
Tali sepatu Zhefanya telah terikat sempurna berkat ke peka-an Arasya, sungguh manis perlakuannya.
"Kamu kayak bunda Arasya, baik, boleh gak Arasya jaga Zhe?"
Deg, tubuh Zhefanya terpaku beberapa detik, lagi-lagi dia harus dibuat berpikir oleh perkataan Arasya, apa maksudnya? Dan dalam artian apa?
Arasya pun ikut diam, mereka berdua saling bertatapan menuntut penjelasan.
Kriiinggg...
Mereka tersadar ketika ponsel Zhefanya berdering, dengan mudahnya melupakan perkataan Arasya yang tadinya mampu membuat mereka tercekat beberapa waktu yang lalu
"Halo" Kata Zhefanya setelah menekan tombol hijau di ponselnya.
"Lo kemana aja, hari ini pulang pagi semua guru lagi rapat" Mata Zhefanya membulat dengan informasi yang diberikan oleh temannya itu.
Arasya hanya bisa diam memerhatikan Percakapan Zhefanya di telepon yang tidak bisa didengarnya.
"Kok ga ada pengumuman?" Tanya Zhefanya polos.
"THT sana, Gue pulang duluan ya"
"Iya Nirina" Kata Zhefanya mengakhiri panggilan telepon dari Nirina, pasti di seberang sana sedang merutuki Zhefanya, seharusnya Nirina yang mematikan sambungan telepon itu.
"Sya hari ini pulang pagi loh" Arasya hanya ber-oh kecil sembari menganggukkan kepalanya, paham akan maksud informasi Zhefanya.
"Aku hari ini gak kerja, mau sekarang?" Tanya Arasya, dia mengingatkan janjinya untuk mengajari Zhefanya matematika.
"Beneran?" Zhefanya sedikit excited, Arasya tersenyum lalu mengangguk.
"Boleh" Ucap Zhefanya lagi.
"Tapi aku gak ada bukunya" Ucap Zhefanya kecewa pasalnya hari ini tidak ada pelajaran matematika.
"Aku ada, nanti pakai buku ku aja"
...***...
Motor Arasya terparkir didepan rumah Besar milik Bundanya, Zhefanya terkejut melihat bangunan megah didepan matanya, pasalnya suatu hal yang dikenakan Arasya adalah hal yang paling sederhana, dia tidak menyangka ini rumah Arasya.
"Ini rumah lo?" Zhefanya merasa takjub.
"Enggak, ini rumah Bundaku" Elak Arasya.
"Bunda?" Arasya mengangguk menanggapi Zhefanya yang tampak bingung, entah kenapa.
"Ya tapi kan sama aja rumah lo juga"
"Iya" Jawab Arasya seadanya.
__ADS_1
"Rumahnya bagus"
"Selera Bunda bagus ya?"
"Iya, gue suka"
"Ayo masuk" Arasya memimpin jalan mereka masuk ke dalam rumah.
"Rumahnya udah lama gak ditempatin, jadi terasa kosong" Jelas Arasya tanpa perintah.
Memang benar rumah Bundanya itu tidak ditempati setelah kepergian bundanya ke luar negeri beberapa tahun terakhir, tapi rumahnya masih bersih karena ada pembantu yang rutin membersihkan rumah itu, jadi masih terawat dengan baik.
"Bunda kamu?"
"Bunda ada di luar negeri, udah lama gak pulang" Zhefanya ber oh kecil.
"Lo tinggal sendiri dong?" Interogasi Zhefanya yang tiba-tiba penasaran.
"Duduk Zhe" Arasya menggeletakkan tasnya di sofa diikuti dengan Zhefanya yang duduk di sampingnya.
Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Zhefanya malah mengganti topik pembicaraan, membuat kesal saja!.
Arasya langsung pergi ke dapur mengambil segelas air putih, mungkin pembantunya yang selalu mengisinya.
"Maaf ya Zhe adanya cuma air putih" Arasya menyerahkan air minuman setelah kembali dari dapur.
"Ih apaan si lo, gue tuh yang udah ngerepotin lo, masa lo yang minta maaf" Cerocos Zhefanya merasa tidak enak.
Arasya duduk di lantai disebelah Zhefanya yang siap menerima pembelajaran dari dirinya, di meja sudah tersedia buku-buku yang mereka perlukan.
