal Akram sembari masih memijit mamanya.
Itu la Akram Lakasmana. Anak pertama dan kakak satu-satunya Akara. Akram memang lama tinggal di panti, tapi walaupun Akram tinggal di panti, dia masih selalu menyempatkan diri untuk pulang meski hanya sebentar, untuk bertemu mama dan Akara.
...Bersambung...
__ADS_1