
Tuut...tuut..tuttt...
Zhefanya menunggu seseorang mengangkat teleponnya, bibir monyongnya muncul ketika orang yang ditelponnya berada dipanggilan lain, Zhefanya terus menerus menelpon hingga sambungannya tersambung.
"Ada apa Zhe, kok sampe nelpon berkali-kali?" Ucap Nirina setelah tersambung.
"Ririi ayo kita jalan, lagi bete gue, lo harus mau gaada penolakan pokoknya lo harus ikut gue" Zhefanya menelpon Riri selepas ia mandi, sepertinya otaknya butuh refreshing.
"Eh buset, lo nelpon gue sampe 43 kali cuma mau ngajak gue jalan doang" Hembusan nafas Riri mampu terdengar Zhefanya.
"Mau ya Riri" Bujuk Zhefanya dengan nada sedih.
"Yaudah deh iya, lo yang jemout gue kan?"
"Enggak, lo yang harus jemput gue"
"Riri mau yaa pleasee"
"Lo tuh emang nyusahin ya, beban" Ucap Riri kesal.
"Riri kok gituu" Ucap Zhefanya menangis dibuat-buat.
"Iya okay gue jemput lo"
"Makasih Riri muach" Zhefanya mencium ponselnya.
"Iuuh jijik"
...***...
"Sam kok lo bisa ditampar sama Zhefanya si?" Tanya Leo.
Sekarang Samuel and the geng berada di basecamp yang biasa ditempati mereka untuk nongkrong.
"Sakit bangeet" Ucap Rendra memegang pipinya sendiri.
"Eh goblok gara-gara lo nyet" Leo merasa jijik dengan Ucapan Rendra sok manja, Leo aja jijik gimana dengan Samuel yang dia ejek. Rendra cengar-cengir melihat Samuel yang sudah siaga menerkam temannya yang sudah gila itu.
"Gara-gara lo dia gak jadi.." Sambung Al.
"Ga jadi apa?" Zein penasaran.
"Ga jadi muach muach" Al memonyongkan kedua tangannya dan mengetuk-ngetuk keduanya saling bertemu. Melihat tingkah Al yang gila membuat teman-temannya tertawa tak henti-hentinya.
"Sialan lo!" Samuel sudah kesal dengan tingkah mereka.
"Baru kali ini Samuel ditampar cewek broo" Leo terheran.
"Ntar juga luluh" Smirk Samuel.
"Nyerah aja Sam" Zein menanggapi obrolan mereka.
"Gak ada kata nyerah dikamus gue, belum ada sebulan kali" Balas Samuel.
"Kayaknya otak Zhefanya udah kecuci sama Arasya, gue beberapa kali lihat mereka berdua" Leo menatap Samuel serius, situasi berubah menjadi serius tapi tidak dengan Rendra, dia nalah enak nyemilin makanan.
Tangan Samuel terkepal, dia langsung melihat kearah Zein saat Leo bilang Arasya.
"Jangan ngelakuin hal gila" peringat Zein, suasana menghening.
"Gue kira gue yang paling goblok, ternyata masih ada Samuel yang lebih goblok" Ucap Rendra memecah keheningan.
Samuel yang mendengar perkataan Rendra langsung meninju lengannya hingga sang empunya meringis kesakitan.
... ***...
Zhefanya sudah menunggu kedatangan Riri menjemputnya, dia menunggu didepan rumahnya beberapa menit yang lalu.
Tiiiiiiinnnn...
Riri sengaja mengklakson mobilnya untuk mengejutkan Zhefanya dan rencananya berjalan mulus, Zhefanya terlonjak kaget saat dia sedang sibuk main ponselnya.
"Lo Riri beneran kan? bukan siluman babi kan?" Zhefanya sengaja mengolok-olok sebagai pembalasan dendamnya.
"Heh beban, pulang nih gue" Ucap Riri didalam mobil, dia berbicara lewat kaca jendela yang sudah dia buka.
"Iih ngambek" Zhefanya masuk mobil Riri.
"Baju lo gitu amat, malu-maluin gue ih, kayak gembel" Riri melihat outfit yang dikenakan Zhefanya sedikit aneh, dia memakai hoody yang terdapat robekan-robekan kecil karena memang modelnya.
