
POV Rika
Pagi ini sengaja kami semua tak belanja untuk jualan hari ini karena kami hendak bertemu dengan pemilik cafe yang hendak menjual cafe nya pada kami dan letak cafenya tak terlalu jauh dari rumah jadi masih bisa terjangkau jaraknya oleh pelanggan pecel sayur dan nasi uduk buatan sulis, setelah beberes kami segera naik grabcar yang ku pesan menuju cafe tersebut.
Lebih kurang 30 menit kami sampai di cafe yang kami tuju, tempat nya strategis dan menarik serta bangunan nya kokoh dan kuat. Kami pun segera masuk ke dalam cafe,di sana sudah menunggu om tyo pengacara yang juga merupakan teman ayah bersama mas pras sang pemilik cafe ini.
"Assalamualaikum..."serempak kami mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam...ayo duduk bu,rika,sulis dan bayu serta si gadis kecil ini... hehehe..." mas pras mempersilahkan kami duduk di meja yang cukup luas untuk kami semua.
"Rika,apa khabar nak?"sapa om tyo pada ku.
"Alhamdulillah sehat om,om apa khabar?" tanyaku balik.
"Alhamdulillah om sehat, keluarga di jakarta apa khabar... sudah lama tak bertemu ayah mu,nak..."ujar om tyo lagi.
"Alhamdulillah keluarga jakarta baik om..." sahutku sambil tersenyum.
"Pak tyo,rika, semuanya...mari kita selesaikan urusan jual beli cafe agar kita semua sama-sama lega nantinya..." mas pras menyela basa basi kami tadi.
"Eehh iya nak pras, hampir om lupa karena sudah lama tak bertemu rika... hehehe..."ucap om tyo sambil tertawa.
"Gimana om,bisa di mulai?"tanya mas pras.
"Bisa pras, tolong di baca dulu surat-surat nya untuk semua...andai ada yang kurang bisa diperbaiki lagi..."ujar om tyo pada kami semua.Setelah kami baca semua isi perjanjian kami mengangguk menyetujui isi perjanjian tersebut.
"Alhamdulillah... berarti sudah setuju ya semua...?"tanya om tyo.
"Ya om,kami semua setuju..." jawab ku dan mas pras.
"Baiklah, silahkan tanda tangani semua surat-surat ini baik untuk penjual dan pembeli..." seru om tyo pada kami.Kami pun segera menandatangani semua syarat-syarat jual beli hingga selesai semua.
"Oh iya mas, pembayaran nya lewat mobile banking atau cash?"tanya ku pada mas pras.
"transfer aja rika,biar lebih aman..."jawab mas pras sambil tersenyum.
"Oke mas,minta rekening mas ya..."pintaku pada mas pras.
"Oke..."jawab mas pras sambil menyebut kan nama bank dan nomor rekening nya, setelah ku transfer maka selesai lah urusan jual beli cafe yang sekarang jadi milik kami.
"Besok ngurus surat izin usaha temenin rika ya om soalnya rika belum ngerti benar.."pinta ku pada om tyo.
__ADS_1
"Oke,jam berapa kita pergi? biar om jemput kamu sama sulis..."tanya om tyo.
"Jam 10 pagi aja om kalau om nggak sibuk nih..."jawab ku tersenyum.
"Nggak pa-pa kok rika, kebetulan besok om free nggak ada klien atau rapat di kantor om..."ujar om tyo.
"Baik om, makasih ya om udah bantu kami..." ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama rika,mau pulang dulu atau gimana?"tanya om tyo padaku.
"Bagusnya menurut om gimana?kita bawa alat-alat hari ini ke sini atau gimana om?" tanyaku minta pendapat sama om tyo.
"Maaf mas menyela sedikit rika, menurut mas besok aja biar lebih tenang sekalian mas bantu promosi toko online lewat aplikasi hp kamu...gimana?"saran mas pras.
"Alhamdulillah...baik mas,mana yang baik saja..."jawab ku.
