Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Rusuh


__ADS_3

Perpus terlihat sepi, biasanya ada siswa ambisius yang menghabiskan waktunya disini, penjaga perpus juga sedang tidak ada, menjadi kesempatan bagus untuk Zhefanya dan Nirina rebahan.


Perpustakaannya terlihat sangat nyaman karena ruangan ber AC, karena penjaga perpus tidak ada Nirina mengambil remote AC di meja administrasi dan mengganti temperatur suhu di ruangan perpus seenak jidatnya, menganggapnya seperti rumah sendiri.


"Udah anggap aja ini di rumah gue Zhe" Dengan wajah tanda tanya Zhefanya menatap Nirina yang sudah terbaring di tempat paling belakang perpustakaan itu.


Merasa sangat sepi Zhefanya mengambil handphone di sakunya, matanya berbinar ketika membaca pesan dari saudaranya.


...Riri si babi bontot...


Gue nanti malem nginep ke rumah lo


Jadi lo harus siapin makan yang banyak buat gue


Trs juga minumannya jangan lupa


08.45


"Gila banget saudara gue" ucapnya ketika habis membaca pesan dari Riri.


^^^Rumah gue bukan restoran yaa!^^^


^^^08.50^^^


Zhefanya tidak habis pikir, kenapa orang-orang disekitarnya tidak ada yang benar sama sekali, bahkan sekarang teman yang ada di sampingnya sudah tertidur pulas.


Dia menaruh kembali ponsel Kedalam sakunya, menutup matanya dan mencoba untuk melakukan hal yang dilakukan temannya. Tidur.


Bughh...


Bughh...


"Bangs*t, gak usah sok suci lo ya!"


Belum sempat merasakan tertidur pulas, gadis itu sudah terbangun mendengar suara keributan, sangat terdengar jelas sekali.


Diam-diam dia mengintip melewati korden jendela perpus yang mengarah langsung pada sumber keributan.


"Gue cuma nyuruh lo buat ambil handphone doang anj*ng!!!" Suara amarah itu dari Bramana yang tak hentinya memukul wajah juga tubuh lawannya.


Brahmana itu tetangga kelasnya, suka tawuran gak jelas, karena orangnya yang begitu tidak jelas dia selalu mengganggu anak-anak lemah sepertinya, menyuruhnya melakukan apapun keinginannya.


Zhefanya yang melihat baku hantam dihadapannya bergidik ngeri, dia merasa panik sendiri.

__ADS_1


Bughh...


Pukulan terakhir Bramana yang berhasil ia layangkan ke wajahnya. Dia adalah Arasya, siapa lagi kalau bukan anak itu, dia selalu menjadi korban namun terasa seperti tersangka, itu karena orang-orang tidak mempercayainya.


"Gue udah rekam kelakuan brengs*k lo!" Zhefanya muncul tiba-tiba dari arah yang berlawanan mengejutkan Brahmana.


"Ahhs sial" ucap Bramana menendang ke udara.


"Lo anak baru gak usah ikut campur, ini urusan gue!" Bramana mengangkat tangannya menunjuk nunjuk kepada Zhefanya yang masih mengangkat telepon yang berisikan video kekerasan yang dilakukan Bramana, sebenarnya bukan video, tapi itu hanya sebuah foto karena Zhefanya tak sempat merekam karena terburu-buru menghampiri mereka, tapi bodohnya Bramana malah mempercayainya.


"Kalo lo laporin itu gue bunuh cowok lembek ini!" Ancamannya.


"Anj**g!"


"Gue gak perduli" ucap Zhefanya tak kalah sarkas.


Entah kenapa Zhefanya menolongnya, tetapi malah berpura-pura bersikap tidak perduli dengan laki-laki lemah dihadapannya.


Zhefanya memang tak suka laki-laki tapu bukan berarti rasa kemanusiaannya hilang kepada  laki-laki, ingat!!.


Dia juga masih normal kok, tenang saja.


Zhefanya menghampiri laki-laki yang sudah terduduk lemah saat Bramana mulai menjauh darinya.


"Kenapa gak ngelawan aja sih!, lo kan cowok?" Zhefanya membersihkan darah disudut bibir Arasya dengan kotak P3K yang dia ambil dari perpustakaan.


"Shhs" Arasya memejamkan matanya merasakan nyeri diujung bibirnya yang sedang dibersihkan, Zhefanya kemudian menempelkan plester ditangannya akibat dorongan Bramana yang membuat tangan Arasya tergores.


