Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Pertikaian?


__ADS_3

"Masa sih gue suka sama Arasya? Kayaknya gak mungkin deh. Kita kan temenan, mana mungkin?" Zhefanya membatin dengan banyak pikirannya sepanjang lorong rumah sakit. Perasaan was-was terus  menghantuinya. Dia takut jika harus jatuh cinta, lebih tepatnya takut akan trauma atas hancurnya pernikahan kedua orang tuanya yang sulit untuk ia membuka hati pada seorang laki-laki.


"Kalian berantem lagi?!" Saat Zhefanya hendak membuka ruangan kamar Arasya, pergerakannya terhenti. Suara bariton khas laki-laki berumur terdengar dari dalam sana.


"Udah berapa kali papa bilang, jangan pernah ganggu adik kamu itu!" Betapa Zhefanya terkejut mendengar ancaman garang itu.


Dan, apa yang laki-laki itu bilang? Papa? Adik? Jadi, papa Arasya datang? Dan dia punya adik? Tapi kenapa malah terjadi pertikaian seperti itu? Apa hubungan mereka tidak baik?


"Arasya gak ganggu dia pa, Sya gak.." Suara serak Arasya menjawabi.


"Halah, Papa itu udah tau kelakuan kamu dari dulu. Emang paling suka nyelakain adik kamu sendiri"


"Arasya gak pernah ada kepikiran kayak gitu Pa"


"Kenapa sih kamu selalu aja ngeles kerjaannya!?"


"Pa, akhh...." Mata Zhefanya membulat, rasa khawatir terlihat jelas di matanya.


Cekelekk


Pintu pun terbuka. Antara takut dan tidak enak tercampur jadi satu. Mau di taruh di mana wajah Zhefanya. Papa Arasya kini memandangnya tidak suka, dari mana dan siapa gadis yang tak sopan itu datang?


Lain dengan Arasya yang begitu terkejut melihat kedatangan Zhefanya. Dia selalu memegangi perutnya.


"S-sore om" Sapa Zhefanya padanya. Sepertinya wajah orang itu tidak asing di mata Zhefanya.


Tak ada jawaban, yang ada hanya umpatan samar yang terdengar dari mulutnya "Sial!"


Papa Arasya berlalu pergi meninggalkan mereka di ruang itu.


Arasya memalingkan wajah saat Zhefanya mendekat padanya, Dia kemudian duduk di kursi samping kasur Arasya.


Mereka sempat terdiam beberapa saat hingga suara Arasya terdengar "Akhh.."


"Sakit kan?!" Ucap Zhefanya posesif, Atasya hanya bisa tertunduk lesu.


"Lagian, siapa yang suruh lo duduk seenaknya?!" Entah kenapa rasanya dia marah melihat Arasya merasa kesakitan.


"Dokter udah bilang kan rebahan dulu!"


"Maaf" Cicit Arasya melihat wajah garang Zhefanya sekilas.


"Buruan tidur!" Geram Zhefanya.


"Sakit" Adu-nya lemah.


"Dasar bandel!" Zhefanya segera membantu Arasya membaringkan tubuhnya.


"P-pelan"


"Iya!"


Setalah tubuh Arasya telah terbaring dengan sempurna mereka langsung terdiam, suasana terasa sangat canggung.


Zhefanya melirik Arasya yang sesekali melihat ke arahnya "Tadi..." Ucap Zhefanya terpotong oleh Arasya.


"Papaku, aku juga punya adik" Jelas Arasya tanpa di minta, dia pasti mengerti dengan kebingungan Zhefanya.


"Ouhh" Zhefanya mengangguk-angguk mengerti.


"Kalian ada masalah?" Mungkin melewati batas jika Zhefanya bertanya hal pribadi seperti itu, tapi dia penasaran, dia cemas.

__ADS_1


Arasya hanya membalas dengan senyuman. Aah ternyata iya. Itulah yang ditangkap Zhefanya.


"Emm, mau buah gak?" Tawar Zhefanya mengalihkan topik pembicaraan. Arasya mengangguk semangat.


Zhefanya memotong apel dan mengupaskan jeruk yang tadi dia bawa "Nih" ucapnya menyerahkan piring yang berisikan buah itu.


Sesaat Zhefanya langsung tersadar, tidak mungkin juga Arasya akan makan sendiri sambil tiduran. Dia mengambil kembali.


"Aak" Zhefanya menyuapinya.


Arasya makan dengan lahap, dengan senang hati lambungnya mencerna, nafsu makannya seakan bertambah dua kali lipat. Gadis cantik pujaannya itu menyuapinya!


"Minum" Dengan telaten Zhefanya mengambilkan minuman.


