
POV NARTI
Setelah sekian lama waktu berlalu tiba waktunya anak-anak pulang dari sekolah di jemput oleh bang soleh.
"Assalamualaikum bunda..."serempak kedua anakku masuk ke rumah setelah mereka meletakkan sepatu mereka di rak sepatu dekat teras dan mereka segera mencuci tangan di pancuran mini yang terdapat di tepi teras.
"Wa'alaikumsalam sayang...gimana sekolah hari ini..."ku bertanya pada anak-anak ku sambil mereka salim pada ku.
"Alhamdulillah bun, tadi fandy dapat nilai 100 untuk matematika dan ada pr juga bun,nanti insyaallah fandy kerjain..."jawab fandy sambil tersenyum.
"Alhamdulillah nak,yang semangat belajarnya ya sayang.."ku cium kening anakku penuh sayang.
"Iya bun..."jawab fandy.
"Dan aa... gimana hari ini nak?"ku bertanya pada janny.
"Alhamdulillah lancar bun, cuma ada beberapa pr insyaallah nanti aa kerjain,bun..." jawab janny.
"Good boy... ya udah sekarang ganti baju, sholat dan bunda tunggu makan siang ya sayang..."
"Oke bun..."jawab anak-anak ku sambil berlari menuju kamar. Sedangkan pikiranku masih berkecamuk karena kang somat tak jua pulang ke rumah hingga siang ini, apakah tak peduli lagi pada kami, istri dan anak-anaknya di rumah rintihku sedih di dalam hati.
Tak lama anak-anakku turun menghampiri ku di meja makan.
"Bun,ayah mana...kok belum pulang ya bun...
tadi pagi juga nggak ketemu bun..."tanya fandy padaku.
"Mungkin ayah lagi sibuk,nak... namanya juga pengusaha plus selebriti jadi kadang tak tentu waktu... hehehe..."jawabku.
'Iya juga ya bun... hehehe..."jawab fandy sambil tertawa.
"Yuk segera makan nak,biar makanannya tak terlalu dingin..."ucapku sambil mengisi piring anak-anakku dengan nasi dan lauk kesukaan mereka sedangkan anand mengunyah biskuit bayinya dengan senang dan kami menikmati makan siang kami.
Tak lama kang somat masuk ke rumah dan langsung menuju meja makan.
"Hai boy... adek gemes juga...baru makan nih?"tanya somat sambil bercanda pada anak-anak nya.
"Iya yah...ayah udah makan?"tanya janny.
__ADS_1
'Ayah udah makan tadi, terusin ya makannya...ayah mau bersih-bersih dulu...oke boy..."ucap somat pada anak-anaknya tanpa melihat padaku sedikitpun.
"Oke yah..."jawab anak-anak serempak.
Tak lama kami selesai makan siang dan anak-anak sambil menjaga adiknya nonton bersama film kartun di salah satu stasiun tv swasta dan aku pun membersihkan bekas makan kami tadi, kemudian aku pergi ke kamar menemui kang somat yang berada di kamar kami.
Berlahan ku buka pintu kamar,ku lihat kang somat duduk di ranjang memainkan hpnya sambil senyum-senyum, perasaanku tak enak sejak dia mengirim foto bersama perempuan-perempuan tadi.
"Kang..."panggil ku berlahan.
"Apa..."jawabnya singkat tanpa memandang ku sedikitpun dan sikapnya membuat ku sedih.
"Apa akang tak memikirkan perasaanku kang, khawatirnya aku dari semalam akang keluar...kenapa akang tega memperlakukan narti seperti ini,kang... tuduhan akang terlalu pada narti padahal akang tau aktifitas narti setiap hari,siapa teman-teman narti setelah kita menikah..."ucapku sambil menahan air mata yang hendak mengalir di pipi ku.
"Halaahh...bisa saja kan kamu berhubungan lagi dengan teman-teman mu dahulu di belakang ku...tak usah kamu ajari aku tentang pergaulan kalau kamu sendiri tak lebih baik dari ku atau rika..."jawab kang somat ketus padaku hingga tak sanggup lagi aku menahan emosi dan kecewa.
"Sepertinya akang begitu mudah terpengaruh hingga tega menuduhku yang tak ada ku lakukan... baiklah kang, semoga akang puas..."ucap ku sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipiku,dan aku segera keluar kamar menuju ruang tv bersama anak-anak ku untuk sekedar sedikit meredakan sesak di dada ku.
"Bunda,ayah mana?"tanya janny yang duduk di karpet menemani adiknya.
"Ayah sedang istirahat sayang...capek katanya..."ucapku sedikit berbohong.
"Eehh nggak sayang...tadi mata bunda kelilipan... hehehe..."jawabku agar fandy tak khawatir.
"Hehehe...iya juga bun..."jawab fandy menanggapi ku,kami pun menikmati acara kartun sampai ashar.
"Janny, fandy...ayo nak sudah sore, mandi lalu siap-siap bikin tugas ya nak, belajar juga untuk pelajaran besok..."ku ingatkan anak-anak ku untuk persiapan sekolah mereka besok.
"Oke bun...kita ke kamar dulu ya bun..."jawab anak-anak ku sambil mencium pipi adik bungsu mereka.