"Emang kenapa?" Zhefanya mengeluarkan kartu kreditnya dan mengibas-ibaskan di depan Riri.
"Eh nggak, lo keren kok" Riri berubah pikiran karena uangnya.
Riri menancap gas dengan kecepatan normal.
"Kita kemana?"
"Mall"
__ADS_1
Mendengar kata mall Riri langsung menancap gasnya menambah kecepatan, dia seperti kesetanan karena mall.
Beberapa menit mereka dijalan akhirnya mereka sampai di mall yang menjual berbagai kebutuhan khusus untuk perempuan.
Mata mereka berbinar melihat begitu banyak baju yang cantik, alat make up dan lainnya.
Zhefanya mencium aroma harumnya tempat Surganya para wanita.
Mereka segera masuk dan memilih milih pakaian yang mereka suka.
"Kalo kok gini sering-sering gak mood ya Zhe, gue jadi babu lo semalem aja rela gue"
Zhefanya tak memperdulikan perkataan Riri, dia sibuk mencoba sampel make up yang ada didepannya.
"Ri ini cocok gak?" Zhefanya menunjukkan lipstik yang sudah dioleskan di bibirnya.
"Cocok kok"
Mereka mengitari seluruh ruangan tanpa lelah, mereka terus mencari barang-barang yang mereka inginkan hingga waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, memang susah jika wanita didalam mall, semalaman juga akan betah.
"Ri udah belom, gue mau bayar" Zhefanya melirik Riri yang sedang mencari baju.
"Iya entar" Riri memilih baju terakhirnya dan langsung menghampiri Zhefanya.
Mereka menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka, mereka benar-benar belanja banyak hari ini.
"Berapa mbak?" Tanya Zhefanya pada kasir.
"Lima juta delapan ratus"
Zhefanya menyerahkan kartu kreditnya, setelah membayar mereka langsung pergi dengan hati yang begitu riangnya.
"Makasih Zhefanya cantiik"
"Ada maunya aja lo bilang gue cantik, siluman babi"
...***...
Zhefanya dan Riri sedang dalam perjalanan pulang, mereka masih berbincang-bincang tentang mall yang baru saja mereka kunjungi.
"Eh..ehh..kok lo berhenti?!" Tanya Zhefanya ketika Riri meminggirkan mobilnya.
"Ntar" Jawab Riri keluar dari mobil.
Riri kedepan melihat ban mobilnya
"Bannya bocor" Riri menghempaskan tubuhnya keudara.
"Yaah gimana dong" Keluar dari mobil dan menghampiri Riri.
"Kayaknya disini ada bengkel deh"
"Kesananya gimana dong?" Tanya Zhefanya bingung.
"Naik pesawat aja" Ucap Riri diangguki Zhefanya polos.
"Gini nih kalo otak udah kecil malah dikasih makan ayam, ya goblok" Umpat Riri.
"Ayok naik!" Riri membuka pintu mobilnya.
"Lha katanya bocor?" Zhefanya bingung.
"Tinggal deket aja zhe! Cepetan napa, mumpung bannya gak terlalu kempes!" Riri kesal dengan sikap Zhefanya yang tiba-tiba lemot.
"Gini nih kalo goblok dipelihara" Riri menutup pintu mobil.
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai didepan bengkel yang sudah terlihat sepi. Riri kemudian memarkirkan mobilnya.
"Bang bannya bocor, bisa langsung diperbaiki kan?" Riri sedang berbicara dengan salah satu montir.
"Tapi entar lagi bengkelnya tutup" Kata Montir kepada Riri.
"Tolongin dong please" Ucap Riri memohon.
Zhefanya yang baru saja keluar dari mobil terlihat bingung melihat mereka.
"Benerin aja" Kata seseorang yang datang dari dalam ruangan Bengkel sontak membuat ketiganya menengok.
Montir itu langsung mengangguk menuruti perintah bosnya.
"Kalian tunggu aja disana" Katanya menunjuk bangku kosong.
"Makasih" Ucap Riri kemudian duduk dibangku yang diikuti Zhefanya.
"Arasya!" Zhefanya terkejut melihat Arasya yang datang dari dalam mobil, Riri pun mengikuti arah pandangan Zhefanya, Kemudian Arasya menghampiri Zhefanya.
Mereka sekarang ada di bengkel milik bang Damar.
