Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang

Arasya | Sinar Yang Pernah Hilang
Wahana


__ADS_3

Setelah kejadian di rumah Zhefanya, mereka berdua semakin dekat. Arasya dan Zhefanya pergi ke pasar malam bersama. Tepat hari malam ini mereka sudah berada di tempat tujuan mereka.


Zhefanya tersipu malu saat Arasya menatapnya lekat "Udah deh Sya, jangan natap gue kayak gitu" Ucapnya kesal.


"Kenapa? Kamu lucu tahu"


"Emang ada yang lucu dari gue? Dandanan gue aneh ya?" Zhefanya langsung merasa panik jika yang dia pikirkan benar adanya.


"Enggak ada yang aneh kok"


"Ck! Lo suka gak jelas deh Sya. Suka bikin gue kesel ah!"


"Iya-iya maaf. Kalau kamu kayak gini tuh lucu tau"


"Nyebelin!"


Dughh...


Zhefanya memukul kecil dada bidang Arasya, selepas itu dia berlenggang pergi begitu saja.


Arasya tertawa renyah "Tunggu!" Dia berlari mengejar Zhefanya. Berjalan selaras dengan langkah kecil Zhefanya.


Jika biasanya mereka canggung, kini sudah tidak lagi. Rasanya sudah nyaman berada dekat satu sama lain. Dan ini kali pertama Zhefanya terbuka dengan laki-laki. Mungkin saja batu di hatinya sudah tergerus ombak dari Arasya?


"Sya itu apa?" Tanya Zhefanya karena belum pernah melihatnya, selama di Jakarta dia tidak pernah menjumpai hal-hal seperti itu. Ya bagaimana lagi jika dia tinggalnya di kawasan elit, dan kurang pergaulan.


"Itu Bianglala" Arasya menunjuk wahana yang dipandangi Zhefanya sejak tadi.


"Mau naik?" Arasya menawarkan saat melihat wajah Zhefanya yang berseri melihat wahana itu.


"Mau!" Zhefanya menganggukkan kepalanya. "Tapi beli itu dulu ya?" Zhefanya menyundulkan kepalanya melihat stand makanan di belakang Arasya.


Arasya terkekeh ringan mendapati tingkah gadis di depannya sangat lucu, dia pun langsung menengok melihat apa yang diinginkan gadis cantik itu. Arasya segera membelinya.


Setelah selesai Arasya kembali ke Zhefanya, dia menyerahkan permen kapas berwarna merah itu "Terima kasih Arasya" Ucap Zhefanya kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan.


Arasya hanya mengangguk kecil.


"Ayo!" Zhefanya menarik jaket Arasya hingga membuat Arasya harus sedikit menyeimbangkan langkahnya dengan Zhefanya. Entah mengapa Zhefanya menjadi semakin bersemangat.


"Eh..eh..eh.." Zhefanya merasakan adanya tarikan yang berlawanan dengannya.


"Beli tiket dulu" Zhefanya terkekeh malu setelah mendengar perkataan Arasya.

__ADS_1


Arasya sibuk membeli tiket untuk mereka naik, sedangkan Zhefanya terus memakan permen kapas itu hingga tersisa setengahnya.


"Lo mau?" Tawar Zhefanya yang ikut mengantri di samping Arasya.


Arasya menggelengkan kepalanya "Kamu aja"


"Aaaak" Zhefanya memasukkan permen kapas itu secara paksa ke dalam mulut Arasya. Laki-laki itu hanya bisa pasrah menurutinya.


"Enak kan?"


"Enak, mau lagi"


"Modus!"


Setelah mereka selesai dengan urusan tiketnya, mereka langsung masuk ke dalam bagian yang kosong.


"Arasya, kita foto dulu yuk?" Arasya gelagapan dengan perkataan Zhefanya, dia sangat kaku jika disuruh berfoto. Terlebih jika bersama Zhefanya.


Mendapat tatapan mematikan dari Zhefanya membuat dirinya langsung menurut. Tapi, dia tidak tahu harus bergaya seperti apa. Arasya hanya menatap datar kamera itu.


Cekrekk...


