
Di rumah Samuel terlihat mamanya sedang memasak di dapur dan Samuel sudah bersiap dengan seragamnya begitu juga dengan Arasya.
Samuel turun dari tangga lalu menghampiri mamanya.
"Ma Samuel berangkat dulu ya" Samuel mencium pipi mamanya dari belakang dan mengambil roti yang tersedia di meja makan.
"Tumben pagi, Kamu gak sarapan dulu?" Tanya mamanya heran dengan anaknya tiba-tiba berangkat sangat pagi.
"Mau jemput cewek dong ma" Kata Samuel cengingisan membuat mamanya ikut tertawa.
"Hati-hati di jalan" Peringat mamanya .
Arasya yang baru saja turun dari lantai dua langsung menghampiri mamanya, dia juga ingin meminta izin.
"Ma Arasya pergi dulu" Ucap Arasya ingin bersalaman dengan mamanya tapi dia malah dibiarkan dan duduk di meja makan.
"Yaudah pergi sana! Jangan deket-deket saya, saya benci lihat wajah kamu!" Ucap mamanya dengan ketus.
Hati Arasya terasa teriris mendengar pengakuan mamanya.
...***...
Tinnn...tiiinn...
Suara klakson motor diluar membuat sang pemilik rumah yang sedang menyirami bunga didepan rumahnya celingak-celinguk melihat keluar rumah.
"Cari siapa ya?" Kata Liona, mama Zhefanya saat setelah membuka gerbang rumahnya.
Samuel turun dari motornya dan melepas helm lalu mengangguk an kepalanya sekali dengan Mama Liona.
"Zhefanya ada bi, eh tante maksudnya"
"Kamu siapa ya?" Tanya mama Liona, dia tidak pernah melihat teman Zhefanya main kerumahnya.
"Saya temennya tante, mau jemput dia" jelas Samuel.
"Tante panggilin Zhefanya dulu" Samuel hanya mengangguk.
"Lah ini dia orangnya" Kata mama Liona saat Zhefanya datang.
Zhefanya merasa sedikit bingung dengan siapa mamanya berbicara, dia tidak bisa melihat Samuel dari dalam karena dirinya tertutup pagar yang hanya terbuka setengah.
"Cepetan udah ditungguin temanmu ini" kata mama Liona memanggil Zhefanya yang masih memakai sendal.
"Siapa ma?" Tanya Zhefanya lalu melihat keluar pagar.
"Samuel!" Teriak Zhefanya saat mengetahui Samuel yang sedari tadi berbicara dengan mamanya.
"Jangan teriak-teriak" Peringat mamanya membuat Samuel tertawa mengejek.
"Iya ma"
"Buruan kamu ambil tas sama sepatu kamu udah ditungguin juga" Kata mamanya lagi.
"Makasih tante" Kata Samuel merasa terbantu oleh bujukannya kepada Zhefanya.
Mamanya mengangguk tidak mengerti anak itu berterima kasih untuk apa, dia langsung masuk kedalam rumah megahnya.
"Lo ngapain si, pergi aja sana" Ucap Zhefanya mengusir Samuel ketika merasa mamanya sudah masuk kerumah.
"Gue jemput lo"
"Gue gak butuh tumpangan dari lo" Zhefanya masih sedikit jengkel dengan kejadian di sekolah waktu itu, kejadian Samuel yang ingin menciumnya.
Zhefanya langsung pergi kedalam rumah mengambil tas di kamarnya dan memakai sepatunya, sekarang dia sudah siap berangkat sekolah, setelahnya dia turun dan kembali ketempatnya tadi.
Saat dia sampai langsung menghembuskan nafas beratnya. "Lo ngapain masih di sini?!" Zhefanya memandang benci kepada Samuel.
"Udah gue bilang gue mau jemput lo" Samuel masih dengan kesetiaannya menunggu Zhefanya didepan pagar.
"Gue bisa berangkat sendiri dan sekarang lo boleh pergi!"
__ADS_1
"Stop pak" Zhefanya menghentikan taxi yang lewat didepan rumahnya, tetapi taxi itu lewat begitu saja, sepertinya sedang membawa penumpang.
