
POV SOMAT
"Arrrggghhh...apa yang sudah ku lakukan pada istri ku....aaarrrggghhh..."teriak somat sendirian di ruang pribadinya tak lama setelah narti pulang ke rumah orangtuanya, hari itu mereka bertengkar besar karena somat terpantik emosi setelah mendapati anak perempuannya rika melakukan hal tak terpuji di kamarnya yang berujung pertengkaran somat dan rika yang memilih pergi dari rumah dan tak ada berita sampai sekarang, hingga membuat somat uring-uringan dan mudah terbakar emosi hingga membuat anak-anaknya ketakutan karena tak pernah melihat ayahnya se marah itu,yang lebih parah dia memarahi narti istrinya hanya karena terhasut oleh ucapan rika yang mengatakan narti lah penyebab dia dimarahi oleh somat.Teringat oleh somat pertengkaran mereka semalam hingga hampir menyakiti narti secara fisik dan akhirnya membuat narti lelah, terluka dan menyerah.
"Ayah...sudah yah...tahan emosi ayah, jangan di perturutkan..."ucap narti sambil mengelus punggung somat yang turun naik karena emosi dan menahan tangis.
"Gimana nggak emosi ayah,bun... disayang karena satu-satunya anak gadis yang jadi harapan malah kelakuannya makin nyakitin apa lagi sering komunikasi dengan mantan ayah tirinya itu..."ucap somat sambil duduk di samping istrinya sambil memandang putra bungsunya tertidur nyenyak.Narti pun iba melihat somat terlihat kacau dan letih.
"Tapi kenapa tadi si rika bilang bunda yang salah, kalau memang dia salah wajar bunda nasehatin kan?"tanya somat pada narti.
__ADS_1
"Memang yah, bukankah tugas kita sebagai orang tua mengingatkan dan memberi contoh mana yang baik dan mana yang pantas atau tidak pantas,di antara anak-anak kita hanya rika yang sulit di kasih tau bahkan cenderung melawan terutama ke bunda,yah... mungkin karena bunda bukan ibu kandungnya hingga tak dihargai sama sekali..."ucap narti sambil meneteskan air mata.
"Maafkan ayah bun...selama ini ayah pikir dengan materi semua bisa teratasi ternyata tak semudah yang ayah pikirkan...maaf kalau membuat bunda menderita..."peluk somat.
"Tidak apa-apa ayah,untuk sekarang ayah tenang dulu, besok kita pikirkan lagi solusinya..."ucap narti sambil melangkah ke kamar mandi.
"Iya bun..."jawab somat masih termenung di ranjang mereka.
Terdengar oleh somat suara pesan aplikasi hijau dari hp narti dan somat bingung ada pesan tanpa nama kontak, karena hp narti tak di kunci maka somat bisa membuka aplikasi hijau tersebut dan somat lebih terkejut melihat narti terlihat berfoto berdua dengan seorang pria yang terlihat memeluk narti dari samping, hingga somat kembali emosi sambil menatap foto itu dengan geram apalagi ada kata-kata sayang tertulis di foto itu.Tak lama narti keluar dari kamar mandi dan bingung melihat suaminya yang menatap penuh amarah.
__ADS_1
"Ini siapa..."ucap somat sambil berdiri di depan narti dengan wajah yang tegang karena amarah serta memperlihatkan foto itu.
"Maksud ayah apa...ini nomor siapa...bunda nggak ngerti yah..."ucap narti bingung dan terkejut.
"Jangan sok nggak tau kamu...jujur aja lah..."ujar somat emosi.
"Jujur demi Allah kang...narti nggak tau ini siapa..."jawab narti ketakutan melihat ekspresi somat yang dingin.
"Aku pikir kamu bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anak ku... ternyata kau tak lebih baik dari rika...hahhhh..."ucap somat sinis hingga narti pun matanya mulai memanas menahan air mata.
__ADS_1
"Ternyata benar kata orang-orang kau ini perempuan murahan...hahaha..."ucap somat sambil menunjuk wajah narti jijik.
"Cukup kang...cukup...kamu keterlaluan... tanpa mendengar keterangan dariku akang menuduhku dengan begitu rendah...tak akang pikir bagaimana aku menahan perasaan dan air mata tiap kali akang mengucapkan sumpah serapah pada ku... kemarin-kemarin aku diam berharap akang berubah ternyata akang tetap seperti ini,di waktu akang bersalah pernahkah aku langsung menuduh akang?tidak kan? sekarang tanpa bukti yang jelas bahkan aku tak tau itu kontak siapa akang tega menuduhku sekejam itu...cukup kang...cukup..."ucap narti meluahkan rasa sakitnya penuh air mata.Dan demi menjaga putranya agar tak terjaga narti pun tidur di samping anaknya dan somat pun keluar kamar penuh dengan emosi yang masih meraja.