Aku pun bersiap-siap memandikan anand karena hari sudah sore, sementara bibik membantuku menyiapkan makan malam untuk kami semua, setelah memandikan anand dan memakaikan baju serta bedak beserta minyak telonnya kemudian ku taruh anand di boks bayi karena kang somat pergi ke ruang kerjanya hingga tak bisa ku titipkan anand padanya lalu aku pun membersihkan tubuhku agar lelah yang ku rasa berharap sedikit berkurang,tak lama aku pun selesai dan segera mengambil anand dan kami terbaring di tempat tidur karena sudah mengantuk dan kami pun tertidur lelap hingga jam 6 sore.
Braakkk
Aku terbangun mendengar pintu yang di tutup dengan keras oleh kang somat yang menatap tajam pada ku dan tiba-tiba mendekati ku dalam jarak yang sangat dekat sambil mengatakan hal yang begitu menyakitkan sepanjang ku menikah dengan nya.
"Aku muak melihat mu di sini...dasar perempuan murahan..."ucapnya sinis pada ku.
"Tega kamu kang...tega kamu... begitu rendah kah penilaian mu pada ku kang..."jawabku menahan tangis.Dan tak lama ku dengar janny dan fandy memanggil diri ku dan kang somat.
__ADS_1
"Ayah...bunda...kenapa?"tanya mereka serempak.Lalu ku hapus air mata dan segera membuka pintu.
"Bunda dan ayah tidak apa-apa nak,tadi tak sengaja ayah menutup pintu sedikit keras...maaf ya sayang..."ucapku sambil tersenyum.
"Iya bunda..."jawab mereka serempak dan segera kembali ke kamar mereka.Lalu ku tutup pintu dan berucap pada kang somat.
"Kamu lihat kang,kamu lihat kekhawatiran mereka, tidakkah akang berpikir sebelum bertindak?"
"Halaaaahhh...alasanmu saja..."jawab kang somat menganggap remeh dan itu membuat ku mulai terpancing emosi.Tak sanggup aku terlalu lama menahan sesak di dada ku akhirnya ku bawa anand yang terbangun dan menangis ke kamar kakaknya.
"Aa... liatin adek dulu ya nak,bunda mau siapin untuk makan malam kita... sebentar ya nak..."ucapku pada janny dan fandy.
"Iya bun..."jawab mereka serempak.Aku pun segera ke ruang makan menyiapkan makan malam untuk kami, setelah itu ku hampiri anak-anak di kamar dan kami segera turun untuk makan malam.
Setelah selesai makan malam ku pinta anak-anak ke kamar dan ku sampaikan kalau malam ini aku hendak ke rumah eyang mereka dengan alasan eyang mereka merindukan adek mereka, awalnya mereka ingin ikut namun ku cegah karena besok mereka berdua harus sekolah akhirnya mereka menuruti kata-kata ku,ku pakai alasan seperti itu agar anak-anak ku tak trauma akibat efek masalah antara aku dan kang somat.
Lalu aku segera ke kamar menyiapkan baju-baju ku dan anand serta semua barang milik pribadi ku tanpa membawa pemberian kang somat sama sekali, sedangkan kang somat duduk di ruang tamu tanpa menoleh padaku dan anand yang membuat hatiku begitu pilu.
"Kang, narti pamit kang...jaga diri akang baik-baik..."ucapku sambil menatap sendu kang somat, sedangkan kang somat tak memandang ku sama sekali, hingga tak terasa air mata ku kembali mengalir dan terkejut saat anand putra bungsu ku menyentuh pipi ku.
"Undaa ennaapa angishh..."ucap putra bungsu ku dengan lucu.
"Eehh... nggak pa-pa sayang,cuma kelilipan... hehehe..."ucapku sambil mengelus pucuk kepala putra bungsu ku.
"Iya undaa..."jawab anand sambil merebahkan kepalanya di dada ku.
"Mau main ke rumah eyang sayang?"tanyaku pada anand.
"Auu undaa...acik...,yayah pelgi undaa?"tanya anand sambil menatap ayahnya.
"Ayah belum bisa ikut nak...nanti kalau sudah selesai kerja ayah pasti ayah susul ya nak..."jawab somat sambil tersenyum pada putra bungsunya.
"Iyaa yayah...nand pelgi main dulu ya yayah..."
"Iya sayang...dadahh..."ucap somat sambil melambaikan tangan pada si kecil dan dibalas oleh anand dengan lambaiannya yang menggemaskan.
"Narti pamit kang...jaga kesehatan... assalamualaikum..."dan somat hanya memandang saja dalam diam hingga narti menutup pintu penuh kesedihan.Sedangkan somat berucap lirih sambil mengusap wajah nya.
"Maafkan akang...neng..."ucapnya pilu.
__ADS_1
Sedangkan di luar sana narti sambil memeluk anand menunggu grabcar yang telah di pesannya,10 menit kemudian grabcar pesanan nya datang dan saat narti hendak berangkat terlihat janny dan fandy yang menangis dan memandang narti dari jendela kamar mereka sambil menggeleng berharap bundanya tak pergi namun narti tak bisa untuk bertahan hingga memantapkan hati untuk berangkat dan segera melambaikan tangannya pada anak-anak nya yang membalas melambai hingga mobil pesanan narti tak terlihat lagi di halaman rumah mereka.