Samuel merasa senang melihat Zhefanya kesal karena taxi yang dihentikannya tidak juga berhenti.
"Jadi gimana? Masih mau berangkat sendiri? Sekarang udah siang banget" Kata Samuel yang duduk di motornya menghidupkan motornya.
"Okey" Kata Zhefanya terpaksa.
"Nih pake" Samuel memberikan helm yang sudah dia bawa.
'kalo aja gak kesiangan, ogah banget gue' Zhefanya mengambil helm dari Samuel dan naik ke motornya.
...***...
"Wah si anak baru sama Samuel tuh"
"Mereka jadian gak sii"
"Beruntung banget si tuh cewek"
"Emangnya mereka udah jadian?"
Seluruh pasang mata menatap kedatangan Samuel dan Zhefanya, mulai dari tatapan senang melihat sepasang manusia bak sudah ditakdirkan bersama hingga tatapan tak suka dan rasa iri.
Zhefanya langsung pergi meninggalkan Samuel yang memarkirkan motornya, dia pasti akan menjadi bahan gunjingan para murid pikirnya.
"Aish tau ah, pagi-pagi bikin bad mood aja" Ujar Zhefanya sebal melihat tatapan dari orang-orang.
"Arasya!" Panggil Zhefanya kepada Arasya yang baru saja akan naik ketangga kelas.
Arasya berhenti dan menoleh kearah sumber suara yang ditangkapnya.
"Jadi kan lo mau ajarin gue?" Tanya Zhefanya meyakinkan sekali lagi.
"Iya" Arasya mengangguk.
Mereka berjalan beriringan menuju kelas 12 Mipa 3.
Mereka langsung duduk ditempatnya masing-masing, terlihat Zhefanya sedang memainkan ponselnya dengan jemari-jemarinya yang lentik.
Zhefanya langsung menengok, betapa dia terkejut akan kedatangannya.
"Nirinaa, akhirnya lo berangkat sekolah juga" Zhefanya memeluk temannya itu.
"Haha sehari doang loh" Nirina melepas pelukan mereka.
"Udah kangen banget ya lo sama gue" Ucap Nirina sedikit tertawa, Nirina yang ceria sudah kembali, tapi hatinya belum sepenuhnya sembuh.
"Gue seneng banget tau"
...***...
Semua murid kelas 12 Mipa 3 sudah berada di lapangan olahraga, jadwal mereka pagi ini adalah olahraga.
"Rentangkan tangan dan angkat kaki kanan!" Perintah guru olahraga, Pak Dodi mengarahkan untuk pemanasan.
"Satu...dua..."
"Tiga... empat..." Semuanya ikut berhitung beriringan.
Bruukk...
Mereka semua terjatuh akibat tidak bisa menjaga keseimbangan, sebenarnya hanya satu anak yang tidak bisa menjaga keseimbangan dia adalah Bara, dia berada di belakang paling pojok.
Bara yang sudah goyah malah menyenggol teman yang disampingnya hingga semua pun tidak bisa menjaga keseimbangannya dan akhirnya terjatuh.
"Aduuh gimana sih" ucap salah satu dari mereka merasa kesakitan akibat jatuh.
Pak Dodi yang melihat kejadian itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aduh" Zhefanya memegang kepalanya yang sakit akibat benturan kepalanya dengan dada bidang Arasya. Dia jatuh tepat dipelukan Arasya yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu gak papa?" Tanya Arasya polos.
"Gak papa" Zhefanya langsung berdiri membenarkan dirinya.
...***...
Samuel dan Zein berjalan di lorong sekolah, mereka selesai dari ruang guru, walaupun sikap mereka yang suka ugal-ugalan tapi mereka juga siswa kepercayaan guru karena citra baik yang ditunjukkan mereka disekolah.
Samuel menghentikan jalnnya dan mencari-cari keberadaan Zhefanya saat melihat kelasnya sedang berolahraga, dari kejauhan dia melihat Zhefanya berkeringat dibawah sinar matahari pagi yang membuatnya semakin cantik.
