
"Arasya lo ngapain!?" Zhefanya terkejut ketika melihat Arasya berdiri di atas kasurnya dengan memegang guling, memasang ancang-ancang seperti siap berperang.
"Takut, jangan di sana Zhe!" Zhefanya yang hanay diam di ambang pintu merasa bingung dengan anak itu, sepertinya tidak ada hal yang menakutkan di kamarnya.
Zhefanya mendekat ke arah Arasya lalu berkata "Takut apaan sih?"
"Itu tikus!" Arasya masih tidak bergerak dari tempat sebelumnya.
Mendengar pernyataan Arasya, Rasanya Zhefanya sangat ingin mengejek habis-habisan "Lah seriusan lo takut tikus" Tawa yang dia tahan sedari tadi akhirnya lepas juga, melihat Arasya yang ketakutan karena tikus membuatnya tertawa terbahak-bahak.
Zhefanya menetralkan tawanya lalu duduk di pinggir kasur itu "Udah pergi tuh tikusnya, ngapain si loh takut tikus, gedean lo juga"
Setelah kejadian itu Arasya jadi malu sendiri, tapi setidaknya dia melihat bagaimana cara gadis cantik itu tertawa lepas, sangat cantik.
Arasya ikut duduk di samping Zhefanya, sangat canggung diantara mereka, hingga beberapa waktu tak ada percakapan.
Setelah menyadari hanya ada mereka berdua, raut wajah mereka berubah panik, mereka merutuki dirinya sendiri, kecanggungan semakin menjadi-jadi.
"A-aku keluar dulu" Arasya yang salah tingkah terlihat kaku saat berjalan keluar kamar, Zhefanya menyadari hal itu.
Zhefanya tak berani langsung keluar, dirinya buruh sendiri untuk beberapa saat, dia juga merasa malu asal masuk ke kamar laki-laki.
Mata Zhefanya mengedar di setiap sudut ruangan yang rapi itu hingga berhenti di satu objek, benda kecil yang tergeletak di atas laci.
Zhefanya menghampiri laci itu, tetapi kemudian dia menemukan suatu hal yang menurutnya lucu, dia mengambilnya dan dibawa menemui Arasya.
"Arasya" Panggil Zhefanya, Arasya pun menoleh ke sumber suara itu
"Sya gigi lo ompong" Zhefanya tertawa sendiri sedangkan lawan bicaranya mati-matian menahan malu.
"Sudah ah aku malu" Arasya ingin merampas foto itu tetapi Zhefanya mengelaknya sembari menatap fotonya.
"Ngapain malu, lucu tau" Zhefanya tertawa.
"Tuh kan malah ketawa!"
"Abisnya lucu"
"Udah deh, siniin!" Arasya mengambil foto itu, kali ini Zhefanya memberikannya.
"Ompong hahaha"
"Zheee!"
"Iya-iya maaf"
******
"Makasih buat hari ini" Ucap Zhefanya selepas turun dari motor Arasya. Mereka telah berada di pekarangan Rumah Zhefanya.
"Gak perlu ngucapin makasih, aku sendiri suka kok" Zhefanya tersenyum senang mendengar ketulusan Arasya.
__ADS_1
Brumm...brummm...
Mata keduanya menyipit melihat sorot lampu motor mendekati mereka, dari postur tubuh yang tak asing, mereka sangat mengenali siapa sosok itu.
"Hai" Sapa Samuel mengangkat tangannya menghadap Zhefanya tanpa melirik sedikitpun, sangat tidak sudi, yang ada hanya rasa kesal di lubuk hatinya.
Tak mendapat respon dari gadis itu membuatnya angkat bicara "Ngapain jam segini baru pulang, masih pakai seragam?" Ucap Samuel posesif.
"Terserah gue lah, bukan urusan lo juga" Ucapnya sinis, memang Samuel siapanya Zhefanya, bukan siapa-siapa juga.
Mendengar jawaban Zhefanya yang tidak sesuai ekspektasi membuat Samuel geram, pasti terpengaruh Arasya pikirnya.
"Sya lo pulang aja, jadi gak enak gue" Zhefanya merasa tidak enak, sudah merepoti Arasya dan sekarang harus ada Samuel di sana.
Arasya bergeming, sama sekali tidak ada pikiran untuk beranjak daro tempatnya, dari lubuk hatinya yang paling dalam dirinya tidak rela Samuel berada dekat dengan Zhefanya, dia cemburu.
"Lo gak denger!" Diam-diam Samuel mengeratkan kepalan tangannya.
"Katanya ada urusan di bengkel?"
Oh ya, benar sekali, Arasya sampai terlupa, sebenarnya sebelum mengantar Zhefanya pulang, Arasya di telfon Damar katanya ada urusan.
Arasya menatap Zhefanya dengan tatapan yang sulit diartikan, sedetik kemudian dia melajukan motornya hingga menjauhinya.
