Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Rindu Bunda


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah Zhefanya, Arasya tak langsung pulang kerumahnya, dia pergi kerumah Bundanya, rumah Bundanya lumayan dekat dari Rumah Arasya sehingga saat waktu dia masih kecil, dia selalu datang dan mencurahkan segala isi hatinya, dia akan mengadu ke Bundanya saat dia sedang menangis lalu Bundanya akan memeluknya dengan kasih sayang.


Arasya membuka pintu rumah yang tak dihuni selama bertahun-tahun, dilihatnya rumah yang begitu sunyi, dia melihat-lihat sekitar, sorot matanya berhenti ketika menemukan foto yang masih tergantung di dinding, fotonya bersama bunda.


Arasya kecil bahagia dipelukan Ibundanya, ingin rasanya dia memutar kembali waktu, dia ingin kembali ke masa yang membahagiakan baginya.


Flashback on


Arasya kecil berjalan menyelusuri trotoar jalan diantara rumah-rumah, dia tertunduk lesuh dengan wajah benar-benar murung, dia butuh sandaran tapi sandaran yang paling nyaman baginya sudah hilang.


Arasya mengusap air matanya dan duduk dipinggiran jalan sembari memainkan kerikil kecil didekatnya.


Air matanya kembali lirih, dia menangis sesegukan.


"Hai, anak ganteng kok nangis?" Tanya seorang wanita cantik dari dalam rumah, dia mendengar suara tangisan dari anak kecil itu.


Arasya mendongakkan kepalanya memandang wanita yang memanggilnya dengan sebutan ganteng.


"Anda siapa?" Tanya Arasya dengan sisa-sisa air matanya yang sehabis mengalir.


"Saya Rania, ini rumah saya" Wanita itu duduk disebelah Arasya.


Mata Arasya mengikuti arah tangah wanita itu menunjuk rumah dibelakang mereka.


"Kamu siapa? Darimana kok sampai sini?" Tanya Rania membuat suaranya seperti anak-anak.


"Arasya, rumahku disana" Arasya menunjuk arah rumahnya yang jauh dari arah pandangan.


"Nama yang bagus, tau gak artinya?" Arasya menggeleng mendengar penuturan dari Rania.


"Bangsawan yang sejahtera" wanita itu menjelaskan artinya.


Arasya tidak mengerti maksud ucapan wanita itu, menangkupkan wajahnya di kedua lututnya lalu menangis kembali.


"Cup..cup..cup...anak ganteng kok nangis" Wanita itu menangkup wajah Arasya dengan kedua tangannya lalu tersenyum, kedua mata mereka saling bertemu.


"Arasya anak yang nakal" Ucap Arasya masih dengan tangisannya.


Wanita itu langsung memeluk Arasya, tanpa penolakan Arasya menangis dipelukannya. "Kok tante mau peluk? Mama Sya aja gak mau peluk Sya, mama bilang Sya gak berguna, harusnya Sya mati aja"


Mendengar ucapan Arasya membuat hatinya seperti teriris, bagaimana bisa anak sekecil itu merasakan kejinya perlakuan dari orang tuanya.


"Gak boleh ngomong gitu ya sayang, Arasya bukan anak nakal" Wanita itu mengusap air mata Arasya.


"Arasya boleh panggil tante Bunda" Tawar wanita itu saat hatinya tergerak dengan sendirinya.


"Bunda Arasya" Entah perasaan dari mana, Hati Arasya terasa nyaman saat berada didekatnya.


Flashback off


"Arasya Rindu Bunda"


...***...


Suasana kelas 12 Mipa 3 sedikit kurang kondusif karena jam kosong, dari pagi kegiatan mereka hanya membuat kebisingan dan sampai dua kali didatangi guru sebelahnya.


"Guys tolong kecilin suara kalian, nanti guru sebelah dateng lagi" Kata Dino ketua kelas memberi peringatan.


"Eh cupu lo diem! Kalo si Botak dateng, sinyal-sinyalnya tuh kelihatan"


Seisi kelas menatap Bara, tidak tahu maksud ucapan Bara.

