Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Prolog


__ADS_3

...Narendra Arasya...


"Kamu pembunuh!"


"Jadi anak gak tau malu!"


"Buat nama keluarga jadi jelek aja!"


"Gak punya akhlak lo!"


"Manusia biadab, gak pantes hidup lo!"


"Seharusnya mati aja, gak guna!"


"ARRGHH" suara teriakan laki-laki itu terbangun dari tidurnya


"Aku bukan pembunuh, Aku gak salah!" teriaknya dengan deru nafas masih tersengal-sengal. Namun, tak ada yang mampu mendengarnya karena ruangan kamar yang begitu luas mampu meredam suaranya.


"kenapa lagi?" ucapnya dengan suara parau sambil mengusap wajahnya yang tengah kacau.


Arasya melihat jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul enam pagi hari, hari telah berganti pagi. Hari yang tidak menyenangkan seperti biasanya, hari yang tidak ingin dilewati oleh laki-laki yang hampir menyerah oleh kerasnya dunia bahkan keluarganya sendiri, menjalani harinya seperti tidak ada masalah yang terjadi. Berpikir semua akan baik-baik saja jika dia tetap tersenyum dan mengabaikan perkataan orang yang menyakiti hatinya, yaa Arasya mampu melakukannya.


Arasya bangkit dari ranjangnya kemudian mandi dan mengambil pakaian putih abu-abu yang tergantung didalam lemarinya, dia bersiap untuk pergi ke sekolah.


Arasya memang anak yang mandiri, tak ada seseorang yang membangunkannya di pagi hari, bahkan tidak ada yang perduli dirinya masih hidup atau mati. Dia tidak seperti laki-laki lain yang membutuhkan mamanya untuk menjadi alarm pagi. Arasya akan terbangun dengan sendirinya, terbangun karena mimpi-mimpi buruknya yang selalu datang tanpa perintah. Arasya tidak tahu mengapa mimpi itu selalu datang kepadanya, dia tidak tahu salah apa yang pernah ia perbuat, kamu tahu?

__ADS_1


Sebenernya Arasya sangat ingin dibangunkan mamanya di pagi hari, Arasya juga ingin mamanya memintanya untuk makan agar tidak sakit namun itu semua hanyalah imajinasinya. Bagi Arasya ada masakan mamanya di meja makan saja sudah cukup baginya, meskipun sebenarnya itu bukan untuknya tetapi untuk papa dan saudaranya.


Setelah selesai membereskan diri, dia segera berjalan dengan langkah gontai seperti kehilangan setengah nyawanya, dia turun dari lantai dua menuju meja makan berharap ia diterima lagi oleh keluarganya dan mulai kehidupan yang lebih baik lagi.


Baru saja turun dari tangga dia sudah disambut tatapan sinis dari kedua orang tuanya.


"Pagi pa..ma.." Sapanya dengan senyuman penuh harapan sembari mengambil tempat duduk di meja makan. Namun kedua orang tuanya masih tetap mengabaikannya.


"Ma anak kita mana ini, udah hampir jam tujuh lho nanti sekolahnya telat dan papa juga ada meeting pagi" seru Bimo papanya, menjauh dari meja makan tanpa memperdulikan Arasya.


"Iya paa" Jawab Maria istrinya sembari membenarkan dasi suaminya itu "Mama samperin dia sekarang" ia berjalan kelantai dua menuju kamar anak tercinta mereka.


Arsya yang sedari tadi menunggu sapaan dari kedua orangtuanya hanya diam dan tersenyum, bukan senyum bahagia melainkan senyuman getir yang dirasakannya.


"Aku udah siap pa" ucap putra kesayangannya yang baru turun beriringan mamanya dari lantai atas menuju papanya.


Motor Arasya sedang rusak dan sekarang ada di bengkel, jadi dia tidak ada kendaraan untuk pergi ke sekolah, uang sakunya saja gak cukup buat bayar taksi.


"Apa kamu bilang? bareng? Gak tau syukur kamu, masih mending saya kasih kamu makan!!!" sentak Bimo pada Arasya lalu pergi keluar rumah.


"Jangan harap!" ucap saudaranya kepada Arasya dengan smirk penuh kemenangan.


Keadaan berubah hening, hanya terdengar suara mobil papanya dari depan menjauh dari rumahnya dan suara langkah kaki mamanya pergi meninggalkannya juga.


Seharusnya ia tahu bahwa usahanya itu tidak akan pernah mengubah hati orang tuanya yang seperti batu, percuma saja ia melakukannya, tetapi ia sudah terlalu kuat untuk menerima perlakuan seperti itu dari keluarganya.

__ADS_1


...***...


...Zhefanya Clarisse Gabriella...


Pagi yang cerah untuk memulai hari yang baru, namun masih tetap dengan kenangan lama. Kenangan yang masih membekas sekian tahun lamanya. Kembali ketempat yang membuat sakit seperti membuka luka lama, tapi itu harus dilewati oleh Zhefanya dan mamanya.


"Ma kita beneran pergi ke Bandung? Gak ada tempat lain apa?" kata Zhefanya berdecak sebal mendapati keputusan mamanya pergi ke Bandung, dia turun dari ranjangnya dengan mulut yang masih ngedumel menuju mamanya yang sedang duduk di kursi kamarnya.


"Iya sayang, mama harus pindah. Soalnya mama pindah tugas lagi" jelas mamanya dengan nada lembut.


"Kalo kamu mau tetep disini ya nggak papa, ada bibi yang jagain kamu juga" mamanya memeluk dengan mengelus surai lembut Zhefanya.


"Tapi harus Bandung gitu" gerutu Zhefanya lagi dan melepaskan pelukan mamanya.


"Gak papa ya sayang" kata mamanya lagi.


Sementara Zhefanya yang masih berkutat dengan pikirannya dan ketidak inginannya untuk pergi ke Bandung, menyakinkan dirinya sendiri untuk ikut mamanya dan tidak egois karena mamanya pasti membutuhkannya, dia juga tidak ingin mamanya di Bandung sendirian, dia ingin melewati semuanya bersama mamanya.


"Ya udah deh aku ikut mama" Mamanya tersenyum memandangi anak gadisnya itu.


"Sekarang beresin koper kamu, nanti di Bandung kamu bakal sekolah di sana juga, mama bakal daftarin kamu" mamanya berjalan ke pintu kamar untuk pergi meninggalkan putrinya membereskan baju-bajunya.


"Siap boss" Zhefanya menaikkan tangan kanannya keatas memperagakan orang yang sedang hormat.Mamanya hanya tertawa kecil dan pergi ke kamarnya.


Lucu sepertinya ketika membicarakan sifat Zhefanya yang seperti masih kekanak-kanakan, dia sangat manja kepada mamanya tetapi terlihat jutek didepan orang lain.

__ADS_1


Wajahnya yang terkadang datar dan sinis tak kenal tempat justru membuat pesona tersendiri untuknya.


...***...


__ADS_2