Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Pelampiasan


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Zhefanya berlari mengejar Arasya yang sudah keluar kelas terlebih dahulu, dia sudah melewati beberapa lorong kelas dan juga anak-anak lain yang akan pulang.


"Arasya tunggu" Teriak Zhefanya saat melihat perawakan Arasya membuat Arasya menengok kebelakang mengentikan langkahnya.


Zhefanya sedikit tersontak ketika pundaknya dirangkul seseorang yang muncul dari belakang, reflek Zhefanya menoleh mencari tahu siapa yang berani melakukannya.


Arasya yang tidak mengerti mengapa Zhefanya memanggilnya hanya bisa menyaksikan bagaimana Samuel merangkul Zhefanya."Kamu cuma mau nujukin kemesraan kamu dengan Samuel ya?" Batin Arasya lalu pergi dari sana.


"Jangan ganggu gue!" Zhefanya menepis tangan Samuel dari pundaknya.


"Kalo gue ga mau?" Balas Samuel menantang.


Percakapan mereka menimbulkan pusat perhatian bagai seseorang yang melewatinya.


"Terserah!" Zhefanya melirik tempat Arasya yang tadi, dia celingak-celinguk mencari orang yang sedang dicarinya.


"Gara-gara lo dia pergi!" Ketus Zhefanya menunjuk wajah Samuel.


Zhefanya berjalan keluar tanpa memperdulikan apa yang akan dikatakan Samuel.


"Nyerah aja Sam" Rendra menepuk pundak Samuel cukup keras.


"Dia bukan cewek biasa Sam" Zein orang yang paling waras diantara mereka angkat bicara.


Samuel menulikan pendengarannya dan langsung pergi.


"Lah kok ngambek" Ucap Rendra menahan tawa.


...***...


Zhefanya mengutak-atik ponselnya mengetikkan sebuah pesan, dia ingin membahas sesuatu yang tadi siang tertunda karena Samuel.


...Arasya...


Sya


Lo sibuk gak?


Soal lo mau ajarin gue jadi kan?


Gue tunggu kalo lo gak sibuk ya


18.45


"Arasya kenapa sih?" Batin Zhefanya bertanya-tanya, sikap Arasya tidak seperti biasanya.


Zhefanya mengambil sweater di lemari bajunya yang tersusun rapi, mengambil kembali ponsel yang diletakkannya diatas meja belajar.


"Udah dibaca kok gak dibales?" Zhefanya melihat room chat Arasya yang menampilkan tanda centang biru tanpa balasan.


Pikiran Zhefanya bertanya-tanya apakah Arasya sedang sibuk atau malah marah kepadanya.


Seperti ada yang aneh dengan Arasya, dia pasti akan merespon dengan cepat jika Zhefanya memberikan pesan.


"Jangan ganggu!" Zhefanya terkejut melihat pesan yang baru saja dibalas padahal sudah lima menit yang lalu telah dibaca.


...***...


Arasya tiba dirumahnya, dia hari ini pulang dari bengkel lebih awal dari biasanya.


"Eh babu ambilin gue minuman dong" Samuel menyerahkan satu gelas yang sudah kosong kepada Arasya.


Samuel sedang bersantai di sofa panjang miliknya di ruang keluarga, dia sibuk dengan ponselnya, lebih tepatnya sih sok sibuk.


Walaupun kelakuan Samuel sudah keterlaluan kepada Arasya, Arasya tetap menyayanginya bagaimanapun Samuel adalah adiknya sendiri.


Arasya menuruti semua permintaan Samuel sedari kecil, dia yang membantu Samuel ketika sedang kesusahan, dia juga menerima kehadiran Samuel dengan lapang dada.


Arasya mengambil gelas dari Samuel, berjalan ke dapur dan meletakkan tas dan ponsel yang dipeganginya di atas meja makan, dia membuatkan jus kesukaan Samuel dan itupun harus sesuai.


"Ini Sam" Arasya menyerahkan segelas jus mangga kepada Samuel, laki-laki itu mengibaskan tangan kanannya kearah Arasya berniat untuk mengusirnya.

__ADS_1


Bukannya Arasya tidak ingin melawan atau menasehati adiknya, dia hanya tidak ingin terjadi keributan lagi dan lagi, menurutnya menuruti segala kemauan orang lain akan lebih baik selagi tidak ada masalah besar yang akan timbul.


Arasya mengambil tas yang dia letakkan di atas meja makan lalu pergi ke kamarnya.


