
Lelah sekali yang dirasakan Zhefanya setelah berjam-jam berpura-pura menjadi pacar Samuel dan harus meladeni bualan-bualan yang terdengar mengerikan di telinganya.
"Enak kan jadi pacar gue?" Samuel mengejutkan Zhefanya yang berdiri sendirian di depan rumahnya.
"Pura-pura!" Tegas Zhefanya, enak saja dia ingin mengaku-ngaku lagi.
"Hp gue mana?" Tangan Zhefanya menengadah di depan Samuel.
Samuel menyerahkan ponsel yang sudah dia ambil dari dalam rumah "Nih"
"Kok lo matiin sih!" Merasa tidak terima Samuel berlaku seenaknya tapi merasa persoalan itu hal sepele, Zhefanya hanya mendengus kesal.
"Biar gak ada yang ganggu"
Ponsel Zhefanya telah hidup, oh iya dia sampai terlupa, bagaiman dengan Arasya yang tadi menelponnya, dia merasa bersalah pada laki-laki itu.
"Gara-gara lo gue gak bisa balas chat Arasya!"
Siapa tadi, siapa? Seperti itulah mungkin yang ada di pikirannya Samuel yang terlihat dari raut wajahnya.
"Lo ngapain sih ngurusin anak itu?!" Samuel merasa kesal, lagi-lagi posisinya tergantikan oleh Arasya, selalu seperti itu.
Tak ada Jawaban ataupun ucapan yang terlontar dari mulut Zhefanya membuat Samuel geram.
"Zhe" Panggil Samuel tak dapat tanggalan, lawan bicaranya malah sibuk dengan ponselnya.
"Zhe" Panggilnya lagi, dan masih sama.
"Zhefanya!" Untuk ketiga kalinya Samuel memanggil, kali ini bukan berteriak namun tegas, capek juga dia dicuekin.
"Zhe lo tau gak sih gue suka sama lo?" Kali ini Samuel berucap datar namun ucapannya nampak tulus, susah sekali membuka hati Zhefanya.
"Dan gue gak suka sama lo karena lo suka sama gue" Ucap Zhefanya belibet namun masih bisa di cerna.
"Kalau Arasya?" Saat ini Samuel sedang cemburu, tapi cukup dilema karena tidak ada hubungannya yang mengikat mereka.
"Gak tahu" Zhefanya mengedikkan bahunya, memandang datar wajah Samuel.
"Zhe, bisa gak sih lo ngehargain gue dikit" Samuel berucap sendu, Zhefanya yang memang notabennya tidak suka cinta-cintaan ya harus gimana lagi? dia kan harus jujur dengan perasaannya.
"Apa yang perlu gue hargain, usaha apa yang udah lo lakuin? Paksa gue buat jadi pacar lo? Tingkah lo yang semena-mena sama gue? Bohongin gue? Itu usaha lo? keren sih" Zhefanya tertawa pelan, tawa miris setelah mengakhiri kalimatnya.
"Karena lo gak pernah ngasih gue kesempatan, lo lebih pentingin cowok gak guna itu" Jawabnya membela diri, Zhefanya tahu siapa cowok tak berguna maksud Samuel, itu Arasya, dan dia tidak suka mendengarnya.
"Gak guna?"
"Iya, emang dia gak berguna, jadi buat apa po perduli sama dia? Sampai-sampai lo bawain bekal makan siang, gue tau Zhe"
__ADS_1
Sebenarnya dia ini siapa sih, semuanya aja tau dan itu membuat Zhefanya merasa risih, dirinya seperti diintai seorang penguntit.
"Itu kan urusan gue"
"Kalau gitu gue juga berhak gak suka kan? Itu juga urusan gue"
"Terserah, ribet lo jadi cowok!"
"Gue gak akan seribet ini kalau ceweknya bukan lo"
Tak perduli lagi dengan Samuel, Zhefanya beralih ke ponselnya, melihat room chatnya dengan Arasya, laki-laki itu sama sekali belum membaca pesannya.
Karena khawatir, alhasil dia menelponnya.
Tuttt...tuttt.tutt....
"Sya!" Gadis itu kepalang semangat memanggil nama sosok di seberang sana saat telepon mereka tersambung.
Tak ada jawaban, yang ada hanya deru nafas yang tidak teratur, suara lemah itu mampu membuat Zhefanya seperti di jatuhi gemuruh bebatuan.
