Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Pindahan


__ADS_3

Hari ini Zhefanya dan mamanya tiba di Bandung, meskipun dengan hati yang sedikit tidak rela dia tetap ikut mamanya. Mereka baru saja tiba di bandara pukul delapan pagi, tanpa basa-basi mereka langsung menghentikan taksi yang lewat didepannya.


"ke jalan mer*** ya pak" ucap mama setelah masuk kedalam taksi, supir taksi itu hanya mengangguk mengerti maksud mama.


"Ma kita enggak tinggal di tempat  lama kan?" Tanya Zhefanya, karena memang dia tidak diberi tahu mamanya sebelumnya.


Perkataan Zhefanya membuat mamanya bungkam seribu bahasa, tatapannya mengedar dan tak berani memandang Zhefanya.


"Ma?" Perasaan Zhefanya sudah tidak enak karena tidak ada jawaban dari mamanya.


"Kita tinggalnya ditempat lama ya?" Ucap Zhefanya membaca pikiran Mamanya.


"Iya sayang. Rumahnya masih bagus, tinggal dibersihin aja" Mendengar penjelasan dari mamanya Zhefanya menghembuskan nafasnya pasrah.


"Zhefanya gak papa kan?" Tanya mamanya memastikan.


"Iya gapapa" Zhefanya mengerucutkan bibirnya dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam, dia terlihat sangat menggemaskan sampai membuat mamanya tersenyum melihatnya.


"Kesel banget deh gue harus balik kesini lagi, tapi kalo gue gak ikut mama, nanti mama sendirian, durhaka banget gue" gerutu Zhefanya didalam hati memikirkan mamanya.


Mereka mengakhiri pembicaraannya, Zhefanya sibuk dengan earphone yang terpasang di telinganya sedangkan mamanya sibuk dengan ponsel yang dipeganginya menyelesaikan masalah kantor. Tanpa mereka sadari mobil yang mereka tumpangi berhenti di pekarangan rumah yang tampak mengerikan.


"Terima kasih pak" Pak supir membantu mereka menurunkan barang-barang bawaan mereka ke depan gerbang rumah yang sangat besar bak istana peninggalan nenek Zhefanya, tapi sekarang kosong tak berpenghuni.


"Iya bu" ucap pak supir lalu meninggalkan pekarangan rumah Zhefanya.


Mereka bergegas memasukkan barang-barang mereka kedalam rumah. "Kamu dulu gak mau loh kalo pindah dari sini" Dengan ekspresi datar Zhefanya hanya diam menelaah ucapan mamanya sembari melihat-lihat kondisi rumahnya.


"Kamu dulu juga sering main-main sama papa kamu" Mata Zhefanya menatap dua bola mata yang hampir menitikkan air matanya.


"Ma..mama gak apa-apa kan?" Tanya Zhefanya polos lalu memeluk mamanya dengan erat, seperti ingin bilang kalau mamanya pasti kuat, Zhefanya bakal ada untuk mama.


"Mama gak papa sayang" Mamanya melepas pelukannya dan menghapus air mata yang berhasil lolos keluar dari matanya.


"Beneran?" Tanya Zhefanya ragu dengan ucapan mamanya.


"Iya, gak apa-apa" Mamanya mengusap air mata yang luruh membasahi pipinya. Zhefanya sedikit lega mendengar ucapan dan senyum yang kembali terbit di wajah mamanya, meskipun Zhefanya tahu itu pasti berat buat mamanya.


"Ayo beresin lagi" Mamanya memberi komando kepada Zhefanya yang sedari tadi terlihat cemas pada mamanya.


Zhefanya hanya mengangguk sebagai jawaban, tetapi dia malah mengambil ponsel didalam saku bajunya dan mengetikkan sesuatu kepada seseorang.


...Riri si babi bontot...


^^^Ri lagi ngapain?^^^


^^^Kamu masih tidur?^^^


^^^Gue udah di Bandung nih^^^


^^^9.45^^^


Zhefanya kembali menaruh ponsel kedalam sakunya.


"Ma kita jadi daftar sekolah kan?" Tanya Zhefanya memastikan mamanya mendaftarkan-nya ke sekolah.


...***...


Suasana sekolah SMA Bakti Jaya sangat ramai sekarang karena waktunya jam istirahat, ramai siswa yang berdatangan ke kantin, ruang kantin cukup luas untuk menampung seluruh siswa SMA Bakti Jaya.