Zhefanya memperhalus gerakannya agar tidak terasa sakit, dia juga tidak tega melihat orang yang ada di depan matanya sedang meringis kesakitan.


"Kenapa kamu menolongku?" Tanya Arasya polos, sudah tau pasti karena rasa kemanusiaan, tapi masih saja dia bertanya.


"Mau mati lo!? Zhefanya tersenyum sarkas.


"Kalau mau mati jangan jadikan gue saksi kematian lo!" Zhefanya memandangi Arasya sinis lalu membereskan kotak P3K yang habis dia gunakan.


"Jika aku mati, juga tidak ada yang perduli" Kata Arasya mampu membuat Zhefanya tercekat menelaah perkataannya.


"Kamu gadis pertama yang mau mengobati lukaku, terima kasih" kata Arasya lagi melebarkan senyuman pada Zhefanya.


Pernyataan Arasya yang tiba-tiba membuat Zhefanya gugup langsung membalikkan badannya dan pergi.


Jujur Arasya sangat senang karena masih ada orang perduli kepadanya, jika tindakan itu hanya karena kemanusiaan yang memang harus di miliki manusia, dia juga berterima kasih untuk itu "Terima kasih, teman" gumam Arasya hanya mampu didengarnya sendiri

__ADS_1


...***...


Nirina bangun dari tidurnya, menyadari Zhefanya tidak ada disampingnya ia langsung bangkit dan mencari keberadaan temannya.


"Wah sialan tuh anak, awas aja lu yaa!" Ucap Nirina kesal karena dia sudah mencari ke seluruh ruangan tetapi tidak ada.


Nirina berlari keruang perpus dan tanpa sengaja ia melihat Zhefanya yang tengah pergi berjalan ke kelasnya.


"Zhefanya tungguin gue, dasar temen laknat!" Ucap Nirina dari kejauhan, ia berlari mendekati Zhefanya.


Zhefanya yang mendengar teriakan temannya yang bar-bar itu malah menulikan pendengarannya.


Bughh...


"Sorry" Ucap seseorang yang ditabrak Zhefanya karena tiba-tiba keluar dari dalam kelas.


Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Zhefanya berdiri karena terjatuh, ringan sekali tubuh anak itu atau orang yang dia tabrak berbadan besar.


"Makasih" ujar Zhefanya tanpa mengambil uluran tangan itu lalu membersihkan bajunya yang sedikit terkena debu.


"Lo anak baru kan? Kenalin gue samuel ketua tim basket" Ucapnya dengan pd mengulurkan tangannya lagi.


"Gue Nirina" Serobot Nirina dari belakang Zhefanya dengan mata yang berbinar-binar, kapan lagi kan bersalaman sama manusia tampan, baginya mengagumi lawan jenis itu tidak masalah asalkan sewajarnya tapi cintanya hanya cukup untuk pacarnya seorang, gak boleh untuk cowok lain.


"Dia Zhefanya, anak baru, temen gue" ujar Nirina sambil nyengir nyengir tidak jelas.


Samuel hanya tersenyum,bukan senyum tulus tapi karena senyum terpaksa, kalau saja Nirina bukan perempuan pasti sudah dia terkam sedari tadi.


Zhefanya hanya menyaksikan interaksi Samuel dan Nirina, ingin sekali dia pergi dari sana tapi tidak dengan temannya, Nirina menggandeng tangan kanan Zhefanya dan tangan kanannya sedang bersalaman dengan Samuel.


"Pinjem hp lo dong" Tanya Samuel pada Zhefanya, ketika berhasil melepas tangan Nirina.


"Buat apa? lo gak punya hp?" Dengan datarnya Zhefanya berbicara, apa dia tidak tahu jika Samuel itu anak orang kaya.


"Simpan nomor gue"


"Ini aja Sam hp gue, nanti gue kasih deh nomornya Zhefanya" Bujuk Nirina, ingin sekali dia punya nomornya Samuel dan memamerkannya kepada teman-temannya.


Dengan terpaksa Samuel mengambil hp Nirina dan mengetikkan nomornya di sana. "Makasih Sam" Ucap Nirina setelah Samuel menyimpan nomornya.


Tanpa permisi Samuel pergi dengan mengibaskan rambut, niatnya ingin caper ke Zhefanya tapi malah Nirina yang jadi Baper.


"Zhee mimpi ape gue semalem" Zhefanya mengangkat kecil bahunya melihat temannya sedang acting ingin menangis lalu meninggalkannya.

__ADS_1


"Tunggu Zheee"


__ADS_2