Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Nirina


__ADS_3

Suara motor terparkir didepan rumah  Nirina, Hari ini Pacar Nirina menjemputnya untuk pergi kerumahnya sesuai dengan yang dijanjikan tadi.


"Hai" Nirina melambaikan tangannya kearah pacarnya yang terduduk di motornya.


"Maaf ya jemputnya pake motor" Dia pacarnya Nirina, Arbian. Arbian mengelus rambut Nirina dengan halus.


"Iya gapapa kok" Nirina tersenyum manis, kemudian Arbian memakaikan helm dikepala Nirina.


"Ayo naik" Kata Arbian setelah ia naik keatas motornya.


Beberapa menit di jalan, Nirina merasakan benar-benar berdebar karena akan bertemu dengan orang tua Arbian.


Saat mereka sampai dirumah Arbian, Nirina sedikit ragu untuk masuk kerumah itu, dia takut dengan orang tua Arbian.


"Bi gapapa emangnya?" Tanya Nirina gugup. Dia memanggil Arbian dengan sebutan bi yang tak lain dari namnya sendiri, Arbi.


"Gapapa sayang" Arbi menggenggam tangan Nirina, mereka masuk kedalam, disana diruang keluarga sudah ada papa dan mamanya Arbi.


"Assalamu'alaikum om, tante" Nirina bersalaman dengan orang tua Arbi.


Hati Nirina sudah tidak tenang saat orang tuanya tidak menjawab salamnya, banyak hal yang ada dipikirannya sekarang.


Arbi mengajak Nirina duduk berhadap-hadapan dengan orangtuanya. "Ini pacar Arbi ma, Dia Nirina" Arbi mengenalkan Nirina.


Nirina tersenyum kepada kedua orangtua Arbi, tapi mereka menyambutnya dengan senyum meremehkan.


"Ini yang kamu bilang pacarmu?" Ucap papanya Arbian memandangi Arbian.


"Kamu gak pantes buat anak saya" Papa Arbian beralih menatap Nirina.


"Kamu dan anak saya gak akan pernah bersatu"


Hati Nirina seperti ditusuk oleh perkataan papa pacarnya itu, dia semakin dibuat cemas.


"Papa ngomong apa sih" Ucap Arbian menggenggam erat tangan Nirina.


"Bi aku mau ke toilet dulu" Bisik Nirina pada Arbi.


Arbi memandang mata Nirina dia mengerti sekali apa yang dirasakan Nirina saat ini, gadisnya sedang tidak baik-baik saja.


"Permisi sebentar om tante"


Arbi mengantarkan Nirina ke toilet rumahnya yang tak jauh dari ruang keluarga.


Setelah dia mengantar Nirina dia kembali menyusul kedua orang tuanya.


"Duduk!" ucap papanya pelan namun tegas. Arbian langsung duduk san memandang Papanya tidak suka.


"Pa dia gadis yang aku suka"


"Kamu tau kalian tidak bisa bersama"


"Tapi aku mencintainya pa" Arbian benar-benar berkata tulus.


"Cinta-cinta, tahu apa kamu soal cinta! Jangan melewati batasan!" Ucapan papanya meninggi.


"Mau sampai kapan kalian akan terus bersama tanpa beban, pada akhirnya kalian juga harus saling melepaskan!"


"Tuhanmu dan Tuhannya berbeda!"


"Hentikan!"


Hati Arbian seperti tergores ketika Papanya mengatakan hal besar, dinding yang membatasi Arbian dan Nirina untuk bersatu.

__ADS_1


...***...


Didalam toilet Nirina menangis dalam diamnya, dia diperlakukan seperti itu oleh Papa Arbian, hati siapa yang gak hancur pertama kali dia datang kerumah pacarnya tapi dia disambut buruk oleh orangtuanya.


"Apa maksud papanya?" Nirina tak henti-hentinya menangis.


"Tuhanmu dan Tuhannya berbeda!"


"Hentikan!"