__ADS_1


"Sinar-sinar gimana gitu" Sambung Dirta mengerti maksud Bara, dengan sengaja dia mengangkat tangannya untuk mengibaskan rambut, dia ingin menyindir guru yang mendatanginya tadi, pak guru itu tidak punya rambut alias botak, jika dua anak itu disatukan untuk membuli pasti otak mereka sangat lancar.


Suara tawa keras Dirta mendominasi suara tawa dari anak-anak kelasnya, mereka semua terbahak-bahak sampai ada yang terjatuh dari kursi mereka karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, bukannya menolong mereka malah semakin keras untuk tertawa.


"Gila nih kelas" Zhefanya menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan semua teman-temannya.


"Ini mah belum seberapa"


Nirina yang sedang menghadap kebelakang tersenyum mendengar pengakuan Zhefanya, dia baru saja terkena culture shock di kelasnya.


"Cupu beliin gue minuman!" Bara memerintah Arasya yang sedari tadi diam, dia menyerahkan selembar uang merah kedepan wajah Arasya.


"Ini baru dimulai" Bisik Nirina kepada Zhefanya.


Arasya mengambil uang didepannya membelikan minuman dikantin, minuman yang biasa Bara pesan, dua minuman untuk Bara dan Dirta, sedikit ekstrim memang membawa minuman dari kantin menuju kelas apalagi melewati beberapa lorong kelas yang diisi guru.


Beberapa menit Arasyapun kembali dari kantin dan untungnya dia tidak ketahuan guru yang sedang mengajar, beberapa guru sibuk menerangkan dan ada juga yang sedang menilai tugas siswa jadi tidak ada yang terlalu memerhatikan luar kelas.


Arasya menyerahkan pesanan Bara dan uang kembalian kepada Bara, kemudian dia mengambil uang itu dan melemparkan ke wajah Arasya.


Orang-orang yang melihatnya hanya bisa diam, mereka tidak mau terlibat dalam masalah dengan Bara.


"Pungut tuh duit, lo butuh kan!?" Ucap Bara tersenyum miring.


Arasya tidak mengambil dan membiarkan uang itu berserakan di lantai, dia masih bisa bekerja untuk mendapatkan uang.


"Miskin belagu lo!" Ucap Bara lalu menyiram minuman dingin yang ditaruh di mejanya kepada Arasya yang duduk di kursinya.


Rambut dan baju Arasya sudah basah, rasanya lengket karena kandungan gula di minuman.


"Ini gak bener" Zhefanya yang diam menyaksikan perlakuan Bara kepada Arasya membuatnya sedikit muak, bagaimana bisa orang gak salah apa diperlakukan buruk.


Byuuur....


"Cowok sinting!" Zhefanya mengguyur Bara dengan minuman yang satunya lagi.


Sudah pasti orang-orang disekitarnya sangat terkejut, selama ini tidak ada yang berani melawan Bara tapi hari ini sungguh berbeda.


"Berani juga" Bara senyum meremehkan.


Zhefanya tidak perduli apa yang dikatakan Bara, dia menarik tangan Arasya keluar kelas, Zhefanya membawanya menuju toilet sekolah.


Didepan toilet sekolah Zhefanya melepas tangan Arasya, ingin sekali rasanya ia mencakar-cakar Arasya dengan kuku panjangnya, dia heran bagaimana bisa ada seorang laki-laki yang sangat lemah seperti Arasya.


Zhefanya menghembuskan nafasnya lalu berfikir sejenak, mencoba mencerna apakah Arasya masih waras.


"Lo gak gila kan Sya?" Tanya Zhefanya dalam hati lalu menyentuh dahi, pipi dan juga leher Arasya, merasakan suhu tubuh Arasya masih normal.


"Kalo orang gila emang tandanya panas ya?" Zhefanya bingung sendiri apa yang sudah dilakukannya.


"Lo dah gila ya Sya?" Arasya memandang Zhefanya datar lalu menggeleng.


"Kenapa lo nerima perlakuan buruk mereka, lo kan cowok Sya?"


Arasya menunduk kebawah, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Zhefanya.


"Emang susah ya kalo ngomong sama lo, kek ngomong sama tembok"


Arasya menatap Zhefanya datar, padahal emosi Zhefanya susah diujung tanduk, jika saja dia banteng pasti sudah diseruduk dia.