Segera dia mengambil handuk dan menyegarkan tubuhnya, segera dia mandi dan mengenakan pakaian.


Setelah mandi Arasya duduk dikursi belajarnya lalu menggeledah tas dan tidak menemukan barang yang dia cari, ponselnya tidak ada didalam tasnya, kemudian mencari diatas meja belajar hingga ke kasurnya dan masih tidak bisa ditemukan.


...***...


Samuel meminum jus yang dibuat Arasya, tidak bisa dipungkiri jika jus buatan Arasya memang enak.


Ditengah-tengah dia bermain game tanpa sengaja dia melihat ponsel yang tergeletak di atas meja dapur, segera dia meletakkan ponsel dimeja didepannya dan menghabiskan jus yang tersisa di gelasnya.


"Hp siapa? Jelek amat" Samuel melihat-lihat ponsel yang memang sudah tua, itu milik Arasya, dia dibelikan Bundanya saat kelas 9 smp, padahal waktu itu sudah keluaran terbaru tetapi sudah tua dibandingkan dengan ponsel yang sekarang ini, dia tidak ingin menggantinya, dia rasa ponselnya masih cukup bagus untuk digunakan.


Samuel menghidupkan ponsel yang sudah dipegangnya, ponselpun terbuka langsung menampilkan room chat dari seseorang yang masih belum Arasya tutup.


Samuel tiba-tiba mendidih, urat-urat di tangannya terlihat ketika dia membaca pesan itu.


...Zhefanya...


Sya


Lo sibuk gak?


Soal lo mau ajarin gue jadi kan?


Gue tunggu kalo lo gak sibuk ya


18.45


Samuel mengetikkan didalam room chat itu.


^^^Jangan ganggu!^^^


^^^18.50^^^


"Cupu mo lawan gue" Samuel menggeletakkan ponsel kembali ketempatnya.


Tak lama Arasya turun dari tangga mengampiri Samuel, Arasya melihat kesamping Samuel, dia melihat ponselnya disana.


Samuel yang dengan senang hati dengan kedatangan Arasya langsung memberikan sambutan, bukan sambutan hangat melainkan pukulannya yang berkali-kali mengenai wajahnya, Arasya langsung tersungkur kebelakang saat pukulan terakhir Samuel mengenai wajahnya.


"Gue bisa baik sama lo, kalo lo gak ngerebut apa yang gue suka!" Samuel memandang Arasya nyalang, lalu meninggalkan tanpa belas kasihan, Samuel sangat puas karena bisa menyalurkan amarahnya.


Arasya menyentuh pipinya, dia melihat darah yang menempel dijarinya, pukulan Samuel membuat pipinya luka karena dia memakai cincin saat memukul Arasya.


Arasya memandang langit-langit rumah merasakan nyeri di pipinya, dia bangkit lalu membersihkannya dengan tisu didekatnya.


...***...


Zhefanya keluar dari rumah dan langsung menghentikan taxi, dia ingin pergi ke sungai yang terkenal di Bandung yang tak jauh dari rumahnya, disana sangat indah jika dilihat saat malam hari.


Zhefanya menghirup udara yang masih terasa segar, angin malam menghembus di kulitnya menambah sensasi sejuk.


Kota Bandung dimalam sedikit menenangkan pikirannya, healing terbaik berjalan-jalan di tepi sungai, banyak orang yang berkunjung disana juga.


Dari kejauhan Zhefanya melihat sosok yang tak asing baginya yang sedang terduduk lesuh di kursi dibawah pohon besar, tanpa ragu Zhefanya mendekat dan duduk disamping kanannya.


Saat merasa Ada seseorang yang menghampirinya, dia menengok lalu menegakkan bahunya.


Suasana menghening seketika, tidak ada satu dari mereka memulai percakapan.


"Sya" panggil Zhefanya memecah keheningan diantara mereka.


"Hm?" Jawab Arasya berdeham tanpa melihat Zhefanya.


"Lo marah sama gue ya Sya" Arasya langsung menggelengkan kepalanya.


"Tapi kok lo jawab gitu ke gue" Ucap Zhefanya meminta jawaban.

__ADS_1


"Jawaban apa?" Tanya Arasya tidak mengerti maksud Zhefanya.


"Pesan gue" Ucap Zhefanya pasrah.