"Kaku banget sih!" Zhefanya melihatkan hasil jepretannya kepada Arasya, Arasya yang tak merasa bersalah hanya tersenyum polos.


Cekrekk...


"Kenapa?" Tanya Zhefanya sok tidak mengerti.


"Aku belum siap"


"Ya udah, sekali ya?" Tanpa menunggu persetujuan Zhefanya kembali menyiapkan kamera ponselnya.


"Senyum!" Perintah Zhefanya. Arasya langsung tersenyum manis. Memang ya, harus pawangnya dulu yang nyuruh baru mau. Dia tidak pernah ada inisiatif sendiri.


Cekrekk...


Foto terakhir yang Zhefanya ambil sesuai yang diinginkannya. Foto selvi pertama kali bagi Arasya dan Zhefanya.


Zhefanya melihat-lihat gambar hasil jerih payahnya. "Gue masukin Sosmed ya?" Izin Zhefanya.


"Jangan ah nan.."


"Udah terlanjur" Zhefanya terkekeh, dia sengaja memotong perkataan Arasya agar keinginannya terpenuhi.

__ADS_1


"Buat apa tanya Aku kalau gitu, hm?" Seperti tak berdosa Zhefanya tak memperdulikannya. Dia memencet dua kali pada layar ponselnya lalu menutupnya.


Arasya yang sedari tadi menatap Zhefanya merasa heran, apa semua perempuan seperti ini?


"Zhe ini udah mulai tinggi" Peringat Arasya saat ketinggian mencapai 3/4 dari setengah lingkaran tapi Zhefanya tidak mengindahkannya. Dia tertarik melihat keindahan kota Bandung di ketinggian.


Saat berada tepat di puncak tiba-tiba wahana itu berhenti, Zhefanya yang awalnya duduk berhadapan dengan Arasya langsung pindah ke sampingnya.


"Sya kok berhenti?" Tanya Zhefanya menggenggam lengan jaket Arasya. Dia yang panik langsung melihat melihat sekeliling.


"Jangan panik ya, itu cuma ada yang mau naik kok" Zhefanya melihat ke bawah, bukannya tenang mengetahui wahananya tidak rusak malah membuatnya semakin takut, ternyata wahananya itu sangat tinggi. Kakinya melemas seketika. Dia kira tidak setinggi itu!


"Zhe.." Dengan raut wajah panik dan tangan yang senantiasa memegangi lengah Arasya. Dia mantap Arasya seolah ingin meminta pertolongan.


Cup..


Satu ciuman mendarat di bibir manis Zhefanya.


Deg, mata Zhefanya terbelalak merasakan sentuhan bibir yang baru saja mendarat di bibirnya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, rasanya ingin meluncur dari ketinggian saat itu juga, rasa cemasnya seakan menghilangkan digantikan debaran jantung yang Zhefanya rasakan, baru pertama kalinya ada seorang laki-laki yang berani  menciumnya.


Saat merasa tidak ada penolakan Arasya malah memejamkan kedua bola matanya. Dia merasa nyaman.


Zhefanya pun merasakan hal yang sama. Matanya juga ikut terpejam.


Sejenak Zhefanya langsung tersadar dengan apa yang terjadi pada mereka. Dia mendorong kuat bahu Arasya, tautan mereka terlepas begitu saja.


Zhefanya merasa panik, dia takut. Tapi dia menganggap itu bukan kesalahan! Tapi juga tidak bisa menerimanya!


Zhefanya tak berani menatap Arasya. Dan Arasya yang merasa bingung dengan perlakuan Zhefanya, dia hanya diam. Apakah dia baru saja dicampakkan?


"G-gue gak pernah siap untuk itu Sya"


"Zhe...?


Selepas kejadian itu wahana kembali bergerak seperti semula.


***


"Kamu seharusnya sadar Sya, mana mungkin dia mau sama kamu. Kamu itu hanya temannya, jadi jangan terlalu berharap lebih" Arasya berbicara dengan dirinya sendiri.


Arasya mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.


"Apakah dia benar-benar menolak ku?"

__ADS_1


__ADS_2