"Lo ngapain masih disini?" Tanya Zhefanya.

__ADS_1


"Kamu yang ngajak aku" Jawab Arasya polos.


"Cepetan buka baju lo!" Ucapan Zhefanya meninggi.


Mata Arasya terbelalak lalu dengan sigap menutup badannya dengan kedua tangannya, dia sedikit shock dengan perkataan frontal Zhefanya.


Orang yang baru saja keluar dari toilet laki-laki menatap Zhefanya aneh, pikirannya pasti sudah melayang kemana-mana.


"Mak..maksud gue lo lepas didalem dan gue bantuin bersihin baju lo di toilet cewek" Jelas Zhefanya sedikit gugup dan sedikit mengeraskan Ucapnya agar didengar orang yang baru keluar dari toilet.


"Cepetan!" Sentak Zhefanya saat Arasya tidak segera masuk.


"Aku bisa sendiri kok " Arasya tidak enak hati, takut merepotkan Zhefanya.


"Cepetan gak!" Sentak Zhefanya lagi membuat Arasya langsung ngibrit masuk ke toilet, Arasya seperti anak kecil yang sedang dimarahi mamanya.


Mungkin Arasya tipe orang yang penurut atau mungkin tipe-tipe suami takut istri.


Zhefanya malu sendiri karena perkataannya, dia salah tingkah tapi masih bisa mengendalikan diri.


Kreek...


Suara pintu toilet terbuka dan dengan cepat Zhefanya langsung berbalik badan membelakangi pintu, ia mengambil baju Arasya tanpa berbalik padahal Arasya memakai dalaman, baju dalamnya juga tidak terkena air.


Arasya menatap Zhefanya bingung, kenapa dia tidak berbalik badan dan langsung lari setelah mendapatkan bajunya.


Arasya kembali menutup pintunya dan membersihkan rambutnya yang lengket, disisi lain ada Zhefanya yang masih malu dengan perkataannya sendiri, bagaimana bisa dia mengatakan kata-kata vulgar kepada laki-laki.


"Bodoh banget lo Zhe" Gerutu Zhefanya sambil membersihkan baju kotor Arasya.


Setelah selesai dengan kegiatannya Arasya langsung pergi keluar menunggu Zhefanya yang masih belum keluar dari dalam toilet cewek.


Zhefanya keluar dengan baju Arasya yang sudah kering, dia menggunakan pengering tangan untuk mengeringkan baju Arasya.


"Nih" Zhefanya menyerahkan kepada Arasya.


"Makasih" Ucap Arasya lalu memakai kembali bajunya.


Mereka berjalan beriringan, saat Arasya ingin berjalan ke kelas Zhefanya langsung menariknya menuju Rooftop.


"Jangan ke kelas dulu" Arasya mengikuti langkah Zhefanya menuju Rooftop.


Saat mereka sampai mata Arasya memandang Zhefanya yang menatapnya dari tadi.


Zhefanya langsung melepaskan tangannya dari Arasya setelah menyadari tatapan Arasya kearah pegangan mereka.


"Zhe seharusnya kamu gak usah ikut campur urusan aku?" Arasya sedikit takut jika nantinya Zhefanya akan terkena masalah.


Zhefanya yang sudah berjalan mendahului Arasya tiba-tiba jalannya terhenti lalu menatap Arasya yang menunduk lesu.


"Lo tuh ya..."


Bruukk....


Dengan sigap Arasya menangkap Zhefanya kepelukannya, Zhefanya tidak sengaja menginjak tali sepatunya yang lepas tanpa sepengetahuannya. Arasya membantu Zhefanya menegakkan tubuhnya lalu dia berjongkok didepan Zhefanya.


"Lo ngapain?!" Zhefanya merasa tidak enak hati. Arasya tetap dengan posisinya lalu mengikatkan tali sepatu Zhefanya.


"Lo bisa kayak gini juga ya Sya" Zhefanya menahan senyumnya.


"Kamu kayak bunda Arasya, baik, boleh gak Arasya jaga Zhe?"

__ADS_1


__ADS_2