Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Rooftop


__ADS_3

Zhefanya mendengar upacara hari senin itu ditutup, akhirnya dia bisa bebas dari toilet juga. "Akhirnya selesai juga" Zhefanya menghela nafasnya lega


Zhefanya mengintip lapangan tempat upacara, terlihat semua siswa telah bubar, dia langsung mengambil kesempatan itu.


Zhefanya bergabung dengan teman-temannya dan langsung pergi ke kelasnya, dia ikut berhambur bersama teman-temannya yang ikut upacara.


Saat sampai dia langsung duduk dan bernapas lega karena rencana yang Samuel berikan berhasil, para guru tidak mencurigainya sama sekali.


"Lho...loh kok lo udah ada disini aja Zhe, perasaan lo kagak ada dah pas upacara!" Nirina berucap heboh ketika dia masuk kedalam kelas dan menyadari jika Zhefanya telah ada di dalam.


Nirina bingung sendiri dengan temannya itu, seperti sulap tapi ini sesat, jangan ditiru yaa!.


"Gue tadi telat" Zhefanya cengingisan malah membuat membentuk wajah bertanya tanya.


"Kok lo bisa masuk? kan sekolah ini ketat?"


"Gue loncat pager ama Samuel" Zhefanya memerosotkan tubuhnya kemeja, bisa-bisa dia senekat itu, bahkan membayangkannya saja tidak pernah.


"My bebeb kedua gue" Nirina berpura-pura menangis.


...***...


Saat ini sedang istirahat, perut siswa seperti memberontak untuk siap menerima makanan. Siswa kelas 12 Mipa 3 mulai meninggalkan ruangannya.


"Zhe ayo makan yuuk" Ajak Nirina kepada Zhefanya.


"Kayaknya gue gak makan deh, sendiri ya" Bujuk Zhefanya mendapat respon wajah melas Nirina.


"Yah gak asik ah" Ucap Nirina kecewa.


"Emm lo liat Arasya gak?" Tanya Zhefanya gugup.


"Lo ngapain nyariin Arasya!" Nada Nirina sedikit tinggi.


"Gue ada urusan" Zhefanya menepuk tas berisi jaket yang sedari tadi pagi dia bawa.


"Gue peringatin jangan deket-deket sama dia ya Zhe, lo gak tau sifat dia" Kata Nirina sedikit cemas bercampur dengan kesal.


...***...


Zhefanya mencari keberadaan Arasya, dia mengitari hampir seluruh isi ruangan yang memungkin ada Arasya, Zhefanya pikir tidak sesulit itu untuk mencari keberadaan Arasya, tapi ternyata sangat melelahkan.


Zhefanya berpikir mungkin bahwa Arasya akan berada ditempat yang sepi, diam berpikir sejenak lalu terbesit Rooftop dalam benaknya.


Usaha terakhir Zhefanya mencari Arasya di Rooftop.

__ADS_1


"Kalo bukan gara-gara dia kasih ini ke gue, gua ogah nyariin lo" Dialog Zhefanya dengan dirinya sendiri sambil memandangi tas jaket yang di pegangnya.


...***...


Istirahat tiba Arasya ingin mencari ketenangan untuk dirinya, dimana tak seorangpun yang dapat mengganggunya, dia pergi ke Rooftop untuk menghindari kekacauan yang akan menghantuinya.


Arasya merasakan udara segar yang dihirupnya dari ketinggian gedung sekolah, indah melihat pemandangan gedung-gedung yang tinggi disekitarnya, indah saat melihat cinta manusia, namun cinta itu tak berpihak kepadanya.


Arasya mengetikkan sesuatu di ponselnya tak lama seseorang diseberang sana berbicara.


"Halo Arasya"


"Halo Bunda, bunda apa kabar?" Arasya tersenyum sumringah ketika mendengar suara wanita, dia bundanya, satu-satunya wanita yang bisa membuat hati Arasya tenang.


"Bunda baik naak, Arasya gimana baik kan?, temen-temen Arasya juga gimana?


"Arasya baik kok bun, disini temen-temen Arasya juga baik" Ohh Arasya berbohong pada Bundanya padahal dia sering merasa tidak baik-baik saja, Arasya tidak ingin bundanya merasa cemas.


"Bunda kapan pulang? Arasya kangen bunda"


"Bunda bakal pulang kok kalo pekerjaan bunda disini udah selesai, kamu jaga diri baik-baik disana, jangan nakal"


"Arasya nggak nakal bunda, takut soalnya, takut bunda berubah jadi singa terus nerkam Arasya" Arasya terkekeh sendiri saat mengatakan itu kepada bunda.