"Mana yang gak paham?" Tanya Arasya saat melihat Zhefanya nampak bingung melihat satu halaman buku yang dipenuhi dengan angka-angka yang berakar itu.
"Kenapa sih harus ada matematika?" Zhefanya menghela nafasnya panjang lalu menghamburkan dirinya ke atas meja, matanya mengerjap menatap Arasya.
"Jangan ngomong gitu, kasihan sama guru matematika yang udah berusaha bikin muridnya bisa matematika" Laki-laki itu menatap Zhefanya terheran, senyuman mulai terukir di wajahnya, pikirannya-pun mulai bekerja.
Zhefanya mulai merasa bersalah, entah kenapa perkataan Arasya sangat menamparnya.
"Tau gak aku kemarin dari supermarket?" Tanya Arasya tiba-tiba membuat Zhefanya menegakkan tubuhnya kembali, menatap lamat-lamat lawan bicaranya.
"Mana gue tahu, lo kira gue dukun!" Gerutu Zhefanya merasa tidak senang, bukan waktunya main-main untuk sekarang.
Arasya terkikik geli mendengarnya, bawa-bawa dukun segala. "Enggak gitu maksudnya" lanjutnya.
"Emang apa?"
"Aku kemarin beli telur satu kilo harganya dua puluh dua ribu" Arasya menghentikan ucapannya melihat raut wajah Zhefanya yang nampak semakin bingung dibuatnya.
"Terus?" Ucap Zhefanya menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Aku beli yang setengah kilo juga, harganya dua belas ribu"
"Terus?"
"Kalau ada guru matematika lihat, pasti kesel banget"
"Kok kesel?"
"Ya iyalah, kalo satu kilo dua puluh harusnya setengah kilo sebelas ribu kan?"
Zhefanya terlihat berpikir lalu tertawa melihat kepolosan Arasya saat menjelaskan alasannya, ada-ada saja! "Ga jelas banget lo, sumpah"
"Tapi bener kan?" Arasya juga ikut tertawa menyamai suara Zhefanya.
"Ya namanya juga teknik marketing!" Gerutu Zhefanya dengan sisa tawanya "Terus apa hubungannya coba tuh telur sama gue yang gak suka matematika?!" Alis Zhefanya terangkat sebelah.
"Cuma mau cerita aja"
Zhefanya mengangguk mendengarnya.
"Zhefanya gak kasihan sama guru matematika?"
"Ya tapi kan susah!"
"Makanya kita belajar di sini kan? terus kalau udah nanti bilangin ya ke tim marketing, harusnya sebelas bukan dua belas, bilangin juga nanti guru matematika marah lihatnya"
"Yang ada lo yang kena marah sama tim marketing"
Gelak tawa mereka terdengar jelas di setiap sudut di gedung rumah yang sepi itu, hingga mereka tersadar akan tujuan mereka di sana.
"Gila sih pembahasan lo!"
...***...
Mereka sudah belajar sejak satu jam lalu dengan tenang, sebenarnya hanya Arasya tidak dengan Zhefanya, Zhefanya selalu saja merengek saat tidak bisa mengerjakan soal yang menurutnya rumit, mulai dari meminta Arsya untuk menyudahi mereka belajar, pergi ke toilet, dan berjalan-jalan di sekitar Arasya.
Arasya dengan sabar meladeni mood Zhefanya yang berubah-ubah, padahal Zhe sendiri yang ingin diajari matematika.
"Sya" Arasya menoleh ke sumber suara "Udahan ya?" Bujuk Zhefanya dengan wajah polosnya.
Arasya hanya mengangguk mengiyakan, dia tidak tega melihat gadis itu yang nampak sesak.
"Zhe aku ke kamar dulu ya" Zhefanya mengangguk, kemudian Arasya beranjak dari sana menuju kamarnya.
"Akhirnya selesai juga" Senyuman lebar terukir dengan ikhlas dari raut wajah Zhefanya.
"AAA!!!"
Suara teriakan khas laki-laki membuat Zhefanya terlonjak kaget, dari sumber suara sudah di pastikan dari kamar yang di datangi Arasya, Ada apa dengan laki-laki itu?
__ADS_1
"Arasya?" Zhefanya yang penasaran sekaligus cemas langsung menghampirinya.
"Arasya lo ngapain?!"