Deg, baru saja Nirina mengampiri mereka diruang keluarga sudah di tampar keras oleh pernyataan Papa Arbian. Air mata Nirina yang tadinya sudah kering kini menetes lagi tanpa ia sadari.


"Bi kamu.." Nirina tak mampu meneruskan kalimatnya.


Arbi dan orangtuanya reflek menoleh ke arah sumber suara itu


"Na aku bisa jelasin ke kamu" Arbi meraih tangan Nirina, melihat Nirina menangis membuat Arbi tidak tega.


Tok..tok..tokk...


"Malam om tante" Ucap seseorang yang baru saja masuk ke rumah Arbian tanpa permisi.


"Luna kamu udah dateng" mama Arbian memeluk perempuan itu. Terlihat bahagia sekali raut wajah mama Arbian.


"Hehe iya tante" Luna melepas pelukannya.


"Halo om" Sapa Luna pada Papa Arbian dan disambut dengan senyum sumringah.


Nirina hanya bisa menyaksikan keakraban Luna dengan orang tua Arbian yang tidak dia dapatkan selaku pacar Arbi. Dia langsung melepas ikatan tangan Arbi.


"Arbi Sayang" Panggil Luna dengan manja kepada Arbi.


Tubuh Nirina seakan ingin tumbang, kakinya sudah lemas hampir tidak bisa menopang tubuhnya mendengar wanita lain memanggil pacarnya dengan sebutan sayang.


Luna memandang Nirina dengan tatapan sinis lalu memeluk Arbi didepan mata Nirina.


"Apaan si lo!" Ucap Arbi sarkas kepada Luna.


"Kamu jangan percaya sama dia ya sayang" Arbi menangkup wajah Nirina dengan tangannya.


"Luna benar" serobot mama Arbi.


Nirina menatap Arbi dengan perasaan yang berkecamuk didalam hatinya.


"Malam om, tante" Nirina memberi salam perpisahan untuk orang tua Arbi, dia langsung pergi dari ruang keluarga, dia sudah tidak sanggup lagi dengan kenyataan yang mampu mematahkan hatinya bertubi-tubi.


"Papa seharusnya gak gini!" Arbian berteriak didepan papanya yang masih bisa terdengar oleh Nirina yang belum melangkah jauh.


"Berani kamu berteriak kepapamu karena gadis itu" Papanya naik pitam.


Arbian tidak memperdulikan perkataan Papanya, dia langsung mengejar kepergian.


"Tunggu na" Arbian memegang tangan Nirina ketika dia sudah keluar dari pintu rumahnya.


Nirina tidak berbalik badan, dia hanya menundukkan kepalanya, air mata jatuh dengan sendirinya tak kuat ia bendung.


"Aku nggak pernah mau sama dia" Jelas Arbian menangkupkan tangannya dipipi Nirina yang masih sesegukan menangis.


"Kenapa kamu nggak pernah ngomong ke aku!" Nirina memukul-mukul dada bidang Arbian membuatnya mundur beberapa Langkah.


"Karena aku cinta kamu Na" Ucap Arbian lesu.


"Seharusnya kamu bilang dari awal, kita gak akan berjalan terlalu jauh, aku juga gak akan berharap lebih sama kamu, dan papa kamu bener aku emang gak pantes buat kamu,kita udah beda segalanya" Ucap Nirina

__ADS_1


"Jangan kamu masukin hati perkataan papaku ya Na, dia cuma.."


"Cuma apa? Yang dibilang papa kamu bener kok" Nirina mencoba untuk tegar.


"Aku bisa meyakinkan Papaku dan aku akan memperjuangkan kamu na"


"Kamu mungkin bisa meyakinkan Papamu tapi nggak dengan Tuhan ku" Arbian terdiam tak berkutik, kata-kata Nirina tidak ada yang salah.


"Jika kita nggak mampu berhenti sendiri, mungkin ini rencara tuhan untuk menghentikan kita, Tuhan menitipkan rasa kepada kita untuk sementara Bi bukan selamanya" Air mata Nirina kembali menetes membasahi pipinya, dia pergi meninggalkan Arbian yang tak tahu harus berbuat apa lagi, pikirannya kacau.


