
Dengan mudahnya Arasya masuk ke dalam rumah yang tak terkunci itu. Matanya terus mengedar mencari sosok yang ada di pikirannya.
"Bunda?" Panggilnya sembari masuk kedalam rumah. Dilihat sebuah koper besar tergeletak tanpa pemilik.
"Bunda udah pulang?" Tanya Arasya lagi meski tidak mendapat sahutan dari orang yang di maksud. Dia semakin dalam masuk ke rumah hingga dia melihat punggung seseorang. Rambut hitam yang dihiasi putih di lembar helaiannya, sudah tak muda lagi.
"Bunda!" Panggilnya lagu membuat wanita di depannya menoleh. Tersungging indah senyuman di sana.
"Bunda kangen Arasya" Kalimat itu membuat keduanya saling berpelukan erat.
Sangat nyaman untuk Arasya, lelaki itu semakin memperdalam pelukannya, bersandar di bahu Bunda yang sudah lama tidak berjumpa.
"Arasya juga kangen Bunda. Kangen banget" Arasya menyalurkan kerinduannya yang mendalam kepada wanita yang selalu peduli dengannya walaupun mereka berada jauh di tempat yang berbeda.
"Sayangnya Bunda udah gede ya sekarang. Sudah punya pacar belum?" Arasya tersenyum malu menatapnya.
"Kenapa kok senyum-senyum gitu. Pasti udah punya ya? Pasti yang sering kamu ceritain ke Bunda itu?" Lanjutnya dengan menaik turunkan alisnya. Menerka-nerka segala kemungkinan.
"Bukan Bun, Arasya gak punya pacar. Zhefanya itu teman sekelas Arasya. Baik banget orangnya"
"Mungkin nanti ya?" Terka Bunda membuat keduanya tertawa bersama. Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu, berniat mengemas koper yang Bundanya bawa.
"ARASYA GUE UDAH BILANG KE LO, KALAU TASNYA BIAR GUE AJA YAng..." Zhefanya berteriak dari luar hingga ke dalam. Betapa dia dibuat terkejut oleh dua sosok manusia di sana "Bawa" Tubuh dan mulutnya terasa kaku untuk digerakkan lagi.
Malu sudah dia, mau ditaruh mana mukanya jika sudah terlanjur seperti itu, dan kenapa pula Arasya tidak memberitahunya jika ada seseorang di dalam.
"Aah~ Kayaknya kamu sibuk tadi, jadi aku bawa sendiri" Jawab Arasya tak mendapat respon apapun selain tatapan linglung dari gadis itu.
"Siapa Sya?"
"Ooh, ini Zhefanya Bunda. Teman Arasya"
Deg. Jantung Zhefanya serasa berhenti berdetak. Apa tidak salah yang dia dengar barusan. Wanita yang dia nantikan datang?
"Bunda?" Dengan pikiran lemotnya dia masih saja terbengong dengan lamunannya.
"Ooh ini yang namanya Zhefanya" Bunda mengangguk-angguk "Cantik ya Sya?"
"Iya, Bunda" Mendengar suara Arasya mengatainya cantik membuat semburat merah jambu di pipinya.
"Zhe" Panggil Arasya membuat Zhefanya tersadar.
"Hah apa?"
"Ini Bunda aku. Bunda Rania" Ucap Arasya memperkenalkan Bundanya.
__ADS_1
"Rania? Eh.. T-tante Rania maksudnya" Zhefanya sempat tercekat beberapa saat. Nama yang benar-benar mirip.
"Kenapa?" Tanya Arasya melihat kegugupan Zhefanya.
"Namanya mirip banget sama Mamanya Zhe"
Kedua lawan bicara tersenyum menanggapinya. Kebetulan yang tak terduga. Mengingatkannya pada masa lalu yang kelam.
"Masa iya?" Ucap Bunda memastikan.
"Iya, tante" Jawab Zhefanya dengan senyumnya. Dia benar-benar harus membuat kesan yang baik kepada Bunda Arasya, karena awal pertemuan mereka yang sangat tidak menyenangkan.
"Panggil aja Bunda, biar sama kayak Arasya"
"Iya Bun, Bun-da" Zhefanya tertawa canggung.
"Duduk dulu ya. Bunda mau beres-beres dulu" Ucap Bunda.
Merasa tidak enak jika dia harus diam dan duduk santai sedangkan wanita paruh baya itu harus berbenah sendiri membuat Zhefanya ingin membantunya "Biar Zhefanya bantu Bunda"
Rania tersenyum senang "Baik sekali calon mantu Bunda ini. Kalau saja kalian sudah lulus sekolah Bunda nikahkan kalian berdua" Ceplosnya membuat Zhefanya dengan susah meneguk salivanya.
"Bunda!" Peringat sari Arasya saat melihat Zhefanya merasa tidak nyaman.