Diam-diam Samuel mengeratkan genggaman tangannya hingga kertas yang dia pegang sudah tak terbentuk kertas lagi, dia melihat dengan jelas Zhefanya yang jatuh kepelukan Arasya
Zein yang mengerti posisi Samuel saat itu langsung menepuk pundak Samuel bermaksud untuknya agar menurunkan amarahnya.
Zein mendorong Samuel meninggalkan tempat itu.
...***...
"Capek banget Zhe" Zhefanya duduk di kursi kantin.
Mereka sudah di kantin lebih awal, karena olahraga mereka sudah selesai lebih awal.
"Gue pesenin minuman dulu ya" Zhefanya berdiri dari kursi dan langsung memesan minuman.
"Hai Cantik" Sapa Al dengan jahil kepada Nirina yang sedikit kurang bersemangat.
Samuel meninju lengan Al saat mendengar perkataan Al yang terlihat seperti om-om yang merayu anak kecil dengan sebuah permen.
"Cantik kok sendiri?" Tanya Al dibalas lirikan Nirina kearah Zhefanya yang masih sibuk dengan pesanannya.
Ngomong-ngomong Al dan Samuel sudah kekantin terlebih dahulu karena guru sedang tidak dikelasnya.
"Lo ngapain di sini?!" Tanya Zhefanya yang membawa pesanannya melihat Samuel duduk bersama Nirina.
"Cantik si tapi serem" Kata Al melihat Samuel lalu melihat Zhefanya dan dibalas dengan tatapan sinis.
Al langsung menutup mata dengan tangannya beralih pandang ke Nirina. "Galak" Kata Al melirik Zhefanya dengan posisi yang tidak berubah.
Nirina terlihat menahan ketawanya saat mengetahui apa yang dikatakan Al, Zhefanya melihat Nirina dengan tatapan bertanya-tanya.
"Kalo ketawa lepas aja, jangan ditahan" Nirina malah terdiam mendengar yang diucapkan Al.
Zhefanya dan Samuel yang tidak tau hanya melihat kedua temannya bergantian.
"Zhe nanti pulang gue anterin ya" Ucap Samuel tiba-tiba membuat Zhefanya tersedak minuman yang diminumnya.
"Uhuk.. uhukk.. Gue bisa sendiri hukk.." Tolak Zhefanya dengan cepat.
"Pergi aja yuk Na" Ajak Zhefanya kepada Nirina yang sedang meminum minumannya.
Langkah Zhefanya terhenti ketika tangan Samuel menahan tangan Zhefanya, posisi mereka masih terhalang oleh meja.
"By" Ucap Samuel bersikap manja, Zhefanya mengerutkan keningnya dengan perubahan sikap Samuel.
"Apaan ba-bi-ba-bi emangnya gue babi?!" Ucap Zhefanya lalu melepaskan tangan Samuel yang memeganginya.
"Nggak gituu, maksudnya baby byyy" Ucap Samuel semakin manja.
Al dan Nirina memandang Samuel dengan tatapan cengo, tidak tau apa yang sudah terjadi dengan Samuel.
"Geli banget lo ngomong kyk gitu!" Zhefanya menarik lengan Nirina pergi dari kantin.
"Emang kenapa si? Pacar sendiri juga, gak pengertian banget" Teriak Samuel lalu melihat kepergian laki-laki yang mendengar perbincangan mereka sedari tadi, Samuel tersenyum bangga, dia bisa lebih unggul dari Arasya pikirnya.
Sebelum dia keluar dia berbalik badan melihat Samuel sinis. "Gue bukan pacar lo dan gue gak akan jadi pacar lo, jijik gue" Ucap Zhefanya menekan tiap kata.
Untung saja kantin masih sepi, jika ramai Samuel pasti sangat malu ada seorang gadis yang baru saja menolaknya.
"Sam lo ditolak men" Al buka suara ketika para gadis itu sudah pergi dari area kantin.
"Lo gak tau gue?" Samuel menyombongkan diri.
__ADS_1
"Ampun rajanya para buaya" Al menyatukan kedua tangannya di dada dan menundukkan kepalanya.
"Tunggu aja, Zhefanya pasti jadi pacar gue"