Ini berat untuk mereka, tapi Nirina lebih merasakan sakit, dia merasa telah dibohongi oleh Arbian.


Nirina menghentikan mobil taxi yang lewat setelah sedikit jauh dari rumah Arbian.


"Zhe" Nirina menghubungi Zhefanya dengan sisa-sisa air matanya membuat sesegukan terdengar diseberang.


"Lo kenapa Na, lo nangis" Zhefanya terdengar cemas.


"Gue butuh lo Zhe"


...***...


Zhefanya sedikit terkejut setelah mendengar suara temannya yang terdengar habis menangis, setahu Zhefanya Nirina sedang bersama dengan Arbian dan seharusnya dia merasa bahagia.


Zhefanya langsung keluar rumah dan menuju lokasi yang sudah diberi tahu Nirina, tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ditempat itu, rumahnya Nirina.


"Na gue udah sampe didepan rumah lo" Zhefanya menelpon Nirina.


"Masuk aja Zhe gak dikunci masuk aja terus naik tangga, itu kamar gue" Rumah Nirina sepi karena dia tinggal sendiri di Bandung.


Zhefanya masuk kedalam rumah setelah menekan tombol merah di ponselnya.


Tok..tok..tokk..


"Masuk aja zhe" Zhefanya membuka pintu kamar Nirina dan menampakkan dirinya sedang duduk menatap jendela dengan mata sayunya.


"Na lo kenapa?" Zhefanya duduk dipinggir kasur menepuk bahu Nirina ringan, dia merasa khawatir teman yang ceria ini tiba-tiba menangis di depannya.


"Zhe ke khawatiran gue selama ini bener" Nirina menghamburkan dirinya ke pelukan Zhefanya, air mata yang sudah dia tahan lepas dengan begitu mudahnya.


Zhefanya sedikit memahami perkataan Nirina, dia menepuk-nepuk kecil pundak Nirina.


"Tuhan kita beda Zhe, Arbian, dia non muslim, selama ini dia gak pernah bilang kegue, gue kayak orang bodoh zhe" Tangisan Nirina menjadi-jadi.


"Gue tahu gue gak pantes bilang ini ke lo dan gue tahu pasti ini berat buat lo, tapi mungkin ini yang terbaik buat kalian" Zhefanya mengelus punggung Nirina yang sedang menangis ditangkupan kedua kakinya.


"Tapi gue udah sayang banget sama dia, gue udah nyaman banget zhe, cuma dia yang bisa ngertiin gue, dia segalanya" Ucap Nirina sesegukan.


"Tuhan lebih sayang kalian Na, Tuhan nggak ingin kalian terlalu jauh, Lo harus inget Restu yang paling berat buat kalian adalah Restu Tuhan"


"Tapi kenapa Tuhan mempertemukan kita Zhe" Nirina masih tak berhenti menangis.


"Itu takdir Na, itu takdir kalian. Lo sayang Arbian kan?" Nirina mengangguk memandang Zhefanya.


"Lo gak mungkin ambil dia dari Tuhan yang sudah dianutnya sedari kecil kan?" Nirina mengangguk lagi.


"Dan dia juga pasti berpikiran kayak lo Na, Gue tau kok lo pasti bisa lewatin ini, Nirina yang Zhe kenal kan kuat" Zhefanya mencoba menenangkan temannya tapi malah membuat Nirina semakin menangis. Zhefanya diam sejenak.


"Lo boleh nangis sekarang, tapi jangan lupa bangkit yaa, hidup bukan tentang hari ini aja, Nirina harus semangat!" Zhefanya tersenyum lalu mengangkat kedua tangannya yang dikepal keudara "Nirina pasti bisa!"


Nirina melebarkan senyumnya ketika melihat tingkah teman baiknya sedang mencoba menghiburnya.


Nirina kemudian memeluk Zhefanya.

__ADS_1


"Makasih ya Zhe"


Zhefanya merasa bersyukur ketika melihat senyum yang muncul lagi di wajah Nirina.


__ADS_2