"Sini Bunda" Zhefanya mengambil alih koper yang di pegang Rania.
Rania pergi terlebih dahulu ke kamarnya, begitu juga dengan Zhefanya yang menyusul di belakangnya. Tapi sebelumnya dia menatap Arasya "Lo ngeselin!" Ucapnya lalu pergi dari hadapan Arasya.
******
Selesai dengan beberes Bunda Arasya, Rania mengajak Zhefanya pergi ke supermarket. Ia ingin membeli kebutuhan dapur juga yang lainnya.
Tak perlu naik motor atau kendaraan apapun itu, mereka cukup berjalan saja. Karena memang tempatnya tidak terlalu jauh. Tadinya Arasya juga ingin ikut, tapi karena larangan dari Bundanya membuat dia urung akan niatnya.
"Arasya itu Zhe, sering banget cerita tentang kamu. Katanya kamu anaknya baik banget sama dia. Bunda jadi bersyukur kamu temenan sama dia" Ucap Rania sembari merangkul Zhefanya. Mereka terus berjalan menuju Supermarket.
"Iya Bunda?" Bibir Zhefanya tersungging ke atas saat mendengarnya.
"Iya. Arasya juga bilang kamu anaknya cantik kalau senyum. Tapi.." Ucap Rania menggantungkan kalimatnya membuat Zhefanya menatapnya penasaran.
"Ada tapinya"
"Apa Bunda?"
"Katanya galak, suka marah-marah" Lanjutnya dengan tawa renyah di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Mata Zhefanya terbelalak "Arasya bilang gitu Bunda?" Rania mengangguk menanggapinya.
Wajah Zhefanya berubah menjadi cemberut "Ih padahal Zhefanya kan gak gitu!"
Rania terus tersenyum membuat Zhefanya gelisah "Bunda, Bunda tahu gak? Arasya tuh suka bikin kesel Zhefanya dan keras kepala benget jadinya aku marahin deh" Ucapnya menggebu.
Rania semakin tertawa "Iya Bunda tahu. Arasya itu anaknya memang keras kepala, dari kecil dia kayak gitu. Makanya, kamu harus sabar ngadepinnya"
Zhefanya langsung terdiam. Menelaah kalimat Bunda.
"Waktu dengar Arasya semangat banget ceritain kamu ke Bunda. Bunda seneng banget, bersyukur kamu ada buat Arasya saat Bunda jauh"
Zhefanya tersenyum manis sambil terus menatap ke depan "Zhefanya juga bersyukur kok Bund bisa kenal Arasya. Dia baik banget" Lanjutnya lalu terkekeh setelahnya.
"Bunda boleh tanya gak?" Rania mendongak melirik Zhefanya yang lebih tinggi darinya.
"Boleh dong Bunda"
******
Setelah mereka selesai dari supermarket, mereka kembali ke rumah. Di sana tengah ada Arasya yang bersih-bersih rumah membuat Zhefanya menatapnya jengah. Bayangkan berapa banyak dia sudah memberi tahu Arasya untuk tetap diam dan beristirahat. Tapi nyatanya apa, tidak pernah dia dengarkan.
"Bunda, marahin tuh Arasya. Udah dibilangin baru keluar rumah sakit disuruh istirahat dulu, tapi gak mau" Rengek Zhefanya ke Rania. Mengadu apa yang anaknya lakukan itu.
Arasya melotot panik ke Zhefanya seolah tersirat sebuah makna di dalamnya.
"Apa?!" Sewot Zhefanya tahu yang dimaksud Arasya "Bunda udah tahu kok. Gue yang kasih tahu, mau apa lo!?" Zhefanya yang berada sedikit di belakang Rania, dia berkacak pinggang menantang Arasya.
"B-bunda?" Arasya tergagap.
"Iya Bunda tahu. Masuk rumah sakit gak bilang-bilang. Untung anak Bunda yang satu ini kasih tahu Bunda. Kalau enggak gimana?" Amarah Bunda membuat Arasya menciut.
"Maaf Bunda"
"Udah kamu gak usah bersih-bersih nanti Bibi datang juga kan?"
"Iya Bunda" Arasya langsung duduk di sofa. Lalu Rania ikut duduk di sampingnya.
"Bunda, kok Zhefanya jadi anak Bunda sih. Nanti nikahnya kan jadi canggung Bund. Masa kedua anak Bunda Rania, Arasya dan Zhefanya menikah. Kan gak enak Bund di dengarnya" Ucap Arasya berbisik. Takut Zhefanya mendengar dan kembali mengamuk.
Rania terus tertawa mendengarnya. Dia gemas sekali dengan Arasya "Kamu mau nikah sama Zhefanya?" Arasya mengangguk semangat.
"Kami ini ada-ada aja." Dia meninggalkan Arasya yang duduk sendiri di ruang tamu itu.
"BUNDA ARASYA SERIUS!"
__ADS_1