__ADS_1


Zhefanya sedikit terkejut dengan kemegahan sekolah yang akan dihuninya, matanya tak henti-hentinya menyorot keindahan gedung itu, tiba-tiba matanya tertuju pada seorang cowok yang dikerumuni banyak orang, ahh cowok itu tampan, tapi bukan itu yang terpenting, dia terlihat seperti tersiksa ditengah kerumunan itu, mereka memandangi cowok itu seakan dirinya penuh dengan dosa, padahal belum tentu.


Mungkin yang terlihat baik belum tentu dia orang yang baik, yang terlihat pendosa akan terlihat buruk, tapi siapa yang tahu hati mereka?


Mereka tak manusiawi memukuli tubuh cowok itu bergantian, tak ada satu orangpun yang mau menolongnya, mereka justru berbahagia diantara penderitaan yang diterima nya.


Zhefanya mungkin sangat membenci makhluk yang bernama laki-laki, apalagi dengan janji-janji mereka. Namun melihat cowok itu membuat ada sedikit rasa iba di hatinya, dia tergerak untuk menolongnya tapi pikirannya berkata lain, dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain apalagi dia tidak tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi. Memang susah jika hati dan pikirannya mempunyai jalannya masing-masing.


"Ini kak Zhefanya ya?" Tanya seorang gadis berkacama menghampiri Zhefanya.


"Iya, ada apa?" Zhefanya terlihat bingung pasalnya dia tidak mengenali siapapun di sekolah ini.


"Kakak dipanggil sama pak kepala sekolah" Jelas gadis itu.


"Ouh okey, makasih ya" balas Zhefanya membiarkan gadis itu meninggalkannya.


Setelah kepergian gadis berkacamata itu tanpa sengaja Zhefanya menatap bola mata legam milik cowok yang terduduk di lantai dengan memar dan luka di pipinya, dia memandangi Zhefanya dalam-dalam.


Tapi ketika hendak melangkah pergi meninggalkan kerumunan itu hati Zhefanya kembali tergerak untuk melihat apa yang terjadi dalam kerumunan itu, mereka sangat rusuh sekali bahkan terdengar ke seluruh penjuru ruang kantin.


"Eh lo pembunuh gak usah sok suci lo!" suara salah satu dari kerumunan itu terdengar ditelinga Zhefanya


kriiiiinnngg....


Baru saja dia ingin melangkah, tiba-tiba ponsel yang dipegangnya berdering menampakkan suara wanita dari seberang.


"Zhefanya kamu dimana mama udah di ruang kepsek, cepetan kesini udah ditungguin kamu" Ucap mamanya terburu-buru


"Iya ma" Zhefanya pergi dari kantin dan melupakan kerumunan itu, ruang kepsek lebih penting untuknya saat ini. Dan akhirnya Zhefanya beranjak dari tempat itu dan mencari ruang kepsek.


kreek...


Suara pintu terbuka menampakkan para guru yang sedang bekerja. Mata Zhefanya terus mencari keberadaan mamanya di dalam namun hasilnya nihil, tidak ada mamanya di sana.


"Ruang kepsek?" Tanpa basa-basi Zhefanya langsung bertanya pada cowok itu.


"Anak baru ya?" Ucapnya dengan ramah  "Ruang kepsek disebelah sana" jawab cowok itu sambil menunjuk ruangan sebelah.


Zhefanya mengangguk.


"Kenalin nama gue..." ucap cowok itu bermaksud berkenalan, tapi uluran tangan cowok itu tak disambut hangat oleh Zhefanya, dia malah berpaling dan pergi dari hadapannya.


"Interesting" Gumam cowok itu.


Dan tanpa berterima kasih Zhefanya langsung berjalan menuju ruang sebelah, dan ternyata benar ada mamanya didalam sana.


"Siang pak, maaf saya tadi sedang melihat lihat sekolah ini" Sapa Zhefanya pada seorang bapak-bapak yang duduk didepan mamanya.


"Siang, iya gapapa silahkan duduk" Sambung guru itu menunjuk kursi kosong disebelah mama.


Zhefanya hanya mengangguk sebagai jawaban, dia langsung duduk dan memperhatikan kedua orang dewasa ini sedang berbicara.


Braakk


Semua yang berada dalam ruangan menengok ke arah pintu yang berhasil di dobrak seorang anak laki.


"Pak Arasya!" Ucapnya dengan sisa nafasnya yang masih memburu akibat berlari.


"Anak itu lagi!" ucap pak kepala sekolah merasa geram.