"Pras ini insyaallah bisa di percaya,rika... sudah nggak terhitung kerjasama nya sama om..."sela om pras meyakinkanku.
"Baik om... terimakasih..."jawab ku.
"Nah rika,mas pulang dulu ya... kalau ada apa-apa khabari mas..."ujar mas pras padaku.
"Baik mas... terima kasih ya mas..."jawab ku sambil bersalaman sebelum mas pras pergi.
Tak ku sangka yang membawa mobil bukan om tyo tapi anaknya yang sering makan di warung kami,aku dan sulis pun terkejut.
"Kamu kan?"seru kami serempak.
"Hai semua... hehehe..."sapanya sambil nyengir.
"Kamu supirnya om tyo?"tanyaku heran.
"tanya langsung deh sama papa... hahaha..." dia tertawa lepas.
"Dia supir om ya?"tanyaku penasaran.
"Iya sayang... supir dunia akhirat... hehehe..." jawab om tyo cengengesan.
"Om..."aku merajuk karena di ledek mereka berdua.
"Iya...iya...dia rayhan anak om... teman aa roby mu..."jawab om tyo.
__ADS_1
"Bang ray? beneran?"seruku.
"Iya rika,apa khabar... sehat kamu?"tanya bang rayhan sambil melirik ku yang salah tingkah.
"Abang tuh jahat,om..."adu ku pada om tyo pura-pura merajuk.
"Kok jahat kamu bilang de'?"tanya bang rayhan.
"Abis udah lama langganan dagangan kami nggak pernah ngasih tau kalau abang anak om tyo..."jawab ku merengut.
"Maaf de',kalau abang bilang bukan kejutan namanya... hehehe..."jawab bang rayhan sambil tertawa kecil.
Tak terasa 30 menit sudah kami sampai di rumah, setelah kami di antarkan om tyo dan bang rayhan sampai ke rumah mereka langsung pulang karena sudah malam.
"Besok abang jemput ya de'..."seru bang tyo sambil menuju mobil.
"Iya bang,om... hati-hati di jalan..."balasku.
"Assalamualaikum..."seru om tyo dan bang rayhan serempak.
"Wa'alaikumsalam..."jawab kami serempak sebelum masuk rumah.
Setelah masuk rumah kami pun segera bersih-bersih sedangkan sulis menidurkan zahra yang sudah tertidur lelap.Sambil melepaskan lelah kami duduk-duduk di kasur palembang sambil menonton tv dan menikmati cemilan yang kami beli di jalan menuju rumah, tiba-tiba ibu memeluk ku penuh sayang.
"Cah ayu... terima kasih ya nduk atas kebaikan mu ntah bagaimana ibu dan saudara-saudara mu ini membalasnya..."ucap ibu sambil memeluk ku haru.
"Nggak pa-pa bu, hanya ini yang bisa rika lakukan untuk keluarga kita,kita kelola sama-sama bu...kami ingin berusaha membahagiakan ibu..."pelukku haru.
"Semoga Allah selalu memberkahi kita semua..."ucap ibu.
"Aamiin ya Allah..."jawab kami serempak.
Tiba-tiba sulis menggodaku dengan membicarakan tentang bang rayhan.
"Ayah zahra..."panggil sulis manja pada mas bayu.
"Kenapa ibu zahra..."lirik mas bayu sambil mengedipkan matanya menggoda pada sulis.
"Tadi ada yang ngambek tuh yah... hehehe..."goda sulis sambil melirik ku.
"Iya ya ibu zahra,tadi ada yang ngambek... hahaha..."goda mas bayu bikin aku tambah malu membuatku pura-pura merajuk pada ibu.
__ADS_1
"Ibu...."kata ku dengan mata di kedip-kedip memeluk ibu.
"Ibu...."seru sulis pula sambil memeluk ibu, mas bayu tak mampu menahan tawa akhirnya tawanya meledak hingga kami tertawa bersama.