"Gak mau tau ya, lo harus sembuh!" Zhefanya mewanti-wanti. Lalu beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?"


"Pulang"


******


"Yaah kok hujan sih" Kesalnya, padahal tadi tidak mendung, kenapa tiba-tiba sekali.


Tanpa dia sadari ada yang memerhatikan gerak-geriknya sedari tadi. Orang itu melangkahkan kakinya hingga mendekatinya.


"Zhe!" Kejutnya membuat Zhefanya terperanjat kaget.


"Lo bisa gak sih gak usah ngerjain gue?"


"Reflek gue kalo ada lo emang gitu, suka pengen ngerjain, soalnya lo lucu sih"


Lawan bicaranya terkikik geli "Mau kemana?"


"Pulang" Jawabnya sembari memandangi lebatnya hujan.


"Bareng gue aja" Tawarnya.


"Gak, lo kalau bantuin gue gak pernah ikhlas!"


"Mana ada, justru gue ikhlas karena lo pacar gue"


"Pacar-pacar! Gue bukan pacar lo!"


"Kenapa sih sayaang" Godanya sambil senyum-senyum layaknya om-om penculik.


"Diem gak lo!" Gertak Zhefanya tidak suka.


"Iya sayang"


Sabar, sabar. Itulah yang di rasa Zhefanya sekarang.


"Maa mainan Zuraa, hiks hiks" Rengekan gadis kecil itu membuat Kedua orang di sana menengok.


"Hujan sayang, jangan" Ucap mamanya.


Gadis kecil itu berada di gendongan mamanya, ia sedang sakit, terlihat dari infus yang melekat padanya.


"Mainan Zuraa" Gadis itu menangis semakin kencang.


"Kita ambil nanti yaa" Bujuk mamanya.

__ADS_1


"Enggak mau" Ucapnya menolak, dia benar-benar menginginkan mainannya kembali.


"Sam!" Zhefanya terkejut dengan aksi Samuel yang menerobos lebatnya hujan, dia berhasil mengambil bola berwarna merah itu.


Sesampainya dia di samping Zhefanya, Samuel mengibas-ibaskan rambutnya yang basah.


"Basah tau!" Samuel tertawa kecil lalu menoel hidung Zhefanya membuatnya memekik "Sam!!"


"Ini mainannya" Samuel menyerahkan mainan bola itu dengan senyum manisnya.


"Jangan nangis lagi yaa" Samuel juga melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan ke Zhefanya, dia menoel hidung gadis kecil itu.


"Dingin!" Pekiknya. Samuel tertawa mendengarnya.


"Terima kasih" Kata ibunya lalu pamit pergi.


Gadis itu masih melihat Samuel lalu melambaikan tangan, Samuel pun membalas lambaian tangan itu.


******


"Sam lo ajak gue kemana sih?!" Dia sudah menduga sejak dari awal, pasti Laki-laki itu tidak langsung mengantarkannya ke rumah. Dan benar kan?? Jalan yang dia lewati berbeda!


"Ke rumah gue dulu, bentar"


Zhefanya menghembuskan nafasnya pasrah "Sam"


"Hmm" Jawabnya tanpa memandang sang lawan bicara.


"Gue capek deh sama kelakuan lo" Ucapnya langsung pada intinya.


"Capek?" Alis Samuel terangkat tidak mengerti.


Mungkin saat ini waktu yang tepat untuknya mengeluarkan semua uneg-unegnya.


"Iya. Gue capek lo gangguin terus dan Gue gak suka lo ngaku-ngaku jadi pacar gue"


"Zhe, gue.." Ucapnya masih mengemudikan mobilnya.


"Gak, diem dulu! Gue belum selesai!" Selanya dengan cepat.


"Gue mau negasin ke lo, kita gak ada hubungan apapun, dan gue gak pernah kasih harapan apapun ke lo. Dan tolong..."


Ciiittttt


Mobil itu di rem mendadak. Zhefanya sempat tersentak, untungnya dia memakai seatbelt.


"Kenapa?!" Samuel tersulut emosi, tapi dia berusaha keras meredamnya.


"Gue cuma gak mau aja kalau lo.."


"Gara-gara cowok gak jelas itu?!" Tuduhnya kepada Laki-laki yang selalu bersama Zhefanya akhir-akhir ini.


Zhefanya diam terpaku, dia tau arah pembicaraan Samuel, dia juga bimbang dengan apa yang dia rasakan sekarang.


"Jawab Zhe!?" Gertaknya meminta penjelasan.


"Kalau iya kenapa?!" Sentaknya tak kalah garang.


Deru nafas Samuel naik turun.


"Sam!" Teriak Zhefanya saat Samuel melaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2