"Jadi Bunda ini singa" terdengar suara Bundanya sedikit tinggi namun hanya untuk menjahili Arasya.


"Bunda juga sayang sama Arasya" Terlihat senyuman kembali diwajah Arasya.


Arasya mengakhiri panggilannya dan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


...***...


Saat Zhefanya sampai di Rooftop dia mencari cari keberadaan Arasya, tak membutuhkan waktu lama dia menemukan Arasya sedang berdiri dipinggiran gedung yang dibatasi pagar.


Zhefanya berjalan menghampiri Arasya tapi tertahan ketika Arasya terlihat ingin menghubungi seseorang tapi nampak ragu, Arasya memencet kan nomor di ponselnya lalu kemudian dihapus dan memencetnya lagi dan akhirnya menghubungi nomor itu.


"Halo Bunda, bunda apa kabar?"


"Arasya baik kok bun, disini temen-temen Arasya juga baik" Terlihat Arasya menejamkan matanya, menahan air mata dengan senyumannya.


"Bunda kapan pulang? Arasya kangen bunda"


"Arasya nggak nakal bunda, takut soalnya, takut bunda berubah jadi singa terus nerkam Arasya"


"Arasya sayang bunda"

__ADS_1


Baru kali ini Zhefanya benar-benar melihat Arasya tersenyum dan tertawa karena seseorang mampu membuatnya tegar.


Perkataan orang tentang Arasya pembunuh itu hilang dari pikiran Zhefanya, dia melihat ketulusan Arasya dari mata dan ketulusan hatinya saat berbicara.


"Maafin Arasya Bunda, Arasya sudah bohong, teman-teman Arasya nggak ada yang suka Arasya, tapi gapapa kok bunda selagi Arasya masih punya Bunda" Arasya menghembuskan nafas lesuh lalu menundukkan kepalanya kebawah.


Melihat Arasya lemah seperti itu menggetarkan hati Zhefanya "Sya" Ucap Zhefanya saat mulai mendekat pada Arasya.


Arasya menoleh pada sumber suara memandangi mata manik legam milik Zhefanya beberapa detik.


"Nih jaket lo udah gue cuci" Zhefanya menyodorkan tas berisi jaket kepada Arasya.


Arasya melihat tas lalu mengambilnya dan kembali menghadap depan ke posisi semulanya.


"Gak ada niatan terima kasih gitu ke gue, gue udah capek-capek nyuci bawain jaket lo sampe sini dan lo cuma senyum gitu, lo gak bisa ngomong ya!" Zhefanya sedikit kesal karena Arasya benar-benar orang yang irit bicara.


"Hehe iya maaf, terima kasih juga" Ucap Arasya merasa menyesal.


Suasana mengheningkan membuat mereka semakin canggung. Mereka hanya memandangi keindahan kota Bandung.


"Kok kamu berani deket deket aku?" Ujar Arasya memecah keheningan, tapi tak mendapat jawaban dari Zhefanya, sangat aneh sekali pertanyaan itu di telinga Zhefanya.


"Kamu tahu kan aku seorang pembunuh?" Lanjut Arasya


"Terus?" Dengan wajah datarnya tanpa melihat Arasya.


"Kamu nggak takut jika nantinya aku mencelakaimu?"


"Lo gak akan ngelakuinnya, gue tau lo orang baik" Ucap Zhefanya masih tak melihat Arasya.


Suasana kembali menghening dan Arasya merasa bersyukur Zhefanya mengatakan hal itu.


"Mana ponsel lo?" Zhefanya menyadongkan tangannya meminta ponsel Arasya.


"Buat apa?" Arasya terlihat bingung tidak ada yang melakukannya sebelumnya.


"Simpen nomor gue, biar kalo gue nyariin lo gampang" Zhefanya mengetikkan nomornya di ponsel yang diberikan Arasya, rasanya sangat lelah untuk menemukan anak itu.


"Zhefanya teman Arasya?" Arasya bertanya pada hal yang sudah jelas.


"Ya iyalah lo kira gue babu lo!" Ucap Zhefanya sedikit ngegas disambut tawa oleh Arasya.


Arasya senang akhirnya dia mendapatkan teman.


...***...

__ADS_1


"Sialan!!" Mata itu memicing melihat kebersamaan Arasya dan Zhefanya.


__ADS_2