Jangan tanyakan bagaimana Samuel sekarang, laki-laki itu diam-diam mengepalkan tangannya.
"To-long Zhe, sakit"
Deg, Zhefanya sangat terkejut, apakah dia baik-baik saja? Itu yang ada dipikirannya.
"Arasya lo kenapa?" Ujar Zhefanya khawatir.
"S-sakit Zhe" Rengekan itu kembali terdengar, biasanya Arasya akan menutup-nutupi rasa sakitnya tetapi kali ini tidak, berarti dia memang benar kesakitan. Bukan maksudnya tak percaya hanya saja dia sehabis di bohongi Samuel, jadi dia hanya waspada, walaupun tahu Arasya mungkin tidak seperti Samuel.
"Gue kesana sekarang!"
Zhefanya melirik Samuel sebentar lalu meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
Saat melihat Zhefanya pergi, baru Zein menghampiri Samuel.
"Gak lo anter?" Sebaiknya sih memang seperti itu, ini sudah malam.
"Gak perlu" Mendengar jawaban sok tak perduli dari Samuel membuatnya mengerutkan keningnya.
"Lo beneran suka sama dia?"
Yang menjadi tanda tanya bagi Zein, sosok laki-laki seperti Samuel yang suka gonta-ganti pasangan apa mungkin dia benar-benar suka dengan Zhefanya terlebih harus saingan dengan Arasya, seperti bukan levelnya saja.
"Menurut lo?" Laki-laki kembali bertanya pada sang empu, apakah perasaan yang dia miliki tidak terlihat oleh sikapnya?
***
__ADS_1
Zhefanya sampai di sebuah gedung tua, sangat gelap, dia sendiri takut jika harus masuk dan menelusurinya, tapi jika dia tidak masuk bagaimana nasib Arasya di dalam sana, dia dibuat dilema.
Ohh santai saja, itu pikirnya, toh masih ada taksi yang menunggunya.
Zhefanya memberanikan diri masuk ke dalam gedung itu hanya bermodalkan senter di handphonenya.
"Sya" Panggil Zhefanya menyoroti ruangan yang dilewatinya, taka ada sautan dari siapapun.
Zhefanya semakin was-was saat dia semakin masuk ke dalam, tentunya semakin gelap ruangan.
"Arasya" Panggilnya lagi.
Buughh..
Mendengar sesuatu yang jatuh di dekatnya, refleks membuatnya berjongkok sembari berkata "Lo dimana si sya?" Dialognya pada dirinya sendiri.
"Zhe" Seseorang memanggil namanya dengan lirih, bahkan hampir tak berbunyi.
"Itu lo Sya!" Zhefanya merasa senang, akhirnya dia menemukan lelaki itu.
"Akhh" Suara rintihan Arasya kembali terdengar.
Zhefanya menyusuri dari mana asal suara itu dan itu dan....
Cekelekk
Pintu terbuka sorot senter menangkap sosok yang terbaring lemah, Zhefanya kemudian mendekat.
"Arasya lo kenapa?" Wajahnya terlihat sangat panik, bagaimana tidak jika saat ini laki-laki yang di depannya tergeletak tak berdaya, darah mengalir di sudut bibirnya, lebam yang sudah membiru terlihat di wajah dan seluruh tubuhnya, darah segar juga tercium dari balik baju Arasya, perutnya robek seperti terkena sebuah goresan benda tajam.
"Shh" Arasya meringis kesakitan saat tangan Zhefanya menyentuh pipinya.
Tak tega dengan kondisi Arasya Zhefanya langsung mendudukkan Arasya mengalungkan satu tangan Arasya ke pundaknya sedangkan tangan Arasya yang lain untuk menutupi perutnya yang luka.
Sebisa mungkin Arasya tak merasakan rasa sakitnya.
"Tahan bentar ya Sya"
Mereka berjalan keluar gedung tua itu dengan sangat hati-hati.
Zhefanya membawa masuk Arasya ke dalam taksi, betapa terkejutnya supir yang melihat mereka berdua masuk, lebih tepatnya terkejut melihat Arasya.
"Loh ini kenapa?" Tanyanya ikut panik.
"Ke rumah sakit terdekat ya pak"
Perintah Zhefanya, pak supir langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1