"Gak mau masuk?" Tawar Samuel, sebenarnya ii rumah siapa sih?
"Lo juga pulang!" Sentak Zhefanya.
"Terus?" Zhefanya benar-benar tidak mengerti maksud Samuel, punya mulut harusnya untuk bicara, kenapa harus seribet itu.
"Punya nyokap lo"
"Ayo masuk" Samuel menarik tangan Zhefanya, merasa tidak suka dan risih atas tindakan Samuel, Zhefanya menghempaskan tangan Samuel begitu saja.
"Lo siapa gue sih!" Zhefanya menatap tajam Samuel.
Merasa seperti ditantang Samuel mendekatkan tubuhnya membuat Zhefanya mundur karena ketakutan "Gue calon pacar lo" Sudut bibir Samuel terangkat, lebih ke senyum miring.
"Stupid!" Zhefanya mendorong tubuh kekar Samuel hingga laki-laki itu tergerak beberapa langkah ke belakang.
Melihat tingkah Zhefanya malah membuat Samuel gemas sendiri "Udah ayo masuk, nyokap lo udah nungguin" Ucap Samuel Santai lalu memasuki rumah besar itu tanpa persetujuan Zhefanya.
Mama? kok bisa di rumah? Pertanyaan itu muncul di benaknya pasalnya mamanya bilang akan pulang telat, tapi...
Ah sudahlah, jika hanya diam mematung di sana dia tidak akan mendapatkan jawabannya, dia langsung mengikuti arah langkah Samuel di depannya.
"Mama" Panggil Zhefanya yang baru masuk ke ruang keluarga, tidak ada mamanya di sana. Tidak membantu Zhefanya mencari mamanya, Samuel malah dengan santai duduk di atas sofa yang empuk dengan santai.
"Iya" Teriak mamanya, sepertinya dari arah dapur.
Zhefanya bergerak menghampiri mamanya "Loh mama kok udah pulan?"
__ADS_1
"Loh kok Sendiri, Samuel mana?" Tak menjawab pertanyaan Zhefanya, Mamanya malah menanyakan keberadaan Samuel saat menyadari anak gadisnya itu tidak bersama Samuel.
"Mama kok malah nanyain Samuel sih, anaknya baru pulang juga" Gerutu Zhefanya, belum apa-apa sudah seperti anak tiri.
"Tadi Samuel beliin mama obat"
"Mama sakit!" Cemas Zhefanya langsung menaruh tangannya di dahi Mamanya.
Merasa terusik dan mengganggunya saat masak, dirinya menghentikan aktivitasnya sebentar "Mama gak papa sayang, cuma pusing aja"
"Beneran, tapi ngapain sih pakai masak segala kan bisa pesen"
"Pusing dikit kok, tadi aja Samuel yang maksa-maksa buat beliin mama obat"
"Yaa pesanan mama sudah sampai, tuh orangnya lagi santai-santai" Geram sendiri saat membicarakan Samuel itu "Kok bisa ada Samuel sih!" Gerutunya sendiri sepelan mungkin, tapi masih terdengar oleh mamanya.
"Tadi Samuel dateng nyariin kamu, kamunya engga ada, terus dia denger mama gak sengaja nyenggol gelas karena pusing tapi sekarang udah mendingan"
"Mama kenapa gak telfon aku aja sih!"
"Mama juga gak apa-apa kan"
Zhefanya diam, sepertinya sifat keras kepala yang dimilikinya sudah turunan dari mamanya.
"Samuel baik loh Zhe, tadi dia aja mau ngebantuin mama bersihin sisa pecahan kaca itu"
"Baik apanya coba" Zhefanya melirik ke arah ruang keluarga tempat Samuel tadi walaupun terhalang oleh tembok.
"Mending kamu samperin dia, ajak ngobrol"
Apa kata mamanya? ngobrol sama Samuel? mending tidur, lebih menenangkan.
Tapi karena ini kata mamanya, jadi dia harus menuruti, sepertinya mamanya sangat suka dengan sikap Samuel, "Dasar pencitraan!"
Zhefanya beranjak, kemudian duduk di samping Samuel yang sedang berkutat dengan ponselnya, menyadari kedatangan Zhefanya dirinya langsung mematikan telepon genggamnya itu dan menatap teduh Zhefanya.
"Mama kamu mana?"
"Itu di dapur"
"Gue mau pergi" Pamit Samuel buru-buru.
"Lo pergi juga gue gak perduli"
"Ini obatnya, nanti kasih ke mama kamu"
"Hm" Jawab Zhefanya tanpa minat.
Setelah kepergian laki-laki itu Zhefanya tersadar akan sesuatu, Sejak kapan Samuel menggunakan aku-kamu?
"Samuel lo..??"
__ADS_1