__ADS_1


Zhefanya dan mamanya yang tidak tahu apa-apa hanya diam memerhatikan percakapan guru dan murid itu.


"Semua berkas sudah terpenuhi, dan mulai besok Zhefanya sudah bisa masuk sekolah" Kata kepala sekolah mempercepat membereskan berkas-berkasnya.


"Permisi pak" Kata Mama Zhefanya melangkah keluar dan diiringi pak kepala sekolah di belakangnya yang hendak pergi ketempat Arasya untuk menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Arasya, pikirnya.


...***...


Hari mulai petang, Zhefanya yang sedari tadi siang disibukkan beberes rumah membuat badannya terasa seperti di remuk-remuk menyisahkan rasa lelahnya.


"Ahhh capek banget seharian" Zhefanya membanting tubuhnya kek kasur empuk miliknya.


Kriiiiinnngg...


Suara dering telepon membangunkan Zhefanya dari terpejam-nya mata lalu melihat siapa yang menelponnya.


Zhefanya terperanjat dari tidurnya ketika melihat nama yang tertera di ponselnya, dia langsung menjawab panggilan telepon itu.


"Ya ampun si babi bontot gue" ucap Zhefanya dengan muka julidnya.


"Wah lu nyari masalah ama gue lu, belom tau rasanya kena bogem tangan gue lu ya" kata Riri saudaranya itu yang mungkin sedang mengepalkan tangannya diseberang sana untuk memukul Zhefanya.


"Marah-marah mulu lo, cepat tua baru tau rasa" Zhefanya membaringkan tubuhnya kembali sembari tertawa kecil.


"Gak lucu ya,emang anjir lo" terdengar kembali suara Riri yang masih sebal dengannya.


"Iya maap" ucapnya Zhefanya mengehentikan pembicaraan mereka sejenak.


Zhefanya kembali terpikirkan kejadian waktu siang tadi yang membuatnya penasaran.


"Disekolah tadi ada apa sih di kantin, rame-rame gitu?" Tanpa sadar Zhefanya bertanya pada saudaranya yang tidak tau apa-apa soal kerusuhan di sekolah barunya.


"Ya gue gak tau lah, gue kan gak satu sekolah sama lo yee. Gak usah aneh deh lo, yang terpenting itu lo, kok bisa sih udah ada di Bandung? kayak tuyul lepas aja" Riri mengalihkan pembicaraannya.


"Iya dong gue kan gurunya para tuyul" Zhefanya tertawa saat menyelesaikan kalimatnya dan membaringkan tubuhnya yang tidak bisa terlihat oleh Riri.


Mereka terus berbicara hingga waktu menunjukkan jam sepuluh malam, mereka berbicara hal yang benar benar tidak penting, tidak penting sama sekali tapi bagi mereka sangat menyenangkan.


Ceklekk...


Fokus Zhefanya tertuju pada pintu yang berhasil terbuka oleh mamanya.


"Kamu gak tidur? udah malam lo" Mamanya mendekati anaknya yang sedang berbaring di kasurnya sambil memegang telepon di tangannya.


"Iya ma ini lagi ngomong sama Riri, sumpah deh ma Riri cerewet banget" Ucap Zhefanya sedikit melebih-lebihkan.


"Ooh Riri toh" kata mamanya mengangguk kecil.


"Halo Tante, tante apa kabar?" serobot Riri ketika mendengar suara Tantenya membuat Zhefanya dengan sigap menghidupkan loud speaker nya dan memberikan ponsel pada mamanya.


"Tante baik doong, apa lagi kalo kamu kesini" Mama Zhefanya tertawa kecil dan mendapat tawa dari seberang juga. "Gimana kabar kamu?"


"Baik dong tante, lebih baik lagi kalo tante masak buat Riri" Mereka tertawa lagi.


"Bagus kalau gitu" Mamanya memberikan teleponnya kembali pada pemiliknya, kemudian pergi meninggalkan putrinya.


"Udah ya Ri gue ngantuk besok-besok kita ketemu bye" Ucap Zhefanya tanpa permisi langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Zhefanya sangat yakin diseberang sana pasti Riri sedang mengumpati dirinya, dan membawa semua hewan di kebun binatang.

__ADS_1


"Eh lo pembunuh gak usah sok suci lo!" Saat mata Zhefanya terpejam tiba-tiba teringat kalimat itu membuatnya kesal sendiri.


"Ngapain juga gue pikirin? Ga penting banget".


__ADS_2