"Kok lo ada disini?" Tanya Zhefanya saat Arasya duduk disampingnya.
__ADS_1
"Lo kenal?" Bisik Riri.
"Temen gue" Jawab Zhefanya.
"Seharusnya aku yang tanya kenapa kamu diluar malam-malam gini?"
"Iya, tadi abis shopping eh ban mobilnya malah bocor" Jelas Zhefanya mengerucutkan bibirnya.
Arasya terkikik kecil melihat wajah Zhefanya yang menurutnya lucu.
Kriiing......
"Eh gue angkat telpon dulu ya" Riri berdiri dan menjauh dari mereka berdua.
"Lah lo ngapain disini?" Tanya Zhefanya balik.
"Aku kerja, udah ganti baju soalnya mau pulang" Zhefanya mengangguk mendengar penjelasan Arasya.
"Ooh, jadi kemarin emang bener dia" Batin Zhefanya mengingat kejadian saat dia tidak sengaja melihat Arasya di bengkel.
"Zhe nyokap gue sakit, gue harus pulang sekarang, gimana ya?" Ucap Riri panik saat selesai menerima panggilan telepon.
"Sakit apa?" Tanya Zhefanya ikut cemas.
"Ga tau, tapi gue harus cepet pulang"
"Ada apa?" Tanya Bang Damar saat melihat wajah Riri cemas.
"Emm masih lama gak?" Tanya Riri pada Bang Damar.
"Masih si"
"Mobilnya boleh gue tinggal dulu gak?" Riri memohon.
"Boleh-boleh aja" Jawab bang Damar dengan senang hati.
"Zhe lo pulang sendiri gak papa kan?" Riri memandang Zhefanya.
"Gue gapapa kok, tapi lo juga sendiri" Zhefanya khawatir juga dengan Riri.
"Gue anterin?" Tawar bang Damar, Riri terdiam melihat orang asing yang baru dikenalnya.
"Gue Damar, ini bengkel gue kalo sampe gue macem-macem sama lo, lo bisa kesini" Riri bingung dengan keputusan yang akan diambilnya.
Zhefanya melihat kearah Arasya yang sedari tadi diam, dia memandang arasya seolah ingin meminta penjelasan.
"Gapapa, dia orang baik" Arasya tersenyum melihat Riri.
"Emangnya gak ngrepotin?" Tanya Riri tak enak hati.
"Santai aja kali" Bang Damar mengambil motonya dan memasangkan helm dikepalanya.
"Lo gimana?"
"Gampang gue mah, sampein semoga cepet sembuh ya Ri" Riri hanya mengangguk.
"Ayo naik" Riri langsung naik keatas motor mengarahkan Damar kearah Rumahnya.
Arasya meninggalkan Zhefanya yang sedang mencari taksi dipinggir jalan, dia membereskan barangnya kedalam tas lalu menghidupkan motonya yang masih terparkir diparkiran bengkel.
Zhefanya sebenarnya sedikit takut tapi dia tidak mau meminta Arasya mengantarnya pulang, gengsi rupanya.
"Aku anter kamu pulang Zhe" Zhefanya reflek menoleh kesamping saat Arasya sudah disampingnya.
"Gue bisa sendiri kok" Zhefanya bukan bermaksud menolak, tapi hanya saja dia tidak mau merepotkan orang lain.
"Sudah malam, gak baik" Zhefanya tau itu, dia menimang nimang dan akhirnya mengangguk.
Arasya mengantarkan Zhefanya kerumahnya.
"Makasih Sya" Ucap Zhefanya saat sudah sampai didepan gerbang rumahnya lalu diangguki sang empunya.
"Emm Sya" Zhefanya menghentikan Arasya yang akan pergi.
"Iya?" Arasya mematikan motornya yang menyala.
"Emm" Zhefanya ragu untuk mengatakannya.
"Apa Zhe?" Arasya penasaran.
"Emm Ajarin gue matematika, lo kan tadi dapet nilai bagus, gue ga tau lagi mau minta ajarin siapa" Ucap Zhefanya sedikit memohon.
"Segitu susahnya ya ngomongnya?" Arasya menertawai Zhefanya.
"Gue takut ganggu lo"
"Aku gak ngerasa keganggu kok"
"Makasih ya Sya"
__ADS_1