Arasya yang tidak mengerti maksud  Zhefanya langsung mengambil ponsel di sakunya, seingatnya dia memang menerima pesan dari Zhefanya tapi dia belum sempat membalasnya karena membuatkan Samuel jus.


Arasya menunjukkan room chatnya pada Zhefanya, Zhefanya sedikit terkejut karena tidak ada pesan yang Arasya kirim.


"Ini pesan terakhir lo Sya" Zhefanya juga mengambil ponselnya dan menunjukkan room chatnya kepada Arasya. Mereka berdua sama-sama terkejut dan sama bingungnya.


"Aku belum sempat membalas pesanmu" Ucap Arasya.


"Tapi ini ada loh Sya" Zhefanya masih ngotot.


"Mungkin tadi ada orang iseng yang buka ponselku" Kata Arasya bohong, dia sudah pasti tahu siapa yang melakukannya.


"Bukan lo beneran kan? Tapi kok bisa sih?" Tanya Zhefanya sedikit ragu.


"Bukan aku" jawab Arasya


Zhefanya bernapas lega karena Arasya tidak marah padanya, Ada apa dengan diri Zhefanya, dia biasanya tidak perduli dengan laki-laki mau menyukainya tau membencinya, tapi memikirkan Arasya marah kepadanya membuatnya sedikit cemas.


"Kamu kok datang sendiri? Gak sama Samuel?" Tanya Arasya padahal dia tahu sebelum dia pergi dia melihat Samuel sudah masuk ke kamarnya.


"Apa hubungannya kali Sya gue sama Samuel?" Zhefanya menatap Arasya cengo mendengar pernyataan Arasya yang tidak masuk akal sekali dipikirannya.


"Kamu kan pacarnya"


"Sejak kapan? Gue bukam pacarnya tuh" Elak Zhefanya.


Arasya hanya mengangguk lalu tersenyum lega, yang mengganggu pikirannya ternyata tidak benar.


"Lo kenapa senyum" Ucap Zhefanya sedikit marah padahal sebenarnya dia juga suka melihat senyum tulus Arasya yang jarang dia perlihatkan.


Arasya menggeleng lalu bersikap seperti biasa lagi. Suasana hening kembali menerpa mereka lagi.


"Sya" lagi-lagi Zhefanya yang membuka percakapan mereka lagi.


"Hm?" Arasya menengok melihat wajah Zhefanya yang sedang melihatnya.


"Sya pipi lo kok berdarah" Zhefanya baru menyadari pipi Arasya sedikit luka.


Arasya langsung mengelap pipi kirinya dengan tangannya, sepertinya lukanya terbuka, tapi tangannya langsung dicegah Zhefanya.


"Tunggu, jangan disentuh!" Perintah Zhefanya. Arasya hanya menurut melihat Zhefanya pergi ke toko yang dekat dengan mereka.


"Tahan ini sedikit sakit" Ucap Zhefanya bersiap membersihkan darah di pipi Arasya saat dia sudah kembali setelah membeli keperluannya.


"Makasih Zhe" Ucap Arasya saat Zhefanya sudah membersihkan lukanya.


"Kok bisa luka?" Tanya Zhefanya penasaran.


"Gak sengaja jatuh" Arasya berbohong lagi.


"Jatuh kok pipi lo yang luka kayak gini?" Tanya Zhefanya meragukan Arasya, dia tahu Arasya sedang membohonginya.


"Emang pipi gak boleh luka" Kata Arasya sedikit tertawa, sedangkan Zhefanya mulai kesal dengannya, semua saja dianggap enteng baginya.


"Aku besok tidak bekerja, sepulang sekolah aku akan mengajarimu" Arasya sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.


Zhefanya mengangguk mengerti, dia tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan Arasya, dia tau pasti itu mengganggu Arasya.


...***...


"Makasih udah nganterin" Zhefanya memberikan helm ke Arasya.


Arasya mengangguki Zhefanya, ingin sekali Zhefanya menempeleng kepala Arasya karena keiritan dia saat berbicara, tapi bagaimana lagi dia Arasya.


Arasya langsung menancap gasnya meninggalkan Zhefanya yang masih memperhatikannya hingga kejauhan.


"Lo orang baik Sya, sayang gak ada yang lihat itu dari lo" Zhefanya merasa pandangan orang tentang Arasya itu salah.

__ADS_1


Setelah wujud Arasya sudah tak nampak dari matanya, segera dia pergi kedalam rumah yang masih sepi.


__ADS_2