
"Kang...narti pamit kang...jaga kesehatan akang..."ucap narti pelan pada somat walau matanya terasa panas menahan air mata yang terasa hendak mengalir di kedua sudut matanya, sedangkan somat hanya termangu duduk di kursi sofa ruang tamu yang terasa kaku,sekaku pandangan somat pada narti yang berdiri di dekat pintu keluar rumah mereka malam ini.
"Undaa...ennaapa undaa angishh..."ucap anand,putra bungsu narti dan somat sambil menyentuh kedua pipi bundanya.
"Nggak pa-pa sayang...bunda cuma kelilipan aja sayang..."ucap narti yang terkejut mendengar ucapan anand yang menyentuh pipiku dengan lembut, kemudian narti mengelus pucuk kepala putra bungsunya itu dengan sayang dan anand pun merebahkan kepalanya ke dada ibunya manja.
"Iya undaa..."ucap bocah menggemaskan itu sambil memainkan ujung jilbab bundanya.
"Kita main ke rumah eyang uti,mau nggak sayang?"ucap narti sambil menyentuh pipi chubby bocah yang umurnya memasuki 1 tahun itu.
"Mauu unndaa...acik...ke umah eyang...yayah itut?"ucap anand sambil memandang ayahnya dengan matanya mengerjap lucu.
"Belum sayang,ayah masih sibuk kerja cari duit buat anand... kalau ayah nggak sibuk ayah nyusul ke rumah eyang putri ya sayang..."ucap somat sambil berusaha tersenyum pada putra bungsunya itu.
__ADS_1
"Oce yayah...anand pelgi dulu ya yayah...dadah yayah..."ucap anand sambil melambaikan tangan mungilnya.
"Dadah sayang..."ucap somat memandang anak bungsunya penuh sayang.Narti pun hanya bisa terdiam sambil menahan air mata yang hendak mengalir lagi.
"Narti pamit kang...jaga kesehatan akang... assalamualaikum..."ucap narti lirih.
"Wa'alaikumsalam..."ucap somat lirih.
Dan narti pun berdiri di teras rumah mereka sambil menunggu grabcar yang telah dia telfon satu jam sebelumnya,dia belum menyadari 2 putranya yang lain yaitu janny dan fandy sedang menatap bundanya sendu di jendela kamarnya mereka, menangis sambil berpelukan karena tak rela bunda mereka pergi dari rumah mereka.10 menit kemudian grabcar pesanan narti datang tepat di depannya.
"Permisi bu,benar ini dengan bu narti?"
"Benar pak..."
__ADS_1
"silahkan naik bu,biar saya letakkan tas dan bawaan ibu di bagasi mobil" ucap drivernya ramah.
"Terima kasih ya pak..."ucap narti sambil tersenyum dan memperbaiki kepala mantel yang di pakai anand. Namun narti merasakan sesuatu dan mengalihkan pandangannya pada jendela kamar janny dan fandy dan melihat anak-anaknya memandang dengan pilu dan penuh air mata serta menggelengkan kepala mereka berharap bundanya tak pergi, namun narti tak sanggup untuk bertahan di rumah mereka dan hanya mampu melambaikan tangan pada kedua anaknya yang begitu dikasihi seperti anaknya sendiri dengan hati yang juga tak rela meninggalkan namun hatinya terlalu terluka karena perlakuan somat yang terasa menyakitkan hari ini. Setelah 5 menit kemudian narti melambaikan tangan pada kedua anaknya dan segera menutup pintu mobil dan tak lama mobil jemputan tersebut melaju hingga tak tampak lagi oleh kedua anaknya, sedangkan janny dan fandy masih berpelukan dan bertangisan.
"Aa..."ucap fandy masih sambil menangis.
"Iya de'..."ucap janny sambil mengusap rambut adiknya.
"Kenapa bunda pergi aa..."
"Nggak tau de'...kita telfon as robby ya..."
"Iya aa..."tak lama janny mengunci pintu kamarnya dan mengambil handphone nya kemudian menelfon robby kakak sulung mereka.
__ADS_1